Ambuang Baro dan Puti Intan/Ringkasan
Karusakan Lua: bad argument #1 to 'makeTitle' (unrecognized namespace name 'Author').
AMBUANG BARO
DAN
PUTI INTAN
Ringkasan Cerita
Di Kampuang Piliang Tangah dalam nagari Balaigurah termasuk daerah Ampeh Angkek di Luhak Agam diamlah seorang ibu bernama Silaro Aceh. Suaminya bernama Datuk Bungsu.
Ia beranak dua orang, seorang laki-laki bernama Ambuang Baro dan seorang wanita bernama Puti Intan.
Silaro Aceh mempunyai seorang adik bernama Datuk Rajo Sakampuang yang menjadi mamak dan penghulu dalam keluarga dan sukunya.
Silaro Aceh seorang yang mempunyai banyak harta dan arif bijaksana.
Kedua anaknya sopan santun dan tahu akan adat.
Sehari-hari anak gadisnya Puti intan yang sudah berumur 17 tahun itu asyik bertenun saja dan dia memang dipingit oleh ayah bundanya.
Pada suatu hari Puti Intan meminta kepada ibunya, agar dia diperkenankan ikut ke Pekan Ahad hendak melihat-lihat pekan. Ibunya berkeberatan membawanya, karena pada pekan Ahad itu orang-orang muda, bujang-bujang ramai sekali. Ibunya takut, kalau-kalau anaknya tertarik pada seseorang . Puti Intan mengajukan beberapa alasan di antaranya hendak membeli suri. Akhirnya ibunya setuju membawanya. Ambuang Baro, kakak Puti Intan itu menyatakan keberatannya, adiknya dibawa ibunya ke pasar.
Ia takut kalau-kalau adiknya dipermainkan oleh anak-anak muda, tetapi ibunya membela anak gadisnya, sehingga Puti Intan jadi ikut ke pasar.
Di pasar banyaklah bujang-bujang dan anak-anak muda lainnya yang melirik kepada Puti Intan, karena rupanya yang cantik. Setelah berkeliling pasar, suri dicari Puti Intan itu tidakada orang menjual dan dia minta kepada ibunya agar terus pu[ 12 ]lang saja tanpa membeli apapun.
Dalam perjalanan pulang, di tengah jalan Silaro Aceh ditegur oleh seorang pemuda, yang pernama Rajo Bujang menanyakan, siapa gadis yang ikut dengan Silaro Aceh itu. Dijawab oleh perempuan itu, bahwa itulah Puti Intan, anak gadisnya, adik Ambuang Baro. Rajo Bujang mengatakan ia sudah lupa, karena sudah lama tidak ke sana.
Silaro Aceh bercanda, bahwa nanti ia akan menjemput Rajo Bujang, agar dapat lama tinggal di kampungnya.
Rajo Bujang termenung mendengar kata itu, karena menurut dia tidak pantas Silaro Aceh mengucapkan hal tersebut. Sewaktu Rajo Bujang akan membelok ke rumahnya ia menyilakan Silaro Aceh dan Puti Intan mampir ke rumahnya.
Silaro Aceh menjawab kali ini belum akan singgah, tapi siapa tahu di masa yang akan datang, dia akan sering mampir ke sana.
Rajo Bujang setelah sampai di rumahnya duduk termenung memikirkan kata-kata sindiran Silaro Aceh itu.
Dalam pada itu datanglah Aciak Cipeh Jilatang Kampuang, seorang wanita yang suka menghasut dan membuat fitnah. Dia bertanya kepada Rajo Bujang mengapa dia duduk termenung saja.
Diceritakannya tentang sindiran Silaro Aceh tadi, dan dikatakannya bahwa dia bertanya sungguh-sungguh, tetapi dijawab dengan kata-kata yang tajam.
Aciak Cipeh menyatakan akan membantu kalau Rajo Bujang berada dalam kesulitan.
Dalam pada itu pada suatu malam Silaro Aceh berkata kepada suaminya, Datuk Bungsu, perihal anak gadisnya yang sudah besar dan sudah pantas bersuami. Datuk Bungsu setuju dan menyuruh isterinya mempersiapkan apa-apa yang belum siap.
Tidak lama sesudah itu datang orang hendak menjemput Ambuang Baro akan dikawinkan dengan Karok Nan Takampai.
Mula-mula Ambuang Baro meminta berpikir agak sebulan tetapi karena orang tuanya sudah setuju, dia menyutujui pula, Am[ 13 ]buang Baro diajar oleh ibu dan ayahnya bagaimana hidup bermasyarakat dan di tengah-tengah keluarga isteri.
Sesudah itu ayah dan mamak Puti Intan sudah sepakat untuk menjemput Sutan Rajo Talauik Api, kemenakan Datuk Rajo Api dijadikan suami Puti Intan. Kedua keluarga itu sudah bertukar tanda dan disepakati sesudah beberapa bulan akan dinikahkan. Dalam hal jodoh Puti Intan, Ambuang Baro tidak diajak berunding, hanya diputuskan saja oleh ayah dan mamaknya. Sutan Rajo Talauik Api adalah teman Ambuang Baro.
Ketika Aciak Cipeh Jilatang Kampung mendengar rencana perkawinan Puti Intan dengan Rajo Talauik Api disampaikannya langsung kepada Rajo Bujang yang masih mengharapkan senda gurau ibu Puti Intan akan menjadi kenyataan. Waktu didengarnya berita itu timbul marahnya, karena dia rupanya dipermainkan saja oleh Silaro Aceh ibu Puti Intan. Diberinya emas kepada Aciak Cipeh sebagai biaya untuk menggagalkan perkawinan Puti Intan dengan Rajo Talauik Api itu.
Aciak Cipeh pergi ke rumah Puti Intan, pura-pura meminjam suri. Di situ dia mendengar dari Silaro Aceh, ibu Puti Intan, bahwa Puti Intan sudah dipertunangkan dengan Rajo Talauik Api.
Mulailah Aciak Cipeh menghasut mengatakan Rajo Talauik Api telah beristeri lima orang tetapi tidak ada yang mempunyai anak. Sedangkan isteri yang telah diceraikannya dan telah kawin dengan laki-laki lain baru mempunyai anak.
Orang tua Puti Intan mengharap benar agar Puti Intan kelak mempunyai anak yang akan dapat meneruskan keturunan keluarganya karena Puti Intan adalah satu-satunya anak perempuan orang tuanya. Aciak Silaro Aceh mengajak putranya, Ambuang Baro berunding mengenai hal itu.
Ambuang Baro menyesali ayah dan mamaknya yang tidak mengajaknya berunding, karena dia tahu betul siapa Rajo Talauik Api itu, yang di mana-mana mempunyai isteri. Disuruh putuskannya saja pertunanganan itu. Ayah dan mamaknya duduk termenung saja, karena memang merasa bersalah tidak mengajak putranya bermusyawarah mengenai bakal suami Puti Intan. [ 14 ]Ambuang Baro mengusulkan agar digunakan saja aturan menurut adat kalau memutuskan ikatan yang sudah dibuat, dibayar dengan emas, dan Puti Intan akan dipertunangkan dengan Pamuncak Sutan Maka.
Mendengar itu Aciak Cipeh, situkang hasut girang hatinya. Tidak lama sesudah itu ia berjalan-jalan ke rumah adik Raja Talauik Api, pura-pura mau meminjam alas dulang sebanyak 40 buah.
Adik Talauik menanyakan siapa yang akan berhelat. Di- katakannya bahwa Puti Intan akan ditunangkan dengan Pamuncak Sutan Maka. Panas hati adik Rajo Talauik mendengarkan, Karena kakaknya sudah ditunangkan dengan Puti Intan. Tidak ada kabar tentang pemutusannya. Dipanggilnya kakaknya. Rajo Talauik mendengar kabar itu, langsung memanggil beberapa orang pendekar (jagoan) yang bersedia membunuh di mana perlu.
Mereka membuat gara-gara seperti hendak merampok wanita-wanita yang datang dari Balaigurah kampung Ambuang Baro, untuk memancing Ambuang Baro mau datang ke tempat mereka agar dapat dibunuhnya.
Beberapa orang perempuan yang hendak berbelanja mengadu kepada Ambuang Baro tentang perangai para pendekar itu. Ambuang Baro tanpa membawa teman pergi ke tempat para pendekar itu. Di situ terjadilah perkelahian satu lawan banyak.
Mula-mula payah musuh menghadapi Ambuang Baro, tetapi lama kelamaan dengan cara licik Ambuang Baro dapat dibunuh dan dipenggall kepalanya untuk diberikan kepada Rajo Talauik Api sebagai bukti.
Dalam perkelahian itu jatuhlah destar Ambuang Baro yang tiba-tiba menjadi elang. Elang itu disuruh Ambuang terbang ke rumahnya agar Puti Intan, adiknya tahu bahwa, dia telah terbunuh.
Elang itu terbang ke dekat Puti Intan, tetapi gadis itu karena tidak mengerti melempar burung tersebut. Sebelum itu Puti Intan sudah bermimpi yang buruk tetapi ibunya mengata[ 15 ]kan, mimpi hanya permainan tidur saja.
Tidak lama sesudah itu datang Aciak Cipeh, situkang hasut memberi tahukan kepada Puti Intan bahwa Ambuang Baro telah terbunuh dan kepalanya dibungkus untuk diserahkan kepada Raja Talauik Api.
Puti Intan meratap dan menangis memanggil-manggil kakaknya.
Pada suatu hari dia meminta izin kepada orang tuanya untuk menuntut balas kakaknya. Biarpun dilarang orang tuanya, tetapi ia bersikeras untuk pergi.
Ia menyamar sebagai seorang penjual kapur sirih dan karena hari sudah sore menumpang bermalam di rumah adik Rajo Talauik Api. Di rumah itu orang sedang mempersiapkan makanan untuk merayakan kemenangan Rajo Talauik Api atas Ambuang Baro. Esok harinya karena orang-orang di rumah itu sudah letih penjual kapur sirih itu diminta bantuannya untuk menata makanan dan diberikan kunci untuk mengambil barang dari lemari.
Sewaktu orang sudah tertidur semuanya dibukalah oleh Puti Intan yang menyamar itu peti tempat menyimpan kepala Ambuang Baro.
Sesudah dikeluarkannya kepala itu langsung ia pulang dan mempersembahkan kepala itu kepada orang tuanya. Orang tuanya dengan sangat sedih menguburkan kepala itu.
Sejak itu Puti Intan bermaksud menuntut balas kakaknya. Tidak lama sesudah itu Puti Intan meminta izin kepada orang tuanya untuk menuntut balas. Biarpun dilarang dia tetap pergi. Mujur baginya ditempat yang sepi, dia bertemu dengan Rajo Talauik Api. Diceritakannya, kepada Rajo Talauik, bahwa menurut dukun mereka harus diobati, supaya dapat diizinkan oleh orang tuanya kawin. Syaratnya Rajo Talauik dan Puti Intan harus mandi berlimau di bawah air terjun dengan jeruk purut yang dibawanya. Melihat kecantikan Puti Intan menurut sajalah Rajo Talauik. Waktu Rajo Talauik menekur karena akan digosok kepalanya dengan jeruk disembelihnya dengan sakin Rajo Talauik tersebut sampai meninggal. Barulah puas hati Puti Intan. [ 16 ]Beberapa lama sesudah itu Puti Intan menghadang Pamuncak Sutan Maka untuk menanyakan tentang hubungan mereka yang tidak dilanjutkan ke jenjang perkawinan. Berkat lirikan dan rayuan Puti Intan St Maka menurut saja dan mengatakan agar mamak Puti Intan datang ke tempat pihak St Maka untuk melanjutkan rundingan St Maka itu sebenamya sudah beristeri dan beranak satu. Kemudian Puti Intan dinikahkan dengan St Maka. Sesudah St Maka kawin dengan Puti Intan jaranglah ia berkunjung kepada isteri pertamanya, maupun menengok anaknya.
Pada suatu hari Aciak Cipeh bertemu dengan mertua St Maka dari isteri pertama yang hendak mencarikan obat untuk cucunya kepada dukun. Akhirnya sampailah pembicaraan kepada menantunya yang jarang pulang dan anaknya yang telah kurus karena tidak diacuhkan oleh suaminya. Aciak Cipeh menganjurkan agar meminta obat pekasih dan obat untuk membenci Puti Intan kepada seorang dukun, teman Aciak Cipeh.
Aciak Cipeh menyerahkan racun kepada dukun itu, agar diberikannya kepada mertua St Maka kalau datang meminta obat.Kepada mertua St Maka dukun hanya mengatakan obat itu maksudnya agar St Maka sayang kembali kepada isteri pertamanya dan benci kepada Puti Intan isteri keduanya. Obat itu harus dimasukkan ke dalam minuman St Maka dan Puti Intan.
Pada suatu hari di tempat selamatan di rumah ibu St Maka bertemulah isteri pertama St Maka dengan isteri keduanya yang pura-pura bermuka manis dan menghidangkan makanan dan minuman untuk suami dan madunya, yang telah diisi obat dari dukun itu.
Tidak lama sesudah minum kopi yang berisi racun itu St Maka meninggallah di pangkuan Puti Intan.
Beberapa waktu sesudah itu Puti Intan menyusulnya karena juga sudah terminum racun.
Ninik Mamak sama-sama berunding apakah yang menyebabkan orang-orang muda itu ada yang terbunuh ada yang terminum racun.
Pernah terdengar dalam ratapan ibu Puti Intan tentang kata[ 17 ]katanya yang terdorong terhadap Rajo Bujang.
Dihubung-hubungkan orang sampailah kepada Aciak Cipeh dan dukun yang menyimpan racun.
Rapat memutuskan untuk memanggil Datu Rajo Bujang,Aciak Cipeh dan Datu Banyak Barang untuk diperiksa. Belum sampai diperiksa kerapatan adat ketigo orang itu, mereka ketiganya telah mendengar kabar itu dan ketiganya meminum racun karena malu. [ 18 ]