Anggun nan Tongga
Diterjemahkan Oleh: Yollanda
Nan Tongga [ 2 ]
TIDAK DIPERDAGANGKAN
ANGGUN NAN TONGGA
Dituliskan Oleh: Ambas Mahkota
Diterjemahkan Oleh: Yollanda
BALAI BAHASA PROVINSI SUMATERA BARAT
BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI
TAHUN 2021
Penanggung Jawab : Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat
Dituliskan Oleh : Ambas Mahkota
Penerjemah : Yollanda
Konsultan Penerjemahan : Sondri
Sekretaris : Herlinda
Fajril Kamil
Redaktur : Joni Syahputra
Tata Letak : Alvi Rianto Putra
Desain Sampul : Heru Firdaus
CETAKAN PERTAMA TAHUN 2021
Diterbitkan pertama kali oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat
Jalan Simpang Alai, Cupak Tangah, Pauh Limo Padang, 25162
Telepon (0751) 776789
Faksimile (0751) 776788
Pos-el : balaibahasa.sumbar@kemdikbud.go.id
Laman : balaibahasa_sumbar.kemdikbud.go.id
Katalog Dalam Terbitan
ISBN : 978-623-98677-8-2
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah [ 4 ]KATA PENGANTAR
KEPALA BALAI BAHASA
PROVINSI SUMATERA BARAT
Alhamdulilah syukur penerjemahan Kaba Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia ini dapat terwujud. Penerjemahan ini merupakan program prioritas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekonologi, untuk menerjemahkan cerita rakyat ke bahasa Indonesia dalam rangka memerkaya bahan bacaan literasi bagi siswa. Tahun ini Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat menerjemahkan
sebanyak 23 kaba Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia.
Adapun kedua puluh tiga kaba tersebut yaitu, Kaba Si Umbuik Mudo, Kaba Sutan Lembak Tuah, Kaba Magek Manandin, Kaba Sabai Nan Aluih, Kaba Rambun Pamenan, Kaba Laksamana Hang Tuah, Kaba Tuanku Lareh Simawang, Kaba Si Sabariah, Kaba Anggun Nan Tongga, Kaba Siti Risani, Kaba Cindua Mato, Kaba Si Buyuang Karuik, Kaba Malin Deman, Kaba Si Gadih Ranti, Kaba Puti Nilam Cayo, Kaba Bungo Talang Mamak, Kaba Siti Kalasun, Kaba Siti Baheran, Kaba Amai Cilako, Kaba Untuang Sudah, Kaba Puti Marintan Aluih, Kaba Angku Kapalo Sitalang, dan Kaba Rancak Dilabuah.
Buku ini ditujukan untuk masyarakat umum di seluruh Indonesia, terutama bagi siswa SLTP dan SLTA, sebagai bahan pengayaan literasi. Dalam buku ini, kami menampilkan dwibahasa, bahasa Minangkabau kaba tersebut dan terjemahan bahasa Indonesia, [ 5 ]sehingga pembaca dapat ilmu yang lebih tentang bahasa sumber. Terkhusus buku ini, Anggun Nan Tongga, dituliskan oleh Ambas Mahkota, diterbitkan pertama sekali tahun 1960 oleh Pustaka Indonesia Bukittinggi dan dicetak ulang pada tahun 2017 oleh Kristal Multimedia.
Penerjemahan buku ini sendiri dilaksanakan oleh tim penerjemah dengan melibatkan konsultan dari berbagai kalangan, baik tokoh adat, penulis, sastrawan, serta budayawan. Mereka adalah Baharuddin Andoeska, Dasril Ahmad, Gus tf Sakai, Iyut Fitra, Musra Dahrizal, Pinto Anugrah, Rommi Zarman, S. Metron, Sondri,
Syuhendri, dan Yusrizal KW.
Sehubungan dengan itu, kami mengucapkan terima kasih kepada tim penerjemah dan tim konsultan penerjemahan yang sudah bekerja keras sehingga buku ini hadir di tengah-tengah pembaca.
Mudah-mudahan buku Anggun Nan Tongga ini dapat dibaca oleh masyarakat umum. Terutama bagi kalangan pelajar seluruh Indonesia.
Padang, November 2021
ULASAN TIM KONSULTAN
PENERJEMAHAN
Upaya penerjemahan kaba ke dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan setidaknya pada dua masa, yakni tahun 1880-an dan tahun 1920-an. Penerjemahan tahun 1880-an terjadi karena populernya cerita berbentuk hikayat yang sesuai sifatnya membutuhkan cerita-cerita anonim, sementara penerjemahan tahun 1920-an dilakukan untuk kebutuhan pertunjukan tonil, nama lain sandiwara, pada zaman penjajahan Belanda. Sutan Manangkerang (1885) dan Maninjau Ari (1891), misalnya, adalah contoh kaba yang pernah diterjemahkan sebagai hikayat, sedangkan kaba-kaba yang diterjemahkan sebagai tonil bisa dilihat pada kaba Cindua Mato (1924) atau Sabai Nan Aluih (1929).
Palupuah tadia nan dibantang
Puti batanun suto perak
Sungguahpun kaba nan didendang
Suri tauladan untuak rang banyak
(Pelupuh tadir yang dibentang
Puti bertenun sutra perak
Sungguhpun kaba yang didendang
Suri teladan untuk orang banyak)
Hadirnya dendang—atau lebih tepat disebut keterdendangan—dalam kaba, setidaknya ditentukan oleh sejumlah hal: (1) adanya pantun, (2) adanya talibun (pantun berkait, baik 6 seuntai atau 8 seuntai atau bahkan 10 seuntai), dan (3) adanya pola penulisan tertentu berupa pengulangan gatra yang paling tidak terdiri dari 8 suku kata, sehingga, pada saat membacakan kaba, irama bisa muncul seperti halnya metrum atau ketukan dalam musik. Itulah sebab, bila misalnya sebuah gatra dalam suatu kaba kurang dari 8 suku kata, harus ditambahkan suku kata atau kata penupang seperti ‘janyo’ (misalnya pada gatra “manolah mandeh janyo denai”) atau ‘iyo’ (misalnya pada gatra “iyo ka ranah batusangka”).
Sementara itu, karena struktur bahasa Indonesia tidak sama dengan struktur bahasa Minangkabau, kita harus melakukan berbagai upaya agar keterdendangan tetap terjaga. Pada gatra “jadi urang siaklah katidak” misalnya, tentu terjemahannya bukan “jadi orang siaklah ketidak”, melainkan, atau mungkin lebih tepat, “jadi orang alimlah hendaknya”. Begitu pula harus diperhatikan penggunaan kata dalam bahasa Minangkabau yang sering punya makna berbeda dengan bahasa Indonesia. Pada gatra “itulah nan di ati den” misalnya, tentu lebih tepat diterjemahkan menjadi “itulah yang saya kehendaki” dibanding “itulah yang di hati saya”.
Hal lain, pada kasus gatra tidak bisa diterjemahkan dalam jumlah suku kata yang sesuai metrum atau disyaratkan oleh ketukan, penerjemahan dilakukan dengan memberikan catatan kaki. Kasus [ 8 ]seperti ini tentulah terjadi pada gatra yang memuat kata-kata bahasa Minangkabau yang sangat khas, yang padanannya dalam bahasa Indonesia tidak ada sehingga harus diurai atau diterang-jelaskan. Pada kasus gatra memuat kata-kata bahasa Minangkabau yang tidak diketahui artinya (biasanya kata-kata arkaik), hal yang dilakukan adalah kata tersebut dicetak miring (italiq) lalu diberi catatan kaki berupa kemungkinan arti kata dimaksud dalam bahasa Indonesia.
Demikianlah sejumlah hal yang menurut kami, tim konsultan, perlu diperhatikan oleh para penerjemah kaba yang menerjemahkan kaba ke dalam bahasa Indonesia. Sangat ingin kami katakan, penerjemahan kaba sebagai kaba (bedakan dengan penerjemahan kaba sebagai hikayat dan naskah sandiwara untuk kebutuhan pertunjukan tonil seperti pernah terjadi pada dua masa sebelumnya) sungguh sangat penting. Andai upaya penerjemahan kaba—dan kemudian penerbitannya tentu saja—tidak dilakukan sekarang, kita waswas: Apakah pada masa kemudian masih akan ada pihak yang peduli, mengingat zaman serba digital sudah menganga di depan mata. Untuk itu, penghargaan dan terima kasih harus kami ucapkan kepada Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat yang telah berinisiatif melakukan program penerjemahan sejumlah kaba ini (23 judul) ke dalam bahasa Indonesia.
Atas nama Tim Konsultan Penerjemah,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR KEPALA BALAI BAHASA PROVINSI
SUMATERA BARAT ....................................................................... iii
ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN ............................... v
DAFTAR ISI .................................................................................... ix
Anak Lahia Mandeh Bajalan ............................................................ 2
ANAK LAHIR IBU MENINGGAL ...................................................... 3
Galanggang Intan Korong ............................................................ 16
GELANGGANG INTAN KORONG ................................................... 17
Puti Gondoriah .............................................................................. 40
PUTI GONDORIAH ........................................................................ 41
Di Ateh Dandang Panjang ............................................................. 64
DI ATAS DANDANG PANJANG ..................................................... 65
Bajak Lawik Cino Kuntuang .......................................................... 84
BAJAK LAUT CINA BUNTUNG ..................................................... 85
Basuo jo Mamak Kanduang ........................................................ 102
BERJUMPA DENGAN MAMAK KANDUNG ................................ 103
Malin Cik Ameh Bakhianat .......................................................... 122
MALIN CIK AMEH BERKHIANAT ................................................. 123 [ 11 ]Kualo Koto Tanau ....................................................................... 142
KUALA KOTO TANAU ................................................................. 143
Buruang Nuri nan Bijak ............................................................... 172
BURUNG NURI NAN BIJAK ........................................................ 173
Pulang ......................................................................................... 186
PULANG ...................................................................................... 187
Di Puncak Gunuang Ledang ........................................................ 224
DI PUNCAK GUNUNG LEDANG .................................................. 225
Katik Alamsudin .......................................................................... 244
KATIK ALAMSUDIN .................................................................... 245
Manjalang Ayah Kanduang ......................................................... 270
MENJELANG AYAH KANDUNG ................................................... 271 [ 12 ]
ANGGUN NAN TONGGA
Anak Lahia Mandeh Bajalan
Tatkalo maso dahulunyo, adolah rantau sarantaunyo, rantau labuahnyo rami bukan kapalang, dandang balirik di kualo, dandang niago dari Aceh, dari Bugih jo Makasar, dandang Malako banua Siam, kapa rang Cino singgah juo.
Jikok dibukak Si Tambo Lamo, Tambo Alam Minangkabau, wakatu maso dahulunyo, masih banamo Sutan Balun, kudian bagala Datuak Parpatiah Nan Sabatang, anak dek niniak Indo Jati, samaso baliau pai bajalan, maninggakan Pariangan Padang Panjang, manapek ka Tilu Pariaman, iyo di rumah Tuan Mangkudun.
Salamo baliau tingga di sanan, lalu baliau tingga di rumah Rajo, iyo di rumah Rajo Tuo, niniak dek Nan Tongga Magek Jabang.
Lorong kapado Sutan Balun, urang arif bijaksano, tahu di adat sopan santun, alemu banyak di dadonyo, kasayangan Tuanku Rajo Tuo, labiah bak anak kamanakan, sampai batahun baliau di sanan, hinggo maso pai balayia, handak manuju banua Siam, baitulah asa mulonyo, kampuang rang Tiku Pariaman. Anak rajo turun tamurun, anak Puti sunduik basunduik, sampai ka Rajo nan batigo, urang batigo badunsanak, surang banamo Mangkudun Sati, bagala juo Patiah Mangkudun, surang banamo Nangkodoh Rajo, Nan ketek si Katik Intan, mamak kanduang dek Nan Tongga, baradiak baduo [ 14 ]ANAK LAHIR IBU MENINGGAL
Tatkala masa dahulunya, adalah rantau serantaunya, jalan
rantau ramai bukan kepalang, dandang berderet di kuala, dandang
niaga dari Aceh, dari Bugis dan Makasar, dandang Malaka negeri
Siam, kapal orang Cina juga singgah.
Jika dibuka si tambo lama, Tambo Alam Minangkabau, waktu masa dahulunya, ada seorang bernama Sutan Balun, kemudian bergelar Datuak Perpatih Nan Sabatang, anak oleh ninik Indo Jati, semasa beliau pergi berjalan, meninggalkan Pariangan Padangpanjang, ia menetap di Tiku Pariaman, yaitu di rumah Tuan Mangkudun.
Selama beliau tinggal di sana, tinggal di rumah raja, yaitu di rumah Rajo Tuo, kakek oleh Nan Tongga Magek Jabang.
Lorong kepada Sutan Balun, orang arif bijaksana, tahu adat sopan santun, ilmu banyak di dadanya, kesayangan Tuanku Rajo Tuo, lebih seperti anak kemenakan, sampai bertahun beliau di sana, hingga suatu masa ia berlayar, hendak menuju benua Siam, begitulah asal mulanya, kampung orang Tiku Pariaman. Anak raja turun temurun, anak puti sundut menyundut, sampai pada raja yang bertiga, mereka tiga bersaudara, si sulung bernama Mangkudun Sati, bergelar Patiah Mangkudun, yang tengah bernama Nangkodoh [ 15 ]parampuan, surang banamo Ganto Pamai, nan surang banamo Suto Suri.
Adolah pada maso itu, sadang laruik candonyo malam, sadang tangah malam papek, sadang nan suni pandangaran, pihak kapado Ganto Pamai, kaluah-kasah dalam kulambu kulambu suto tujuah lampih, inyo nan sadang dalam sakik sadang di tangah lawik basa, manganduang buah dalam tian. mananti saai dalam rumah gatang nantunn, nan labiah bana
Suto Suri, bakato baliau maso itu, “Manolah kau Kambang Alamsani, pangganglah kini kumayan putiah, asokilah rumah bakuliliang, asoikiiah surek nan pusako, buiakiah pintu katujuahnyo, kok lai kan lahia anak nangko.”
Birawari si Kambang Alamsani, nan capek kaki ringan tangan, sugiro diambiaknyo kumayan putiah, asok man dulang ka udaro, mamintak niat ka nan satu, hari batamba laruik juo, alah sakali ayam bakukuak, alah sampai duo kali cukuik katigo hari lah siang.
Lorong kapado Ganto Pamai, sakik batambah kareh juo, mandanyuik cando ka ubun-ubun, maantak sampai ka ujuang kaki, sakik taraso ka sabatangnyo, barenaian paluah di badan, raso ka tabang nyawo di badan. Maliek rupo n4n bak nantun, basugiro malah Suto Suri, diambiak peti ka- tujuahnyo, diambiak siluang kaco intan, dikaluangkan surek pusako, lalu diasoki tangah rumah, sanan mamintak Suto Suri, “Allah Tuhan Rabbani, kok iyo sabana rang Piaman, kok iyo barasal anak rajo, kok lai basunduik anak Puti, barakaik kiramat ayah kanduang, nan diam di Gunuang Ledang, nan balayia di daun upiah, matinyo ba kiramat, hiduiknyo tampek urang batanyo, lahianyo anak Waliullah.”
Ado sabanta antaronyo, kahandak nan sadang ka buliah, pintak sadang ka balaku, tabukak peti katujuahnyo, mambangun siluang kaco intan, lahialah anak hanyo lai. Dek Allah sadang manggarakkan, tibo di lantai lantai putuih, tibo di rusuak rusuak [ 16 ]Rajo, yang paling kecil bernama Katik Intan, yang merupakan mamak kandung Nan Tongga. Mereka punya dua orang adik, yaitu Ganto Pamai dan Suto Suri.
Adalah pada masa itu, sedang larut sepertinya malam, sedang tengah malam gulita, sedang sunyi pendengaran, Ganto Pamai sedang berkeluh-kesah, dalam kelambu sutra berlapis tujuh. Dirinya sedang mengandung.
Berkatalah adiknya Suto Suri, “Kambang Alamsani, pangganglah kemenyan putih, asapilah sekeliling rumah, asapilah azimat pusaka, bukalah ketujuh pintu rumah, supaya lahir anak ini.
Si Kambang Alamsani, yang cepat kaki ringan tangan, segera mengambil kemenyan putih, asap menjulang ke udara, niat meminta kepada yang “Satu”. Hari bertambah larut, Sekali ayam berkokok, dua kali ayam berkokok, cukup ketiga kalinya, malam telah menjadi pagi, pagi pun menjadi siang.
Lorong kepada Ganto Pamai, sakit bertambah keras, berdenyut sampai ke ubun-ubun, menghentak sampai ke ujung kaki, sakit terasa seluruh tubuhnya, berurai peluh di badan, rasa kan terbang nyawa di badan.
Melihat hal seperti ini, bersegeralah Suto Suri, diambilnya tujuh buah peti, diambilnya sebilah kaca intan, dikalungkannya azimat pusaka, diasapinya bagian tengah rumah, sambil memohon Suto Suri berkata, “Ya Allah Tuhan Rabbani, kalau benar anak orang Pariaman, kalau memang benar anak raja, kalau memang benar anak puti, berkat ayah kandung yang keramat, yang berdiam di Gunung Ledang, yang berlayar di pelepah daun, matinya berkeramat, hidupnya tempat orang bertanya, lahirnya anak wali Allah.”
Tidak lama antaranya, kehendak sedang boleh, pinta sedang berlaku, terbukalah peti ketujuhnya, bangunlah kaca intan, lahirlah anak yang ditunggu. Karena Allah yang menggerakkan, jatuh ke lantai lantai retak, retak menjadi terban, anak lahir dengan kantung [ 17 ]taban, tibo di tanah tanah lambang, anak lahia jo karuangnyo.
Badantuang patuih maso itu, babuni gaga di lawitan, babuai guruah dari hulu, bakukuak ayam nan kinantan, babuni balam tigo gayo, maringih kudo Sambarani, manyentak karih nan pusako, raso ka luluih rumah gadang, rumah gadang sambilan ruang, panjang nan tidak panjang bana, salajang kudo balari, sakuaik kuaran tabang.
Urang alah heboh dalam nagari, panuah jorong Kampuang Dalam, sadang dek Si Kambang Alamsani, sugiro diambiak budak nantun, lalu dibaok ka ateh rumah, anak di dalam karuang kulik, diambiak pisau dalam peti, pisau sirauik basi baiak, lalu dituriah karuang nantun, usahkan karuang kan cabiak, hanyo pisau nan sumbiang-sumbiang.
Diambiak pulo karih sabilah, diantak pulo karuang nantun, usah kan karuang ka tabuak, Karih habih biluak-biluak, hilanglah aka maso itu, budak di dalam karuang juo, sanan bakato Suto Suri, “Manolah Kambang kaduoyo, pailah kalian kini nangko, etan ka Tiku Pariaman, iyo ka rumah mandeh Ameh Manah, mandeh dek Nan Gondan Gondoriah japuiklah rencong nan sabilah, rencong Aceh pusako sati, rencong pusako mamak kau, ka panuriah karuang nangko.”
Mandanga kato nan bak kian, turun sakali kaduonyo, inyo nan capek kaki ringan tangan, bajalan bagageh-gageh, dihiliakan labuah nan panjang, manuju jorong ranah rang Tiku, ka rumah Puti Gondoriah. Maliek Si Kambang alah datang, birawari Kambang Alamsani, mangatokan budak alah lahia, tapi sadang dalam karuang juo, mintak disalangi Si Rencong Aceh, untuak panuriah karuang nantun.
Mandanga anak alah lahia, sananglah hati Ameh Manah, sugiro diambiaknyo rencong pusako, dibungkuih dangan kain palangi, lalu didukuang rencong nantun, turun ka bawah inyo sakali, sarato Si Kambang nan baduo, babaliak ka Pariaman hanyo lai. [ 18 ]ketuban, anak jatuh ke tanah, tanah jadi lembang.
Berdentang petir pada masa itu, menggelegar suara di lautan, berbunyi guntur dari hulu, berkokok ayam kinantan, berbunyi balam tiga gaya, meringkik kuda sembrani, menyentak keris pusaka, serasa kan runtuh rumah gadang, rumah gadang sembilan ruang, panjang yang tidak panjang benar, hanya selajang kuda berlari, sekuat kuaran1 terbang
Hebohlah orang dalam nagari, memenuhi jorong Kampung Dalam, sedangkan oleh si Kambang Alamsani, segera diambil anak tersebut, lalu dibawa ke atas rumah, anak yang masih dalam kantung ketuban. Diambilnya pisau dalam peti, pisau terbuat dari besi baja, lalu ditorehnya kantung ketuban, jangankan kantung akan robek, malah pisau yang sumbing.
Diambilnya pula sebilah keris, ditusuknya kantung ketuban itu, jangankan kantung yang tembus, malah keris yang jadi bengkok. Habislah akal waktu itu, anak masih dalam kantung juga. Maka berkatalah Suto Suri, “Pergilah kalian Kambang berdua, sekarang juga ke Tiku Pariaman, ke rumah mandeh Ameh Manah, ibu Nan Gondan Gondoriah, jemputlah rencong pusaka mamakmu, untuk menoreh kantung ketuban ini.”
Mendengar kata tersebut, turun sekali keduanya, mereka yang cepat kaki ringan tangan, berjalan bergegas-gegas, menghiliri jalan yang panjang, menuju jorong ranah Tiku, ke rumah Puti Gondoriah. Melihat si Kambang telah datang, si Kambang Alamsani, mengatakan maksud kedatangannya, hendak meminjam si Rencong Aceh.
Mendengar anak yang telah lahir, senanglah hati Ameh Manah, segera diambilnya Rencong Pusaka, dibungkusnya dengan kain pelangi, digendong dan dibawa turun rumah. Ameh Manah dan si Kambang, pulang kembali ke Pariaman.
1.burung hantu
[ 19 ]Alah tibo di tangah rumah, alah dimintak parasapan dimintak pulo kumayan putiah, bakato sanan Ameh Manah “Mamintak kito pado Allah, bakaua bakeh rang kiramat, kok iyo barasal anak Rajo, kok iyo Puti sunduik basunduik, barakaik kiramat Tuan Haji, nan batampek di Gunuang Ledang salamaiklah anak di karuang nangko.”
Mangko dek mandeh Ameh Manah, lalu dituriahnyo karuang nantun, kalualah anak laki-laki, itulah Anggun Nan Tongga Magek Jabang, nan bagala Magek Durahman, urang surang banamo tigo, anak rang kiramat hiduik-hiduik.
Sukolah urang kasadonyo, sarato urang dalam nagari, sabab Nan Tongga aiah lahia, kan pambangkik batang tarandam, kan pahapuih malu di kaniang, untuak panjapuik dagang nan hilang
Lorong kapado Ganto Pamai, inyo batambah sakik juo, sakik bak raso mambaok lalu, rintang mangaluah maharang panjang, sakik anggoto kasadonyo, ngilulah sagalo pasandian, gilo mahanmpehhampehkan badan, mahampeh ka kida mahampeh ka suok, ayia mato badarai juo, bakato baliau maso itu, “Manolah adiak kanduang Suto Suri, manolah Si Kambang kaduonyo, sarato Si Bujang Salamat, dakek-dakeklah duduak ka mari, ado nan handak denai katokan.
Tantangan anak kanduang denai, alah salamaik turun ka dunia, iyo Nan Tongga Magek Jabang, nan bagala Magek Durahman, sanang raso paratian. Pihak di badan diri denai, sakik indak kapalang tangguang, raso kan sampai ajalullah, garak lah tibo janjian lah sampai, maafkan badan denai nangko, kok lai kato nan tadorong, kok lai salah dangan khilaf, maafkan kasadonyo.
Limbak kapado anak kanduang denai, mamintak kito kapado Tuhan, jadilah inyo Mangkuto dalam nagari, jadi anak nan batuah, barakaik kiramat ayah kanduangnyo, iyo Tuanku Haji Mudo, nan batarak di Gunuang Ledang, jadilah inyo Sumarak Nagari, kayu gadang tampek balinduang, pambangkik batang tarandam, pamupuih malu nan lakek di kaniang, pamaga kampuang dangan koto. [ 20 ]Sesampai di dalam rumah, diminta tungku dan kemenyan putih, berkatalah Ameh Manah, “Memohon kita pada Allah, berkaul pada orang keramat, kalau memang asalnya anak raja, kalau memang Puti sundut menyundut, berkat tuah Tuan Haji, yang bertempat di Gunung Ledang, selamatlah anak di kantung ini.”
Oleh mandeh Ameh Manah, ditorehnya kantung tersebut. Keluarlah anak laki-laki, itulah Anggun Nan Tongga Magek Jabang, yang bergelar Magek Durahman, seorang yang menyandang tiga nama, anak yang hidupnya bertuah.
Bersuka-citalah orang dalam negeri, karena Anggun Nan Tongga telah lahir, akan membangkit batang terendam, akan menghapus malu di kening, untuk menjemput orang yang hilang.
Keadaan Ganto Pamai saat itu, bertambahlah sakit jua, sakit yang tak tertahankan, mengeluh mengerang panjang, sakit semua anggota tubuhnya, ngilu segala persendiannya, menghempashempaskan badan, menghempas ke kiri menghempas ke kanan, air mata berderai jua, berkatalah beliau saat itu, “Adik kandung Suto Suri, Kambang berdua, serta Bujang Selamat, dekat-dekatlah duduk ke mari, ada yang hendak denai2 katakan.
Tentang anak kandung denai, telah selamat lahir ke dunia, itulah Nan Tongga Magek Jabang, yang bergelar Magek Durahman, senanglah rasa hati denai. Sedangkan diri denai, sakit bukan kepalang tanggung, rasanya kan sampai ajal, gerak datang janji telah sampai, maafkan diri denai ini, kalau ada kata yang terdorong, kalau ada salah dan khilaf, maafkanlah semuanya.
Mengenai anak kanduang denai, memohon kita kepada Tuhan, jadilah dia mahkota dalam nagari, jadi anak yang bertuah, berkat keramat ayah kandungnya, yaitu Tuanku Haji Mudo, yang bersemedi di Gunung Ledang, jadilah ia semarak nagari, kayu besar tempat berlindung, pembangkit batang terendam, pemupus malu yang lekat di kening, pemagar kampung dan koto.
2. saya
[ 21 ] Mano pulo ang Bujang Salamat, paganglah umanaik denai nangko, kok sampai Nan Tongga gadang, inyo nan jan ang sio-siokan, waang ka jadi tangan kanan, waang ka jadi tungkek bajalan, paciklah umanaik arek-arek, buhua di dalam kabek pinggang, sakai nan jan dilupokan.”
Kato sudah inyo bajalan, tanang maadok jalan Allah sarupo urang tidua sajo, tabayang galak di bibianyo, hiru-biru dalam rumah gadang, buni tangih babuah-buah, buni ratok baluluangan. Urang lah heboh dalam nagari, diguguah tabuah larangan, tando cilako nan lah tibo, Ganto Pamai nan lah hilang, manangihlah si Kambang kaduonyo, manggabak ayia mato si Salamat, rusuahlah hati Suto Suri, Tuhan lah sudah manggarakkan, habih janjian samaso itu, pulang kumbali bakeh nan punyo.
Urang di nagari lah heboh pulo, tabuah larangan babuni juo, sahuik manyahuik tabuah nan banyak, tabuah Jumat panyudahi, tahulah urang dalam nagari, saluruah Koto Pariaman, dalam Korong Kampuang Dalam, suko datang susah pun tibo, anak lahia mandeh bajalan, pulang kasadonyo pado Allah, bakato mandeh Suto Suri,
“Manolah Si Kambang kaduonyo, sarato jo si Bujang Salamat, bakalah sugiro kumayan putiah, asok-i kulambu bakuliliang, mamintak kito basamo-samo, salamaiklah handaknyo kakak kanduang, mandeh kanduang si Magek Jabang, lapeh nan dari pasakitan, jauah dari azab kubua santoso sajolah pajalanan.
Urang lah rami badatangan, ka rumah gadang sambilan ruang, dikakok karajo surang-surang, alah langkok sarat rukunnyo, diantakan mayik ka pusaro, cukuik jo panji kabasaran, dikubuakan mandeh Ganto Pamai, tasirah ranah panggalian, tatanam mejan nan duo, ditanam pulo pudiang jo kamboja.
Lah salasai nan bak nantun, urang lah pulang kasadonyo, namun nan samalam-malam nantun, urang mangaji jo salawat, takhalia ratik basamo-samo, lah fajar sajo baru ba-ranti. [ 22 ]Manalah engkau Bujang Selamat, peganglah amanat denai ini, kalau sampai Nan Tongga besar, jangan sia-siakan dia, jadilah tangan kanannya, jadi tongkat berjalannya, pegang erat amanat ini, buhulkan dalam ikat pinggang, sekali-kali jangan lupakan.”
Setelah selesai berujar, Ganto Pamai menghembus nafas terakhir, menghadap illahi dengan tenang, seperti orang yang tertidur pulas, terbayang senyum di bibirnya. Haru-biru dalam rumah gadang, bunyi tangis berbuah-buah, bunyi ratap meraung-raung. Hebohlah orang dalam nagari, tabuh larangan dipukul, tanda celaka yang telah datang. Ganto Pamai telah hilang. Menangislah si Kambang keduanya, berlinang air mata si Salamat, rusuhlah hati Suto Suri. Tuhan telah menggerakkan, habis janji masa itu, pulang kembali pada empunya.
Orang di nagari telah heboh, tabuh larangan berbunyi juga, sahut menyahut tabuh yang banyak, disudahi tabuh Jumat, tahulah orang dalam nagari, seluruh koto Pariaman, dalam korong Kampuang Dalam, suka datang susah pun tiba, anak lahir ibu meninggal, pulang semuanya pada Allah.
Berkatalah mandeh Suto Suri, “Kambang berdua serta Bujang Salamat, bakarlah segera kemenyan putih, asapilah sekeliling kelambu, meminta kita bersama-sama, selamatlah hendaknya kakak kandung, ibu kandung si Magek Jabang, lepas dari kesakitan, jauh dari azab kubur, sentosa dalam perjalanannya.”
Ramai orang berdatangan, ke rumah gadang sembilan ruang, mengurus jenazah bersama-sama, Setelah lengkap syarat dan rukunnya, mayat diantarkan ke pusara, lengkap dengan panji kebesaran, dikuburlah mandeh Ganto Pamai. Memerah tanah penggalian, tertanam dua batu nisan, puding dan kamboja juga ditanam.
Setelah semuanya selesai, pulanglah semua orang, namun pada malam-malam itu, orang mengaji dan bersalawat, bertahlil dan berzikir bersama-sama. Setelah terbit fajar, baru mereka berhenti. [ 23 ]Tinggilah puncak Gunuang Ledang
Nampak nan dari Pariaman
Kalihatan nan dari Ayia Sirah
Anam Koto Pakandangan;
Lah gadang juo Magek Jabang
Sadang elok ka pamenan
Duo jo Puti Gondoriah
Urang baduo batunangan.
Dek lamo kalamoan, Nan Tongga batambah gadang juo, gadang bak birah di lasuang, tinggi bagai diambuang-ambuang, dahulu ketek kini lah bujang, bujang elok ka pamenan, jadi sumarak rumah nan gadang, jadi Mangkuto dalam nagari, rancak nan bukan alang-alang, pusek jalo pumpunan ikan, dalam Ranah Tiku Pariaman.
Adolah pado suatu hari, naiaklah mandeh Suto Suri, baduo dangan si Bujang Salamat, iyo ka ateh anjuang perak, anjuang perak cumalo ganti, baíurah puio jo ayia ameh, bakato mandeh Suto Suri, “Manolah anak Magek Jabang, Anak kanduang sibiran tulang, dangakan malah mandeh katokan, lah habih bulan baganti bulan, bulan baganti dangan tahun, Buyuang basarang gadang juo, alah bujang disabuik urang, alah koh jalan kiro-kiro?”
Mandanga kato mandeh kanduang, duduak basimpuah Magek Jabang, lalu manjawab inyo sakali. “Manolah mandeh kanduang denai, apokoh sabab dek bak itu, salorong salamo nangko, Mandeh balun parnah manyabuik, kato-kato nan bak kian, tarangkan malah pado denai, apokoh sabab dek baitu, cubo sabuikkan ciek-ciek, tarangkan rundiangan jaleh-jaleh, bak ibarat urang babilang, nak sajuak raso dalam hati, nak sanang dalam kiro-kiro.”
Sanan manjawab Suto Suri, “Manolah Anak kanduang diri, kok lah bajalan kiro-kiro, ado sabuah pusako denai, pusako dari mamak kanduang, pamenan urang dahulunyo dimainkan urang patang jo [ 24 ]Tinggilah puncak Gunung Ledang
Tampak nan dari Pariaman
Kelihatan dari Ayia Sirah
Anam koto Pakandangan;
Sudah besar jua Magek Jabang
Sedang elok untuk permainan
Berdua dengan Puti Gondoriah
Mereka bertunangan
Karena lama-kelamaan, Nan Tongga bertambah besar jua, besar seperti birah di tepi lesung, tinggi bagai diambung- ambung, dahulu kecil sekarang telah bujang, bujang elok untuk permainan, jadi semarak rumah nan gadang, jadi mahkota dalam nagari, gagah bukan kepalang, pusat jala pumpunan ikan, dalam Ranah di Tiku Pariaman.
Adalah pada suatu hari, naiklah mandeh Suto Suri, berdua dengan si Bujang Salamat, ke atas anjung perak, anjung perak kemala ganti, berturap dengan air emas3, berkatalah mandeh Suto Suri, “Manalah anak Magek Jabang, anak kandung sibiran tulang, dengarkanlah mandeh berkata, telah habis bulan berganti bulan, buan berganti dengan tahun, Buyung bertambah besar jua, telah bujang disebut orang, sudahkah anak mengerti ?”
Mendengar kata mandeh kandung, duduk bersimpuh Magek Jabang, lalu segera ia menjawab, “Manalah Mandeh kandung denai, selama ini Mandeh belum pernah menyebut hal ini, terangkanlah pada denai, apakah sebabnya seperti itu, selorong selama ini, Mandeh belum pernah menyebut, kata-kata seperti itu, terangkanlah pada denai, apakah sebabnya begitu, coba sebutkan satu-persatu, terangkan rundingan jelas-jelas, seperti ibarat orang berbilang, supaya sejuk dalam hati, supaya senang dalam pikiran.”
Lalu menjawablah Suto Sari, “Manalah anak kandung diri, kalau sudah bisa berpikir, ada sebuah pusaka denai, pusaka dari mamak kandung, permainan orang dulunya, dimainkan orang pagi
3. hiasan berlapis emas
[ 25 ]pagi, mnain catua janyo urang, buah catua ameh jo podi, pakailah kini dek Anak”
Mandanga kato nan bak kian, manyahuik Magek Jabang “Kok itu kato Mandeh, cubo ajari malah denai, denai nan indak manyalahi.”
Diajakan anak main catua, ciek diaja duo dapek, anak cadiak hati tarang, indak ado urang ka lawannyo, lah panda bamain catua, diaja pulo bamain kudo, lalu sajo kasadonya, capek pandai dari gurunyo.
Diaja pulo bamain gayuang, pencak silek sacukuiknyo, labiah pandeka dari gurunyo, diaja pulo inyo manyabuang tahu di tuah ayam jantan, tahu mambulang jo mamigo, tahulah pulo inyo tantang itu, sabuah indak ado nan kurang
Habih alemu ateh dunia, diaja pulo lai mangaji, mangaji qur’an dangan hadits, mangaji nahu dangan saraf, baiak mantik jo maani, labuah indak nan tingga, cukuik alemu maso itu, baiak alemu dunia jo akhirat, jaranglah urang ka bandiangnyo. [ 26 ]dan petang, main catur namanya kata orang, buah catur emas kecilkecil, pakailah sekarang oleh anak.”
Mendengar kata seperti itu, menyahut Magek Jabang, “Kalau itu kata Mandeh, coba ajari malah denai, denai yang tidak akan membantah.”
Diajarkan anak main catur, satu diajar dua dapat, anaknya cerdas hati lurus, tidak ada yang bisa mengalahkannya, setelah pandai bermain catur, ia diajari menunggang kuda, lalu saja semuanya, cepat pandai daripada gurunya. Diajari pula ia menyabung, tahu di tuah ayam jantan, tahu membulang dan membega, tahulah pula ia tentang itu, sebuah pun tidak ada yang kurang.
Habis ilmu dunia, diajar pula ia mengaji, mengaji Quran dengan hadis, mengaji nahu dan saraf, baik mantik dan maani, tidak ada yang tertinggal, cukup ilmu masa itu, baik ilmu dunia dan akhirat, jaranglah orang kan bandingnya. [ 27 ]Galanggang Intan Korong
Tasabuik curito Nangkodoh Baha, urang baduo badunsanak, surang jantan surang batino, adiaknyo banamo Intan Korong, musahua barito suok kida, gadih nan rancak geneng pulo, dalam kampuang Sungai Garinggiang, awak rancak rang kayo pulo.
Sadang kapado maso itu, dibukak galanggang siang ma³am, mukasuik mancari judu, iyo suami Intan Korong, gadih geneng dalam nagari. Rami galanggang bukan buatan, raminyo urang siang malam, urang manyabuang jo badadu, cukuik bamacanm-macamn parmainan.
Ado bacatua jo main kudo, di mano-mano urang datang, baiak sutan anak rajo, maupun anak urang kayo-kayo, bamacam ragam pakaiannyo, allahurabbi rami galanggang, alah hampia sabulan ka lamonyo.
Pado maso kutiko itu, takana dek Tongga Magek Jabang, handak mamacah langkah, handak maliek kampuang urang, niat manjalang galanggang rami, iyolah galanggang Intan Korong, lalu dijalang mandeh kanduang, nan banamo Suto Suri, “Manolah Mandeh janyo denai, denai mandanga kaba barito, urang sadang mamancak galanggang, etan di kampuang Sungai Garinggiang, iyo galanggang Intan Korong, alah sabulan galanggang rami, banyaklah [ 28 ]GELANGGANG INTAN KORONG
Tersebutlah cerita Nahkoda Baha, mereka dua bersaudara, laki-laki dan perempuan, adiknya bernama Intan Korong, mashur berita kanan kiri, gadis yang cantik geneng pula, dalam kampung Sungai Garingging, awak cantik juga kaya.
Sedang pada masa itu, dibukalah gelanggang siang dan malam, yang bermaksud untuk mencari jodoh, suami bagi Intan Korong, gadis manja dalam nagari. Ramai gelanggang bukan buatan, ramainya orang siang dan malam, orang menyabung dan main dadu, cukup bermacam-macam permainan.
Ada yang bercatur dan berkuda, orang-orang berdatangan dari mana-mana, baik sutan anak raja, mau pun orang kaya raya, bermacam ragam pakaiannya, allahurabbi ramai gelanggang, telah hampir sebulan lamanya.
Pada masa ketika itu, teringatlah oleh Nan Tongga Magek Jabang, hendak memecah langkah, hendak melihat kampung orang, niat melihat gelanggang ramai, yaitu gelanggang Intan Korong, lalu ditemuinyalah mandeh kandung, yang bernama Suto Suri, “Manalah Mandeh kandung denai, denai mendengar berita, orang memancang gelanggang, di kampung Sungai Garinggiang, bernama gelanggang Intan Korong, sudah sebulan gelanggang ramai,banyaklah orang [ 29 ]urang datang ka sanan, cukuiklah kampuang maramikan, baiak darí Tiku Pariaman, atau pun Aua Pakandangan Manggopoh Lubuak Basuang, jauah dakek urang lah dalang, denai surang nan balun tampak.”
Mandanga kato anak kanduang, galak tasanyum man- deh Suto Suri, lalu manjawab maso itu, “Anak kanduang Magek Jabang, Buyuang baru paja ketek, balun parnah manampuah galanggang, kok tak tahu di baso-basi, malu sajo nan ka dapek, santano pulo Anak kanduang, Anak nan alah batunangan, iyo jo Puti Gondan Gandoriah, etan di Tiku Pariaman, apo guno pai ka galanggang?”
Manjawab Nan Tongga Magek Jabang, “Kok bak itu kato Mandeh, Mandeh lah sudah bapangaja, baiak dunia jo akhirat, raso ka tabaok adat usang, raso ka taturuik dunia urang, denai nak mamacah-macah langkah, iyo ka galanggang nantun, galanggang rami janyo urang.
Kok indak karambia pantai
Manga jilatang ditabang
Kok indak denai ka balai
Malu tatumbuak di badan surang.”
Dalam bahandai-handai juo, ditagah indak tatagah, dilarang indak talarang, bak pantun urang juo:
Ditabang indak tatabang
Ditateh malah nan jadi;
Dilarang indak talarangg
Dilapeh juo nan jadi.
Bakato sanan mandeh Suto Suri, “Jikok bak itu kato Buyuang, kok kareh bana nak ka balai, pagang pitaruah mandeh kanduang, nak dicurai dipapakan, ditatai babilang buah, buhua arek dalam kabek pinggang, kok lalok kan jadi kalang, kok siang kan jadi tungkek, mudo kito iyo bapusako, baadat sapanjang jalan, bacupak sapanjang batuang, masak pangaja patang jo pagi. [ 30 ]datang ke sana, cukuplah kampung yang meramaikan, baik dari Tiku Pariama, atau pun Aua Pakandangan, Manggopoh Lubuak Basuang, jauh dekat orang telah datang, dari berbagai kampung, baik dari Tiku Pariaman, atau pun Aua Pakandangan Maggopoh Lubuak Basuang, denai seorang yang belum tampak.”
Mendengar kata anak kandung, gelak tersenyum mandeh Suto Suri, lalu ia menjawab, “Anak kandung Magek Jabang, buyung baru anak kecil, belum pernah menempuh gelanggang, kalau tidak pandai berbasa-basi, malah malu yang akan didapat. Lagipula anak kandung, anak sudah bertunangan, dengan Puti Gondan Gandoriah, yang tinggal di Tiku Pariaman, apa gunanya pergi ke gelanggang?”
Menjawab Nan Tongga Magek Jabang, “Kalau begitu kata Mandeh, Mandeh yang lebih berpengalaman, baik di dunia mau pun akhirat, rasa akan terbawa adat usang, rasa kan dituruti dunia orang, denai nak memecah-mecah langkah, ke gelanggang itu, gelanggang ramai kata orang.
Kalau tidak kelapa pantai
Mengapa jelatang ditebang;
Kalau tidak denai ke balai
Malu tertumbuk di badan seorang.”
Dalam berhandai-handai juga, dicegah tidak tercegah, dilarang tidak terlarang, bak pantun orang juga:
Ditebang tidak tertebang
Dipangkas malah nan jadi;
Dilarang tidak terlarang
Dilepas jua nan jadi.
Berkatalah mandeh Suto Suri, “Jika begitu kata Buyung, kalau berkeras hendak ke balai, pegang petaruh mandeh kandung, yang akan dicurai dipaparkan, ditata berbilang buah, buhul erat dalam ikat pinggang, jika tidur jadikan bantal, jika siang jadikan tongkat, masa muda kita berpusaka, beradat sepanjang jalan, bercupak sepanjang betung, makan pengajaran pagi dan petang. [ 31 ]Manolah anak Magek Jabang, kok sampai Anak ka balai, Manti Pangulu dihampiri, urang tuo dimuliakan, samo gadang dihormati, nan ketek musti dikasihi, bansaik miskin jan babedo.”
Sanan manyahuik Nan Tongga, “Iyo bana bak kato Mandeh, kato sapatah rundiangan Mandeh, denai buhua di kabek pinggang, sabuah indak kan lupo, salorong pulo pado itu, denai pai jo si Salamat, kok talupo kok tasalah, inyo kan lai jadi kawan.”
Bamacam pulo nasehat Mandeh, tantangan adat di galanggang, sabuah indak nan tingga, barulah Nan Tongga bakameh, dihimbau malah si Kambang Alamsani, bagageh masuak ka dalam biliak dalam, dibukak peti kayu herang, diambiak pakaian sapatagak, sarawa pidandang guntiang Aceh, sajangka pucuak rabuangnyo, satumpak banang amehnyo. Dipakailah pakaian maso itu, takanak pulo baju biludu, guntiang nan caro Sialahan, tateleng kanak deta palangi. tasisik karih pandak Jawo, rupo bak sutan-sutan, sariklah puti ka judunyo, sukarlah rajo kan tandiangannyo, bakato sanan mandeh kanduang, “Anak denai Magek Jabang, sabuah pulo denai sampaikan, namonyo Anak pai ka balai, iyo ka galanggang urang rami, pagang pitaruah dari mandeh, adat hiduik kito di dunia, susah sanang kan dirasoi, hino mulia kan ditangguang, kok basuo silangsalisiah, basuo bantah jo kalahi, usah malu dibaok pulang, maso rajo nan dahulu, iyolah rajo nan ka lawik, balunlah kampuang dipanjek malu.
Manolah anak kanduang denai, dangakan bana denai katokan, sakali kato urang lalu, jan takuik nyawo ka tabang jan ganta darah kan taserak, jan malu dibaok pulang, baitu adat anak laki-laki. Baiak mandeh katokan juo, jikok malu dibaok pulang, kito bacarai kini nangko, usah dipijak halaman denai, usah ditingkek janjang denai, jan ditapiak rumah nangko, itulah nan pitaruah mandeh, pacik ganggam arek-arek.”
Manjawab Nan Tongga Magek Jabang, “Kok itu Mandeh rusuahkan, jan Mandeh tagamang bana, pitaruah Mandeh denai [ 32 ]Manalah anak Mangek Jabang, kalau sampai anak ke balai, Manti Penghulu dihampiri, orang tua dimuliakan, sama besar dihormati, yang kecil harus dikasihi, miskin dan kaya jangan dibedakan.”
Menyahutlah Nan Tongga, “Benar seperti kata Mandeh, kata sepatah rundingan Mandeh, denai buhul di ikat pinggang, sebuah pun tak kan lupa, selorong pula dengan itu, denai pergi dengan si Salamat, kalau ada yang terlupa atau salah, ia akan mengingatkan.”
Bermacam pula nasehat mandeh, tentang adat di gelanggang, sebuah pun tidak ada yang tertinggal, barulah Nan Tongga berkemas. Dipanggilnya si Kambang Alamsani, bergegas ia masuk ke bilik dalam, dibukanya peti kayu erang, diambilnya pakaian satu setel, celananya gunting Aceh, sejengkal sulaman pucuk rebungnya, setumpak benang emasnya. Bajunya beludru, gunting Sialahan, destar pelangi terteleng di kepala, tersisip keris pandak Jawa, rupanya seperti sutan-sutan, sulitlah puti kan jadi jodohnya, sukarlah raja kan tandingannya, berkatalah mandeh kandung, “Anak denai Magek Jabang, sebuah pula denai sampaikan, namanya anak pergi ke balai, ke gelanggang orang ramai, pegang petaruh dari mandeh, adat hidup kita di dunia, susah senang akan dirasakan, hina mulia kan ditanggung, kalau bertemu silang selisih, bertemu bantah dan kelahi, usah malu dibawa pulang, pada masa raja dahulu, rajalah yang pergi ke laut, supaya kampung tidak dapat malu.
Manalah anak kandung denai, dengarkan benar denai katakan, sekali kata orang lalu, jangan takut nyawa kan terbang, jangan gentar darah kan terserak, jangan malu dibawa pulang, begitu adat anak laki-laki. Baik mandeh katakan juga, jika malu dibawa pulang, kita bercerai sekarang juga, usah diinjak halaman denai, usah dinaiki jenjang denai, jangan ditepik rumah ini, itulah benar petaruh mandeh, pegang genggam erat-erat.”
Menjawab Nan Tongga Magek Jabang, “Kalau itu yang Mandeh rusuhkan, jangan mandeh ragu, petaruh Mandeh denai pegang, denai genggam erat, takkan dilepaskan, entah kalau lupa [ 33 ]pagang, denai pacik ganggam arek, diganggam indak dilapehkan, antah kok lupo dalam tidua.”
Bakato mandeh Suto Suri, “Lah sanang hati denai malapeh, basugiro malah Anak pai, hari batambah tinggi juo, pailah baduo jo si Salamat, baoklah ayam pautan kilo, ayam Kinantan Gombak Bauak, nan manyasok ka Gunuang Ledang, nan bakukuak di awang-awang, katurunan Biriang Sanggonani, nan diam di puncak Gunuang Marapi, siang di-kundang alang tabang, malam dikundang musang jantan.
Ikolah urai duo kati, untuak taruah di galanggang, pandaipandailah mambaok diri, namonyo awak mudo matah.
Habih rundiangan tantang itu, turun ka laman hanyo lai, Bujang Salamat alah mananti, naiak sakali ka ateh kudo, bakato sanan mandeh kanduang,
“Pangganglah baro di tampuruang
Abu nan jan Anak buang:
Pagangiah pitaruah mandeh kanduang
Malu nan jan dibaok pulang.”
Manjawab Nan Tongga Magek Jabang, pantun dijawab dangan pantun,
“Jikok manjuluak buah pinang
Salodang jan dijatuahkan:
Mujua tuah tabaok pulang
Kok malang hilang di lawitan.”
Lah bajalan Nan Tongga Magek Jabang, buni ganto badanciang-danciang, si Salamat mairiang di balakang, dimudiakkan labuah nan panjang, labuah panjang baliku-liku, kampuang rami jorong ba jorong. Dek lamo lambek bajalan, jauah basarang dakok juo, dakoklah hampia tibo, etan di kampuang Sungai Garinggiang, iyo di galanggang Intan Korong.
Takajuik urang di galanggang, galanggang nan sadang rami [ 34 ]dalam tidur.”
Berkata Mandeh Suto Suri, “Sudah senang hati denai melepas, bersegeralah anak pergi, hari bertambah siang jua. Pergilah berdua dengan si Salamat. Bawalah ayam pautan kita, ayam Kinantan Gombak Bauak, yang minum ke Gunung Ledang, yang berkokok di awang-awang, keturunan Biriang Sanggonani, yang berdiam di puncak Gunung Marapi, siang dikundang elang terbang, malam dikundang musang jantan. Inilah emas dua kati, untuk bertaruh di gelanggang. Pandai-pandailah membawa diri, namanya kita masih muda belia.”
Setelah habis rundingan, turunlah Nan Tongga ke halaman, Bujang Salamat telah menanti, naiklah ia ke atas kuda, berkatalah mandeh kanduang,
Pangganglah bara dalam tempurung
Abunya jangan Anak buang;
Peganglah petuah mandeh kandung
Malu jangan dibawa pulang.”
Menjawab Nan Tongga Magek Jabang, pantun dijawab dengan pantun,
Jika menjolok buah pinang
Seludang jangan dijatuhkan;
Mujur tuah terbawa pulang
Kalau malang hilang di lautan.”
Berjalanlah Nan Tongga Mangek Jabang, bunyi genta berdencing-dencing, si Salamat mengiringi di belakang. Ditapakinya jalan yang panjang, jalan panjang berliku-liku, kampung ramai jorong berjorong, setelah lama berjalan, jauh bersarang dekat juga, dekat telah hampir tiba, yaitu di kampung Sungai Garinggiang, di gelanggang Intan Korong.
Terkejut orang di gelanggang, gelanggang yang sedang ramai [ 35 ]bana, rintang manyabuang main ambuang, sadang asyik mancaliak parmainan, baru tadanga ganto kudo, hiruaklah urang di galanggang. Maliek Nan Tongga alah datang, sibuk urang ateh balai, ayam babulang alah ba-ungkai, taruah dipadan dipulangkan, urang babisiak lah badasuih, tanyo batanyo samo awak, Rajo mano garan nan tibo, rajo mano sutan di mano, salamo galanggang mulo dibukak, balun ado tamu nan datang, nan sajombang sakali nangko.
Datanglah Manti jo Pangulu, ka tangah carano siriah pinang. batutuik jo kain dalamak, urang bahimpun tacangang sajo, maliek rancak Sutan nan datang, tapi urang sado nan tahu, alah mangecek samo surang. “Ikolah Nan Tongga Magek Jabang, nan geneng di Pariaman, tunangan Puti Gondan Gondoriah, suntiang pamenan Tiku Pariaman, barulah basuo lawan Nangkodoh Baha.”
Alah sabanta bahandai-handai, lah tibo Nangkodoh Baha, salam tasimpuah hanyo lai, kapado Nan Tongga Magek Jabang, baru basuo inyo batanyo, “Mano Tuan nan baru datang, jan salah ambo manyabuik, alah sabulan galanggang rami, sakali nangko Tuan ka mari, Tuan di mano tampek diam, dari mano asa Tuan, nak jaleh kami mahimbaukan, alun parnah tamu nan datang, nan sacongkak sajombang iko.”
Manjawab Nan Tongga Magek Jabang, “Jikok itu nan Tuan tanyokan, ambo nan datang dari Pariaman, dari korong Kampuang Dalam, ambo Nan Tongga Magek Jabang, nan bagala Magek Durahman.”
Baru tadanga di kato itu, takajuik cando Nangkodoh Baha, namo alah tadanga juo, tapi basuo sakali balun, dangan Nan Tongga Magek Jabang, urang surang banamo tigo, santano salamo salambek nangko, Nan Tongga gadang di anjuang sajo, di ateh Anjuang Cumalo Ganti.
Alah sabanta antaronyo, urang baranti manyabuang ayam, gilo mamandang Nan Tongga sajo, sadang babincang-bincang di [ 36 ]benar, rintang menyabung dan mengambung, sedang asyik melihat permainan, baru terdengar genta kuda, ributlah orang di gelanggang. Melihat Nan Tongga telah datang, sibuk orang di atas balai, ayam berbulang telah diungkai, taruhan yang dipasang dipulangkan, orang berbisik telah berdesus, bertanya-tanya sesama mereka, raja mana gerangan yang datang, raja mana sutan di mana, selama gelanggang mula dibuka, belum ada tamu yang datang, yang sejombang seperti sekarang.
Datanglah manti dan penghulu, ke tengah cerana sirih pinang, bertutup dengan kain delamak, orang yang berhimpun tercengang saja, melihat rancak sutan yang datang, tapi orang yang telah tahu, telah berbicara sesama mereka, “Inilah Nan Tongga Magek Jabang, yang geneng di Pariaman, tunangan Puti Gondan Gondoriah, sunting permainan Tiku Pariaman, barulah bertemu lawan Nangkodoh Baha.”
Setelah berhandai-handai sebentar, datanglah Nangkodoh Baha, salam tersimpuh kepada Nan Tongga, setelah itu ia bertanya, “Manalah Tuan yang baru datang, jangan salah hamba menyebut, sudah sebulan gelanggang ramai, baru sekali Tuan kemari, Tuan di mana tempat berdiam, dari mana asal Tuan, supaya jelas kami memanggil, belum pernah ada tamu yang datang, yang sejombang dan secongkak ini.”
Menjawab Nan Tongga Magek Jabang, “Jika itu yang Tuan tanyakan, hamba datang dari Pariaman, dari korong Kampung Dalam, hamba Nan Tongga Magek Jabang, yang bergelar Magek Durahman.”
Mendengar jawaban itu, terkejut Nangkodoh Baha, nama telah terdengar jua, tapi belum bersua sekali pun, dengan Nan Tongga Magek Jabang, orang sendiri bernama tiga, karena selama ini, Nan Tongga besar di anjung saja, di atas anjung Kemala Ganti.
Sebentar antaranya, orang berhenti menyabung ayam, gila memandang Nan Tongga saja, sedang berbincang-bincang di atas [ 37 ]ateh balai, baiak jo Manti dan Pangulu, maupun dangan Nangkodoh Baha, sanan bakato Nangkodoh Baha, “Manolah Tuan Tongga janyo ambo, usahlah kito bahandai juo, hari batambah tinggi juo, marilah kito bapadu padan.”
Manjawab sanan Nan Tongga, “Manolah Tuan janyo ambo, di mano Tuan alah maliek, ambo tahu bapadu padan, ka balai baru sakali nangko, gilo di ateh anjuang sajo.”
Galak tasengeng Nangkodoh Baha, galak bacampua jo cimeeh, “Usahlah Tuan bakato baitu, jikok tak tahu bapadu padan, manga ditampuah galanggang rami, elok malah tingga di rumah, kok basimbang jo main congkak, atau bamain galah tangah laman.”
Mandanga kato nan bak kian, tasirah muko Nan Tongga, lalu manjawab inyo sakali, “Kok bak itu malah nan baiak, molah dibulang ayam kito, ketek bulang samo kanan, nan gadang bulang samo kiri.” Ayam dibulang hanyo lai, taruah ditampin maso itu, taruah batendek pulo di atehnyo, kok kalah Nangkodoh Baha, tabaok sato Intan Korong, kok kalah Nan Tongga, tabaok sato Nan Gondoriah, sanan bakato Nangkodoh Baha, “Mano waang Rangguang Pamenan, himbaukan malah tuah ayam, himbaukan tuah taji nangko.
Padi banamo silasuik pandan
Tumbuah di padang galigato;
Taji banamo sacabiak kapan
Dilapeh urang di muaro.”
Tadanga di kato itu, bakato pulo Nan Tongga Magek Jabang, “Mano Tuan Bujang Salamat, himbaukan tuah taji nangko.
Taji banamo kalang sari
Dilacuik anak garagasi
Bulangnyo kareh bak basi
Banang digantiak anak bidodari”
Baha, berkatalah Nangkodoh Baha, “Manalah Tuan Tongga, usahlah kita berhandai-handai, hari bertambah siang jua, marilah kita berpadu padan.”
Menjawablah Nan Tongga, “Manalah Tuan Nangkodoh Baha, di mana tuan pernah melihat, hamba tahu berpadu padan, ke balai baru sekali ini, selalu berdiam di anjung saja.”
Gelak tersenyum Nangkodoh Baha, gelak bercampur cemooh, “Usahlah Tuan berkata seperti itu, jika tak tahu berpadu padan, mengapa ditempuh gelanggang ramai, elok malah tinggal di rumah, bermain simbang dan congklak, atau bermain galah di tengah halaman.”
Mendengar kata seperti itu, memerah wajah Nan Tongga, lalu menjawab ia segera, “Kalau seperti itu malah yang baik, marilah membulang ayam kita, yang kecil dibulang di kaki kanan, yang besar dibulang di kaki kiri.”
Maka dibulanglah ayam mereka, taruhan pun ditampin masa itu, taruhan bertambah pula di atasnya, kalau kalah Nangkodoh Baha, terbawa kalah Intan Korong, kalau kalah Nan Tongga, terbawa kalah NanGondoriah, berkatalah Nangkodoh Baha, “Mana Waang 4 Rangguang Pamenan, panggilkanlah tuah ayam, himbaukan tuah taji ini.
Padi bernama silasuik pandan
Tumbuh di padang gelegata;
Taji bernama secabik kafan
Dilepas orang di muara.”
Mendengar kata tersebut, berkata pula Nan Tongga Magek Jabang, “Manalah Tuan Bujang Salamat, himbaukan tuah taji ini.
Taji bernama kalang sari
Dilecut anak gergasi
Bulangnya keras seperti besi
Benang dijentik anak bidadari.”
4. kamu [ 39 ]Tadanga di tuah nantun, tarangah Nangkodoh Baha “Manolah waang Rangguang Pamenan, himbaukan tuah ayam nangko, iyolah Si Biriang Sanggonani, nan manyasok ka lawik lapeh, nan makan ka Gunuang Marapi
Batang cubadak di Sungai Aua
Ditabang lalu dirabahkan;
Dek musang indak talulua
Dek alang indak tamakan.”
Manjawab sanan Si Bujang Salamat, “Manolah Kinantan Gombak Bauak, nan makan di tapak tangan, nan manyasok ka Gunuang Ledang.
Kambanglah pandan di tapi taluak
Ditabang nak rang pasa Kubang;
Waang Kinantan Gombak Bauak
Bapantang kalah di galanggang”
Ayam dilapeh hanyo lai, sakali garabuang naiak, duo kaii garabuang turun, patahlah ayam Nan Tongga, kanai taji dek taji Sanggonani. Maliek ayam alah patah, galak tabahak Nangkodoh Baha.
“Balam barabah dalam padi
Ka mano badan ka makan lai;
Alah patah cando kamudi
Kapa kan karam haiyo lai.”
Sanan bakato Nan Tongga, “Manolah Tuan Bujang Salamat, lah patah nampaknyo ayam kito, himbaukanlah tuah kasatian!”
Manjawab Si Bujang Salamat, “Manolah Tuan kanduang ambo, pihak Kinantan Gombak Bauak. patah kapak patungkek paruah, patah kaki batungkek mandah, jikok buto babintang tarang. Mano waang Kinantan Gombak Bauak, jan waang mambari malu, gayuangkanlah gayuang tuah waang!” [ 40 ]Mendengar tuah tersebut, Nangkodoh Baha berkata, “Manalah Waang Rangguang Pamenan, himbaukan tuah ayam ini, si Biriang Sanggonani, yang menyesap ke laut lepas, yang makan ke Gunung Marapi.
Batang cempedak di Sungai Aur
Ditebang lalu direbahkan:
Oleh musang tidak terlulur
Oleh elang tidak termakan.”
Menjawablah si Bujang Salamat, “Manalah Kinantan Gombang Bauak, yang makan di telapak tangan, yang menyesap ke Gunung Ledang.
Kembanglah pandan di tepi teluk
Ditebang anak orang Pasar Kubang;
Waang Kinantan Gombang Bauak
Berpantang kalah di gelanggang.”
Ayam pun kemudian dilepas, sekali melambung naik, dua kali melambung turun, patahlah sayap ayam Nan Tongga, terkena taji Sanggonani. Melihat ayam telah patah sayap, Nahkoda Baha tertawa terbahak.
“Balam barabah dalam padi
Ke mana badan akan makan lagi;
Sudah patah sepertinya kemudi
Kapal akan karam lagi.”
Berkatalah Nan Tongga, “Manalah Tuan Bujang Salamat, telah patah nampaknya ayam kita, himbaukanlah tuah kesaktian!”
Menjawab si Bujang Salamat, “Manalah Tuan kandung hamba, pihak Kinantan Gombak Bauak, patah sayap bertongkat paruh, patah kaki bertongkat mandah, jika buta berbintang terang. Mana Waang Kinantan Gombang Bauak, jangan Waang memberi malu, gayungkanlah gayung tuah Waang!” [ 41 ]Alah manggayuang Si Kinantan, kanailah ayam Sanggo-nani, kanai dek taji Kalangsari, matilah Si Biriang Sanggonani, sanan bakato Bujang Salamat,
“Talalok anak Puti-puti
Hedangan tunggu ditatiangkan;
Alah tidua Biriang Sanggonani
Kinantan tagak mambangunkan.”
Hebohlah urang di galanggang, antah nan mano buni sorak, tapacak paluah Nangkodoh Baha, muko sirah-sirah padam, lalu bajalan ka ateh balai, sanan bakato hanyo lai, “Tuan Tongga janyo ambo, patuik Tuan manang manyabuang, Tuan gadang di kampuang sajo, ambo nan gadang di lawitan, kini baitulah nan ka baiak, kito manembak baalamat.”
Mandanga di kato itu, manjawab Nan Tongga, “Di mano Tuan alah mandanga, ambo pandai manembak baalamat, ambo nan hanyo di kampuang sajo, gubalo ayam satiok hari, alun parnah sakalipun, mancubo manembak baalamat, mamacik badia sakali balun.”
Manyahut pulo Nangkodoh Baha, “Usahlah Tuan bahandai juo, jan bacukiak kalau indak tahu, manga ditampuah galanggang rami, elok diam di tangah rumah sajo.”
Mandanga kato nan bak kian, bakato pulo Nan Tongga, “Kalau bak itu kato Tuan, cubolah dek Tuan dahulu, nak dapek pulo ambo turikkan.”
Alah diambiaknyo badia, lah manembak Nangkodoh Baha, mandanciang buni uciahnyo, asok mangabuik ka udaro, tembak nan indak tapek di alamat, satampok kurang sajari. Manembak pulo Nan Tongga, tembaknyo nan tapek di alamat, putuihlah cando banang lawah, urang basorak maso itu, sirah muko Nangkodoh Baha, “Kironyo pandai Tuan manembak, dicubo pulo bamain kudo.” [ 42 ]Telah menggayung si Kinantan, kenalah ayam Sanggonani, kena taji Kalangsari, matilah si Biriang Sanggonani, berkatalah Bujang Salamat,
“Terlelap anak puti-puti
Menunggu hidangan ditatingkan;
Sudah tidur Biriang Sanggonani
Kinantan tegak membangunkan.”
Hebohlah orang di gelanggang, entah yang mana yang bunyi sorak, keluarlah peluh Nangkodoh Baha, mukanya merah-merah padam, lalu berjalan ia ke atas balai,di sana ia berkata, “Tuan Tongga kata hamba, pantas Tuan menang menyabung, Tuan besar di kampung saja, hamba yang besar di lautan. Sekarang baiknya begini, kita menembak sasaran.”
Mendengar perkataan itu, menjawablah Nan Tongga, “Di mana Tuan telah mendengar, hamba pandai menembak sasaran, hamba yang hanya di kampung saja, menggembala ayam setiap hari, belum pernah sekali, mencoba menembak sasaran, memegang bedil sekalipun belum.”
Menyahut pula Nangkodoh Baha, “Usahlah Tuan berhandai juga, jangan ikut kalau tidak tahu, mengapa ditempuh gelanggang ramai, elok berdiam di rumah saja.”
Mendengar kata seperti itu, berkata pula Nan Tongga, “Kalau seperti itu kata Tuan, cobalah oleh Tuan dahulu, supaya bisa hamba ikuti.”
Telah diambilnya bedil, telah menembak Nangkodoh Baha, mendencing bunyi pelurunya, asap mengabut ke udara, tembakan yang tidak tepat di alamat, setapak tangan kurang sejari. Menembak pula Nan Tongga, tembakannya yang tepat di alamat, putuslah rupa benang lawah, orang bersorak masa itu, merah muka Nangkodoh Baha, “Kiranya pandai Tuan menembak, dicoba pula bermain kuda.” [ 43 ]Manjawab sanan Nan Tongga, “Jikok bak nangko kandak hati, ka bukik lah samo kito daki, ka lurah lah samo kito turuni, cubo malah Tuan dahulu, nak ambo manuruik kamudian.”
Alah dipasang pulo kudo, alah naiak Nangkodoh Baha kudo balari awak tajatuah, kaniang bangkak hiduang badarah, urang basorak kasadonyo. Bakudo pulo Anggun Nan Tongga, bak biduak kayuah ka hilia, sabagai pucuak dilancakan, heranlah urang kasadonyo, maliek rupo nan bak kian batambah paneh Nangkodoh Baha, lalu bakato maso itu, “Pandai bana Tuan bakudo, tapi usah bagadang hati bana, molah kito naiak ka balai, kito cubo bamain catua, kok kalah Tuan di siko, taruah batampin ambo punyo.”
Manyahuik sanan Nan Tongga, “Jikok santono bamain catua, indaklah ambo pandai bacatua, usahkan pandai main catua, mandanga sajo kini lah baru.”
Tagalak sanan Nangkodoh Baha, lalu bakato inyo sakali, “Adat masuak di galanggang, barang parmainan disatoi, baiak manyabuang bamain kudo, atau pun tembak baalamat, kok Tuan indak pandai, molah ambo tunjuak ajari.”
Bakato Nan Tongga, “Manolah Tuan Nangkodoh Baha, jan disabuik aja maaja, di tangah balai sarami nangko, salah buni didanga urang, baato sakarang iko kini, di mano korong kampuang Tuan, di mano rumah tanggo Tuan, nak den tapiak bandua gadangnyo, nak den isi rukun saratnyo, baa biaso urang baguru.”
Mandanga kato nan bak itu, taberang Tuan Nangkodoh Baha, “Usah banyak sabuik juo, usah Tuan bahandai juo, duduak malah Tuan di siko, buliah den tunjuak den ajari, catua alah den papani.”
Mandanga kato nan bak kian, berang nan indak ditampakkan, bakato sajo Nan Tongga, “Jikok baitu kato Tuan, bakato ba nan pandai, bajalan ba nan tuo, malangkahlah tuan dahulu, nak ambo iriangkan di balakang” [ 44 ]Menjawablah Nan Tongga, “Jika seperti itu kehendak Tuan, ke bukit sudah sama kita daki, ke lurah sudah sama kita turuni, cobalah oleh Tuan dahulu, hamba akan menurut kemudian.”
Telah dipasang pula kuda, telah naik Nangkodoh Baha, kuda lari ia terjatuh, kening bengkak hidungnya berdarah, semua orang bersorak. Berkuda pula Anggun Nan Tongga, seperti biduk dikayuh ke hilir, bagai pucuk dilancarkan, heranlah orang semuanya, melihat rupa seperti ini, bertambah panas Nangkodoh Baha, lalu berkata masa itu, “Pandai benar Tuan berkuda, tapi usah berbesar hati benar, marilah kita naik ke balai, kita coba bermain catur, kalau kalah tuan di sini, semua taruhan di tampin milik hamba.”
Menyahutlah Nan Tongga, “Kalau sentana bermain catur, tidaklah hamba pandai bercatur, usahkan pandai bermain catur, mendengar saja baru sekarang.”
Tertawalah Nangkodoh Baha, lalu segera ia berkata “Adat masuk di gelanggang, semua permainan harus diikuti, baik menyabung bermain kuda, atau pun tembak beralamat, kalau Tuan tidak pandai, marilah hamba tunjuk ajari.”
Berkata Nan Tongga, “Manalah Tuan Nangkodoh Baha, jangan disebut ajar mengajar, di tengah balai seramai ini, salah bunyi didengar orang, bagaimana sekarang ini, di mana korong dan kampung Tuan, di mana rumah tangga Tuan, hendak den tepik bandul besarnya, hendak den isi rukun saratnya, seperti orang biasanya berguru.”
Mendengar kata seperti itu, marahlah Nangkodoh Baha, “Usah banyak bicara, duduklah di sini, agar denai ajari bermain catur.”
Mendengar kata seperti itu, marahlah Nan Tongga dalam hati, tapi tidak diperlihatkannya. Ia hanya berkata, “Jika begitu kata Tuan, berbicara untuk yang pandai, berjalan untuk yang tua, melangkahlah Tuan dahulu, biar hamba iringkan dari belakang. [ 45 ]Lah bajalan Nangkodoh Baha, bajalan pulo Nan Tongga, jawek-bajawek anak catua, parang-baparang anak buah, lompek malompek jalan kudo, serong manyerong langkah manti, salamo lambek nan bak kian, tadorong langkah Nangkodoh Baha, alah tatampuah jalan mati, kalahlah sanan Nangkodoh Baha, sanan bapantun Nan Tongga,
“Ka mano anak rang Kinali
Babiduak cando ka muaro;
Ka mano Tuan bajalan lai
Tatumbuak langkah kasadonyo.
Nak duo pantun sairiang,
Kapa bamuek pacah-balah
Panuah baisi banang ganja
Jolong bajalan Tuan lah kalah
Bak mano Tuan ka maaja.”
Basorak urang nan banyak, mandanga buni pantun Nan Tongga, rasokan pacah anak talingo, bakato sanan Nangkodoh Baha, “Kito cubo sapapan lai, usahlah bagadang hati bana, karano baru den agiah hati.”
Diatua catua sapapan lai, bajalan pulo Nangkodoh Baha, parang baparang anak buah, langkah kudo malompek-lompek, luruih maluruih jalan benteng.
Salamo lambek nan bak kian, tadorong pulo Nangkodoh Baha, tasasek jalan Nangkodoh Baha, ka mari salah ka sanan salah, kalah pulo sapapan lai, urang basorak pulo lai. bagaikan runtuah balai nantun, raso kan taban bumi dipijak, bapantun pulo Nan Tongga,
Anak Rajo mambali pelo
Urang Sasak mambali pinang;
Di siko Tuan mangko bedo
Baa susahnyo batenggang surang.”
Mandanga kato Nan Tongga, tabik burangsang Nangkodoh Baha, bakato sanan jo rantaknyo, “Mano wang Magek Jabang, [ 46 ]Melangkahlah Nangkodoh Baha lebih dulu, berjalan pula Nan Tongga. Jawab-berjawab anak catur, perang berperang anak buah, lompat berlompat jalan kuda, serong-menyerong langkah menteri, lambat laun terdorong langkah, Nangkodoh Baha tiba di jalan buntu, kalahlah Nangkodoh Baha, maka berpantunlah Nan Tongga,
“Ke mana anak orang Kinali
Berbiduk seperti ke muara;
Ke mana Tuan akan berjalan lagi
Tertumbuk langkah semuanya.
Nak dua pantun seiring,
Kapal bermuatan pecah belah
Penuh berisi benang ganja;
Jolong berjalan Tuan sudah kalah
Bagaimana Tuan akan mengajar.”
Bersorak orang yang banyak, mendengar bunyi pantun Nan Tongga, rasa kan pecah anak telinga, berkatalah Nangkodoh Baha, “Kita coba sepapan lagi, usahlah bergirang hati benar, karena baru den beri hati.”
Diatur catur sepapan lagi, berjalan pula Nangkodoh Baha, perang-berperang anak buah, langkah kuda melompat-lompat, lurusmelurus jalan benteng.
Lambat laun seperti itu, Nangkodoh Baha tersesat jalan, ke sini salah ke sana salah, ia pun kalah sepapan lagi, orang bersorak kembali, bagaikan runtuh balai tersebut, rasa kan terban bumi dipijak, berpantun pula Nan Tongga,
“Anak raja membeli pepaya
Orang Sasak membeli pinang;
Di sini Tuan jadi tak berdaya
Bagaimana susahnya bertenggang seorang.”
Mendengar kata Nan Tongga, terbit marah Nangkodoh Baha, berkatalah ia dengan marah, “Mana Waang Magek Jabang, bercatur [ 47 ]bacatua baru waang nan pandai, manembka iyo lah manang, di basobasi balun lah tahu.”
Mandanga kato nan bak kian, sanan manjawab Si Bujang Salamat, “Manolah waang Nangkodoh Baha, usah waang bakato nan bak kian, bakato balalu-lalang sajo, kito nan sadang di tangah rami, di ateh balai galanggang rami, salah cando di danga urang!”
Mandanga kato nan bak kian, bakato Tuan Nangkodoh Baha, “Kok bak itu janyo waang, cubolah agak sapapan lai, sabuang salapeh hari patang, indak akan diulang-ulang lai.”
Sanan bakato Nan Tongga, “Manolah Tuan Nangkodoh Baha, jikok bajalan sakali nangko, ingek-ingek malah bajalan, lakukan bana kiro-kiro, jan langkah tadorong sajo, pikia buah ka dilangkahkan, kok kalah sakali lai, apo gunonyo kito bamain, main nan indak balawanan.” Alah disusun pulo buah catua, lalu bamain hanyo lai, salamo lambek bamain, lah kalah pulo Nangkodoh Baha, dek hati alah paneh, dek berang indak tabedo, basorak pulo urang nan banyak, bakato sanan Nan Tongga,
“Manolah Tuan Nangkodoh Baha, heranlah urang maliek, badan basah cando urang mandi, hari dingin Tuan bakipeh, apokoh sabab karanonyo?”
Batambah paneh hati Nangkodoh Baha, bangih nan bukan alang-alang, taruah batampin lah nyato hilang, dicari aka jo kalaka, bakato inyo maso itu, “Manolah Tongga Magek Jabang, dangakan bana den katokan, den curai papakan bakeh Tuan, di balai iyo Tuan manang, untuang mujua di badan Tuan, bagai mandapek durian runtuah.
Rupo nan jombang bukan kapalang, sagalo parmainan Tuan pandai, pandai bakudo jo manembak, tahu bacatua jo nan lain, di [ 48 ]Waang baru pandai, menembak memang sudah menang, tapi tidak tahu berbasa-basi.”
Mendengar kata seperti itu, menjawab si Bujang Salamat, “Manalah Waang Nangkodoh Baha, usah Waang berkata seperti itu, berkata berlalu lalang saja, kita yang sedang di tempat ramai, di atas balai gelanggang ramai, salah kiranya didengar orang!”
Mendengar kata seperti itu, berkata Tuan Nangkodoh Baha, “Kalau seperti itu kata Waang, cobalah agak sepapan lagi, sabung selepas hari petang, tidak akan diulang-ulang lagi.”
Berkatalah Nan Tongga, “Manalah Tuan Nangkodoh Baha, jika berjalan sekali ini, ingat-ingatlah malah berjalan, lalukan benar kira-kira, jangan karena terdorong langkah saja, pikirkan bidak yang akan dilangkahkan, kalau kalah sekali lagi, apa gunanya kita bermain, main tapi tidak dapat lawan.”
Telah disusun pula buah catur, lalu bermainlah mereka, lambat laun bermain, telah kalah pula Nangkodoh Baha, karena hati telah panas, karena marah bukan kepalang, karena orang banyak bersorak pula, berkatalah Nan Tongga,
“Manalah Tuan Nangkodoh Baha, heranlah orang melihat Tuan, badan basah seperti orang mandi, hari dingin Tuan berkipas, apakah sebab karenanya?”
Bertambah panas hati Nangkodoh Baha, marah yang bukan kepalang, taruh bertampinnya telah nyata hilang, dicarinya akal dan kelakar, berkata ia masa itu,
“Manalah Tongga Magek Jabang, dengarkan benar den katakan, den curai paparkan pada Tuan, di balai memang Tuan menang, untung mujur di badan Tuan, bagai mendapat durian runtuh.
Rupa nan jombang bukan kepalang, segala permainan Tuan pandai, pandai berkuda dan menembak, tahu bercatur dan yang [ 49 ]siko Tuan bagadang hati, tapi malu indak dijapuik, indak tahu di nasib mamak kanduang, mamak batigo badunsanak, nan surang Mangkudun Sati, nan surang Nangkodoh Rajo, surang lai Katik Intan.
Pado maso dahulunyo, inyo alah pai balayia, pai balayia ka ranah jawo, sampai ka Malaka ranah Patani, lalu ka Bugih Makasar, mambaok dandang saisinyo, barisi urai tujuah peti, singgah di pulau Bintan Sati, iyo di taluak Nan Sikundan, dek untuang takadia Alah, datanglah bajau di lawitan, mamak ditawan bajak kuntuang, lah disabuahkan jo babi, tangan lah cando tangkai sanduak, jangguik lah panjang hinggo pusek, badan tingga kulik pambaluik tulang,
Nan sakarang kini nangko, kaki bapasuang kaduonyo, tangan bagalang rantai basi, apokoh sabab damikian, nan luluih indak basilami, nan hiang indak bacari, tagantuang indak Tuan rateh. Sungguah bana indak bamalu, Tuan malagak kian ka mari, pai manampuah alek rami, manampuah galanggang sadang rami, indak tahu malu alah tacoreng, mamak batigo kanai tawan.”
Mandanga kato nan bak kian, malompek si Bujang Salamat, dicabuik sakali padang jinawi, lalu bakato hanyo lai, “Mano waang Nangkodoh Baha, kato waang lalu-lalang sajo, indak melengong ka balakang, samantang waang punyo galanggang, kini nak lancang lanceh sajo.
Kini baitu lah nan ka baiak, molah turun ka lama nangko, nak tahu wang di masin garam, nak tahu waang padeh lado, cabuik karih di pinggang, dicubo agak sajamang, ganti mambuang paluah buruak.”
Maliek si Salamat alah berang, bakato sanan Nan Tongga, “Manolah Tuan Bujang Salamat, tak baiak dilawan urang nangko, malu awak di nan rami, baitu pulo urang nan banyak, jan tagamang maliek kami, kami nan sadang bamarahan, kok santano Nangkodoh Baha, sabagai urang sadang mabuak, buni kecek lapuak-lapak, maklumlah urang sadang kalah, sabuang nan jan dihantikan, kami pulang hanyo lai.”
Lah malompek Nan Tongga ateh kudo, si Salamat mairiang di balakang, bajalan babaliak pulang, iyo ka rumah mandeh kanduang. [ 50 ]lain. Di sini Tuan bergirang hati, tapi malu tidak dijemput, tidak tahu akan nasib mamak kandung, mamak bertiga bersaudara. Seorang bernama Mangkudun Sati, seorang bernama Nangkodoh Rajo, seorang lagi Katik Intan.
Pada masa dahulunya, mereka pergi berlayar, berlayar ke tanah Jawa, sampai ke Malaka ranah Patani, lalu ke Bugis Makasar, membawa dandang seisinya, berisi emas tujuh peti, singgah di Pulau Bintan Sati, di Teluk Nan Sikundan, karena untung takdir Allah, datanglah bajau di lautan, mamak ditawan bajak buntung, telah disekandangkan dengan babi, tangan sudah seperti tangkai sendok, jenggot telah panjang hingga pusar, badan tinggal kulit pembalut tulang.
Sekarang ini saja, kedua kakinya dipasung, tangan bergelang rantai besi, apakah sebab demikian, yang tenggelam tidak diselami, yang hilang tidak dicari, tergantung tidak Tuan retas. Sungguh tidak bermalu benar, Tuan melagak kian kemari, pergi menempuh helat ramai, menempuh gelanggang sedang ramai,tidak tahu malu telah tercoreng, mamak bertiga telah ditawan.”
Mendengar kata seperti itu, melompat si Bujang Salamat, segera dicabutnya pedang jinawi, lalu berkatalah dia, “Manalah Waang Nangkodoh Baha, kata Waang lalu-lalang saja, tidak melihat ke belakang, sementang Waang punya gelanggang, kini akan lancang saja. Sekarang begini yang baik, mari turun ke halaman, supaya Waang tahu asinnya garam, supaya tahu Waang pedasnya cabe, cabutlah keris di pinggang, kita coba agak sebentar, ganti membuang peluh .”
Melihat si Salamat marah, berkatalah Nan Tongga, “Manalah Tuan Bujang Salamat, tidak baik melawan orang ini, malu kita pada orang ramai, jangan gamang melihat kami, kami yang sedang berbantahan, anggap Nangkodoh Baha sedang mabuk, berbicara berbual-bual, maklumlah orang sedang kalah, persabungan jangan dihentikan, kami akan kembali pulang.”
Melompatlah Nan Tongga ke atas kuda, si Salamat mengiringi di belakang, berjalan berbalik pulang mereka, ke rumah mandeh kandung. [ 51 ]Puti Gondoriah
Birawari Anggun Nan Tongga, alah tibo di ateh rumah, di ateh rumah nan gadang, rumah gadang sambilan ruang, di panjang nan indak panjang bana, salajang kudo balari, sakuaik kuaran tabang, taruih naiak ka ateh anjuang, anjuang perak cumalo ganti, bandua baturap jo ayia ameh, baukia baaka Cino, buatan tukang dahulunyo, lalu sakali masuak biliak, mahampehkan badan ka ateh kasua.
Kok indak banamo anak laki-laki, rasokan manangih maluluang panjang, dihapuih sajo ayia mato, bak santang pantun urang juo:
Disangko surian kayu jati
Kironyo lapuak rantiang mudo;
Disangko pincuran tampek mandi
Kironyo kacipuak ayia mato.
Baru malihek anak kanduang, takajuik sanan mandeh Suto Suri, dituruik anak ka anjuang gadang, apo sabab karanonyo, anak pulang marentak sajo, manyabuang kolah nan lah kalah, bamain kolah indak manang.
Diturik sanan Nan Tongga, disingkokkan kulambu rumin, tampak anak sadang bagaluang, sarupo urang rusuah bana sabagai urang kalah main, ditanyo indak bajawab, dijawah sajo jo ayia mato, [ 52 ]PUTI GONDORIAH
Anggun Nan Tongga telah sampai di rumah, rumah gadang sembilan ruang, yang tidak terlalu panjang, hanya selajang kuda berlari, sekuat kuaran terbang, naik ia ke atas anjung, anjung perak kumala ganti, bandulnya berturap air emas, berukir berakar Cina, buatan tukang dahulunya, langsung ia masuk bilik, menghempaskan badan ke atas kasur.
Kalau bukan anak laki-laki, rasa kan menangis melolong panjang, dihapusnya saja air mata, seperti kata pantun orang jua:
Disangka surian kayu jati
Kiranya lapuk ranting muda;
Disangka pancuran tempat mandi
Kiranya kecipak air mata.
Begitu melihat anak kandung, terkejut mandeh Suto Suri, diturut anak ke anjung besar, apakah sebab karenanya, anak pulang merentak saja, apakah karena kalah menyabung, kalah bermain dan tidak menang.
Diikutinya Nan Tongga, disingkapnya kelambu rumin, tampak anak sedang bergelung, serupa orang yang kalah bermain. ditanya tidak dijawab, dijawab dengan air mata, heran tercengang mandeh [ 53 ]heran tacangang mandeh kanduang, lalu dihimbau si Bujang Salamat, ditanyo lah sabab karanono, tanyo babari hanyo lai, bakato sanan Bujang Salamat, “Ampun ambo di Mandeh bungsu, jikok salorong tantang itu bukanlah Tuan Tongga kalah main, bukan Nan Tongga kalah manyabuang, baiak ambo curitokan kasadonyo, dangakan malah dek Mandeh.
Pihak kapado Tuan denai, iyo Nan Tongga Magek Jabang bukan taruah indak tatampin, bukan kalah dek manyabuang, bukannyo kalah bacatua atau parmainan kasadonyo, baliau batandiang jo Nangkodoh Baha, tuan kanduang Puti Intan Korong, baruliah malu inyo saketek.”
Tadanga di kato nantun, alah berang mandeh Suto Suri mukonyo sirah-sirah padam, sarupo bungo rayo kambang, bakato inyo sakali, “Mano waang Bujang Salamat, pitaruh indak waang pacik, pangaja indak waang turuik, sio-sio kalian jadi laki-laki, kanalah pasan sajak malangkah, kok malu tabaok pulang, janjang den usah waang tingkek, bandua den usah waang tapiak, bakirok kalian kini-kini, rumah den usah dihuni...!”
Maliek mandeh alah bangih, bakato sanan si Bujang Salamat, “Manolah Mandeh janyo ambo, Mandeh usah berang sajo, urang pamberang gadang kanai, urang pambangih capek tuonyo, dangakan malah di Mandeh, buliah ditimbang aso-aso, buliah dikaji ciek-ciek.
Kok santano salah Tuan denai, rilah bakirok dari siko, suko barangkek dari rumah, tapi samantangpun baitu, elok Mandeh timbangtimbang, pihak di badan Tuan denai, alah balawan jo Nangkodoh Baha, mulo jo manyabuang ayam, sudah itu manembak baalamat, baitu juo bamain kudo, sampai jo bamain catua, lai manang Tuan denai.
Namun dek Nangkodoh Baha, urang galia urang licik, kok kalah indak namuah mambayia, dicarinyo aka jo kalaka, dibukaknyo si tambo lamo, iyolah mamak nan batigo, katonyo mamak alah tatawan, kini ditawan dek Cino Kuntuang, makan basamo jo babi, badan sarupo tangkai sanduak. [ 54 ]kandung, lalu ia memanggil Bujang Salamat, ditanyalah sebab karenanya, berkatalah si Bujang Salamat, “Ampun hamba Mandeh Bungsu, jika selorong tentang itu, bukan Tuan Tongga kalah main, bukanlah kalah menyabung, baik hamba ceritakan semuanya, dengarkanlah oleh Mandeh.
Pihak kepada Tuan denai, yaitu Nan Tongga Magek Jabang Jabang, bukan kalah ia bertaruh, bukan kalah dalam menyabung, bukannya kalah bercatur, atau kalah dalam permainan lain, beliau bertanding dengan Nangkodoh Baha, tuan kandung Puti Intan Korong, dan mendapat malu sedikit.”
Mendengar kata tersebut, marahlah mandeh Suto Suri, mukanya merah-merah padam, seperti bunga kembang sepatu, berkatalah ia segera, “Mana Waang Bujang Salamat, petaruh tidak Waang pegang, pengajaran tidak Waang turuti, sia-sia kalian jadi laki-laki, ingatlah pesan sejak melangkah, kalau malu terbawa pulang, jenjang den usah Waang naiki, bandul rumah den usah Waang tepik. Pergilah kalian sekarang, rumah den usah dihuni…!”
Melihat mandeh telah marah, berkatalah si Bujang Salamat, “Manalah Mandeh hamba, usah Mandeh marah saja, orang pemarah besar ruginya, orang pembengis cepat tuanya, dengarkanlah oleh Mandeh, boleh ditimbang dan kaji satu-satu.
Kalau memang salah Tuan denai, relalah ia pergi dari sini, suka berangkat dari rumah, tapi walaupun begitu, elok Mandeh timbang-timbang. Pihak di badan Tuan denai, telah menang melawan Nangkodoh Baha, mulanya menyabung ayam, sesudah itu menembak sasaran, begitu pula bermain kuda, sampai bermain catur, Tuan denai telah menang.
Namun karena Nangkodoh Baha, orangnya curang dan licik, kalau kalah tidak mau membayar, dicarinya akal dan kelakar, dibukanya si tambo lama, tentang mamak yang bertiga, katanya mamak telah tertawan, sekarang ditawan oleh Cina Buntung, makan bersama babi, badan serupa tangkai sendok. [ 55 ]Bamacam-macam cacek calonyo, dikatokannyo Tuan den indak bamalu, gilo bamain ka galanggang, indak tatun-tuik malu mamak, iyolah mamak nan batigo, baitu janyo Nangkodo Baha, marentak Tuan denai, naiak sakali ka ateh kudo, dipacu kudo pulang babaliak, baitu garan sabananyo.”
Baru tadanga di kato nantun, duduak tamanuang mandeh bungsu, takana di Tuan nan batigo, alah salamo salambek nangko, balun pulang dari lawik, iyo tadanga kanai tawan.
Malu lah lewa di nan banyak, malu tacoreng di kaniang, indak sia kan mahapuih, antah koh Anggun Nan Tongga, anak nan surang tungga babeleng, ka pambangkik batang tarandam, kan pahapuih malu di kaniang. Naiak sakali mandeh bungsu, lalu dituruik anjuang tinggi, diliek anak alah duduak, mato lah sirah dek manangih, sanan bakato Suto Suri, “Anak kanduang Anggun Nan Tongga, mandeh lah sudah nandanga, kaba barito dari galanggang, bukan salah Anak kanduang, salahnyo Nangkodoh Baha juo, namun samantangpun baitu, iyo salah mandeh juo, saketek mandeh indak babarito, tantang mamak nan batigo
Manjawab sanan Nan Tongga, “Mandeh kanduang, janyo denai, malu lah lakek di kaniang, kok lai lakek di punggang, buliah disaok dangan baju.
Kini baitu malah di Mandeh, apo gunonyo diam di kampuang, apo gunonyo diam di anjuang, sadang mamak nan batigo, indak tantu kaba baritonyo, bari izin malah di Mandeh, denai nak pai marantau, iyo ka lawik baharullah, mukasuik mancari mamak hilang, antah lai hiduik antah lah mati, izin jo rilah dari Mandeh.
Raso tangiang-ngiang di talingo, raso tabayang sumpat caci, malu lah lewa di nan banyak, kini denai nak balayia maharuangi lawik nan gadang, mancari mamak nan batigo, manggaruang kampuang denai huni, manyumpah ranah denai pijak, jikok malu indak tatuntuik.” [ 56 ]Bermacam-macam cerca celanya, dikatakannya Tuan den tidak bermalu, selalu bermain ke gelanggang, tidak tertuntut malu mamak, yaitu mamak yang bertiga, begitu kata Nangkodoh Baha, merentak Tuan denai, ia segera naik ke atas kuda, dipacunya kuda pulang kembali, begitulah gerangan ceritanya.”
Baru mendengar cerita tersebut, duduk termenung mandeh bungsu, terkenang tuan nan bertiga, sudah sekian lamanya, belum pulang dari laut, menurut kabar mereka ditawan.
Malu sudah diumumkan, pada orang banyak, malu tercoreng di kening, entah siapa yang akan menghapus, entahkah Anggun Nan Tongga, anak tunggal beleng, pembangkit batang terendam, penghapus malu di kening. Mandeh bungsu naik ke anjung tinggi, dilihatnya anak telah duduk, matanya merah karena menangis, berkatalah Suto Suri, “Anak kandung Anggun Nan Tongga, mandeh sudah mendengar, kabar berita dari gelanggang, bukan salah anak kandung, salahnya Nangkodoh Baha jua, namun walaupun begitu, kesalahan mandeh juga, sedikit pun mandeh tidak berberita, tentang mamak yang bertiga.”
Menjawablah Nan Tongga, “Mandeh kandung denai, malu sudah lekat di kening, kalaulah lekat di punggung, masih bisa ditutup dengan baju.
Sekarang baiknya begini, apa guna diam di kampung, apa guna berdiam di anjung, sedangkan mamak bertiga, tidak tahu kabar beritanya, beri izin malah Mandeh, denai hendak pergi merantau, ke lautan baharullah, hendak mencari mamak hilang, entah masih hidup entah mati, izin dan rela dari Mandeh.
Rasa terngiang-ngiang di telinga, rasa terbayang sumpah dan caci, malu sudah pada orang banyak, kini denai hendak berlayar, mengarungi laut yang luas, mencari mamak yang bertiga, menggerung kampung denai huni, menyumpah tanah denai pijak, kalau malu ini tidak tertuntut.” [ 57 ]Duduak tamanuang mandeh kanduang, itulah kato sabananyo, tando anak laki-laki, untuak pahapuih malu di kaniang, untuak pambangkik tareh tarandam, manjawa sanan mandeh Suto Suri,
“Anak kanduang janyo denai, jikoklah kareh hati Anak, nak balayia ka lawitan, izin jo rilah mandeh bari, tapi hanyo nan saketek, sajak di rahim bundo kanduang, Anak lah sudah batunangan, iyo jo Puti Gondoriah, etan di ranah banda Tiku. Kok Anak ka pai balayia, jalang dahulu tunangan anak, mintak izin jo rilah, barulah mandeh malapeh pulo.”
Mandanga kato nan bak kian, sananglah hati Nan Tongga, lalu dijalang si Bujang Salamat, satu batamu bakato inyo sakali, “Manolah Tuan Bujang Salamat, malu lah tacoreng di kaniang, indak malu sagadang nangko, awak gilo di galanggang juo, mamak batigo nan lah hilang, luluih nan indak bacari. Di sanan ado dandang sabuah, dandang banamo Dandang Panjang, jurumudi banamo Malin Cik Ameh, katokan denai nak balayia, suruah basiap salangkoknyo, lapeh nan dari tujuah hari, kito baiayia ka lawitan.”
Dek Salamat urang patuah, alun disuruah inyo lah pai, bajalan sakali maso itu, pai mancari Dandang Panjang, jurumudi Malin Cik Ameh. Alah dituruik Tuan Jurumudi, sasuai rundiangan maso itu, dandang banamo Dandang Panjang, anak buah tigo ratuih urang, etan di taluak Ayia Putiah, lah basiap langkok kasadonyo.
Bajalan Si Bujang Salamat, jalan basarang dakok juo, lah tibo di tangah laman, taruih sakali naiak ka ateh anjuang, sanan bakato Nan Tongga, “Manolah Tuan Bujang Salamat, laikoh dapek nan dicari?”
Lalu manjawab si Bujang Salamat, “Tuan Tongga janyo denai, barakaik doa Tuan juo, lai salamaik pajalanan, lai basuo dandang nantun, dandang banamo Dandang Panjang, jurumudi Malin Cik Ameh, inyo basiap kasadonyo, hanyo mananti tuan sajo.” [ 58 ]Duduk termenung mandeh kanduang, itulah kata yang sebenarnya, tanda anak laki-laki, untuk penghapus malu di kening, untuk pembangkit batang terendam, menjawablah mandeh Suto Suri.
“Anak kandung denai, jika sudah berkeras hati anak, hendak berlayar ke lautan, izin dan rela mandeh beri, tapi hanya ada sedikit, sejak di rahim bunda kandung, Anak telah bertunangan, dengan Puti Gondoriah, di ranah Banda Tiku. Kalau anak hendak berlayar, datangi dulu tunangan anak, minta izin dan kerelaannya, barulah bisa mandeh melepas.”
Mendengar kata seperti itu, senanglah hati Nan Tongga, lalu didatanginya si Bujang Salamat, begitu bertemu berkatalah ia, “Manalah Tuan Bujang Salamat, malu telah tercoreng di kening, tidak ada malu yang sebesar ini, kita gila bermain di gelanggang, padahal mamak bertiga telah hilang, hilang yang tidak dicari. Di sana ada sebuah dandang, dandang bernama Dandang Panjang, juru mudi bernama Malin Cik Ameh, katakan padanya denai mau berlayar, suruh bersiap selengkapnya, lepas dari tujuh hari, kita akan berlayar ke lautan.”
Karena Salamat pemuda yang patuh, belum disuruh ia sudah pergi, berjalan segera masa itu, pergi mencari dandang panjang, juru mudi Malin Cik Ameh. Telah diturut Tuan Jurumudi, sesuai rundingan masa itu, dandang bernama Dandang Panjang, anak buah kapal tiga ratus orang, berlabuh di Taluak Aia Putiah, telah bersiap lengkap semuanya.
Berjalan pulang si Bujang Salamat, jalan bersarang dekat juga, sampai di tengah halaman, ia naik ke atas anjung, berkatalah Nan Tongga kepadanya, “Manalah Tuan Bujang Salamat, dapatkah apa yang dicari?”
Lalu menjawab si Bujang Salamat, “Tuan Tongga kata denai, berkat doa Tuan jua, selamat saja dalam perjalanan, bertemu kapal Dandang Panjang, juru mudi Malin Cik Ameh, mereka bersiap semuanya, hanya menunggu Tuan saja.” [ 59 ]Mandanga kato nan bak kian, sananglah hati Nan Tongga, sanang bacampua ibo, sabab baa dek baitu, tando kampuang nan ka tingga, kampuang halamnan nan ka suni, rumah gadang nan ka langang, lah lapeh ayam di pautan, bandua indak baluluak lai. Baitu pulo nan sabuah, kan hilang Puti Gondoriah, badan nan sadang batunangan, kok hilang badan di lawitan, kasiah jo sayang nan ka pupuih, badan baduo tingga surang, sanan bapantun Tuan Tongga,
“Patahlah dahan buah palo
Anak rajo hampia ditimponyo
Bungo diambiak urang rando;
Ikolah bana nan naibo
Sialah urang tampek batanyo
Jauah didanga kaba baritonyo.”
Mandanga pantun Tuan Tongga, dibaleh pantun jo pantun pulo,
Ka rimbo tabang kayu banio
Tumbuah di bukik Tambun Tulang,
Jo sia Tuan baiyo
Alah tatumbuak di badan surang.”
Bakato pulo Nan Tongga, “Mano Tuan Bujang Salamat, pado pikiran hati denai, manuruik pasan mandeh juo, namonyo kito ka balayia, elok kito ka mudiak ka Tiku, kito pai mintak rilah, iyo ka mandeh Ameh Manah, kito alah basangkuik juo, ambiakkan kudo dalam kandang, pasangkan palano sacukuiknyo, kito bajalan kini nangko.”
Bajalan Nan Tongga maso itu, si Bujang Salamat mairiang di balakang, kudo lah manduo lari ketek, badancang danciang buni gantonyo, dijalani korong Kampuang Dalam, saluruah koto Pariaman, dilapeh pandangan kini kanan, dimudiakkan juo labuah nan panjang, handak manjalang kampuang Tiku. Lapeh nan dari Kampuang jintan, [ 60 ]Mendengar kata tersebut, senanglah hati Nan Tongga, senang bercampur iba, karena kampung akan ditinggalkan, kampung halaman akan sunyi, rumah gadang akan lengang, telah lepas ayam dari pautan, bandul tidak akan berlumpur lagi. Begitu pula akan sesuatu, akan hilang Puti Gondoriah, badan yang sedang bertunangan, kalau hilang badan di lautan, kasih dan sayang akan pupus, biasa berdua tinggal seorang. Maka berpantunlah Tuan Tongga,
“Patah dahan buah pala
Anak raja hampir ditimpanya
Bunga diambil oleh duda;
Inilah benar yang membuat iba
Siapalah orang tempat bertanya
Jauh didengar kabar beritanya.”
Mendengar pantun Nan Tongga, dibalas pantun dengan pantun pula,
Ke rimba tebang kayu banio namanya
Tumbuh di Bukit Tambun Tulang;
Dengan siapa Tuan ber-iya
Sudah tertumbuk di badan seorang.”
Berkata pula Nan Tongga, “Manalah Tuan Bujang Salamat, menurut pikiran hati denai, menurut pesan mandeh juga, namanya kita akan berlayar, baiklah kita pergi ke Tiku, kita pergi minta kerelaan, kepada mandeh Ameh Manah, kita masih bersangkut juga, ambilkan kuda dari kandang, pasangkan pelana secukupnya, kita berjalan sekarang.”
Berjalanlah Nan Tongga masa itu, si Bujang Salamat mengiringi di belakang, kuda mendua lari kecil, berdencing-dencing bunyi gentanya, dijalani korong kampuang Dalam, seluruh koto Pariaman, dilepaskan pandangan kiri kanan, dimudikkan jua jalan yang panjang, hendak menuju kampung Tiku. Lepas dari kampung [ 61 ]lalu ka padang kadataran, tibo di padang Sikaduduak, antaro Tiku jo Pariaman, tahambua kato Tuan Tonga, ibo bacampua dangan rusuah.
“Mano Tuan Bujang Salamat,
Kok sampai babuah bungo pandan
Antah pabilo babungo lai;
Kok sampai kito bajalan
Antah pabilo ka pulang lai.”
Manjawab sanan si Bujang Salamat,
“Jikok lah kambang bungo pandan
Ambiak ka suntiang anak Malako
Buahnyo jan dilaruikkan;
Kok lai panjang umua badan
Isuak kito basuo pulo
Usahlah itu Tuan rusuahkan.”
Dek lamo lambek pajalanan, jauah basarang dakek juo, hampia ka tibo hanyo lai, di jorong Kampuang Tiku, sampai lah garan inyo di sanan, di laman rumah Ameh Manah, mandeh kanduang Nan Gondoriah, lalu disonsong dek si Kambang, iyo banamo si Kambang Malang, bakato sanan Anggun Nan Tongga, “Manolah kau si Kambang Malang, bari luruih ambo batanyo, laikoh di rumah mandeh kanduang, kami nangko handak balayia, mukasuik mamintak rilah jo maaf, nak jan cacek karano baso, nak jan buruak karano laku.”
Manjawab sanan si Kambang Malang, “Manolah Tuan kanduang denai, jikok salorong tantang itu, mandeh kanduang indak di rumah, iyo ka parak kabun bungo, sabanta lai inyo babaliak, naiaklah Tuan dahulu, di ateh rumah kito nanti, iko mundan basuahlah kaki.”
Manyahuik pulo Nan Tongga, “Kalau baitu kato si Kambang, jadi denai naiak ka ateh rumah, taro mananti mandeh kanduang.”
Lah naiak Nan Tongga Magek Jabang,sarato si Bujang Salamat, duduak di ateh kasua banta, dikawani dek si Kambang [ 62 ]Jintan, lalu ke padang kadataran, tiba di padang Sikaduduak, antara Tiku dan Pariaman, terlompatlah kata Tuan Tongga, iba bercampur dengan rusuh.
“Manalah Tuan Bujang Salamat,
Kalau sampai berbuah bunga pandan,
Entah kapan berbunga lagi;
Kalau sampai kita berjalan,
Entah kapan kan pulang lagi.”
Menjawablah si Bujang Salamat,
“Jikalah kembang bunga pandan,
Ambil untuk sunting anak Malaka
Buahnya jangan diluruhkan;
Kalau lah panjang umur badan,
Esok kita bersua pula
Usah itu Tuan rusuhkan.”
Lambat laun dalam perjalan, jauh bersarang dekat jua, mereka hampir sampai, di jorong kampung Tiku, sampailah mereka disana, di halaman rumah Ameh Manah, mandeh kandung Nan Gondoriah, mereka disongsong oleh si Kambang, yang bernama Kambang Malang, berkatalah Anggun Nan Tongga, “Manalah Kau Kambang Malang, beri lurus hamba bertanya, adakah Mandeh kandung di rumah, kami ini hendak berlayar, bermaksud meminta rela dan maaf, supaya jangan cacat karena basa, supaya tidak buruk karena laku.”
Menjawablah si Kambang Malang, “Manalah Tuan kandung denai, jika selorong tentang itu, Mandeh kandung tidak di rumah, ia pergi ke kebun bunga, sebentar lagi akan kembali. Naiklah Tuan dahulu, di atas rumah kita nanti, ini gayung basuhlah kaki.”
Menyahut pula Nan Tongga, “Kalau begitu kata si Kambang, jadi denai naik ke atas rumah, sementara menanti Mandeh kandung.” Setelah naik Nan Tongga Magek Jabang, serta si Bujang Salamat, duduk di atas kasur bantal, dikawani oleh si Kambang Bungo [ 63 ]Bungo Pimpiang, tigo jo si Kambang Bungo Cino, nan si Kambang Malang cako, urang capek kaki ringan tangan, pai ka parak kabun bungo, manjapuik mandeh Ameh Manah.
Alah sabanta garan duduak, bapantun sanan Tuan Nan Tongga,
“Ganjia bana dulang di siko
Banyak baukia gamba buruang;
Ganjia bana urang di siko
Awak naiak inyo bakuruang.
mukasuik kami datang ka siko, iyo bak buni pantun urang:
Bukan kami kinaro sajo
Buah kinari nak rang Talang;
Bukan kami ka mari sajo
Gadang mukasuik nan kami jalang”
Manjawab si Kambang Pimpiang, “Tuan Tongga janyo ambo, dangakan malah dek Tuan,
Jan baitu tarah tapan
Latakkan sajo ateh jarami;
Jan baitu kato Tuan
Itu maibo hati kami.
Nak duo pantun sairiang
Ampalu tarahkan papan
Dilatak tangah haiaman;
Malu saketek baadokkan
Tandonyo urang batunangan.
Tapi samantangpun baitu, mananti Tuan agak sabanta, ambo pai ka Gondoriah, mangatokan Tuan alah datang, inyo nan sadang asyik batanun, etan di ateh anjuang tinggi”
Bakato sanan Tuan Tongga, “Manolah kau si Kambang Pimpiang, usah dikatokan ka Gondoriah, bahaso denai alah datang, suji nan balun sudah lai, turak kok kusuik dek takajuik, mambaok [ 64 ]Pimpiang, bertiga dengan si Kambang Bungo Cino, si Kambang Malang tadi, orang cepat kaki ringan tangan, pergi ke kebun bunga, menjemput mandeh Ameh Manah.
Setelah duduk sebentar, berpantunlah Tuan Nan Tongga,
“Ganjil benar dulang disini,
Banyak berukir gambar burung;
Ganjil benar orang disini,
Awak naik dia berkurung.
Maksud kami datang kesini, bak bunyi pantun orang:
Bukan kami kinari saja,
Buah kinari nak orang talang;
Bukan kami kemari saja,
Besar maksud nan kami jelang.”
Menjawab si Kambang Pimpiang, “Tuan Tongga kata hamba, dengarkan malah oleh Tuan,
Jangan begitu tarah tapan
Letakkan saja di atas jerami;
Jangan begitu kata tuan,
Membuat iba hati kami.
Supaya dua pantun seiring,
Ampalu tarahkan papan
Diletak di tengah halaman;
Malu sedikit berhadapan,
Tandanya orang bertunangan.
Tetapi walaupun begitu, menanti Tuan agak sebentar, hamba pergi ke Gondoriah, mengatakan Tuan telah datang, dia sedang asyik bertenun, di atas anjung tinggi.”
Berkatalah Tuan Tongga, “Manalah Kau Kambang Pimpiang, usah dikatakan pada Gondoriah, bahwa denai telah datang, suji yang belumlah selesai, benang kalau kusut karena terkejut, membawa [ 65 ]cilako malang sajo.” Bapantun si Kambang Pimpiang, pantun bagai buni jawab,
“Baalah bana samak parak
Buliah disiang dadiah-dadiah;
Baalah bana bakusuik turak
Kusuik hati malah nan labiah.”
Tagak sakali si Kambang Pimpiang, lalu manuju anjuang tinggi, anjuang tinggi baturap perak, anjuang perak cumalo ganti, atok kaco dindiangnyo camin, dicaliak Nan Gondo sadang batanun, bakato sanan si Kambang Pimpiang.
“Manolah aciak Gondoriah, manga koh Aciak lalai juo, lah lamo Tuan Tongga duduak, inyo handak pai bajalan, mamintak rilah dangan maaf, mandeh kanduang indak di rumah, pulang maklum ka Aciak surang.”
Mandanga kato nan bak kian, tasirok darah Gondoriah, sirah roman dicaliak, turun malah dari anjuang, lalu bakisa ka tangah rumah, sambia bakato maso itu, “Manolah Tuan kanduang denai, iyo Nan Tongga Magek Jabang, bari maaf denai dek Tuan, talambek denai datang ka Tuan, tanun nan sadang kusuik-kusuik, turak nan indak namuah pai, bak ibarat dalam hati, mandanga Tuan ka bajalan.
Kini baitulah nan ka baiak, iko lamonyo Tuan duduak, jauah jalan nan ditampuah, litak hauih lah taraso, bak nangko garang paneh hari, makanlah siriah nan sacabiak, duduiklah timbakau nan sajelo.”
Manjawab sanan Nan Tongga, “Manolah adiak Gondoriah, bukanlah denai litak hauih, indaklah denai litak panek, kok jauah bana nan dijalang, gadang mukasuik dalam hati, denai kan mintak izin jo rilah, denai handak pai balayia, etan ka pulau Binuang Sati, mamak tatawan batigo urang, luluih nan balun bacari, tabanam balun lai basilami”
Mandanga di kato nantun, tamanuang Puti Gondoriah, dijawab sajo dangan pantun, [ 66 ]celaka malang saja.” Berpantunlah si Kambang Pimpiang, pantun bagai bunyi jawab.
“Bagaimanapun semaknya parak,
Boleh disiang pelan-pelan;
Bagaimanalah kusutnya turak 5
Kusut hati malah berlebihan.”
Si Kambang Pimpiang segera berdiri, berjalan menuju anjung tinggi, anjung tinggi berturap perak, anjung perak kemala ganti, atap kaca dindingnya cermin, dilihatnya Nan Gondo sedang bertenun, berkatalah si Kambang Pimpiang,
“Manalah Acik Gondoriah, mengapa Acik lalai juga, telah lama Tuan Tongga duduk, ia hendak pergi berjalan, meminta rela dengan maaf, mandeh kanduang tidak di rumah, pulang maklum ke Acik seorang.”
Mendengar perkataan tersebut, tersirap darah Gondoriah, kelihatan merah mukanya, turunlah ia dari anjungan, lalu berkisar ke tengah rumah, sambil berkata masa itu, “Manalah Tuan kandung denai, Nan Tongga Magek Jabang, beri maaf denai oleh Tuan, terlambat denai datang pada Tuan, tenunan yang sedang kusut-kusutnya, benang yang tidak mau jalan, seperti ibarat dalam hati, mendengar Tuan akan berjalan.
Sekarang beginilah yang baik, telah lama Tuan duduk, jauh jalan yang akan ditempuh, lapar haus telah terasa, seperti ini panas garang hari, makanlah sirih yang secabik, isaplah tembakau seuntai.”
Menjawablah Nan Tongga, “Manalah adik Gondoriah, denai bukannya haus dan lapar, walaupun jauh yang dijelang, besar maksud dalam hati, denai akan minta izin dan rela, denai hendak pergi berlayar, ke Pulau Binuang Sati, mamak denai tertawan tiga orang, hilang yang belum dicari, tenggelam yang belum diselami.”
Mendengar perkataan itu, termenunglah Puti Gondoriah, dijawab saja dengan pantun,
5. benang
[ 67 ]“Jikok manubo tangah hari
Balun sakambuik hujan lah datang;
Usah maibo hati kami
Balun patuik Tuan badagang.”
Mambaleh Nan Tongga Magek Jabang,
“Kambang bungo parantauan
Babuah babungo balun;
Laruiklah badan ka lawitan
Di rumah paguno balun.”
Mambatin si Kambang Inai,
“Baruang-baruang di tangah sawah
Di baliak ranah pasupadan;
Manggaruang gadih Gondoriah
Mandanga Tuan ka bajalan.”
Manjawab sanan Nan Gondoriah:
Dadiah nan jan dituangkan
Kok tacucua ka dalam padi
Taserak masuak dalam talago;
Kasiah nan jan diilakkan
Jikok hiduik putuih rasaki
Jikok mati masuak narako.”
Mambaleh pulo Nan Tongga, “Manolah adiak kanduang Nan Gondoriah, dangakan pulo malah di Adiak,
Buah mingkudu di Limau Hantu
Tampak nan dari pambatasan
Sudah babuah babungo pulo;
Usah disabuik nan baitu
Niat baiak musti disampaikan
Antah kok hilang badan nangko.”
“Jika menuba tengah hari
Belum sekambut hujan sudah datang,
Usah mengibakan hati kami
Belum patut Tuan berdagang6.”
Membalas Nan Tongga Magek Jabang,
“Kembang bunga perantauan
Berbuah berbunga belum:
Larutlah badan ke lautan
Di rumah berguna belum.”
Membatin si Kambang Inai,
“Orang-orangan di tengah sawah
Di balik ranah sempadan;
Menangis gadis Gondoriah
Mendengar Tuan akan berjalan.
Menjawablah Nan Gondoriah,
Dadih jangan dituangkan
Kalau kan tercurah ke dalam padi
Terserak masuk ke dalam telaga;
Kasih jangan dielakkan
Jika hidup putus rezeki
Jika mati masuk neraka.”
Membalas pula Nan Tongga, “Manalah Adik kandung Nan Gondoriah, dengarkan pula malah oleh Adik,
Buah mengkudu di Limau Hantu
Tampak dari perbatasan
Sudah berbuah berbunga pula;
Usah disebut yang seperti itu
Niat baik harus disampaikan
Entah kan hilang badan diri pula.”
6. merantau
[ 69 ]Manjawab Puti Gondoriah,
“Kok jadi Tuan ka pakan
Jan dibali kain cindai
Dibali jo apo ka dibayia;
Kok jadi Tuan bajalan
Baoklah sato badan denai
Buliah paambiak-ambiakkan ayia.”
Sanan bakato Nan Tongga, “Manolah gadih Gondoriah, usah disabuik nan bak nantun, bukannyo sanang pai balayia, lawik sati rantau batuah, pulau banyak pahuninyo, jan diniat manyansai badan, jan dihadang malaruik hati, badan lunak tulang pun lamah, denai sajolah manangguangkan.
Kini baitulah nan baiak, mandeh nan balun kunjuang pulang, izinkan denai pai balayia, lapehlah jo hati nan suci, lapehlah jo muko nan janiah, bacokan sajo doa salamaik, salamaik palayaran Dandang Panjang, santoso badan pulang pai, tabaok mukasuik dalam hati. Kini izinkanlah denai pulang, etan ka korong Kampuang Dalam, mandeh lah panek dek mananti.”
Bakato pulo Nan Gondoriah, “Manolah Tuan kanduang Magek Jabang, dangakan malah dek Tuan,
Baladang ka Kualo Koto
Padi babuah babungo balun
Siriah karakok ateh batu;
Badagang sajauah nangko
Sakali duo kali balun
Tuan Tongga nambek dahulu.”
Menjawab Puti Gondoriah,
“Kalau jadi Tuan ke pekan
Jangan dibeli kain cindai
Dibeli dengan apa kan dibayar;
Kalau jadi Tuan berlayar
Bawalah serta diri denai
Boleh kan jadi pembawa air.”
Berkatalah Nan Tongga, “Manalah gadis Gondoriah, usah disebut yang seperti itu, bukannya senang pergi berlayar, laut sakti rantau bertuah, pulau banyak penghuninya, jangan berniat menyengsarakan badan, jangan dihadang kesedihan hati, badan lunak tulang pun lemah, denai sajalah yang menanggungkan.
Sekarang baiknya begini, karena mandeh yang belum kunjung pulang, izinkan denai pergi berlayar, lepaslah dengan hati yang suci, lepaslah dengan muka yang jernih, bacakan saja doa selamat, selamat pelayaran Dandang Panjang, sentosa badan pulang pergi, terbawa maksud dalam hati. Kini izinkanlah denai pulang, ke korong Kampung Dalam, mandeh telah penat karena menanti.”
Berkata pula Nan Gondoriah, “Manalah Tuan kandung Magek Jabang, dengarkan malah oleh Tuan,
Berladang ke Kualo Koto
Padi berbuah berbunga belum
Sirih tumbuh di atas batu;
Merantau sejauh ini
Sekali dua kali belum
Tuan Tongga tunggulah dulu.”
Mendengar kata Nan Gondoriah, menjawablah Nan Tongga, “Adik denai Nan Gondoriah, adik kandung tambatan hati, jika direntang akan panjang, denai hendak turun tangga Adik, banyak kerja yang akan dipegang, namanya orang akan berjalan, sampaikan saja salam denai, kepada mandeh kandung diri, yaitu mandeh Ameh Manah.” [ 71 ]Bakato pulo Puti Gondoriah, “Manolah Tuan kanduang denai, kok iyo Tuan ka balayia, kok iyo Tuan ka bajalan, tarangkan malah pado denai, jalehkan bana pado denai, tando alamat dandang Tuan, siapokoh namo nangkodohnyo, nak tantu kami mahimbaukan.”
Manjawab sanan Nan Tongga, “Jikok itu Adiak tanyokan, dandang banamo Dandang Panjang, jurumudi banamo Malin Cik Ameh, Tan Malin sajo disabuik urang, satantang rupo dandang nantun, tiang bapaluik ainalbanat, bajambua kain suto kuniang, baukia aka Cino, buatan Tuan Tukang Bungkuak.”
Bakato pulo Nan Gondoriah, “Mandanga tando alamat dandang, sananglah suko dalam hati, lah tantu kami mahimbaukan.”
Salamo lambek nan bahandai, lengah dek bakato-kato, nasi tahedang dek si Kambang, cukuik panganan salangkoknyo. Lah sudah makan jo minum, mamintak izin Anggun Nan Tongga, turun dari rumah gadang, handak pulang hanyo lai, etan ka korong Kampuang Dalan, diunjuakkan tangan bajawek salam, manangih sanan Nan Gondoriah, taisak si Kambang kasadonyo, mahapuih mato Tuan Nan Tongga.
Alah bajalan Nan Tongga Magek Jabang, mairiang di balakang si Bujang Salamat, buni ganto tingkah batingkah, buninyo baiboibo, dihiliakan malah labuah nan panjang, jauah basarang dakek juo, dakek kan tibo hanyo lai.
Lah tibo Nan Tongga di Kampuang Dalam, iyo di koto Pariaman, ditingkek malah rumah gadang, mandeh alah mananti juo, duduak manyiriah di tangah rumah.
Maliek anak lah tibo, sanang rasonyo dalam hati, babaritolah Nan Tongga Magek Jabang, tantang pajalanan maso itu, iyo ka Tiku Pariaman, mintak izin dangan rilah, bakeh tunangan Nan Gondoriah. [ 72 ]Berkata pula Puti Gondoriah, “Manalah Tuan kandung denai, kalau iya Tuan akan berlayar, kalau iya Tuan akan berjalan, terangkan malah pada denai, jelaskan benar pada denai, tanda alamat dandang Tuan, siapakah nama nahkodanya, supaya jelas kami memanggilnya.”
Menjawablah Nan Tongga, “Jika itu yang Adik tanyakan, dandang bernama Dandang Panjang, juru mudi bernama Malin Cik Ameh, Tan Malin saja disebut orang, tentang rupa dandang itu, tiang berpalut ainalbanat, berjambul kain sutra kuning, berukir akar Cina, buatan Tuan Tukang Bungkuk.”
Berkata pula Nan Gondoriah, “Mendengar tanda alamat dandang, senanglah suka dalam hati, telah tahu kami memanggilnya.”
Selama berhandai-handai, lengah karena berkata-kata, nasi terhidang oleh si Kambang, cukup penganan selengkapnya. Setelah makan dan minum, meminta izin Anggun Nan Tongga, turun dari rumah gadang, hendak pulang kembali, ke korong Kampung Dalam, dijulurkan tangan berjawab salam, menangis kembali Gondoriah, terisak si Kambang semuanya, menghapus mata Tuan Nan Tongga.
Telah berjalan Nan Tongga Magek Jabang, mengiring di belakang si Bujang Salamat, bunyi genta tingkah bertingkah, bunyinya beriba-iba, dihilirkan malah jalan yang panjang, jauh bersarang dekat jua, dekat kan tibalah ia.
Telah sampai Nan Tongga di Kampung Dalam, yaitu di koto Pariaman, dinaiki malah rumah gadang, mandeh telah menanti jua, duduk menyirih di tengah rumah.
Melihat anak telah pulang, senang rasanya dalam hati, berkabarlah Nan Tongga Magek Jabang, tentang perjalanan masa itu, ke Tiku Pariaman, meminta izin dan rela, kepada tunangannya Nan Gondoriah. [ 73 ]Labek buahnyo marapalam
Tampangnyo nan dari ranah Jawo;
Kan tingga dulu Kampuang Dalam
Antah pabilo kan basuo.
Bakato mandeh Suto Suri, “Anak kanduang janyo denai, Anak ka bajalan ka lawitan, ingek-ingek Anak balayia, rantau sati lawik batuah, kana badan kan binaso, pakai adat di rantau urang, kok mandi di hilia-hilia, kok bakato di bawah- bawah, muluik manih kucin dan murah, baso baiak basi katuju, santano pulo nan sabuah, namonyo anak laki-laki, langkah nan alah talangkahkan, bapantang babaliak suruik, bak kato pantun urang juo:
Parahu pelang baatok lalang
Nangkodoh duduak bamain caki;
Aso hilang duo tabilang
Baitu adat laki-laki.
Musuah nan usah dicari-cari, basuo pantang diilakkan, kanalah umanaik mandeh kanduang.”
Sanan manjawab Magekjabang, “Buah rundiangan nan Mandeh katokan, baiak nasehat jo pangaja, indak kan lupo siang mmalam, kok siang kan jadi tungkek, kok malam kan jadi kalang, barakaik kiramat bapak kanduang, iyo Tuanku Haji Mudo, nan batarak di Gunuang Ledang, salamaik sajo badan pulang pai, taturuik malu badan kito.” [ 74 ]Lebat buahnya marapalam
Tampangnya yang dari ranah Jawa;
Kan tinggal dulu Kampung Dalam
Entah pabila kan bersua.
Berkata Mandeh Suto Suri, “Anak kandung diri denai, Anak akan berjalan ke lautan, ingat-ingat anak berlayar, rantau sakti lautan bertuah, ingat badan akan binasa, pakai adat di rantau orang, jika mandi di hilir-hilir, kalau berkata di bawah-bawah, mulut manis kecindan murah, basa baik basi setuju, masih ada sebuah lagi, namanya anak laki-laki, langkah yang telah terlangkahkan, berpantang berbalik surut, bak kata pantun orang jua:
Perahu pelang beratap lalang
Nahkoda duduk bermain ceki;
Asa hilang dua terbilang
Begitu adat laki-laki.
Musuh yang usah dicari-cari, bersua pantang dielakkan, ingatlah amanat mandeh kandung.”
Menjawablah Nan Tongga, “Buah rundingan yang mandeh katakan, baik nasehat dan pengajaran, tidak akan lupa siang malam, kalau siang akan jadi tongkat, kalau malam jadi kalang, berkat keramat bapak kandung, yaitu Tuanku Haji Mudo, yang bertarak di Gunung Ledang, selamat saja badan pulang pergi, dan tertuntut malu badan kita. [ 75 ]Di Ateh Dandang Panjang
Kan iyo di hari nantun, alah bajalan hanyo lai, manuju muaro
labuhan kapa, urang rami bukan kapalang, maantakan Nan Tongga
pai balayia, diantakan dangan doa salamaik, salamaik badan pulang
pai.
Dandang lah siap di kualo, kununlah Nan Tongga Magek Jabang, cando mato ka Tiku juo, raso tabayang tunangan badan, iyo Nan Gondan Gondoriah, antah pabilo kan basuo.
Dek lamo lambek nan bak kian, lah cukuik hasia kasadonyo, sabuah indak ado nan kurang, dandang ka batulak hanyo lai, sigap jurumudi Malin Cik Ameh, sarato tigo ratuih anak buahnyo, mananti wakatu hanyo lai, dicaliak langkah dalam tanuang, jan talangkahkan langkah kida, dandang kan batulak hanyo lai.
Dalam maso bakameh-kameh nantun, lah tampak urang datang, iyo manuju Dandang Panjang, takahnyo Puti anak rajo, cukuik si Kambang kasadonyo, sumarak baju biludu sirah, bakilauan candonyo parhiasan, takajuik Nan Tongga maso itu, alah tasirok darah di dado, dicaliak dipandang nyato, iyo Gondoriah nan lah datang.
Baru maliek adiak kanduang, suruik langkah Magek Jabang, masuak ka dalam biliak dandang, masuak ka dalam biliak dandang, duduak tamanuang surang diri, dibiisiakkan pasan ka si Salamat, [ 76 ]DI ATAS DANDANG PANJANG
Pada hari yang telah ditentukan, telah berjalan orang ramai, menuju muara labuhan kapal, orang ramai bukan kepalang, mengantarkan Nan Tongga pergi berlayar, diantarkan dengan doa selamat, selamat badan pulang pergi.
Dandang telah siap di kuala, kononlah Nan Tongga Magek Jabang, rupa mata ke Tiku jua, rasa terbayang tunangan badan, ialah Nan Gondan Gondoriah, entah kapan akan bersua.
Karena lama lambat seperti itu, telah cukup semuanya, sebuah tidak ada yang kurang, dandang akan bertolak, sigap juru mudi Malin Cik Ameh, serta tiga ratus anak buahnya, menanti waktu saja mereka, dilihat langkah dalam tenungan, jangan terlangkah langkah kiri, dandang siap bertolak.
Dalam masa berkemas-kemas itu, telah tampak seseorang datang, menuju ke Dandang Panjang, sepertinya puti anak raja, cukup si Kambang semuanya, semarak baju beludru merah, berkilauan rupanya perhiasan, perempuan yang cantik bukan kepalang, terkejut Nan Nongga masa itu, telah tersirap darah di dada, dilihat dipandang nyata, Nan Gondoriah yang telah datang.
Baru melihat adik kandung, surut langkah Magek Jabang, masuk ke dalam bilik dandang, duduk termenung seorang diri, [ 77 ]Bujang lah maklum tantang itu, ka lua manyonsong alek datang, iyo Nan Puti Gondoriah, sanan batanyo Puti Gondoriah, “Manolah Tuan nan di dandang, kok buliah ambo batanyo, dandang apo garan dandang nangko, siapokoh kunun nangkodohnyo?”
Manjawab urang dalam dandang, “Kok itu nan Tuan tanyokan, ikolah banamo Dandang Panjang, nangkodohnyo Malin Cik Ameh.”
Bakato pulo Nan Gondoriah, “Kalau bak itu kato Tuan, sananglah hati denai kini, denai bakandak bakeh Tuan, iyo bakandak nak basuo, jo Tuan Tongga Magek Jabang, nan manumpang dalam dandang.”
Batanyo pulo urang dalam dandang, “Tuan jan salah samek, Tuan jan bangih berang, siapokoh garan Tua nangko, nak buliah ambo mangabakan?”
Tasanyum Gadih Gondoriah, “Kok itu Tuan tanyokan, denai nan datang dari Tiku, denai disuruah mandeh kanduang, iyo mandeh Ameh Manah, pasan sabuah untuak Tuan Tongga, katokan Nan Gondo alah datang.”
Dalam bahandai-handai juo, lah tibo cando si Bujang Salamat, ditamui malah Nan Gondoriah, “Manolah aciak Nan Gondoriah, lah lamo garan Aciak tibo, apokoh kaba nan Aciak baok?”
Manjawab sanan Nan Gondoriah, “Manolah Tuan Bujang Salamat, kami nan datang dari Tiku, mambaok pasan mandeh kanduang, sarato baka nan saketek, untuak ubek hauih lapa, sadang di dalam pajalanan. Tolong himbaukan Tuan Tongga, katokan denai alah datang, buliah disampaikan pasan nantun, nak sanang rasonyo hati, tenggang lah denai dangan bicaro.”
Manyahuik si Bujang Salamat, “Manolah aciak Gondoriah, lorong kapado Tuan Tongga, sadang lalok dalam biliak, sakik kapalo ngilu paniang, takuiklah ambo manjagokan.” [ 78 ]dibisikkan pesan pada si Salamat, Bujang telah maklum tentang itu, ke luar menyongsong helat datang, yaitu Nan Puti Gondoriah, lalu bertanyalah Puti Godoriah, “Manalah Tuan yang di dandang, kalau boleh hamba bertanya, dandang apa gerangan ini, siapakah konon nahkodanya?”
Menjawab orang di dalam dandang, “Kalau itu yang Tuan tanyakan, dandang bernama Dandang Panjang, nahkodanya Malin Cik Ameh.”
Berkata pula Nan Gondoriah, “Kalau seperti itu kata Tuan, senanglah hati denai kini, denai berkehendak pada Tuan, yaitu hendak bertemu, dengan Tuan Tongga Magek Jabang yang menumpang dalam dandang.”
Bertanya pula orang dalam dandang, “Tuan jangan salah semat, Tuan jangan marah besar, siapakah gerangan Tuan ini, supaya boleh hamba mengabarkan?”
Tersenyum Gadih Gondoriah, “Kalau itu yang Tuan tanyakan, denai yang datang dari Tiku, denai disuruh mandeh kandung, yaitu mandeh Ameh Manah, pesan sebuah untuk Tuan Tongga, katakan Nan Gondo telah datang.”
Dalam berhandai-handai jua, telah tiba rupanya si Bujang Salamat, ditemui malah Nan Gondoriah, “Manalah Acik Nan Gondoriah, telah lama gerangan Acik datang, apakah kabar yang Acik bawa?”
Menjawablah Nan Gondoriah, “Manalah Tuan Bujang Salamat, kami yang datang dari Tiku, membawa pesan mandeh kandung, serta sedikit bekal, untuk obat haus dan lapar, sedang di dalam perjalanan. Tolong panggilkan Tuan Tongga, katakan denai telah datang, supaya disampaikan pesan tersebut.”
Menyahut si Bujang Salamat, Manalah Acik Gondoriah, lorong kepada Tuan Tongga, sedang tidur dalam bilik, sakit kepala ngilu pening, takutlah hamba membangunkannya.” [ 79 ]Bakato pulo Nan Gondoriah, “Manolah Tuan janyo denai, jikok lalok Tuan Tongga, apokoh tenggang dayo denai, pasan nan musti disampaikan, indak buliah bapasan-pasan sajo, iyo ka Tuan Tongga bana, bak itu umanaik nan denai baok, kok indak nan baitu, indaklah denai ka mari bana, disuruah sajo urang lain, bak itu bana paralunyo.”
Lah datang si Kambang Malang, mambaok siriah dangan pinang, cukuik baisi kalangkapan, kok timbakau nan bajelo, kok sadah nan sapalik, gambia jo siriah sacukuiknyo, carano batutuik jo dalamak, bak itu adat maso itu.
Naiaklah garan Nan Gondoriah, ka ateh Dandang Panjang, batamu sanan jo Jurumudi, sanan bakato Nan Gondoriah, “Tuan nangkodoh Dandang Panjang, Tuan ditompang di tunangan denai, inyo nan alun biaso balayia, ka lawik sakali nangko, kok datang topan jo badai, basabuang cando ombak gadang, kamudi kok indak arek, ka mano dandang dilayiakan?”
Manjawab sanan Tuan Jurumudi, iyo nangkodoh Malin Cik Ameh, “Jikok itu nan Aciak rusuahkan, bapesong angin limbubu, badai kancang kok datang, kamudi nan indak dilapehkan, Tuan Tongga sanang sajo, alah kan sanang hati Aciak?”
Bakato pulo Nan Gondoriah, “Dangakan malah di Tuan, kok basuo karang manonggok, angin nan indak namuah turun, kapa tak namuah jalan lai, ka hilia| ka lawik lapeh, ka mudiak ka lawik api, ka mano dandang dilabuahkan?
Kaba barito nan denai danga, basuo lawik nan bapancang, tatampuah pulau balarangan, datang bajak dangan bajau, tumbuah parang basosoh, kok sampai senteang di paluru, kok sampai kurang di nan tajam, apokoh tenggang bicaro Tuan, di manokoh inyo disanangkan?
Galak tasanyum Malin Cik Ameh, mandanga tanyo Nan Gondoriah, manjawab inyo sakali, “Manolah aciak Puti Gondoriah, [ 80 ]Berkata pula Nan Gondoriah, “Manalah Tuan kata denai, jika tidur Tuan Tongga, apalah tenggang daya denai, pesan yang harus disampaikan, tidak boleh berpesan-pesan saja, harus pada Tuan Tongga, begitu amanat yang denai bawa, kalau tidak seperti itu, tidak perlu denai datang ke mari, disuruh saja orang lain, seperti itu benar perlunya.”
Telah datang si Kambang Malang, membawa sirih dengan pinang, cukup dengan kelengkapannya, tembakaunya berjela, kapur sirihnya sepalit, gambir dan sirih secukupnya, cerana bertutup dengan delamak, begitu adat masa itu.
Naiklah gerangan Nan Gondoriah, ke atas Dandang Panjang, bertemu dengan juru mudi, berkatalah Nan Gondoriah, “Tuan nahkoda Dandang Panjang, tuan ditumpangi tunangan denai, ia belum biasa berlayar, ke laut baru sekali ini, kalau datang topan dan badai, bersabung rupa ombak besar, kemudi kalau tidak erat, ke mana dandang ini akan dilayarkan?”
Menjawablah Tuan juru mudi, yaitu nahkoda Malin Cik Ameh, “Kalau itu yang Acik rusuhkan, berputar angin limbubu, kalau datang badai kencang, kemudi yang tidak akan denai lepaskan, Tuan Tongga tenang saja, sudahkah senang hati Acik?”
Berkata pula Gondoriah, “Dengarkan malah oleh Tuan, pabila bersua karang beronggok, angin yang tidak mau turun, kapal yang tidak mau jalan lagi, ke hilir ke laut lepas, ke mudik ke lautan api, ke mana dandang akan dilabuhkan?
Kabar berita yang denai dengar, bertemu laut yang berpancang, tertempuh pulau berlarangan, datang bajak dengan bajau, tumbuh perang menyosoh, kalau sampai kurang peluru, kalau kurang senjata tajam, apakah tenggang bicara Tuan, di manakah ia disenangkan?”
Gelak tersenyum Malin Cik Ameh mendengar pertanyaan Nan Godoriah, segera ia menjawab, “Manalah Acik Puti Gondoriah, [ 81 ]jikok itu nan Aciak rusuahkan, salamo Tuan Tongga pai balayia, batahun buliah lalok sajo.”
Sananglah hati Nan Gondoriah, didanga alah elok buni, bakato hanyo lai, “Manolah Tuan Bujang Salamat, hari lah barambang tinggi juo, nak jan talalai Tuan balayia, jagokan malah Tuan Tongga, buliah pasan denai sampaikan, pasan umanaik mandeh kanduang, sabab kutiko maso dahulu, samaso Tuan datang ka Tiku, Tuan nan indak basuo jo mandeh denai.”
Manjawab sanan si Bujang Salamat, “Takuiklah ambo tantang itu, tidaklah barani ambo manjagokan, indak kanai caro jalannyo, karih basilang rencong bamain, salah di sanan garak ambo, badan iko juo marasaikan,pulang maklum pado Aciak. “Surang nan indak namuah pai, habih tenggang jo bicaro, bajalanlah garan Nan Gondoriah, masuak ka jubuang ka ruang kaco, ka tampek Tuan Tongga, alah mahimbau Nan Gondoriah, “Manolah Tuan Anggun Nan Tongga, sajauah iko denai datang, Tuan nan indak acuah sajo, duduak malah Tuan dahulu, bak pantun Tuan juo:
Ganjia bana dulang di siko
Banyak baukia gamba buruang;
Ganjia bana urang di siko
Awak naiak inyo bakuruang.
Ado pasan ka disampaikan, dari mandeh kanduang diri, iyo mandeh Ameh Manah. Tuan Tongga janyo denai, Tuan duduak malah dahulu, kito bahandai bakato-kato,” katonyo Nan Gondoriah.
Baru tadanga di kato nantun, duduak sakali Nan Tongga, sarupo urang sakik bana, sabagai urang ngilu paniang, sakik kapalo dek bacinto, kini ubek nan lah datang, dibaok duduak Nan Gondoriah, iyo di tangah ruang nantun, dalam lancang Dandang Panjang.
Lah tatagak panji-panji kuniang, bakibar marawa kuniang sirah, alamat ado tamu datang, tamu basa urang bangsawan, bakato sanan Nan Gondoriah, kato babahua jo kucikak. [ 82 ]jika itu yang Acik rusuhkan, selama Tuan Tongga pergi berlayar, bertahun ia boleh tidur saja.”
Senanglah hati Nan Gondoriah, didengar telah elok bunyinya, berkatalah ia kembali, “ Manalah Tuan Bujang Salamat, hari telah berembang tinggi jua, supaya jangan terlalai Tuan berlayar, bangunkanlah Tuan Tongga, boleh pesan denai sampaikan, pesan amanat mandeh kandung, sebab ketika masa dahulu, semasa Tuan datang ke Tiku, Tuan yang tidak bertemu mandeh denai.”
Menjawablah si Bujang Salamat, “Takutlah hamba tentang itu, tidaklah berani hamba membangunkan, tidak kena cara jalannya, keris bersilang rencong bermain, salah di situ gerak hamba, badan ini jua yang sengsara, pulang maklum pada Acik.”
Seorang pun tidak mau pergi, habis tenggang dan bicara, berjalanlah gerangan Nan Gondoriah, masuk ke jerubung ruang kaca, ke tempat Tuan Tongga, lalu memanggil Nan Gondoriah, “Manalah Tuan Anggun Nan Tongga, sejauh ini denai datang, Tuan yang tidak acuh saja, duduklah malah Tuan dahulu, bak pantun Tuan juga;
Ganjil benar dulang di sini
Banyak berukir bergambar burung;
Ganjil benar orang di sini
Awak naik dia berkurung.
Ada pesan akan disampaikan, dari mandeh kandung diri, yaitu mandeh Ameh Manah. Tuan Tongga kata denai, Tuan duduk malah dahulu, kita berhandai berkata-kata.” Seru Nan Gondoriah.
Mendengar kata seperti itu, segera duduk Nan Tongga, serupa orang yang sakit sekali, seperti orang ngilu pening, sakit kepala karena bercinta, kini obatnya telah datang, dibawa duduk Nan Gondoriah, duduk di tengah ruang itu, dalam lancang Dandang Panjang.
Telah berdiri panji-panji kuning, berkibar merawal kuning merah, pertanda ada tamu datang, tamu basa orang bangsawan, berkatalah Nan Gondoriah, kata berbuhul dengan senda gurau. [ 83 ]“Pandai bana Tuan manggaleh
Pailah ka pasa urang Piaman
Kok lai singgah ka pasa Tiku;
Pandai bana Tuan mambaleh
Mauleh nan indak mangasan
Manyimpua indak babuku.
Tuan kanduang Anggun Nan Tongga, dari jauah denai lah datang, gadang mukasuik dalam hati, kok indak pasan disampaikan, indak rilah malapeh Tuan, indak suko Tuan bajalan, sadang satampok dari ranah, sajak di rahim bundo kanduang, manyumpah bumi dangan langik, haram lawitan Tuan tampuah, baitu arek umanaik mandeh.
Baitu pulo Tuan Nangkodoh, sarato Tuan Bujang Salamat, nan tigo ratuih dalam dandang nangko, maaf jo ampun denai mintak, talambek saketek Tuan balayia, umanaik Gondo kok indak sampai, malaruik badan kasudahannyo, hancua pelang Dandang Panjang.”
Si Kambang basiap kasadonyo, dibukak malah pambawoan, alah ditatiang cando panganan, dijamu urang dalam lancang, dibaco pulo doa salamaik, nak santoso sajo palayaran, sanan bakato Nan Gondoriah,
“Manolah Tuan kanduang denai, namonyo Tuan ka balayia, jo apo Tuan kami lapeh, dilapeh dangan ameh perak, ameh perak cukuik di Tuan, dilapeh dangan kain baju, kain baju banyak di Tuan, kok denai lapeh bareh baka, sawah ladang banyak laweh di Tuan.
Hanyo saketek maibo hati, Tuan nan balun parnah marantau, jikok hari alah patang, kabau lah masuak ka kandangnyo, urang lah pulang ka rumahnyo, unggeh lah masuak ka sarangnyo, dagang ka mano kan manggabai, janjang mano kan ditingkek, di sikolah mangko badan sansai, duduak tamanuang mangana untuang, mandeh lah jauah ditinggakan, korong kampuang tabayang sajo, anjuang tagamang ditinggakan, rumah gadang tamanuang surang. [ 84 ]“Pandai benar Tuan menggalas
Pergilah ke pasar orang Pariaman
Kalau bisa singgah ke pasar Tiku;
Pandai benar Tuan membalas
Mengulas yang tidak mengesan
Menyimpul tidak berbuku.
Tuan kandung Anggun Nan Tongga, dari jauh denai telah datang, besar maksud dalam hati, kalau pesan tidak disampaikan, tidak rela melepas Tuan, tidak suka Tuan berjalan, sedang sejengkal dari ranah, sejak di rahim bunda kandung, menyumpah bumi dengan langit, haram laut Tuan tempuh, begitu erat amanat mandeh.
Begitu pun Tuan Nahkoda, serta Tuan Bujang Salamat, yang tiga ratus orang dalam dandang ini, maaf dan ampun denai minta, terlambat sedikit Tuan berlayar, amanat Gondo kalau tidak disampaikan, melarat badan kesudahannya, hancur pelang Dandang Panjang.”
Si Kambang bersiap semuanya, dibuka malah pembawaan, telah ditating rupa penganan, dijamu orang dalam lancang, dibaca pula doa selamat, supaya sentosa saja pelayaran, lalu berkatalah Nan Gondoriah,
“Manalah Tuan kandung denai, namanya Tuan akan berlayar, dengan apa kami lepas, dilepas dengan emas perak, emas perak cukup pada Tuan, dilepas dengan kain baju, kain baju banyak di Tuan, kalau denai lepas dengan beras dan bekal, sawah ladang banyak dan luas pada Tuan.
Hanya sedikit yang mengibakan hati, Tuan yang belum pernah merantau, jika hari telah petang, kerbau telah masuk ke Kandangnya, orang telah pulang ke rumahnya, unggas telah masuk ke sarangnya, dagang ke mana akan menggabai, jenjang mana yang akan dinaiki, di sinilah badan maka sansai, duduk termenung mengingat untung, mandeh telah jauh ditinggalkan, korong kampung terbayang saja, anjung tergamang ditinggalkan, rumah gadang termenung sendiri. [ 85 ]Sabuah pulo Tuan Tongga, kok sampai Tuan marantau, siapo mananak manggulaikan, siapo manatiang mahedangkan, ayia dijapuik ka pincuran, kayu dicari masuak rimbo, handak makan nasi diupiah, handak minum ayia dicaluang, sakik sia kan maubek, damam sia kan manawa, susah siapo kan mambantu, sakik bana batenggang surang, marantau sakali balun, itu maibo kami bana.”
Sanan manjawab Anggun Nan Tongga, “Bana juo rundiangan Adiak, tapi samantangpun baitu, salorong tantang nantun, indak usah Adiak camehkan, bak itu biaso urang marantau, sakik jo sanang indak bacarai, hiduik mati pamenan hiduik.
Hanyo sabuah nan denai rusuahkan, iyolah tantangan Adiak juo, kito nan sadang batunangan, kok handam karam badan denai, Adiak juo marasaikan, pandai-pandailah Adiak batenggang, jago badan diri Adiak, jan kanai dek sangketo, jan dapek dibujuak rayu, tolonglah denai dangan doa, salamaik sajo pulang pai.”
Manyahuik sanan Nan Gondoriah, “Bak itu bana rundiangan Tuan, kok sampai Tuan bajalan, apolah tenggang denai surang, kito balun parnah bacarai, kiri indak kanan pun indak, rundiangan bulek bakeh Tuan, Tuan nan surang diharokkan.
Kok tumbuah buruak jo baiak, ado bicaro nan tatumbuak, kok datang lancuang aniayo, urang nan lalu-lalang sajo, ka mano badan kan mangadu, ka manolah tabiang kan basanda, hanyo ka bakeh Tuan surang.”
Mandanga kato nan bak kian, manjawab Nan Tongga Magek Jabang, “Manolah adiak Gondoriah, adiak kanduang sibiran tulang, dangakan bana sungguah-sungguah, mukasuik sangajo handak balayia, mako kareh pai marantau, Adiak lah sudah tahu juo, bukannyo mancari ameh perak, indak manambah kain baju, denai nak tahu di rantau urang, handak mancubo laju dandang, nak tahu galombang bajombak, dirasoi ombak nan badabua, nak tahu pahik main hiduik.” [ 86 ]Satu lagi Tuan Tongga, jika sampai Tuan merantau, siapa yang akan memasak menggulaikan, siapa kan menating menghidangkan, air dijemput ke pancuran, kayu dicari masuk rimba, hendak makan nasi diupih, hendak minum air dicalung, sakit siapa yang akan mengobati, demam siapa yang akan mendinginkan, susah siapa yang akan membantu, sakit benar bertenggang sendiri, merantau sekali belum, itulah yang mengibakan hati kami.”
Menjawablah Anggun Nan Tongga, “Benar juga rundingan Adik. tetapi walaupun begitu, selorong tentang hal itu, tidak usah Adik cemaskan, orang merantau biasa begitu, sakit dan senang tidak bercerai, hidup mati permainan hidup.
Hanya sebuah yang denai rusuhkan, yaitu tentang Adik jua, kita yang sedang bertunangan, kalau handam karam badan denai, Adik juga yang sengsara, pandai-pandailah Adik bertenggang, jaga badan diri Adik, jangan kena sengketa, jangan dapat dibujuk rayu, tolonglah denai dengan doa, selamat saja pulang pergi.”
Menyahutlah Nan Gondoriah, “Begitu benar ucapan Tuan, kalau sampai Tuan berjalan, apalah tenggang denai seorang, kita belum pernah bercerai, kiri tidak kanan pun tidak, rundingan bulat pada diri Tuan, Tuan seorang saja yang diharapkan.
Jika tumbuh buruk dan baik, ada bicara yang tertumbuk, kalau datang lancung dan aniaya, orang yang lalu-lalang saja, ke mana badan akan mengadu, ke manalah tebing untuk bersandar, hanya kepada diri Tuan sendiri.”
Mendengar kata seperti itu, menjawab Nan Tongga Magek Jabang, “Manalah Adik Gondoriah, adik kandung sibiran tulang, dengarkan benar sungguh-sungguh, maksud sengaja hendak berlayar, maka keras hati hendak merantau, Adik kan sudah tahu juga, bukannya mencari emas perak, tidak menambah kain baju, denai hendak tahu di rantau orang, hendak mencoba laju dandang, nak tahu gelombang dan ombak, merasakan ombak berdebur, nak tahu pahit manis hidup.” [ 87 ]Bakato pulo Nan Gondoriah, “Tuan denai Magek Jabang, dangakan juo malah di Tuan, kok hilang Tuan masuak lawik, kok Tuan karam dek galombang, badan denai baa kasudahannyo?”
Sanan manjawab Anggun Nan Tongga, “Manolah adiak Gondoriah, dangakan bana elok-elok, handak denai sabuik kato batin, ucapan dalam hati nurani, buhua dalam kanduangan hati, mangkonyo denai handak bajalan, handak mamupuih malu di kaniang, handak manjapuik dagang nan hilang, handak mambangkik batang tarandam.
Denai sanang diam di siko, lalok tidua di ateh anjuang, si Kambang basusun bakuliliang, alun dihimbau inyo la datang, balun disuruah inyo lah pai, tapi tak guno nan bak kian, sadang nan mamak kanduang denai, iyo nan bapak kanduang Adiak, nan bagala Nangkodoh Rajo, lihia bakaluang dangan rantai, kaki bapasuang kaduonyo, diam sakandang dangan babi, hinok manuangkan malah di Adiak. Cubo Adiak pikia-pikia surang, cubo Adiak hinok manuangkan, denai si Tongga janyo urang, bapak kanduang Tuanku Haji Mudo, urang kiramaik hiduik-hiduik, indaklah malu sagadang nangko, apo guno diam di nagari, elok hilang ka lawitan.
Denai haru rantau kasadonyo, denai tampuah lawik bapancang, denai jajak pulau nan larangan, jikok di langik handak denai juluak, jikok di bumi handak denai kali, jikok kareh handak denai takiak, tabujua lalu tabalintang patah, asa tajapuik mamak kanduang, asa ayah tabaok pulang.
Jikok untuang tapupuih malu, koknyo malang bialah hilang, doakan sajo malah dek Adiak, barakaik doa Adiak kanduang, kok iyo batuah ayah denai, nan diam di Gunuang Ledang, salamaik sajo denai babaliak.”
Manjawab sanan Nan Gondoriah, jawab bacampua sadusadan, “Manolah Tuan kanduang denai, jikok baitu rundiangan Tuan, mamintak denai siang malam, dipanjekkan doa bakeh nan satu, tajapuik juo ayah kanduang, tapupuih malu di kaniang kito. Salorong [ 88 ]Berkata pula Nan Gondoriah, “Tuan denai Magek Jabang, dengarkan juga malah oleh Tuan, kalau hilang Tuan di lautan, karam karena gelombang, bagaimana nasib denai?”
Menjawablah Anggun Nan Tongga, “Manalah Adik Gondoriah, dengarkan benar baik-baik, hendak denai sebut kata batin, ucapan dalam hati nurani, buhul dalam kandungan hati, maksud denai hendak berjalan, ingin memupus malu di kening, hendak menjemput dagang yang hilang, hendak membangkit batang terendam.
Denai senang berdiam di sini, tidur lelap di atas anjung, si Kambang bersusun berkeliling, belum dipanggil mereka sudah datang, belum disuruh mereka telah pergi, tapi tak guna yang seperti itu, sementara mamak kandung denai, yaitu bapak kandung Adik, yang bergelar Nangkodoh Rajo, leher berkalung degan rantai, kaki terpasung keduanya, diam sekandang dengan babi, inap menungkanlah oleh Adik. Coba Adik pikir-pikir sendiri, coba Adik inap menungkan, denai si Tongga kata orang, bapak kandung Tuanku Haji Mudo, orang keramat hidup-hidup, tidak ada malu yang sebesar ini, apa gunanya diam di nagari, baiklah hilang di lautan.
Denai arungi rantau semuanya, denai tempuh laut berpancang, denai jajaki pulau larangan, jika di langit hendak denai jolok, jika di bumi hendak denai gali, jika keras hendak denai takik, terbujur lalu terbelintang patah, asal bisa menjemput mamak kandung, asal ayah terbawa pulang.
Jika untung terhapus malu, kalau malang biarlah hilang, doakan saja oleh Adik, berkat doa Adik kandung, kalau memang bertuah ayah denai, yang berdiam di Gunung Ledang, selamat saja denai kembali.”
Menjawablah Nan Gondoriah, jawab bercampur sedu sedan “Manalah Tuan kandung denai, jika begitu rundingan Tuan, meminta denai siang malam, dipanjatkan doa pada yang Satu, terjemput jua ayah kandung, terpupus malu di kening kita. Selorong itu Tuan [ 89 ]itu Tuan kanduang, sanang hati Tuan bajalan, suko hati denai nan tingga, basumpah satiah malah kito, Tuan kok sampai di rantau urang, kok batamu bungo sadang kambang, bungo nan jan Tuan suntiang, kam- bang nan jan Tuan patiak.
Kok sampai nan baitu, bungo kambang Tuan pamenan, ayia janiah Tuan pamandi, badan denai juo manangguangkan. Kito basatiah malah di siko, dalam dandang nan panjang nangko, di siko di taluak di kualo, iyo di kualo Banda Teleng, satiah di siko kito karang, janji di siko kito buek, satiah nan bakalian dalam, satiah nan bagantuang tinggi. Kok satiah Tuan bukak, kok janji Tuan ungkai, Gondo kan hilang dari kampuang, denai ka gunuang hanyo lai, bialah badan naknyo hilang”
Basatiah malah Gondo hanyo iai, janji dibuek hanyo lai, satiah kok ungkai dek Nan Tongga, Gondo kan maelak pulo, satiah kok tangga dek Nan Gondo, Tongga kan malapeh pulo, baitu sati buni sumpah, basasi urang dalam dandang, urang nan tigo ratuih, etan di kualo, iyo di kualo Banda Teleng, satiah nan bakalian dalam, satiah nan bagantuang tinggi, sanan ba kato pulo Nan Gondoriah, “Tuan denai Magek Jabang, sabuah pulo hanyo lai, namonyo Tuan ka bajalan, baoklah malah pasan denai, kahandak hati pangidaman, kahandak saratuih duo puluak, sabuah indak buliah usak, ikolah pitih sakupang ganok, iyo pitih nan ado nangko, carikan nuri pandai bakato, anggang nan pandai mangulindam, anak baruak pandai bakucapi anak musang panggaro ayam.
Sabuah pulo hanyo lai, kancah nan batarawang, kain sarasah panjang tujuah, cindai panjang duo baleh, nan bajambua jo suto kuniang, nan indak basah dek ayia, dikambang saleba alam, dilipek sagadang kuku, disimpan dalam talua buruang.”
Kahandak Puti Nan Gondoriah, kahandak saratuih duo puluah, sabuah indak buliah kurang, disimak pasan ciek-ciek, dipacik pasan aso-aso, sabuah indak ado nan kurang, sananglah hati maso itu. [ 90 ]kandung, senang hatilah Tuan berjalan, suka hatilah denai yang tinggal, bersumpah sakti malah kita. Kalau sampai Tuan di rantau orang, kalau bertemu bunga sedang kembang, bunga yang jangan Tuan sunting, kembang yang jangan Tuan petik.
Kalau sampai seperti itu, bunga kembang Tuan permainkan, air jernih Tuan pakai mandi, badan denai jua yang menanggungkan. Kita bersumpah malah di sini, dalam dandang yang panjang ini, di sini di teluk kuala, di Kuala Banda Teleng, sumpah di sini kita karang, janji di sini kita buat, sumpah yang berkalian dalam, sumpah yang bergantung tinggi. Kalau sumpah Tuan buka, kalau janji Tuan ungkai, Gondo akan hilang dari kampung, denai akan pergi ke gunung, biarlah badan akan hilang.”
Bersumpahlah Gondo, janji pun dibuat, sumpah kalau diungkai oleh Nan Tongga, Gondo akan mengelak pula, sumpah kalau tanggal oleh Nan Gondo, Tongga kan melepas juga, begitu sakti bunyi sumpah, bersaksi orang dalam dandang, tiga ratus orang saksinya, di bandar kuala, yaitu di Kuala Banda Teleng, sumpah yang berkalian dalam, sumpah yang bergantung tinggi, lalu berkata pula Nan Gondoriah,
“Tuan denai Magek Jabang, masih ada sebuah lagi, namanya Tuan akan berjalan, bawalah malah pesan denai, kehendak hati pengidaman, kehendak sebanyak seratus dua puluh, satu pun tidak boleh kurang, ini uang sekupang genap, dengan uang yang ada ini, carikan nuri pandai berkata, elang pandai mengelindam, anak beruk pandai berkecapi, anak musang pengusir ayam.
Ada lagi yang lainnya, kancah yang berterawang, kain sarasah panjang tujuh, cindai panjang dua belas, yang berjambul sutra kuning, yang tidak basah kena air, dikembangkan selebar alam, dilipat sebesar kuku, disimpan dalam telur burung.”
Kehendak Puti Nan Gondoriah, kehendak seratus dua puluh, sebuah tidak boleh kurang, disimak dipegang pesan satu persatu, sebuah tidak ada yang kurang, senanglah hati masa itu. [ 91 ]Bakato pulo Nan Gondoriah, “Kok indak buliah nan sado nantun, Tuan jan babaliak pulang, kampuang nan jan Tuan jajak, hilanglah Tuan ka lawitan, usah Tuan baniat pulang, kok santano pulang juo, kok tibo Tuan tangah rumah, dadak mananti di tampuruang, karih basilang muko pintu, haramlilah dipanjek kubua, jan dijajak ranah Tiku, jan ditampuah Kampuang Dalam, haramkan dalam kabek pingang, pakalang siang jo malam, nak jan pulo baupatan.”
Mandanga pasan Nan Gondoriah, tamanuang NanTongga Magek Jabang, “Manolah Adiak Gondoriah, batua bana rundiangan Adiak, denai buhua dalam kabek pinggang, namun sakarang kini nangko, ado kahandak dalam hati, kahandak musti disampaikan, ikolah kapeh sakalumpang, kapeh panji putiah janiah, sapaningga denai pai bajalan, tolonglah pinta kapeh nangko, jadikan ka pakaian sapatagak, buekkan cindai panjang duobaleh. Kok pulang denai dari lawik, kan dipakai jolong tibo, kok indak sampai nan bak nantun, haramlillah diakad nikah, sampai tuo manjunjuang uban, hilang lareklah masuak rimbo.”
Lamo sabanta antaronyo, duduak tamanuang Gondoriah, lalu bakato hanyo lai, “Manolah Tuan kanduang janyo denai, dangakan bana dek Tuan elok-elok,
Sungai Sariak ayianyo landai
Karuah mangko di pamandi;
Tuan cadiak denai lah pandai
Samo ditaruah dalam hati.
Baa hanyo kini nangko, kito lah lamo bahandai-handai, hari basarang tinggi juo, sabuah lai nan tingga, pasan umanaik mandeh kanduang, badia nan tigo satuangan, badia banamo katigonyo, sabuah banamo Si Sandiang Tigo, sabuah Si Sapu Rantau, sabuah lai Si Lelo Majenun, kok batamu parang nan basosoh, malatuih sajo sandirinyo, salatuih duo dantamnyo. [ 92 ]Berkata pula Nan Gondoriah, “Kalau tidak dapat semuanya, Tuan jangan berbalik pulang, kampung yang jangan Tuan jejak, hilanglah Tuan ke lautan, usah Tuan berniat pulang, kalau umpama pulang jua, kalau sampai Tuan di tengah rumah, dedak menanti di tempurung, keris bersilang di muka pintu, haramlilah dipanjat kubur, jangan dijejak ranah Tiku, jangan ditempuh Kampung Dalam, haramkan dalam ikat pinggang, untuk kalang siang dan malam, supaya jangan pula mengumpat”
Mendengar pesan Nan Gondoriah, termenung Nan Tongga Magek Jabang, “Manalah Adik Gondoriah, benar sangat rundingan Adik, denai buhul dalam ikat pinggang, namun sekarang ini, ada kehendak dalam hati, kehendak mesti disampaikan, inilah kapas satu kelumpang, kapas panji putih jernih, sepeninggal denai pergi berjalan, tolonglah pintal kapas ini, jadikan untuk pakaian satu setel, buatkan cindai panjang dua belas. Kalau pulang denai dari laut, akan dipakai begitu tiba, kalau tidak sampai seperti itu, haramlillah di akad nikah, sampai tua menjunjung uban, hilang larat masuk rimba.”
Lama sebentar antaranya, duduk termenung Gondoriah, lalu berkatalah ia, “Manalah Tuan kandung kata denai, dengarkan benar oleh Tuan baik-baik,
Sungai Sariak airnya landai
Keruh mengapa dipakai mandi;
Tuan cerdik denai telah pandai
Sama ditaruh dalam hati.
Bagaimana lagi sekarang ini, kita telah lama berhandai-handai, hari bersarang tinggi jua, sebuah lagi yang tinggal, pesan amanat mandeh kandung, ini bedil yang tiga setuangan, bedil bernama ketiganya, sebuah bernama Si Sandiang Tigo, sebuah si Sapu Rantau, sebuah lagi si Lelo Majenun, kalau bertemu perang yang bersosoh, meletus saja sendirinya, satu letusan, dua dentumannya.Sekali meletus, dua kali dentumannya. [ 93 ]Ikolah surek nan sapucuak, surek pusako nan kiramat, surek padoman urang balayia, gadang gunonyo di lawitan, tahu di dalam dangka lawik, tahu di karang nan manonggok, jo iko Tuan denai lapeh, jikok senteng lah denai bilai, kanalah umanaik kasadonyo.”
Mandanga kato nan bak kian, manyahuik sanan Tuan Tongga, “Adiak denai Gondoriah, mandanga rundiangan Adiak nantun, sarato umanaik kasadonyo, sananglah hati mandangakan, bakato nan elok hanyo lai, hari basarang tinggi juo.
Pacah karang ditimpo karang
Karang manjadi batu pulo;
Babaliak malah Adiak pulang
Kok untuang batamu pulo.”
Manjawab Nan Gondoriah,
“Urang baburu di ateh ngarai
Talang di bawah pandakian;
Jolong katuju badan bacarai
Laruik rasonyo paratian.”
Manyahuik pulo Nan ‘Tongga,
“Baniah nan baru kito samai
Ditimpo dek salaro panuah;
Kasiah nan baru kito muloi
Kini kan dibaok bajalan jauah.”
Alah sudah makan minum, tangan bajawek hanyo lai, bakato sanan Nan Tongga, “Manolah adiak Nan Gondoriah, Adiak kanduang sibiran tulang, rilah jo maaf denai mintak dandang kan batulak hanyo lai, kito batulak pungguang pulo, sampaikan salam ka mandeh kanduang, iyo ka mandeh Ameh Manah”
Alah turun Nan Gondoriah, lah tingga Dandang Panjang malengong salengong ka balakang, ayia mato dihapuih juo, dihapuih jo ujuang kain, pulanglah Nan Gondoriah, manuju korong Kampuang Tiku. [ 94 ]Inilah surat yang sepucuk, surat pusaka yang keramat, surat pedoman orang berlayar, besar gunanya di lautan, tahu dalam dan dangkal laut, tahu di karang yang mengonggok, dengan ini Tuan denai lepas, jika senteng telah denai bilai, ingatlah semua amanat.”
Mendengar kata seperti itu, menyahutlah Tuan Tongga, “Adik denai Gondoriah, mendengar rundingan Adik itu, serta semua amanat, senanglah hati mendengarkan, berkata yang baiklah, karena hari bersarang tinggi jua.
Pecah karang ditimpa karang
Karang menjadi batu pula;
Berbalik malah Adik pulang
Kalau untung kan bertemu pula.”
Menjawab Nan Gondoriah,
“Orang berburu di atas ngarai
Talang di bawah pendakian;
Baru bersuka badan bercerai
Larut rasanya perhatian.”
Menyahut pula Nan Tongga,
“Benih yang baru kita semai
Ditimpa oleh silara penuh;
Kasih yang baru kita mulai
Kini kan dibawa berjalan jauh.
Sesudah makan dan minum, tangan berjawablah dengan salam, berkatalah Nan Tongga, “Manalah Adik Nan Gondoriah, Adik kandung sibiran tulang, rela dan maaf denai minta, dandang kan pergi bertolak, kita bertolak punggung pula, sampaikan salam pada mandeh kandung, yaitu pada mandeh Ameh Manah.”
Telah turun Nan Gondoriah, telah tinggal Dandang Panjang, menoleh sekilas ke belakang, air mata dihapus jua, dihapus dengan ujung kain, pulanglah Nan Gondoriah, menuju korong Kampung Tiku. [ 95 ]Bajak Lawik Cino Kuntuang
Alah bajalan Puti Gondoriah, batulak balakang maso itu, dandang kan bajalan hanyo lai, bakato sanan Tuan Nangkodoh, iyo nangkodoh Malin Cik Ameh, “Manolah kalian nan di dandang, pangganglah kini kini kumayan putiah, hari basarang tinggi juo, wakatu Luhua alah talampau, Luhua lah barambang patang, pangganglah kini kumayan nantun, asoklah dandang bakuliliang, kito bakahua bakeh nan kiramat, nak turun angin Si Dulak-dolai, nak laju dandang ka tangah lawik...!”
Mandanga kato jurumudi, urang bakakok kasadonyo, mamacik karajo surang-surang, alah dipanggang kumayan putiah, mamintak malah maso itu, nak turun angin buritan, buliah balayia Dandang Panjang.
Dek lamo lambek manunggu, usahkan angin nan ka turun, usahkan ribuik nan ka datang, usahkan ombak ka manggilo, riak sapajam indak ado, tanang sajo ayia di lawitan heranlah urang kasadonyo, maliek nan bak kian, bakato sanan Tuan Tongga, “Manolah Tuan Jurumudi, kok buliah bana denai sabuik, jan mangetek hati Tuan, tantangan pintak denai nangko, Tuan lah lamo di lawitan, Tuan lah biaso balayia, denai balun sakali juo, manampuah lawik ikolah baru. [ 96 ]BAJAK LAUT CINA BUNTUNG
Telah berjalan Puti Gondoriah, bertolak belakang masa itu, dandang akan berjalanlah, berkata di sana tuan nahkoda, yaitu nahkoda Malin Cik Ameh,
“Manalah kalian yang di dandang, pangganglah sekarang kemenyan putih, hari bersarang tinggi jua, waktu Zuhur telah terlampau, Zuhur telah berembang petang, pangganglah sekarang kemenyan itu, asapilah dandang berkeliling, kita berkaul pada yang keramat, supaya turun angin si Dulak-dolai, supaya laju dandang ke tengah laut…!
Mendengar kata juru mudi, orang bersiap semuanya, mengerjakan pekerjaan masing-masing, telah dipanggang kemenyan putih, meminta mereka pada masa itu, supaya turun angin buritan, boleh berlayar Dandang Panjang.
Karena lama menunggu, usahkan angin yang akan turun, usahkan ribut yang akan datang, usahkan ombak kan menggila, sedikit riak pun tidak ada, tenang saja air di lautan, heranlah orang semuanya, melihat yang seperti itu, berkatalah Tuan Tongga, “Manalah Tuan juru mudi, kalau boleh denai menyebut, janganlah Tuan berkecil hati, tentang pintak denai ini, Tuan telah lama di lautan, Tuan telah biasa berlayar, denai belum sekali pun, menempuh laut inilah baru. [ 97 ]Bialah denai nak mancubo, pagang kamnudi di tangan denai, tunjuak ajari malah di Tuan, kok sampai buliah Tuan lapang. kok panek denai manggantikan,pulang maklum bakeh Tuan.”
Manjawab sanan Jurumudi, “Tuan Tongga janyo ambo, jikok baitu nan ka baiak, alah tasisiak dalam hati, alah takana di kiro-kiro, kok lai namuah Tuan baguru, jikok sampik malapangi, sasuai ambo tantang itu, duduaklah Tuan kamudi, pacik pincalang Dandang Panjang, ambo manunjuak maajari, tadorong buliah disuruikkan.”
Mandanga kato nan bak kian, lah duduak Nan Tongga di kamudi, di kamudi Dandang Panjang, bakato bakeh si Bujang Salamat, “Manolah Tuan Bujang Salamat, pangganglah juo kumayan putiah, asoklah dandang bakuliliang, bakahua bakeh nan kiramat, mamintak kapado Nan Buliah.”
Dek capek Bujang Salamat, lalu dipanggang kumayan putiah, asok mandulang ka udaro, diasokilah dandang bakuliliang, lalu manyaru Anggun Nan Tongga, “Ya Allah Tuhan ku Robbi, kok lai sabana anak Tuanku Haji Mudo, nan batampek di Gunuang Ledang, lah batuah anak daratan, di lawik kok sati pulo, turunkanlah angin Si Dulak-dolai, datangkanlah angin putiang baliuang, bahambuihlah timua jo salatan, layiakanlah baa dandang nangko, etan ka pulau Binuang Sati!”
Pintak nan sadang balaku, niat sadang kan sampai, sajak ketek masak pangaja, alah gadang akuan tibo, turunlah angin katujuahnyo, basabuanglah ombak kiri kanan, marauang-rauang buni kamudi, badantiang buni tiang aguang, gam-buanglah layia kasadonyo, manggigia sanan Dandang Panjang, balayia lancang ka lawitan, laju nan bukan alang- alang, bagai pucuak dilancakan, sanan bakato Anggun Nan Tongga, “Manolah angin Si Dulak-dolai, manolah angin katujuahnyo, tabang layangkanlah dandang nangko, nak sanang hati si Malang nangko.”
Manyalo di siko Jurumudi “Manolah Tuan Nan Tongga, usah [ 98 ]Biarlah denai ingin mencoba, memegang kemudi di tangan denai, tunjuk ajari malah oleh Tuan, kalau sampai boleh Tuan lapang, kalau penat denai menggantikan, pulang maklum pada Tuan.”
Menjawablah juru mudi, “Tuan Tongga kata denai, jika begitu baiknya, sudah tersisip dalam hati, sudah tahu akan pikiran, kalau mau Tuan berguru, jika sempit bisa melapangi, sesuai hamba tentang itu, duduklah Tuan di kemudi, pegang pencalang Dandang Panjang, hamba menunjuk mengajari, terdorong boleh disurutkan.”
Mendengar kata seperti itu, telah duduk Nan Tongga di kemudi, di kemudi Dandang Panjang, berkatalah ia pada Bujang Salamat, “Manalah Tuan Bujang Salamat, pangganglah juga kemenyan putih, asapilah dandang berkeliling, berkaul pada yang keramat, meminta kepada Yang Membolehkan.”
Karena cepat si Bujang Salamat, dibakarnya kemenyan putih, asap mendulang ke udara, diasapilah dandang berkeliling, lalu menyaru Anggun Nan Tongga, “Ya Allah Tuhanku Robbi, kalau memang anak Tuanku Haji Mudo, yang bertempat di Gunung Ledang, telah bertuah anak daratan, di laut kalau sakti juga, turunkanlah angin si Dulak-dolai, datangkanlah angin puting beliung, berhembuslah timur dan selatan, layarkanlah dandang ini, ke Pulau Binuang Sati!”
Pinta yang sedang berlaku, niat sedang kan sampai, sejak kecil masak pengajar, telah besar akuan datang, turunlah angin ketujuhnya, bersabunglah ombak kiri kanan, meraung-raung bunyi kemudi, berdenting bunyi tiang agung, gembunglah layar semuanya, menggigillah Dandang Panjang, berlayar lancang ke lautan, laju yang bukan alang-alang, bagai pucuk dilancarkan, berkatalah Anggun Nan Tongga, “Manalah angin si Dulak-dolai, manalah angin ketujuhnya, terbang layangkanlah dandang ini, supaya senang hati si malang ini.”
Menyela si juru mudi, “Manalah Tuan Nan Tongga, usah mulut [ 99 ]muluik tadorong-dorong, di tangah lawik basa nangko, tuan nan baru mudo matah, sadangkan ambo urang tuo, lah lamo dalam palayaran, tiok lawik alah disawang, indaklah kato talanjua-lanjua.”
Manjawab sanan Nan Tongga, “Manolah Tuan juru- mudi, sungguah baitu kato denai, salamo Tongga di daratan, lawik sati balun denai tampuah, Tuan basaba tantang itu, namo-nyo denai mudo matah, bialah badan naknyo sansai.
Jauah lataknyo pulau Pisang
Badakek pulau Angso Duo;
Di darek ambo nan manumpang
Tibo di lawik ambo kuaso.”
Mandanga kato Nan Tongga, tadiam sajo Jurumudi, indak inyo babuni lai, tatutuik cando muluiknyo, angan lalu paham tatumbuak. Dandang Panjang balayia juo, ombak baguluang di haluan, galombang baputa di buritan, badantiang buni tiang aguang, capek layianyo bukan kapalang.
Habih sahari duo hari, habih hari baganti pakan, alah sapakan duo pakan, Tongga nan sadang di kamudi, baganti jo Tuan Jurumudi. Alah bara kalamonyo, tampaklah pulan sabuah, sanan bakato Nan Tongga, “Manolah Tuan Bujang Salamat, panggang kini kumayan putiah, kito bakahua bakeh nan kiramat, alah sampai candonyo di parantian, raso lah tampak nan dituju, raso kan basuo nan dicari.”
Batanyo pulo Tuan Tongga, iyo kapado Malin Cik Amek “Manolah Tuan Jurumudi, bari luruih denai batanyo, pulau lah tampak dari jauah, sadang di lingkuang-lingkuang bukik, tangah dibaluik-baluik awan, pulau apokoh garan nantun?”
Manyahuik Malin Cik Ameh, “Jikok itu Tuan tanyokan, pulau nan jauah kalihatan, itu pulau Binuang Sati.”
Bakato sanan Tuan Tongga, “Sananglah hati denai nangko, kito balabuah tantang pulau, iyo di pulau Binuang Sati, basiap malah kito kasadonyo.” [ 100 ]terdorong-dorong, di tengah laut basa ini. Tuan yang baru muda mentah, sedangkan hamba orang tua, telah lama dalam pelayaran, tiap laut telah diarungi, janganlah kata terlanjur-lanjur.”
Menjawablah Nan Tongga, “Manalah Tuan juru mudi, sungguh begitu kata denai, selama Tongga di daratan, laut sakti belum denai tempuh,Tuan bersabar tentang itu, namanya denai muda mentah, biarlah badan hendak sansai.
Jauh letaknya Pulau Pisang
Berdekatan dengan Pulau Angsa Dua;
Di darat hamba menumpang
Di laut hamba kuasa.”
Mendengar kata Nan Tongga, terdiam saja juru mudi, dia tidak berbunyi lagi, tertutup rupa mulutnya, angan lalu paham tertumbuk. Dandang Panjang berlayar juga, ombak bergulung di haluan, gelombang berputar di buritan, berdenting bunyi tiang agung, berlayar cepat bukan kepalang.
Habis sehari dua hari, habis hari berganti pekan, setelah sepekan dua pekan, Tongga yang sedang di kemudi, berganti dengan Tuan juru mudi. Telah berapa lama antaranya, tampaklah sebuah pulau, lalu berkata Nan Tongga, “Manolah Tuan Bujang Salamat, pangganglah sekarang kemenyan putih, kita berkaul pada yang keramat, telah sampai sepertinya di perhentian, rasa telah tampak yang dituju, rasa kan bersua yang dicari.”
Bertanya pula Tuan Tongga, kepada Malin Cik Ameh, “Manolah Tuan juru mudi, beri lurus denai bertanya, pulau telah tampak dari jauh, sedang di lingkung-lingkung bukit, tengah dibalut-balut awan, pulau apakah gerangan itu?”
Menyahut Malin Cik Ameh, “Jika itu Tuan tanyakan, pulau yang jauh kelihatan, itu pulau Binuang Sati.”
Berkatalah Tuan Tongga, “Senanglah hati denai ini, kita berlabuh di tengah pulau, di Pulau Binuang Sati, bersiap malah kita semuanya.” [ 101 ]Manjawab pulo Malin Cik Ameh, “Manolah Tuan jaa ambo,ambolah tuo tangah lawik, gadang ditangah palayaran, kok buliah pintak ambo, ambo mamuhun pado Tuan jikok dibuang ambo jauah,jikok digantuang ambo tinggi, indaklah ambo malarang singgah, Tuan tak tahu tantang nantun, itulah pulau bajak lawik, indak kapa nan salamaik, mano nan masuak pulau nantun, dagang lalu dagang mati, sutan datang sutan hilang, baiak rajo urang basa, surang indak nan salamaik, antahlah pueh muak hiduik, kampuang halaman nan alah lupo, ambo mamintak pado Tuan, jan ditampuah pulau nantun.”
Galaktasengeng Nan Tongga, kato dijawab jo ibarat:
“Jan ribuik mandareh bana
Kok datang angin imbubu;
Jan hatipancameh bana
Tuhan kok laikamambantu.
Manolah kalian dalam dandang, kalian basiap kasadonyo, musuah indak dicari-cari, basuo pantang dilakkan, bakitu adat kito lakitaki,
Mano Tuan Jurumudi, elok-elok pagang kamudi layiakan malah dandang nangko, masuak ka taluak nanbaliku, taruih ka rantau nan bakelok, io ka pulau Binuang Sati”
Hebohlah urang maso itu, dikakok karajo surang-surang,dandang malanca ateh lawitan, alah dituju pulau nantun, jauah batambah dakek juo, alah tampak rantau jo passa, kalihatan liku taluak tanjuangnyo, masuaklah lancang Dandang Panjang, etan ka taluak Sikudandan, sauah dibongka hanyo lai
Malatuihlahmariammaso tu, sadataktigo dantamyo, bakibar panji-panji kuniang, tahanmpa marawa sirah kuniang, alamat rajo nan tah dalang, intan sumarak rang Parianan, iyo Nan Tonga Magek Jabang. [ 102 ]Menjawab pula Malin Cik Ameh, “Manalah Tuan kata hamba, hamba yang telah tua di tengah laut, besar di tengah pelayaran, kalau boleh pinta hamba, hamba memohon pada Tuan, jika dibuang hamba jauh , jika digantung hamba tinggi, tidaklah hamba melarang singgah, Tuan tidak tahu tentang itu, itulah pulau bajak laut, tidak ada kapal yang selamat, mana yang masuk pulau itu, dagang lalu dagang mati, sutan datang sutan hilang, baik raja orang basa, seorang pun tidak ada yang selamat, entah sudah puas muak hidup, kampung halaman yang telah lupa, hamba meminta pada Tuan, jangan ditempuh pulau itu.”
Gelak tersenyum Nan Tongga, kata dijawab dengan ibarat,
“Janganlah terlalu ribut benar
Kalau datang angin limbubu;
Jangan hati pencemas benar
Tuhan kan ada untuk membantu.
“Manalah kalian dalam dandang, kalian bersiap semuanya, musuh tidak dicari-cari, bersua pantang dielakkan, seperti itu adat kita laki-laki. Mana Tuan juru mudi, pegang kemudi baik-baik, layarkanlah dandang ini masuk ke teluk yang berliku, terus ke rantau yang berkelok, ke Pulau Binuang Sati!”
Hebohlah orang masa itu, dikerjakan pekerjaan masingmasing, dandang meluncur di atas lautan, telah dituju pulau itu, jauh bertambah dekat jua, telah tampak rantau dan pesisir, kelihatan liku teluk tanjungnya, masuklah lancang Dandang Panjang, ke teluk Sikudandan, sauh pun segera dibongkar.
Meletuslah meriam masa itu, satu letusan tiga dentumannya,berkibar panji-panji kuning, terhampar merawal merah kuning, alamat raja yang telah datang, intan semarak orang Pariaman, Nan Tongga Magek Jabang. [ 103 ]Alah sahari duo hari, cukuik katigo hari ganok, dandang balabuah dalam taluak, datanglah pisuruah dari darek, parintah Tuanku Palimo Bajau, iyolah Manti nan piawai, antaro jarak sapahimbauan, bakato Manti nantun, “Manolah urang dalam dandang, bari luruih kami batanyo, ka mano dandang Tuan, siapo namo nangkodohnyo, siapo pulo jurumudinyo, siapo pulo namo juru batu, tarangkan bana ciek-ciek, jalehkan bana aso-aso, tarangkanlah garan pado kami, kami pisuruah rajo di nagari!”
Manjawab sanan si Bujang Salamat, “Manolah Tuan nan batanyo, jikok itu Tuan tanyokan, dandang banamo Dandang Panjang, mulo Dandang ka balayia, iyo dari koto Pariaman, dari kualo Banda Teleng, nangkodohnyo Tuan Tongga, Anggun Nan Tongga Magek Jabang, jurumudinyo Malin Cik Ameh, jurubatunyo Andam Saruan, pambatunyo Salamat Talauik Api, alah ka sanang hati Tuan?
Bakato pulo Manti nan piawai, “Sabuah lai tanyo kami handak ka mano dandang nangko, tujuan ka mano ka ba layia, atau koh dandang baniago, kok iyo dandang niago, apokoh garan barang nan dibaok, kok indak dandang ba niago, antahkoh dandang salah masuak, atau dandang handak bamusuah.
Sabab bak itu kato ambo, pulau balarang di Tuanku lawik bapancang dek baliau, indak buliah basauah di siko, kayuahlah dandang kini juo..!
Sanan manjawab si Bujang Salamat, “Manolah Tuan nan datang, bukanlah dandang baniago, indak pulo dandang sasek, mako basahuah kami di siko, angin putuih lawik lah tanang, layia turun sauah lakek, dandang tak namuah dikayuahkan, bari izinlah kami baranti, dalam taluak lawik nangko.”
Mambangih sanan Manti nan piawai, “Manolah Tuan dalam dandang, jan Tuan banyak sabuik, jan Tuan banyak rundiang, kayuahlah dandang dari siko, lawik bapancang dek Tuanku, pulau balarangan sajak dahulu, kok indak Tuan balayia kini-kini, di siko utang babayia, nak jan ilangan sajak dahulu, kok indak Tuan balayia kini-kini,di siko utang babayia, nak jan manyasa kamudian!” [ 104 ]Telah sehari dua hari, cukup ketiga hari genap, dandang berlabuh dalam teluk, datanglah pesuruh dari darat, perintah Tuanku Palimo Bajau, yaitu Manti Nan Piawai, kira-kira sebentar jaraknya, berkata manti itu, “Manalah orang dalam dandang, beri lurus kami bertanya, ke mana dandang Tuan, siapa nama nahkodanya, siapa pula juru mudinya, siapa pula nama jurubatu, terangkan benar satu persatu, jelaskan benar-benar, terangkanlah pada kami, kami pesuruh raja di nagari.
Menjawab si Bujang Salamat, “Manalah Tuan yang bertanya, jika itu Tuan tanyakan, dandang bernama Dandang Panjang, mula dandang berlayar, yaitu dari kota Pariaman, dari kuala Banda Teleng, nahkodanya Tuan Tongga, Anggun Nan Tongga Magek Jabang, juru mudinya Malin Cik Ameh, juru batunya Andam Saruan, pembatunya Salamat Talauik Api, sudah senangkah hati Tuan?”
Berkata pula Manti Nan Piawai, “Sebuah lagi tanya kami, hendak ke mana dandang ini, akan berlayar ke manakah, apakah ini dandang niaga, kalau memang dandang niaga, barang apakah gerangan yang dibawa, kalau bukan kapal dagang, mungkinkah dandang yang tersesat, atau dandang musuhkah ini?
Sebab hamba berkata demikian, karena ini pulau larangan, tidak boleh membuang sauh di sini, kayuhlah kapal sekarang juga…!”
Menjawablah si Bujang Salamat, “Manalah Tuan yang datang, bukanlah dandang niaga, bukan pula dandang yang tersesat, maka bersauh kami di sini, karena laut tenang tak ada angin, layar turun sauh lekat, dandang tidak mau dikayuhkan, beri izinlah kami berhenti, dalam teluk laut ini.”
Marahlah Manti Nan Piawai, “Manalah Tuan dalam dandang, jangan Tuan banyak bicara, kayuhlah dandang dari sini, laut berpancang oleh Tuanku, pulau berlarangan sejak dahulu, kalau tidak berlayar Tuan sekarang, di sini utang dibayar, supaya jangan menyesal kemudian!” [ 105 ]Mandanga kato nan bak kian, alah tagak Nan Tongga, bakato inyo sakali, “Manolah Tuan dalam parahu, kok iyo lawik nan tapancang, kok iyo pulau balarangan, kami indak namuah pai, suruah ka mari rajo Tuan, kami indak ka mailak, usah batanyo-tanyo lai, jan manyindia-nyindia juo, babaliaklah Tuan ka daratan!”
Mandanga di kato nantun, batambah berang Tuan Manti, muncuang lah kareh buni guruah, garatak sarupo baruak tungga, mahariak pulo inyo sakali, “Usah waang babagak-bagak, usah bakarehkareh hati, den liek waang mudo matah, manggarik juo ubun-ubun waang, kok lai sayang di angok ang, nak jan manangih mandeh ang, eloklah babaliak waang pulang, kayuah dandang dari siko, kok indak namuah nan bak itu, den hampakan beko dandang nangko, ikan iyu nan ka kanyang.
Tapi samantangpun bak itu, ibo aden dielok waang, indak koh waang tarang tahu, ikolah pulau Binuang Sati, rajo banamo Palimo Bajau, sajak dahulu sampai sakarang, surang indak kan salamaik, babaliaklah waang kini juo, kambangkan layia bongkalah sauah, rundiangan habih tantang nantun!”
Manjawab pulo Nan Tongga, “Manolah Tuan Manti nan piawai, sajak salangkah dari rumah, sajak satapak dari janjang, indak baniat pulang lai, pantang manuruik parentah urang, dek kami lawik indak bapancang, pulau indak balarangan!”
Batambah bangih Manti nan piawai, manggaletek cando sisunguik, muko lah sirah-sirah padam, mahariak inyo sakali lai, “Manolah waang Buyuang, elok dipikia dimanuangkan, alah banyak kapa nan ka mari, sabuah indak babaliak pulang, habih tatawan kasadonyo, kok sampai waang nan baitu, ibo hati den mancaliak, indak kan tahan jadi tawanan, tabuang sajo rancak waang, sio-sio sajo mudo waang, mandeh di rumah kok maratok. Kini bak itu lah nan ka elok babaliak pulang malah kalian, etan ka kampuang Pariaman!” [ 106 ]Mendengar kata seperti itu, telah berdiri Nan Tongga, segera ia berkata, “Manalah Tuan dalam perahu, kalau benar laut berpancang, kalau benar pulau berlarangan, kami tidak mau pergi, suruh ke mari Raja Tuan, kami tidak akan mengelak, usah bertanyatanya lagi, jangan menyindir-nyindir juga, berbalik malah Tuan ke daratan!”
Mendengar ucapan Nan Tongga, bertambah marah Tuan manti, suara keras seperti guruh, gertak seperti beruk tunggal, segera ia menghardik, “Usah Waang membantah, usah berkeraskeras hati, den lihat Waang muda mentah, ubun-ubun Waang masih lunak, kalau masih sayang akan nyawa, elok berbalik Waang pulang, kayuh dandang dari sini, kalau tidak mau seperti itu, nanti denai hantam dandang ini, ikan hiu yang akan kenyang.
Tapi walaupun begitu, denai iba melihat Waang. Tidakkah Waang telah tahu, inilah Pulau Binuang Sati, raja bernama Palimo Bajau, sejak dulu sampai sekarang, seorang pun tidak akan selamat, berbaliklah Waang sekarang juga, kembangkan layar bongkarlah sauh, rundingan habis tentang ini.”
Menjawab pula Nan Tongga, “Manalah Tuan Manti Nan Piawai, sejak selangkah dari rumah, sejak setapak dari jenjang, tidak berniat pulang lagi, pantang menurut perintah orang, bagi kami laut tiada berpancang, pulau tidak berlarangan!”
Bertambah marah Manti Nan Piawai, bergetar rupa sungutnya, muka telah merah-merah padam, menghardik ia sekali lagi, “Manalah Waang Buyung, baik dipikir dimenungkan, telah banyak kapal yang ke sini, sebuah tidak berbalik pulang, habis tertawan semuanya, kalau sampai Waang seperti itu, iba hati den melihat, tidak kan tahan jadi tawanan, terbuang saja rancak Waang, sia-sia saja muda Waang, mandeh di rumah akan meratap. Sekarang beginilah baiknya, berbalik pulang malah kalian, berbalik ke Kampung Pariaman!”
95
lambak nan Dandang Panjang nangko, bapantang karam di lawitan, malangnyo lapuak di kalangan, ka hilia mancari lawan, ka mudiak mancari musuah, sajak salangkah dari kampuang, sajak satapak dari rumah, handak manjalang pulau nangko, iyo pulau Binuang Sati, handak batamu Palimo Bajau, nak dicubo masin garamnyo, handak diraso padeh ladonyo, katokan baitu pasan kami, kami nan indak ka barangkek!” Mandanga kato nan bak kian, babaliak suruik Manti nan piawai, taruih sakali ka ustano Rajo, dikabakan malah kasadonyo.
Mandanga curito nan bak kian, alah mamburansang Palimo Bajau, lalu mahariak maso nantun, “Mano kalian kasadonyo, baiak Manti jo Dubalang, sarato urang dalam nagari, guguahlah tabuah larangan, siapkan sanjato surang surang, kaluakan kapa kasadonyo, kito sarang dandang nantun, kito habihkan sagalo isinyo, kito kikih abu-abunyo, naknyo tahu Palimo Bajau…!”
Kalualah kapa urang pambajak, kapa basi jo timbago langkok alat sanjatonyo, urang lah heboh dalam nagari, kalua sarupo anaianai bubuih, macik sanjato surang-urang
Maliek rupo nan bak kian, bakato sanan Nan Tongga, “Manolah kito kasadonyo, kito uji ameh peraknyo, kok mujua mandeh malapeh, ayam pulang ka pautan, kok malang tibo di kito, handam karam di lawitan.”
Alah tibo kapa pambajau, dilapeh badia maso itu, buni badia marandang batiah, asok mandulang ka udaro, bakabuik siang tangah hari. Mambaleh pulo Dandang Panjang, dilapeh mariam jo pitunang, aso mangabuik ka udaro, kalam cando tangah lawik, raso kan hancua Dandang Panjang.
Dek lamo lambek nan bak kian, lah samo kurang sanjato, alah samo susuik di masiu, buni badia alah ciek-ciek. parang basosoh hanyo lai. [ 108 ]Menjawab Nan Tongga, “Manalah Manti Nan Piawai, mengenai Dandang Panjang ini, berpantang karam di lautan, malangnya lapuk di galangan, ke hilir mencari lawan, ke mudik mencari musuh, sejak selangkah dari kampung, sejak setapak dari rumah, hendak menjelang pulau ini, yaitu Pulau Binuang Sati, hendak bertemu Palimo Bajau, hendak mencoba asin garam, hendak merasakan pedas cabai, katakan begitu pesan kami, kami yang yang tidak akan berangkat!”
Mendengar kata seperti itu, berbalik surut Manti Nan Piawai, segera menuju istana raja, dikabarkan malah semuanya. Mendengar cerita seperti itu, telah marah Palimo Bajau, menghardik ia masa itu, “Manalah kalian semanya, baik manti dan dubalang, serta orang dalam nagari, pukullah tabuh larangan, siapkan senjata masingmasing, keluarkan semua kapal, kita serang dandang itu, kita habiskan segala isinya, kita kikis dengan abu-abunya, biar tahu siapa Palimo Bajau…!
Keluarlah kapal para pembajak, kapal besi dan tembaga, lengkap alat senjatanya, orang telah heboh dalam nagari, keluar serupa anai-anai bubus, memegang senjata masing-masing. Melihat seperti itu, berkatalah Nan Tongga, “Bersiaplah kita semuanya, kita uji emas peraknya, kalau mujur mandeh melepas, ayam pulang ke pautan, kalau malang sampai ke kita, handam karam di lautan.”
Telah sampai kapal pembajau, dilepaslah bedil masa itu, bunyi bedil meletus-letus, asap mendulang ke udara, berkabut siang tengah hari. Membalas pula Dandang Panjang, dilepas meriam dan petunang, asap mengabut ke udara, gelap rupanya tengah laut, rasa kan hancur Dandang Panjang.
Karena lama kelamaan seperti itu, sama berkurang senjata mereka, telah sama susut jumlah mesiu, bunyi bedil tinggal satusatu, perang bersosohlah mereka. [ 109 ]Alah datang pulo kapa urang pambajau, iyo kapa Palimo Bajau, luruih manuju Dandang Panjang, kapa nan alah badakatan, lalu mahariak Palimo Bajau, “Mano waang Nan Tongga, kok iyo waang laki-laki, cubolah tagak di pamareh, kito lapeh barih di siko, kok iyo waang lah bacinto, manarimo pakiriman dari awakden, iko nan banamo Pitunang Sati!”
Manyahuik sanan Nan Tongga, “Manolah waang Palimo Bajau, sajak salangkah dari rumah, itu bana nan awakden cari, aden di siko manantikan, lapehkanlah badia bara suko!”
Paneh hati Palimo Bajau, angek Dubalang kasadonyo, dilapeh sakali paluru timah, dilapeh pulo paluru basi, alah bak buni marandang kacang, namun di pihak Nan Tongga, kandak nan sadang balaku, pintak nan sadang ka buliah, barakaik kiramat ayah kanduang, bapuluah paluru nan datang, tibo di badan bak raso kapeh, risaulah hati Palimo Bajau, sanan bakato Nan Tongga, “Mano waang Palimo Bajau, adat hiduik baleh mam-baleh, nantikan pulo dek waang di sanan, pakiriman dari Dandang Panjang, ikolah pitunang buah malako...”
Lalu diambiak Si Sapu Rantau, badia sadatak duo dantamnyo, banyak palimo nan tajungkang, habih mahambua masuak lawik, tingga surang Palimo Bajau.
Panehlah hati Palimo Bajau, kapa dirapekkan hanyo lai, malompeklah Palimo Bajau, ka ateh kapa Dandang Panjang, urang lah cameh dalam dandang, sanan bakato si Bujang Salamat, “Usah kalian rusuah cameh, jikok santano Palimo Bajau, balunlah Nan Tongga tandiangannyo, Salamat lah baru ka lawannyo!”
Maliek rajonyo alah ka tangah, baranti pambajak ka sadonyo, lalu disentak padang jinawi, padang salaweh daun birah, si Salamat lah manyentak karih pulo, karih pusako urang dahulu, karih bapantang baliak ka saruangnyo, sabalun maminum darah lawan. [ 110 ]Telah datang pula kapal pembajau, yaitu kapal Palimo Bajau, lurus menuju Dandang Panjang, kapal yang telah berdekatan, lalu menghardik Palimo Bajau, “Mano Waang Nan Tongga, kalau iya Waang laki-laki, cobalah berdiri di geladak, kita adu ilmu di sini, kalau Waang telah bercita-cita, menerima kiriman dari awakden, inilah yang bernama Petunang Sakti!”
Menyahutlah Nan Tongga, “Manolah Waang Palimo Bajau, sejak selangkah dari rumah, itu benar yang awakden cari, aden di sini menantikan, lepaskanlah bedil berapa suka!” Panas hati Palimo Bajau, berang dubalang semuanya, segera dilepasnya peluru timah, dilepas pula peluru besi, bunyinya serupa merendang kacang, namun di pihak Nan Tongga, kehendak yang sedang berlaku, pinta sedang boleh, berkat keramat ayah kandung, berpuluh peluru yang datang, tiba di badan bak rasa kapas, risaulah hati Palimo Bajau, lalu berkatalah Nan Tongga, “Manalah Waang Palimo Bajau, adat hidup balas membalas, nantikan pula oleh Waang di sana, kiriman dari Dandang Panjang, inilah petunang buah Malaka…”
Lalu diambilnya si Sapu Rantau, bedil sedetak dua dentumannya, banyak panglima yang terjengkang, berhamburan masuk ke laut, tinggal Palimo Bajau seorang.
Panaslah hati Palimo Bajau, dirapatkannya kapal, melompatlah PalimoBajau, ke atas kapal Dandang Panjang, orang dalam dandang telah cemas, lalu berkatalah si Bujang Salamat, “Usah kalian rusuh cemas, jika itu adalah Palimo Bajau, belumlah Nan Tongga tandingannya, Salamatlah baru kan lawannya.”
Melihat rajanya telah ke tengah, berhenti pembajak semuanya, lalu disentak pedang jinawi, pedang selebar daun talas, si Salamat telah menyentak keris pula, keris pusaka orang dahulu, keris berpantang balik ke sarungnya, sebelum meminum darah lawan.
99
padang mamancuang angin sajo, dilayangkan sakali lai, jankan si Salamat nan ka kanai, dindiang nan habih runtuah-runtuah, batambah berang Palimo Bajau, lalu kato si Bujang Salamat, “Mano waang Palimo Bajau, kini tarimolah dek waang, aden kan mambaleh hanyo lai, tarimolah pakiriman rang Piaman!”
Diasak langkah Palimo Bajau, malompeklah si Bujang Salamat, ditikamnyo Palimo Bajau, kanailah ulak-ulak pinggang, darah tasimbua hanyo lai, tagolek Palimo Bajau, nyawo putuih maso itu, habih curito Palimo Bajau...
Maliek rajonyo alah mati, habih manyambah panyamun samuonyo, sambia bakato maso itu, “Ampunlah kami Tuan Tongga, kami nan indak malawan lai, hiduik mati tasarah kato Tuan.”
Bakato pulo Nan Tongga, “Manolah kalian kasadonyo, Rajo kalian alah mati, jikok kalian malawan juo, ambo datakan Binuang Sati, ambo cancang habih kasadonyo, surang pun indak nan hiduik. Kini pulanglah kalian ka darek, naiakkan bandera putiah, tando kalian alah tunduak, bisuak pagi kami ka darek, kakoklah karajo surangsurang, mano sagalo sanjato, tidak buliah dipagang lai, habih kumpuakan kasadonyo!”
Mandanga kato nan bak kian, babaliak pulang urang panyamun, tatagak cando bendera putiah, tando parang aiah usai, lah kalah pulau Binuang Sati.
100
pedang memancung angin saja, dilayangkan pedang sekali lagi, jangankan si Salamat yang akan kena, dinding yang habis runtuhruntuh, bertambah beranglah Palimo Bajau, lalu berkata si Bujang Salamat, “Mano Waang Palimo Bajau, kini terimalah oleh Waang, aden akan membalas, terimalah kiriman orang Pariaman!”
Diasak langkah Palimo Bajau, melompatlah si Bujang Salamat, ditikamnya Palimo Bajau, kenalah ulak-ulak pinggang, darah pun tersembur, telah tergolek Palimo Bajau, nyawa putus masa itu, habis cerita Palimo Bajau…
Melihat rajanya telah mati, habis menyembah penyamun semuanya, sambil berkata masa itu, “Ampunlah kami Tuan Tongga, kami yang tidak akan melawan lagi, hidup mati terserah kata Tuan.”
Berkata pula Nan Tongga, “Manalah kalian semuanya, raja kalian telah mati , jika kalian melawan juga, hamba datarkan Binuang Sati, hamba cancang habis semuanya, seorang pun tidak akan hidup. Kini pulanglah kalian ke datar, naikkan bendera putih, tanda kalian telah tunduk, besok pagi kami ke darat, peganglah kerja masingmasing, semua senjata kalian, tidak boleh dipegang lagi, kumpulkan habis semuanya!”
Mendengar kata seperti itu, berbalik pulang orang penyamun, berdiri tegak bendera putih, tanda perang telah usai,
telah kalah Pulau Binuang Sati. [ 113 ]Basuo jo Mamak Kanduang
Alah pagi candonyo hari, basiaplah sanan Nan Tongga, sarato si Bujang Salamat, dangan pangiriang salangkoknya, alat sanjato indak kurang, mukasuik ka mandarek hanyo lai.
Dilayangkan mato ka tapi lawik, iyo ka koto Binuang Sati, tampak bakibar bendera putiah, tampak tahampa panji-panji kuniang, tabantang marawa kuniang sirah, alamat rajo nan ka datang, iyo Nan Tongga Magek Jabang, dandang marapek hanyo lai, naiaklah Manti nan piawai, batando tunduak kasadonyo, cukuik carano siriah pinang, baru tibo inyo manyambah.
“Ampunlah kami Tuan Tongga, kami indak malawan lai, rajo kami alah mati, iyo Tuan Palimo Bajau. Kini bak itu nan ka elok, hiduik mati di tangan Tuan, manjadi rajo Tuan di siko, kami lah pueh dek manyamun, hati nan indak sanang lai, iyo salamo salambek nangko, dek ulah laknat Palimo Bajau.”
Mandanga kato nan bak kian, sananglah hati Nan Tongga, turun ka darek hanyo lai, ramilah urang di nagari, tacangang urang kasadonyo, maliek jombang Nan Tongga, sananglah hati maso itu. Surang indak nan manyasa, lah mati Palimo Bajau, jahek nan bukan alang-alang, karajo manyamun jo marampok, sutan lalu sutan mati,
rajo lalu rajo mati, anak nagari seso pulo, padi di sawah indak manjadi, [ 114 ]BERJUMPA
DENGAN MAMAK KANDUNG
Telah pagi rupanya hari, bersiaplah Nan Tongga, serta si Bujang Salamat, dengan pengiring selengkapnya, alat senjata tidak kurang, bermaksud hendak mendarat.
Dilayangkan mata ke tepi laut, yaitu ke koto Binuang Sati, tampak berkibar bendera putih, tampak terhampar panji-panji kuning, terbentang bendera kuning merah, alamat raja yang akan datang, yaitu Nan Tongga Magek Jabang, dandang pun merapatlah ke darat, naiklah Manti Nan Piawai, pertanda tunduk semua orang, cukup cerana sirih pinang, baru sampai ia menyembah.
“Ampunlah kami Tuan Tongga, kami tidak akan melawan lagi, raja kami telah mati, yaitu Tuan Palimo Bajau. Sekarang beginilah yang baik, hidup mati kami di tangan Tuan, menjadi rajalah tuan di sini, kami telah puas menyamun, hati kami tidak lagi senang, selama selambat ini, karena ulah Palimo Bajau.”
Mendengar kata seperti itu, senanglah hati Nan Tongga, turunlah ia ke darat, ramailah orang di nagari, tercengang orang semuanya, melihat jombang Nan Tongga, senanglah hati masa itu. Tak seorang pun yang menyesal, telah mati Palimo Bajau, jahat yang bukan kepalang, kerjanya menyamun dan merompak, sutan lalu sutan mati, raja lalu raja mati, anak nagari tersiksa pula, padi di sawah tidak menjadi, [ 115 ]kabau taranak indak bakambang, dek ulah laku rajo parampok.
Lamo lambek nan bak kian, batanyo sanan Nan Tongga, “Manolah Manti nan piawai, bari luruih ambo batanyo, di mano garan tampek tawanan, tunjuakkan denai jalan ka sinan, buliah dilapehkan urang nantun, talarang bana nan baitu, indak sasuai dangan adat, jauah dari perikamanusiaan.”
Mandanga kato nan bakkian, sananglah Manti kasadonyo, alah dapek rajo nan adia, tapek karajo jo timbangan, ditunjuakkan malah tampek tawanan, baru sampai Nan Tongga di sanan, jatuah badarai ayia mato, maliek untuang pasakitan. Indak tabado banyaknyo urang, baun nan bukan alang alang, baun sarupo dangan babi, sarupo narako hiduik hiduik, urang barantai jo bapalanggu, lihia bakabek rantai pulo, sarupo baruak sadang takabek. Jikok diliek badan diri, tubuah kuruih kurang makan, nampak tabayang tulang rusuak, makan basamo dangan babi, kok hiduik tak buliah mati, jikok mati lah mati anjiang, tapacak sanan ayia mato, tagak bulu ramang mancaliak-i, maliek nasib urang tawanan.
Baru maliek Nan Tongga datang, heranlah kasadonyo urang tawanan, antah rajo di mano nan datang, rupo nan rancak bukan kapalang, balun parnah balun basuo, baliau datang ka tampek nantun, basugirolah sagalo dubalang, dilapehkan rantai jo palanggu, habih manyambah kasadonyo, sambia manangih maso itu.
“Manolah Tuanku janyo kami, alah salambek salamo nangko, alah batahun ka lamonyo, kami sakandang dangan babi, kanai sansaro tiok hari, kok mati indak buliah mati, kini lah lapeh dari azab, indak dapek mangecek lai”
Sanan bakato Nan Tongga, “Manolah kalian kasadonyo, Palimo Bajau alah mati, parentah batuka hanyo lai, sakali aia gadang, sakali tapian barubah, sakali gadang baganti, sakali parentah batuka. Kini baitulah dek kalian, cubolah tarangkan pado denai, siapo namo surang-surang, di mano kampuang, supayo sanang dalam hati.” [ 116 ]kerbau ternak tidak berkembang, karena ulah laku raja perampok.
Tak lama setelah itu, bertanyalah Nan Tongga, “Manalah Manti Nan Piawai, beri lurus hamba bertanya, di mana gerangan tempat tawanan, tunjukkan denai jalan ke sana, boleh dilepaskan tawanan itu, terlarang benar yang seperti itu, tidak sesuai dengan adat, jauh dari perikemanusiaan.”
Mendengar kata seperti itu, senanglah hati manti semuanya, telah mendapat raja yang adil, tepat kerja dan timbangannya, ditunjukkan malah tempat tahanan, baru sampai Nan Tongga di sana, jatuh berderai air mata, melihat nasib pesakitan. Tidak terhitung banyaknya orang, bau yang bukan kepalang, baunya serupa dengan babi, seperti neraka hidup-hidup, orang dirantai dan dibelenggu, leher diikat rantai pula, serupa beruk sedang diikat. Jika dilihat badan diri, tubuh kurus kurang makan, tampak terbayang tulang rusuk, makan bersama dengan babi, kalau hidup tidak boleh mati, jika mati telah mati anjing, teperciklah air mata, tegak bulu roma melihatnya, melihat nasib orang tawanan.
Begitu melihat Nan Tongga datang, heranlah semua orang tawanan, entah raja dari mana yang datang, rupa yang rancak bukan kepalang, belum pernah bersua, beliau datang ke tempat itu, bersegeralah segala dubalang, dilepaskan rantai dan belenggu, habis menyembah semuanya, sambil menangis masa itu.
“Manalah Tuanku kata kami, telah selambat selama ini, telah bertahun kan lamanya, kami sekandang dengan babi, kena sengsara tiap hari, kalau mati tidak boleh mati, kini telah lepas dari azab, tidak dapat berkata-kata lagi.”
Berkatalah Nan Tongga, “Manalah kalian semuanya, Palimo Bajau telah mati, perintah telah bertukar sekarang, sekali air besar, sekali tepian berubah, sekali besar berganti, sekali perintah bertukar. Sekarang dengarlah oleh kalian, cobalah terangkan pada denai, siapa nama kalian masing-masing, di mana kampung, supaya senang dalam hati.” [ 117 ]Manjawablah sanan urang tawanan, ado Bugih jo Makasar, ado Baruih jo Tapak Tuan, ado di Ambon jo Tarnate, dari Palembang jo Bangkulu.
Lah habih ka lua kasadonyo, dilayang mato suok kida, dalam kuruangan tawanan nantun, cahayo nan tarang-tarang kalam, nampaklah pulo surang lai, agak mamancia dari nan banyak, lalu didakek-i urang nantun.
Diliek cando urang nantun, pinggang bakabek rantai pulo,
tulang rusuak dapek dibilang, kaki sagadang tangkai sanduak,
bantuak lah indak sarupo urang lai, hanyo lai hiduik juo, ibo hati
mancaliak-i, tabik ayia mato mamandangi, tapi samantangpun bak
itu, ditahan juo padiah hati, lalu batanyo Nan Tongga, “Manolah
urang nan tatawan, bari luruih denai batanyo, usah Mamak manduo
hati, di mano koto jo nagari, di mano kampuang tampek diam, siapo
garan namo Ma- mak?”
Mandanga tanyo nan bak kian, manyahuik urang tawanan, “Mano rang mudo nan batanyo, usah itu Tuan tanyokan, hanyo manambah laruik paratian.”
Manahan hati Anggun Nan Tongga, maliek nasib tawanan, indak ado lai picayo, mananti mauik sajo hanyo lai, lah habih harapan hiduik, tawakkal sajo pado Allah, sanan batanyo Nan Tongga, “Manolah Mamak janyo ambo, jan Mamak salah sangko, Mamak indak elok bak itu, cubo curaikan bakeh denai, cubo papakan pado denai, Mamak usah buruak sangko, denai nangko urang palayia, kok ado urang batanyo, dapek dek denai mangabakan.”
Manjawab pulo urang tawanan, hati kareh bagai basi, “Rumiklah ambo mangatokan, awak buruak nasib pun buruak, indak diharok lapeh lai, untuang bak cando nangko, kurang saketek dari binatang, elok Tuan manjauah-jauah, kok busuak pindah mamindah, ambo liek ambo pandangi, Tuan bukan sumbarang urang, antah koh Sutan dalam nagari. [ 118 ]Menjawablah para tawanan, ada Bugis dan Makasar, ada Barus dan Tapak Tuan, ada di Ambon dan Ternate, dari Palembang dan Bengkulu.
Telah habis keluar semuanya, dilayangkan mata kanan dan kiri, dalam kurungan tawanan itu, cahaya yang remang-remang, tampaklah pula seorang lagi, agak terpencil dari yang banyak, lalu didekatinya orang itu.
Dilihat rupa orang tersebut, pinggang berikat rantai pula, tulang rusuk dapat dibilang, kaki sebesar tangkai sendok, wajahnya sudah tak serupa orang, hanya masih hidup saja, iba hati melihatnya, terbit air mata memandangi, tapi walaupun begitu, ditahan jua pedih hati, lalu bertanya Nan Tongga, “Manalah orang tawanan, beri lurus denai bertanya, usah Mamak mendua hati, di mana koto dan nagari, di mana kampung tempat diam, siapa gerangan nama Mamak?”
Mendengar pertanyaan tersebut, menyahut orang tawanan, “Manalah Orang muda yang bertanya, usah itu Tuan tanyakan, hanya menambah larut perhatian.”
Menahan hati Anggun Nan Tongga, melihat nasib tawanan, tidak lagi punya kepercayaan, hanya menanti maut saja, telah habis harapan hidup, tawakal saja pada Allah, lalu bertanya Nan Tongga, “Manalah Mamak kata hamba, jangan Mamak salah sangka, Mamak tidak baik begitu, coba curaikan pada denai, coba paparkan pada denai,Mamak usah berburuk sangka, denai ini orang pelaut, kalau ada orang bertanya, dapat denai mengabarkan.”
Menjawab pula orang tawanan, hati kerai bagai besi, “Rumitlah hamba mengatakan, awak buruk nasib pun buruk, tidak berharap akan lepas, nasib sudah seperti ini, kurang sedikit dari binatang, baik Tuan menjauh-jauh, kalau busuk pindah-memindah, hamba lihat hamba pandangi, Tuan bukan sembarang orang, entahkah sutan dalam nagari. [ 119 ]Apo gunonyo badan ambo, diam sakandang dangan babi, makan siso di tampuruang, alah batahun nan bak nangko, hanyo mananti garak Tuhan sajo, tapi takadia balun juo tibo, hiduik juo badan ambo, ajalullah nan balun datang, alah ka sanang hati Tuan, tak usah ditanyo badan ambo, hanyo marusuah hati sajo.”
Bakato pulo Nan Tongga, “Manolah Mamak janyo denai, tuan tak elok nan bak itu, rundiang papakan bakeh denai, antah kok lai ka gunonyo, garak datang dari Allah wahi nan turun dari Nabi, tak usah Mamak malu-malu, kito kok lai sakampuang, Mamak kok lai bapasan, denai ka babaliak pulang, Mamak jan putuih aso, Tuhan kayo sungguah, antah batuka nasib badan, elok curaikan kini nangko.”
Mandanga rundiangan nantun, bakato urang tawanan, “Manolah Urang Mudo janyo ambo, baa ambo ka bacurito, angok lah sasak bana, rantai lah basatu dangan dagiang, lah sasak angok di dado.”
Mandanga di kato nantun, disuruah lapehkan malah rantai, palanggu dibukak hanyo lai, alah basimpuah urang tawanan, “Ampunkan ambo Urang Mudo, siapokoh garan Rang Mudo, antahkoh malaikat dari langik, alah hampia duo puluah tahun, ambo bapasuang di siko.
Kini bak itu malah di Tuan, tapi ambo alah basumpah, ambo basatiah dangan diri, ambo indak kan babarito, tan tangan untuang ambo nangko, kununlah baa asa mulonyo, baitu juo tantang kampuang halaman, sarato sanak jo saudaro, denai indak ka mangatokan, rahasio ambo baok mati, sabab baa dek bak itu, itu mamabuak kiro-kiro, manbaok laruik paratian, ambo surang nan ka tahu.”
Bakato pulo Nan Tongga, “Manolah Mamak janyo denai, Mamak tak elok nan baitu, batua bana rundiangan Mamak, tapi sabuah hanyo lai, kok lai Mamak ba Tuhan, Allah Ta’ala kayo sungguah, sabalun aja bapantang mati, usah Mammak baputuih aso, elok [ 120 ]Apa gunanya badan hamba, diam sekandang dengan babi, makan sisa di tempurung, sudah bertahun-tahun seperti ini, hanya menunggu gerak Tuhan saja, tapi takdir belum juga tiba, hidup jua badan hamba, ajalullah yang belum datang, sudah senangkah hati Tuan, tak usah ditanya badan hamba, hanya merusuh hati saja.”
Berkata pula Nan Tongga, “Manalah mamak kata denai, Tuan tak elok seperti itu, runding paparkanlah pada denai, entah mungkin ada gunanya, gerak datang dari Allah, wahyu turun dari Nabi, tak usah Mamak malu-malu, mana tahu kita sekampung, kalau mamak punya pesan, denai akan berlayar pulang, Mamak jangan putus asa, Tuhan kaya sungguh, entah bertukar nasib badan, elok curaikan sekarang ini”
Mendengar rundingan tersebut, berkata orang tawanan, “Manalah Orang Muda kata hamba, bagaimana hamba akan bercerita, napas telah sangat sesak, rantai telah bersatu dengan daging, sesak napas di dada.”
Mendengar kata tersebut, disuruh lepaskan malah rantai, belenggu pun dibuka,telah bersimpuh orang tawanan, “Ampunkan hamba Orang Muda, siapakah gerangan Orang Muda, mungkinkah malaikat dari langit, telah hampir dua puluh tahun, hamba dipasung di sini.
Kini seperti itulah malah Tuan, tapi hamba telah bersumpah, hamba berjanji dengan diri, hamba tidak akan berberita, tentang untung hamba ini, kononlah bagaimna asal mulanya, begitu juga tentang kampung halaman, serta sanak dan saudara, denai tidak akan mengatakan, rahasia hamba bawa mati, sebab mengapa begitu, itu akan memabukkan angan-angan, membawa larut perhatian, hamba sendiri yang akan tahu.”
Berkata pula Nan Tongga, “Manalah Mamak kata denai, Mamak tak elok seperti itu, betul benar rundingan Mamak, tapi ada sebuah, kalau benar Mamak bertuhan, Allah Ta’ala sungguh kaya, sebelum ajal berpantang mati, usah mamak berputus asa, elok [ 121 ]tarangkan malah kini, dari mano asa Mamak, di mano dusun jo nagari, di mano korong jo kampuang, siapo garan namo Mamak, cubolah curaikan pado kami.”
Maliek kareh urang nan batanyo, manjawab sanan urang tawanan, “Jikok bak itu kato Tuan, Tuan kareh nak batanyo, bialah ambo curaikan, dangakan bana elok-elok, simakkan bana sungguahsungguah.
Tatkalo maso dahulunyo, denai nangko urang palayia, pai balayia ka banua Cino, lalu ka Siam ka Patani, mandapek ameh tujuah peti, sasek jalan ka Binuang Sati, iyo di taluak Sikundadan, datanglah bajau bajak lawik, nan bagala Palimo Bajau, manjadi parang maso itu, urang pambajak banyak bana, parang basosoh hanyo lai, naiak bajak ateh dandang, barang dirampeh kasadonyo, nyawo sajo nan indak hilang, sampai kini nangko, bak ikolah cando badan ambo, dimintak mati indak mati, ajalullah balun tibo, badan hiduik sarupo nangko.”
Manjawab sanan Nan Tongga, “Manolah Mamak nan tatawan, mandanga kato rundiangan Mamak, sananglah hati denai nangko, tapi hanyo nan saketek, cubo tarangkan jaleh-jaleh, siapo namo gala Mamak, di mano koto jo nagari, di mano tumpah darah Mamak. Mangko bak itu kato denai, kito kok lai sakampuang, kok lai salabuah satapian, kok lai jauah mancari suku, kok hampia mancari indu, adat limbago laki-laki, kok bajalan marantau jauah, kok badunsanak basaudaro, tarangkan malah di Mamak, handak sanang dalam hati, bia sajuak dalam kiro-kiro.”
Alah barubah candonyo hati, Nan Tongga lah bak itu pulo, hati nan indak sanang lai, lah jaleh mamak kanduang tapi hati ditahan juo, dinanti maso kutikonyo, nak jan takajuik bana, kok jauah lai kan sampai, lah dakek lai kan tibo.
Lamo sabanta antaronyo, batanyo pulo Nan Tongga, “Manolah Mamak janyo denai, indak koh Mamak badunsanak, [ 122 ]terangkanlah malah kini, dari mana asal Mamak, di mana dusun dan nagari, di mana korong dan kampung, siapa gerangan nama Mamak, cobalah curaikan pada kami.”
Melihat gigih orang yang bertanya, menjawablah orang tawanan, “Jika seperti itu kata Tuan, Tuan keras hendak bertanya, biarlah hamba curaikan, dengarkan benar baik-baik, simaklah sungguh-sungguh.
Tatkala masa dahulunya, denai ini seorang pelaut, pergi berlayar ke benua Cina, lalu ke Siam ke Patani, mendapat emas tujuh peti, sesat jalan ke Binuang Sati, iyo di Taluakk Sikundadan, datanglah bajau bajak laut, yang bergelar Palimo Bajau, menjadijadi perang masa itu, banyak benar orang pembajak, perang bersosoh terjadi, naik bajak ke atas dandang, barang dirampas semuanya, nyawa saja yang tidak hilang, sampai sekarang ini, seperti inilah rupa badan hamba, diminta mati tidak mati, ajalullah belum tiba, badan hidup serupa ini.”
Menjawablah Nan Tongga, “Manalah Mamak yang tertawan, mendengar kata rundingan Mamak, senanglah hati denai ini, tapi hanya ada sedikit, coba terangkan jelas-jelas, siapa nama gelar Mamak, di mana koto dan nagari, di mana tumpah darah Mamak. Mengapa begitu kata denai, siapa tahu kita sekampung, siapa tahu selabuh setepian, kalau jauh mencari suku, kalau hampir mencari indu, adat lembaga laki-laki, kalau berjalan merantau jauh, kalau berdansanak bersaudara, terangkan malah oleh Mamak, hendak senang dalam hati, biar sejuk dalam angan-angan.”
Telah berubah rupanya hati, Nan Tongga telah begitu pula, hati yang tidak senang lagi, sudah jelas mamak kandung, tapi hati ditahan jua, dinanti masa ketikanya, supaya jangan terkejut benar, kalau jauh akan sampai jua, telah dekat akan tiba.
Lama sebentar antaranya, bertanya pula Nan Tongga, “Manalah mamak kata denai, tidakkah mamak berdansanak, [ 123 ]mangko luluih indak basilami, mangko hilang indak bacari, tarangkan malah bakeh denai, jan baduo hati lai.”
Sananglah hati urang tawanan, lah sajuak di kiro-kiro, lah tabukak candonyo hati, bakato inyo maso itu, “Manolah Rang Mudo janyo anmbo, kok itu Tuan tanyokan, denai indak mambantah lai, denai kabakan jaleh-jaleh, denai curitokan tarang-tarang, dangakan bana dek Tuan.
Kok kampuang jo halaman, iyo di jorong Kampuang Dalam, etan di koto Pariaman, denai banamo Nangkodoh Rajo, tuan denai banamo Mangkudun Sati, adiak bagala Katik Intan, adiak baduo parampuan, nan tuo si Ganto Pamai, nan ketek si Suto Suri, urang nan jombang di Pariaman.
Denai sumando ka kampuang Tiku, iyo ka Tiku Pariaman, padusi denai banamo Ameh Manah, ado baranak surang parampuan, denai tinggakan ketek baru, inyo nan sadang arek manyusu, anak banamo Nan Gondoriah.”
Baru mandanga di kato itu, jatuah manitiak ayia mato, tapi Nan Tongga urang arif, urang pandai manahan hati, di dalam lah hancua luluah, tapi di muko indak mangasan, dilengongkan sajo ka balakang.
Taruih curito urang tawanan, iyo mamak Nangkodoh Rajo, “Tantangan adiak kanduang diri, nan banamo si Ganto Pamai, sadang barek denai tinggakan, denai bapasan wakatu ka pai, kok lahia anak nantun, padusi namokan sajo mano nan elok, tapi kok laki-laki anak nantun, bari banamo Anggun Tongga. Tantangan maagiah namo nantun, basalisiah kami badunsanak, mamak nan surang maagiah pulo, iyo banamo Magek Durahman, sadang dek si Ganto Pamai, iyo mandeh paja nantun, mandapek pasan dari ayahnyo, nan banamo Tuanku Haji Mudo, urang kiramat hiduik-hiduik, nan batarak di Gunuang Ledang, maagiah namo Magek Jabang. [ 124 ]makanya tenggelam tidak diselami, makanya hilang tidak dicari, terangkanlah malah pada denai, jangan mendua hati lagi.”
Senanglah hati orang tawanan, telah sejuk di angan-angan, telah terbuka rupanya hati, berkata dia masa itu, “Manalah Rang Muda kata hamba, kalau itu yang Tuan tanyakan, denani tidak membantah lagi, denai kabarkan jelas-jelas, denai ceritakan terangterang, dengarkan benar oleh Tuan.
Kalau kampung dan halaman, ialah di jorong Kampuang Dalam, yaitu di koto Pariaman, denai bernama Nangkodoh Rajo, kakak denai bernama Mangkudun Sati, adik bergelar Katik Intan, adik berdua perempuan, yang tua si Ganto Pamai, yang kecil si Suto Suri, orang yang jombang di Pariaman.
Denai semenda ke kampung Tiku, yaitu Tiku Pariaman, istri denai bernama Ameh Manah, beranak seorang perempuan, denai tinggalkan waktu kecil, dia sedang erat menyusu, anak bernama Nan Gondoriah.
Baru mendengar kata itu, jatuh menitik air mata, tapi Nan Tongga orang arif, orang pandai menahan hati, di dalam telah hancur luluh, tapi di wajah tidak mengesan, dilengahkan saja ke belakang
Terus bercerita orang tawanan, yaitu mamak Nangkodoh Rajo, “Tentang adik kandung denai, yang bernama si Ganto Pamai, sedang mengandung ketika denai tinggalkan, denai berpesan waktu akan pergi, kalau lahir anak itu, perempuan namakan saja yang bagus, tapi kalau laki-laki anak itu, beri bernama Anggun Nan Tongga. Tentang memberikan nama itu, berselisih kami berdansanak, mamak yang satu memberi nama pula, yaitu nama Magek Durahman, sedangkan oleh si Ganto Pamai, yaitu mandeh paja itu, mendapat pesan dari ayahnya, yang bernama Tuanku Haji Mudo, orang keramat hidup-hidup, yang bertarak di Gunung Ledang, memberi nama Magek Jabang. [ 125 ]Putuih mupakat maso itu, dilakekkan namo katigonyo, iyo Anggun Nan Tongga Magek Jabang, nan bagala Magek Durahman. Tapi sampai sakarang kini nangko, alah duo puluah tahun lamonyo, saketek denai indak mandanga, maklum Tuan tantang itu, badan tatawan Palimo Bajau, antah baa garan tu kini, baiak adiak si Ganto Pamai, atau pun anak kanduang Nan Gondoriah..”
Baru tadanga di kato nantun, cupak panuah sukatan sarek, hati indak nan tatahani, sasak rasonyo dalam hati, raso nak malatuih dalam dado, lalu basimpuah Nan Tongga, di muko mamak kanduang diri. Manolah Mamak kanduang denai, ambolah Tongga Magek Jabang, nan bagala Magek Durahman, mandeh kanduang Ganto Pamai.”
Alah dipaguik mamak kanduang, samo manangih kaduonyo, urang maliek baitu pulo, samo manangih kasadonyo, suko bacampua dangan ibo. Alah sudah batangisan, bakato sanan Nan Tongga, “Manolah mamak kanduang diri, satantang mandeh kanduang denai, iyo mandeh Ganto Pamai, denai lahia baliau barpulang, janjian sampai maso itu, satantang pulo anak kanduang Mamak, nan banamo Puti Gondoriah, lah gadih gadang kini nangko, badan lah sudah batunangan.”
Mandanga kato nan bak kian, sanang rasonyo dalam hati, mangucap sajo dalam hati, kapado Tuhan Nan Kayo, Allah Ta’ala kayo sungguah, kok lai tawakkal pado Tuhan, batamu juo kasudahannyo.
Batanyo pulo sanan Mamak, baa Nan Tongga sampai ka lawik, namuah manampuah ombak gadang, suko marasai tangah lawik, di mano garan inyo tahu. Dek urang Nan Tongga, dicuritokan kaba Nangkodoh Baha, samaso di tangah balai, iyo di galanggang Intan Korong, sajak samulo manyabuang ayam, sampai batandiang baalamat, lalu batandiang naiak kudo, taruih pulo baadu runciang, iyo di ateh balai rami, batandiang bamain catua, sampai Tongga [ 126 ]Putus mufakat masa itu, dilekatkan nama ketiganya, yaitu Anggun Nan Tongga Magek Jabang, yang bergelar Magek Durahman. Tapi sampai sekarang ini, telah dua puluh tahun lamanya, sedikit denai tidak mendengar, maklum Tuan tentang itu, badan tertawan Palimo Bajau, entah bagaimana gerangan kini, baik adik si Ganto Pamai, atau pun anak kandung Nan Gondoriah…”
Baru mendengar kata tersebut, cupak penuh sukatan sarat, hati yang tidak tertahankan, sesak rasanya dalam hati, rasa kan meletus dalam dada, lalu bersimpuh Nan Tongga, di depan mamak kandung diri.
“Manalah Mamak kandung denai, hambalah Tongga Magek Jabang, yang bergelar Magek Durahman, mandeh kandung Ganto Pamai.”
Telah dipeluk mamak kandung, menangis mereka berdua, orang melihat begitu juga, sama menangis mereka semua, suka bercampur dengan iba. Setelah sudah bertangisan, berkatalah Nan Tongga, “Manalah Mamak kandung diri, tentang mandeh kandung denai, yaitu mandeh Ganto Pamai, denai lahir beliau berpulang, janjian sampai masa itu, tentang anak kandung mamak, yang bernama Puti Gondoriah, sudah gadis dewasa saat ini, badan sudah bertunangan.”
Mendengar kata tersebut, senang rasanya dalam hati, mengucap saja dalam hati, kepada Tuhan Nan Kaya, Allah Ta’ala kaya sungguh, kalau tawakal pada Tuhan, bertemu juga kesudahannya.
Bertanya pula mamak kandung, bagaimana Nan Tongga sampai ke laut, mau menempuh ombak besar, suka merasai tengah laut, di mana gerangan ia tahu. Oleh Nan Tongga Magek Jabang, diceritakan kabar Nangkodoh Baha, semasa di tengah balai, yaitu gelanggang Intan Korong, sejak semula menyabung ayam, sampai bertanding menembak, lalu bertanding naik kuda, lalu beradu runcing, di atas balai ramai, bertanding bermain catur, sampai Tongga [ 127 ]mandapek malu, habih sadonyo dicuritokan, sabuah indak nan tingga.
Alah sudah rundiang barundiang, alah sudah kaba bakaba, dibaok mamak hanyo lai, batamu dangan si Bujang Salamat, batangisan sakali lai, tangih bacampua dangan suko.
Alah diubek mamak kanduang, dipaliharo badan saanggotonyo, badan batambah sanang juo, lah bakilek cando dahulu, sananglah hati Nan Tongga, tapi sabuah nan marusuah, mamak surang alah batamu, nan baduo balun tantu lai, antah di mano garan kini, lawik di mano tampek diam, rantau di mano bakeh tingga.
Bakato Nan Tongga maso itu, “Manolah Mamak janyo denai, Mamak alah tantu dapek, mamak baduo balun jaleh, antah hiduik antah mati. Kini bak itulah nan kan baiak, mananti Mamak di siko, denai ka baiayia baliak, diharu pulo lawik gadang, disabuang ombak nan bajombak
Sabuah pulo nan marumikkan hati, kutiko mulo denai bajalan, iyo di kualo Banda Teleng, Gondoriah mambaok pasan, kahandak saratuih duopuluah, kok indak dapek nan sado nantun, kok babaliak denai pulang, si Babaliak namo denai, dadak lah mananti di tampuruang, basilang karih di pintu, bak itu katonyo Gondoriah. Tapi samantangpun bak itu, kok Mamak taragak pulang, handak maliek Tiku Pariaman, dahulu malah Mamak pulang, denai cari mamak nan baduo, iyo mamak Patiah Mangkudun jo mamak Katik intan.
Santono pulo nan sabuah, mancari kandak Gondoriah, nuri pandai bakato-kato, baruak pandai bakucapi, musang tahu mangulindan, sabuah buli-buli kaco, bapakan bagalanggang, tigo musajik di dalamnyo, kok dikambang sagadang alam, kok dilipek sagadang kuku, cindai nan panjang duo puluah, siang baragi sirah, malam barono hijau, bak itu kandak Nan Gondoriah.”
Bakato mamak Nangkodoh Rajo, “Kok itu nan Anak rusuahkan, buruang nuri pandai bakato, sarato baruak pandai bakucapi, [ 128 ]mendapat malu, habis semuanya diceritakan, tidak ada yang tinggal.
Telah sudah berunding, telah sudak kabar-berkabar, mamak pun dibawa, bertemu dengan si Bujang Salamat, bertangisan sekali lagi, tangis bercampur dengan suka.
Setelah mengobati mamak kandung, dipelihara badan seluruhnya, badan bertambah senang jua, telah berseri seperti dulu, senanglah hati Nan Tongga, tapi ada sebuah yang merusuh, seorang mamak telah bertemu, yang berdua belum tentu, entah di mana gerangan kini, laut di mana tempat diam, rantau di mana tempat tinggal.
Berkatalah Nan Tongga masa itu, “Manalah Mamak kata denai, mamak telah denai temukan, mamak berdua belum jelas, entah hidup entah mati. Kini seperti itulah yang baik, menanti mamak di sini, denai kan berlayar kembali, mengarungi laut luas, disabung ombak yang berombak.
Sebuah pula yang merumitkan hati, ketika mula denai berjalan, yaitu di kuala Banda Teleng, Gondoriah membawa pesan, kehendak seratus dua puluh, kalau tidak dapat kesemuanya, kalau berbalik denai pulang, si Berbalik nama denai, dedak telah menanti di tempurung, bersilang keris di pintu, bak itu katanya Gondoriah.
Tapi walaupun begitu, kalau mamak teragak pulang hendak melihat Tiku Pariaman, dahulu malah mamak pulang, denai cari mamak yang berdua, yaitu mamak Patiah Mangkudun dan mamak Katik Intan.
Sentana pula yang sebuah, mencari kehendak Gondoriah, nuri pandai berkata-kata, beruk pandai main kecapi, musang tahu mengelindan, sebuah buli-buli kaca, pasar yang bergelanggang, ada tiga masjid di dalamnya,kalau dikembangkan selebar alam, kalau dilipat sebesar kuku, cindai yang panjang dua puluh, siang berwarna merah malam berona hijau, seperti itu kehendak Nan Gondoriah.”
Berkata mamak Nangkodoh Rajo, “Kalau itu yang Anak rusuhkan, burung nuri pandai berkata, serta beruk pandai berkecapi, [ 129 ]lainyo buruang nantun, iyo di kualo Koto Tanau, di rumah Santan Batapih, Anak carilah ka sinan. Tapi samantangpun bak itu, elok kito babaliak pulang, etan ka Tiku Pariaman, Gondoriah lah mananti juo, salorong kandak Gondoriah, sarahkan sajo pado denai, insyaAllah lai kan dapek, usahlah bimbang tantang nantun.”
Manjawab sanan Nan Tongga, “Mamak denai dangakan bana, Mamak tinggalah di siko, sanangkan bana badan dahulu, bialahh denai pai balayia, mancari mamak nan baduoo, sarato kandak Nan Gondoriah.
Tabang maraok buruang balam
Hinggok di dahan kayu madang;
Dalam galombang denai tak karam
Kununlah pulo di ayia tanang.”
Manjawab Nongkodoh Rajo, “Kamanakan denai Magek Jabang, kok bak itu kato Buyuang, kok baitu kato Buyuang, basakik bana kandak Gondoriah, dalam bakahandak bakiasan, Anak nan arif tantang itu, samo pandai baadu runciang, tahu di kilek lah bakalam, uji mauji kasiah sayang, ingek-ingek Buyuang di sinan. Tapi samantangpun bak itu, bialah kito pai baduo, kok mujua dapek nan di hati, kok malang bia samo hilang, usahlah denai Buyuang tinggakan, taragak nan balun lai lapeh.”
Manjawab pulo Nan Tongga, “Mamak kanduang janyo denai, kok elok Mamak baok lalu, kok salah Mamak baok suruik, bialah denai pai bajalan, Mamak dahulu malah pulang, etan ka korong kampuang kito, nan di Tiku Pariaman, Nan Gondoriah mananti juo, sambia mambaok pasan denai kok salamaik denai bajaian, lakeh denai babalak pulang”
Manyahuik pulo Nangkodoh Rajo “Manolah buyuang Nan Tongga, hati lah putiah dek taragak, raso tabayang Kampuang Dalam, bagai lah tampak Gondoriah, tapi santanopun bak itu, bialah denai saba dahulu, pailah Buyuang balayia dahulu, denai mananti malah di [ 130 ]adanya burung itu, ialah di kuala Koto Tanau, di rumah Santan Batapih, anak carilah ke situ. Tapi walaupun begitu, baiklah kita berbalik pulang, ke Tiku Pariaman. Gondoriah telah menanti jua, selorong kehendak Gondoriah, serahkan saja pada denai, insya Allah akan dapat, usahlah bimbang tentang itu.”
Menjawablah Anggun Nan Tongga, “Mamak denai dengarkan benar, Mamak tinggallah di sini, senangkan benar badan dahulu, biarlah denai pergi berlayar, mencari mamak yang berdua, serta kehendak Nan Gondoriah.
Terbang merendah burung balam
Hinggap di dahan kayu madang;
Dalam gelombang denai tak karam
Kononlah pula di air tenang.”
Menjawab Nangkodoh Rajo, “Kemenakan denai Magek Jabang, kalau begitu kata Buyung, bersakit benar kehendak Gondoriah, dalam berkehendak berkiasan, Anak yang arif tentang itu, sama pandai beradu runcing tahu di kilat telah berkalam, uji menguji kasih sayang, ingat-ingat Buyung di situ. Tapi walaupun seperti itu, biarlah kita pergi berdua, kalau mujur dapat yang di hati, kalau malang biar sama hilang, usahlah denai Buyung tinggalkan, teragak yang belum lagi lepas.”
Menjawab pula Nan Tongga, “Mamak kandung kata denai, kalau baik Mamak bawa lalu, kalau salah Mamak bawa surut, biarlah denai pergi berjalan, Mamak dahulu malah pulang, ke korong kampung kita, yang di Tiku Pariaman, Nan Gondoriah menanti jua, sambil membawa pesan denai, kalau selamat denai berjalan, lekas denai berbalik pulang.”
Menyahut pula Nangkodoh Rajo, “Manolah Buyung Nan Tongga, hati telah putih karena teragak, rasa terbayang Kampuang Dalam, bagai telah tampak Gondoriah, tapi walaupun begitu, biarlah denai sabar dahulu, pergilah Buyung berlayar dahulu, denai menanti [ 131 ]siko, kok lai salamaik pajalanan, samo kito babaliak pulang, nak jaleh mamak nan baduo, nak tarang hasia pajalanan.”
Dalam bahandai-handai juo, sadang barundiang-rundiang nantun, putuih rundiangan maso itu, bulek lah buliah digolongkan, picak lah buliah dilayangkan, disuruah sajo utusan pulang, iyo jurumudi Malin Cik Ameh, mambaok pasan dangan surek, bahaso mamak alah basuo, iyo nan mamak Nangkodoh Rajo.
Dihimbau jurumudi Malin Cik Ameh, disampaikan putusan rundiangan nantun, jurumudi disuruah babaliak pulang, mambaok surek jo pasan, bahaso kaba lai baiak sajo, hanyo saketek lai nan tingga, mamak baduo balun basuo, baitu pulo kandak Gondoriah.
Disadiokan pulo kapa sabuah, dicukuikkan alat salangkoknyo, baiak ayia minum atau pun kalasi, cukuik sagalo nan paralu, lalu dibuek surek sapucuak, surek nan ka ganti badan diri, datang ka rumah mandeh kanduang, etan di jorong Kampuang Dalam, bakato sanan Nan Tongga, “Manolah Tuan Jurumudi, baoklah kapa gadang nangko, tantang lancang Dandang Panjang, samo jo denai pulang isuak, elok-elok Tuan bajalan, pacik umanaik taguah-taguah, jan talalai Tuan di jalan, baiak-baiak Tuan babarito, pandai pandai Tuan mangecek, denai mambaco doa salamaik, santoso sajo Tuan bajalan.”
Lah basigap urang kasadonyo, sauah dibongka hanyo lai, lah balayia Malin Cik Ameh, etan manuju Tiku Pariaman.
Ramilah balai Pasa Gadang
Rami nan sadang tangah hari;
Bari maaf ambo mangarang
Kaba baraliah hanyo lai.
supaya jelas mamak yang berdua, supaya terang hasil perjalanan.”
Dalam berhandai-handai jua, sedang berunding-runding seperti itu, putus rundingan masa itu, bulat telah boleh digulingkan, pipih telah boleh dilayangkan, disuruh saja utusan pulang, yaitu juru mudi Malin Cik Ameh, membawa pesan dan surat, bahwa mamak telah bertemu, yaitu mamak Nangkodoh Rajo.
Dipanggillah juru mudi Malin Cik Ameh, disampaikan putusan rundingan itu, juru mudi disuruh berbalik pulang, membawa surat dan pesan, bahwa kabar baik-baik saja, hanya sedikit lagi yang tertinggal, mamak berdua belum bertemu, begitu pula kehendak Gondoriah.
Disediakan pula sebuah kapal, dicukupkan alat selengkapnya, baik air minum atau pun kelasi, cukup segala yang perlu, lalu dibuat sepucuk surat, surat yang kan jadi ganti badan diri, datang ke rumah mandeh kandung, di jorong Kampuang Dalam, Berkatalah Nan Tongga,
“Manalah Tuan Juru mudi, bawalah kapal besar ini, tentang lancang Dandang Panjang, bersama dengan denai pulang besok, baik-baik Tuan berjalan, pegang amanat teguh-teguh, jangan terlalai Tuan di jalan, baik-baik Tuan berkabar, pandai-pandai berbicara, denai membacakan doa selamat, sentosa saja Tuan berjalan.”
Telah bersigap orang semuanya, sauh pun dibongkar, telah berlayar Malin Cik Ameh, menuju Tiku Pariaman.
Ramailah balai Pasa Gadang
Ramai pada tengah hari;
Beri maaf hamba mengarang
Kaba beralih lagi.
Malin Cik Ameh Bakhianat
Taruihlah kaba tantang itu, iyo kaba Malin Cik Ameh, alah balayia babaliak pulang, etan ka Tiku Pariaman, mambaok pasan Nan Tongga, surek sapucuak tando salamaik.
Salamo dalam pajalanan, salamaik sajo jalan dandang, bagai pucuak dilancakan, takambang layia kasadonyo, badantiang buni tiang aguang, badariak buni tali manali, dalam kapa nan gadang nantun.
Santano Tuan Nangkodoh Malin, hati suko bukan kapalang, lah baraso diambuang-ambuang cigak, awak nangkodoh janyo urang, anak buah duoratuih urang, bacampua Tiku jo Pariaman, urang Bugih lai pulo, cukuik Makasar dangan Jawo, bakeh tawanan Palimo Bajau, parentah kareh bukan kapalang, awak nangkodoh sadandangnyo, awak juru mudi sakapanyo, indak siapo kan mambantah.
Alah sahari duo hari, ganok sapakan duo pakan, alah tabayang koto pasisia, iyo pasisia Pariaman, jauah basarang dakek juo, hampia ka tibo hanyo lai, dek lamo lambek nan bak kian, sadang hari barambang patang, lawik tanang angin pun taduah, masuaklah dandang Nangkodoh Malin, iyo di kualo Banda Teleng, etan di banda urang Pariaman.
Urang takajuik maso itu, samo batanyo dalam hati, kapa siapo garan nantun, balunlah kapa sagadang nangko, balunlah dandang [ 134 ]MALIN CIK AMEH BERKHIANAT
Teruslah kabar tentang itu, yaitu kabar Malin Cik Ameh, telah berlayar berbalik pulang, ialah ke Tiku Pariaman, membawa pesan Nan Tongga, surat sepucuk tanda selamat.
Selama dalam perjalanan, selamat saja jalan dandang, bagai pucuk dilancarkan, terkembang layar semuanya, berdenting bunyi tiang agung, berderik bunyi tali temali, dalam kapal yang besar itu.
Sentana Tuan Nangkodoh Malin, hati suka bukan kepalang, telah berasa diambung-ambung cigak7, awak nahkoda kata orang, anak buah dua ratus orang, bercampur Tiku dan Pariaman, orang Bugis ada pula, cukup Makasar dan Jawa, bekas tawanan Palimo Bajau, perintah keras bukan kepalang, awak nahkota seluruh dandang, awak juru mudi sekapalnya, tiada siapa kan membantah.
Telah sehari dua hari, genap sepekan dua pekan, telah terbayang koto pesisir, yaitu pesisir Pariaman, jauh bersarang dekat jua, hampir kan sampai ia, karena lambat laun seperti itu, sedang hari berembang petang, laut tenang angin pun teduh, masuklah Dandang Nangkodoh Malin, di kuala Banda Teleng, yaitu muara orang Pariaman.
Orang terkejut masa itu, sama bertanya dalam hati, kapal siapa gerangan itu, belumlah kapal sebesar ini, belumlah dandang 7. sombong [ 135 ]sarancak nangko, datang basauah ka Pariaman, antahnyo kapa Banua Cino, antahnyo kapa banua Ruhum, kapa niago lawik basa.
Lah tabantang cando panji-panji, lah tahampa marawa kuniang, badantam buni Lelo Majenun, buni sadatak duo dantamnyo, tando alamat Nan Tongga bana, urang takajuik kasadonyo, disangko Tuan Tongga alah datang, urang lah rapek ka muaro, manyongsong Tuan Tongga alah tibo.
Pacahlah kaba di Pariaman, saluruah korong Kampuang Dalam, sampai ka mudiak Kampuang Tiku, kapa sabuah alah datang, bukannyo lancang Dandang Panjang, alamat sarupo Tuan Tongga bana, antah koh utusan dari Tuan Tongga, urang tak saba tantang itu.
Sadang sahari duo hari, cukuik katigo hari ganok, alah datang Nan Gondoriah, iyo ka kualo Banda Teleng, mukasuik hati nak basuo, jo jurumudi Malin Cik Ameh, batanyo pasan kok lai ado.
Hati nan indak sanang lai, raso tabayang Tuan Tongga, bagai tangiang suaronyo, dibaok si Kambang nan batigo, sarato panginang jo pangiriang, cukuik juadah buah tangan, tandonyo alamat suci hati, untuak Tuan Malin Cik Ameh.
Dek lamo lambek di jalan, alah tibo di muaro, iyo di kualo Banda Teleng, taruih naiak ka ateh kapa, kapa gadang bukan kapalang, indak sarupo Dandang Panjang, disambuik dek Nangkodoh Malin, basamo duduak di tangah ruang, bapantun sanan Tuan Nangkodoh, pantun bacampua jo sendeng mato,
“Masuak kualo Banda Padang
Tuan Nangkodoh pai balayia;
Denai baniat Adiak lah datang
Raso bak dapek ameh satahia.”
Manjawab sanan Nan Gondoriah,
“Anak kalasi turun parahu
Cubo badayuang kok lai sampai;
entah kapal Benua Ruhum, kapal niaga laut basa.
Telah terbentang rupa panji-panji, telah terhampar bendera kuning, berdentum bunyi Lelo Majenun, bunyi sedetak dua dentumnya, tanda alamat benar Nan Tongga, orang terkejut semuanya, disangka Tuan Tongga telah datang, orang merapat ke muara, menyongsong Tuan Tongga telah tiba.
Pecahlah kabar di Pariaman, seluruh korong Kampuang Dalam, sampai ke mudik Kampung Tiku, kapal sebuah telah datang, bukannya lancang Dandang Panjang, alamat serupa Tuan Tongga benar, entah kah utusan dari Tuan Tongga, orang tak sabar tentang itu.
Sedang sehari dua hari, cukup ketiga hari genap, telah datang Nan Gondoriah, ke kuala Banda Teleng, maksud hati hendak berjumpa, dengan juru mudi Malin Cik Ameh, bertanya apakah ada pesan. Hati yang tidak senang lagi, rasa terbayang Tuan Tongga, bagai terngiang suaranya, dibawa si Kambang yang bertiga, serta penginang dan pengiring, cukup juadah buah tangan, tandanya alamat suci hati, untuk Tuan Malin Cik Ameh.
Karena lambat laun di jalan, telah tiba di muara, yaitu di kuala Banda Teleng, terus naik ke atas kapal, kapal besar bukan kepalang, tidak seperti Dandang Panjang, disambut oleh Nangkodoh Malin, bersama duduk di ruang tengah, berpantunlah Tuan Nangkodoh, pantun bercampur dengan sendeng mata,
Masuk kuala Banda Padang
Tuan Nangkodoh pergi berlayar;
Denai berniat Adik telah datang
Rasa kan dapat emas setahil.”
Menjawab Gondoriah,
“Anak kelasi turun perahu
Coba berdayung kalau kan sampai;
Tuan baniat ambo lah tahu
Urang bapasan balun lai sampai.”
Dalam bahandai-handai nantun, tibolah tanyo dari Gondoriah, tantangan Tuan Anggun Tongga, laikoh salamaik palayaran, apokoh kaba barito nan dibaok, dahulu baduo pai, kini lah pulang surang sajo, hati tak sanang tantang itu.
Sanan bakato Malin Cik Ameh, baralah sendeng suduik mato, bakeh nan gadih Gondoriah, Puti nan geneng Tiku Pariaman, jaranglah Puti ka tandiangnyo, dalam saluruah Tiku Pariaman, sampai ka luhak ranah Agam, sampai ka luhak Tanah Data, lalu ka luhak Limopuluah, taruih ka luhak Sungai Pagu, antah bidodari dari langik.
“Manolalh Gondoriah janyo ambo, dangakan bana elok-elok, simak dek Adiak ciek-ciek, sabuah jan nan talampau, kaba barito baiak sajo, indak batukuak indak bakurang, ikolah kaba sabananyo, basasi sajo Tuhan Nan Satu.
Sajak samulo kami balayia, lorong kapado Tuan Tongga, namonyo urang alun biaso, bakuruang sajo dalam biliak, sarupo urang damam sajo, katonyo damam ngilu paniang, damam tabaok dari Tiku, ubek jauah panyakik hampiang, sampailah sahari duo hari, sampailah sapakan duo pakan, badan batambah kuruih juo, kok indak denai mamaliharo, antah baa kan jadinyo.
Dalam pado maso itu, tampakiah pulau tangah lawik, pulau apo garan namonyo, kami manuju ka pulau nantun, masuak taluak nak basauah, manambah baka ayia minum, kironyo malang tak buliah ditulak, mujua nan buliah diraiah, kalualah urang pulau nantun, iyo pambajak pambajau, sarupo anai-anai babuih, tumbuahlah parang maso itu.
Alah bara lamonyo baparang, malang cilako nan ka tibo, mujua taraiah bakeh urang, tatangkok sanan Tuan Tongga, alah bakabek urang pambajak, dibaok pambajak urang lanun. Dandang Panjang lah karam pulo, sabuah indak dapek baleh, mancik sikua panggado [ 138 ]Tuan berniat hamba telah tahu
Orang berpesan belumlah sampai.”
Dalam berhandai-handai itu, tibalah tanya dari Gondoriah, tentang Tuan Anggun Tongga, adakah selamat pelayaran, apakah kabar berita yang dibawa, dahulu pergi berdua, kini telah pulang seorang saja, hati tidak senang tentang itu.
Berkatalah Malin Cik Ameh, berapalah sendeng sudut mata, pada Nan Gadih Gondoriah, puti nan geneng Tiku Pariaman, jaranglah puti kan tandingannya, dalam seluruh Tiku Pariaman, sampai ke luhak ranah Agam, sampai ke luhak Tanah Datar, lalu ke luhak Limo Puluah, terus ke luhak Sungai Pagu, entah bidadari dari langit. “Manalah Gondoriah kata hamba, dengarkan benar baik-baik, simak oleh Adik satu-persatu, sebuah jangan yang terlampau, kabar berita baik saja, tidak bertukuk tidak berkurang, inilah kabar sebenarnya, bersaksi saja Tuhan Nan Satu.
Sejak semula kami berlayar, lorong kepada Tuan Tongga, namanya orang belum biasa, berkurung saja dalam bilik, serupa orang demam saja, katanya demam ngilu pening, demam terbawa dari Tiku, obat jauh penyakit hampir, sampailah sehari dua hari, sampailah sepekan dua pekan, badan bertambah kurus jua, kalau tidak denai memelihara, entah kan bagaimana jadinya.
Dalam pada masa itu, tampaklah pulau di tengah laut, pulau apa gerangan namanya, kami menuju ke pulau itu, masuk teluk hendak bersauh, menambah bekal air minum, kiranya malang tak boleh ditolak, mujur nan boleh diraih, keluarlah orang pulau itu, yaitu pembajak pembajau, serupa anai-anai bubus, tumbuhlah perang masa itu. Telah berapa lama berperang, malang celaka yang akan tiba, mujur teraih pada orang, tertangkaplah Tuan Tongga, telah diikat oleh pembajak, dibawa pembajak orang lanun. Dandang Panjang telah karam pula, seorang pun tidak dapat belas, tikus seekor penggada [ 139 ]saribu, tak dapek mangatokan nan kiramat, sati indak buliah disabuik, kareh alah ditakiaknyo, lunak alah disudunyo, lai kami cubo malawan,
bak manokok sarang karanggo, dibunuah sikua tibo saratuih, sio-sio utang tumbuah, kurang ingek badan binaso. Bak itu malang alah tibo, malang indak tailakan, usahkan mamak nan ka dapek, jankan mamak nan ka lapeh, Tuan Tongga alah tatawan puio, buah dijuluak indak rareh, panggalan di ateh tasampang pulo.
Kudian ambo mandanga kaba, nasib cilako Tuan Tongga, alah bakuruang dalam tangsi, diam sakandang dangan babi, kaki bapasuang kaduonyo, tangan barantai kasadonyo, pinggang kanai palanggu pulo, indak dapek kan disabuik, malapeh badan surangsurang, habih harapan hanyo lai, lapeh dari pasuang nantun, antah dek janjian sampai, jan diharok babaliak pulang”
Mandanga kato Jurumudi, tamanuang sanan Nan Gondoriah, jatuah badarai ayia mato, sangaik ibo dalam hati, sajak salorong salamo nangko, ditagah indak tatagah, dilapeh juo hanyo lai, dilapehkan sangketo tibo, handam karam badan di lawik
Bakato pulo Malin Cik Ameh, “Manolah Nan Jombang Gondoriah, jan hati parusuah bana, urang parusuah kuruih badan, tantangan Tuan Anggun Tongga, umua habih janjian sampai, garak Allah alah datang, kito tak dapek sato lai, janji lah ungkai dikabeknyo, satiah lah tangga disimpainyo, hanyo samantangpun bak itu,
- Tabang anggang ampek-ampek
- Kami panah patah sayoknyo;
- Nan hilang indak kan dapek
- Cari nan lain ka gantinyo.”
Sanan manjawab Nan Gondoriah, “Tuan Jurumudi janyo denai, usah Tuan bakato bak itu, kasiah sayang buliah dicari, tampek hati jarang basuo, Tuan tak elok nan bak itu, denai luko sakik padiah, Tuan manambah cuko pulo.” [ 140 ]seribu, tak dapat mengatakan yang keramat, sakti tidak boleh disebut, keras telah ditakiknya, lunak telah disudunya, telah kami coba melawan, bak memukul sarang karengga, dibunuh seekor datang seratus, sia-sia utang tumbuh, kurang ingat badan binasa.
Bak itu malang telah tiba, malang tidak terelakkan, usahkan mamak yang akan dapat, jangankan mamak akan lepas, Tuan Tongga telah tertawan pula, buah dijolok tidak luruh, penggalan di atas tersampang pula.
Kemudian hamba mendengar kabar, nasib celaka Tuan Tongga, telah berkurung dalam tangsi, diam sekandang dengan babi, kaki berpasung keduanya, tangan berantai semuanya, pinggang kena belenggu pula, tidak dapat kan disebut, melepas badan sendirisendiri, habislah harapan, lepas dari pasungan itu, entah karena janjian sampai, jangan diharap berbalik pulang.”
Mendengar kata juru mudi, termenung Nan Gondoriah, jatuh berderai air mata, sangat iba dalam hati, sejak selorong selama ini, ditegah tidak tertegah, dilepas jua jadinya, dilepaskan sengketa tiba, handam karam badan di laut.
Berkata pula Malin Cik Ameh, “Manalah Nan Jombang Gondoriah, jangan hati perusuh benar, orang perusuh kurus badan, tantangan Anggun Nan Tongga, umur habis janjian sampai, gerak Allah telah datang, kita tak dapat mencegah, janji telah ungkai ikatannya, sumpah telah tanggal di simpulnya, hanya walaupun begitu,
- Terbang elang empat-empat
- Kami panah patah sayapnya;
- Yang hilang tidak kan dapat
- Cari yang lain akan gantinya.”
Menjawablah Nan Gondoriah, “Tuan juru mudi kata denai, usah Tuan berkata seperti itu, kasih sayang boleh dicari, tempat hati jarang bersua, Tuan tak elok seperti itu, denai luka sakit pedih, Tuan menambah cuka pula.” [ 141 ]Manjawab pulo Malin Cik Ameh, “Mano adiak kanduang Gondoriah, jan hati diparusuah, usah pangana diparagu, adat hiduik alah bak itu, susah sanang siliah baganti, susah indak sapanjang hari, sanang jo susah bagantian, awak nan sadang mudo matah, sadang mudo dunia dikusau, kutiko kini dunia dikacak. Kini baitulah nan ka baiak, masuaklah Adiak ka dalam kapa, piliahlah dek Adiak nan katuju, ameh bapeti denai baok, kain basasak nan denai angkuik, bak itu pulo nan lain sacukuiknyo, sabuah indak ado nan kurang, Adiak tingga maliek sajo, baoklah sado nan katuju, ka ganti ubek rusuah hati.”
Mandanga kato nan bak kian, manjawab sanan NanGondoriah, “Manolah Tuan jurumudi, Tuan jan tadorong-dorong, awa dikana akhia indak, badan juo nan manangguangkan, Tuan malinteh denai lah tibo di subarang. Kok hanyo ameh harato bando, kok hanyo kain dangan baju, dek denai indak kurang, indak harok harato Tuan, hanyo santano nan saketek, umanaik indak Tuan pacik, pasan indak Tuan pagang, manyasa badan kamudian.
Kok santano Tuan Tongga, tak dapek dituka lai, jan disabuik harato bando, usah diumbuak nan bak kian, sajak di rahim bundo kanduang, badan alah batunangan, kami nan alah basatiah, satiah bakalian dalam, satiah nan bagantuang tinggi, namun rajo banua Cino, walaupun rajo banua Ruhum, surang indak nan katuju, jan kasiah ka batuka, di dunia kami indak batamu, di akhirat kami banantian. Satantang manuka kasiah sayang, sadangkan rajo tak paguno, kununlah pulo nangkodoh kapa..!”
Turun marentak Nan Gondoriah, batambah mabuak Jurumudi, hati indak sanang lai, tapi baa ka manyabuik, buah ranum tagantuang tinggi, galah indak ado ka panjuluak, dicari aka maso itu.
Lorong kapado Nan Gondoriah, salamo lambek inyo bajalan, diiriang panginang kasadonyo, panginang duo kali tujuah, pulang ka ranah Tiku, taruih sakali ka ateh rumah, lalu dipaguik mandeh kanduang, manangih maratok baibo ibo, ayia mato cucua juo, jatuah ciek [ 142 ]Menjawab pula Malin Cik Ameh, “Mana Adik kandung Gondoriah, jangan hati diperusuh, usah ingatan diperagu, adat hidup sudah seperti itu, susah senang silih berganti, susah tidak sepanjang hari, senang dan susah bergantian, awak yang sedang muda mentah, sedang muda dunia dikusau, sekarang dunia dikacau, sekarang beginilah yang baik, masuklah Adik ke dalam kapal, pilihlah oleh Adik yang suka, emas berpeti denai bawa, kain bersasak yang yang denai angkut, begitu pula yang lain secukupnya, sebuah tidak ada yang kurang, Adik tinggal melihat saja, bawalah semua yang suka, untuk ganti obat rusuh hati.”
Mendengar kata seperti itu, menjawablah Nan Gondoriah, “Manalah Tuan juru mudi, Tuan jangan terdorong-dorong, awal diingat akhir tidak, badan jua yang menanggungkan, Tuan melintas denai telah tiba di seberang. Kalau hanya emas harta benda, kalau hanya kain dengan baju, pada denai tidak kurang, tidak harap harta Tuan, hanya sentana yang sedikit, amanat tidak Tuan pegang, pesan tidak Tuan genggam, menyesal badan kemudian.
Jika sentana Tuan Tongga, tidak dapat ditukar lagi, jangan disebut harta benda, usah dibujuk seperti itu, sejak di rahim bunda kandung, badan telah bertunangan, kami telah bersumpah, sumpah berkalian dalam, sumpah yang bergantung tinggi, walaupun raja benua Cina, walaupun raja benua Ruhum, seorang pun tidak denai suka, jangankan kasih akan bertukar, di dunia kami tidak bertemu, di akhirat kami saling menanti. Setentang menukar kasih sayang, sedangkan raja tak berguna, kononlah pula nahkoda kapal…!”
Turun merentak Nan Gondoriah, bertambah mabuk juru mudi, hati yang tidak lagi senang, tapi bagaimana akan menyebut, buah ranum tergantung tinggi, galah tidak ada untuk penjolok, dicari akal masa itu.
Lorong kepada Nan Gondoriah, lambat laun ia berjalan, diiringi penginang seluruhnya, penginang dua kali tujuh, pulang ke ranah Tiku, langsung sekali ke atas rumah, lalu memagut mandeh kandung, menangis meratap beriba-iba, air mata bercucuran jua, jatuh satu [ 143 ]jatuah duo, bak maniak putuih talinyo, bak kaco jatuah ka batu.
Lamo sabanta antaronyo, sanan bakato Nan Gondoriah, “Manolah mandeh kanduang denai, Tuan Tongga Magek Jabang, junjuangan denai sampai mati, hilang juo kironyo, usahkan luluih kan basilami, nan mancari alah hilang pulo.
Sajak samulo denai katokan, indak ditaruah dalam hati, denai juo marasaikan, ka mano Tuan ka denai cari, lawitan mano ka denai haruang, hutan di mano ka denai sigi, apolah tenggang badan denai, sandaran bulek bakeh Tuan.”
Dibujuak malah anak kanduang, dipabulek paham jo makrifat, tibolah garak dari Allah, saketek indakýnyo picayo, baraso Tuan Tongga alah hilang, sajak ketek masak pangaja, alah gadang akuan tibo, ayah kanduang urang kiramat, nan batarak di Gunuang Ledang.
Indak mungkin inyo bak nantun, sadangkan Tuan Jurumudi, lai hiduik babaliak pulang, kununlah pulo Tuan Tongga, sabab baa dek baitu, di taluak di rantau sagalo nangko, sariklah urang ka tandiangyo, hanyo sabuah nan tajadi, ado udang di baliak batu, ado kusuik indak salasai, isuak urang kan tahu juo.
Sabab pulo dek bak itu, adat hiduik batunangan, sajak di rahim mandeh kanduang, garak jo garik tantu tibo, kok Tongga hilang di lawik, kok sampai janjian mati, malang jo sakik kok tibo, surek sapucuak antu tibo, kok indak dari Nan Tongga, tantu dari si Bujang alamat, kok indak pasan di urang, dalam mimpi kan datang juo.
Ikolah lamonyo Tongga pai, mimpi tidak ado nan buruak, rasian indak ado nan salah, elok sajo kasadonyo, baduto malah Tuan Jurumudi, buruak siasek Tuan Nangkodoh.
Dialiah kaba hanyo lai, iyo kaba nangkodoh Malin, salamo inyo babaliak pulang, inyo mandarek gadang sajo, lah dihimpun manti jo dubalang, sanan bakato Jurumudi, “Manolah kalian kasadonyo, dangakan bana elok-elok, simakkan bana baiak-baiak, lorong kapado Tuan Tongga, malang lah tibo di badannyo, [ 144 ]jatuh dua, bak manik putus talinya, bak kaca jatuh ke batu.
Lama sebentar antaranya, berkatalah Nan Gondoriah, “Manalah Mandeh kandung denai, Tuan Tongga Magek Jabang junjungan denai sampai mati, hilang jua kiranya, usahkan yang tenggelam akan diselami, yang mencari telah hilang pula.
Sejak semula denai katakan, tidak ditaruh dalam hati, denai jua merasaikan, ke mana Tuan akan denai cari, lautan mana akan denai arung, hutan di mana akan denai sigi, apalah tenggang badan denai, sandaran bulat kepada Tuan.”
Dibujuk malah anak kandung, dibulatkan paham dan makrifat,datanglah gerak dari Allah, sedikitpun ia tidak percaya, bahwa Tuan Tongga telah hilang, sejak kecil masak pengajaran, telah besar akuan tiba, ayah kandung orang keramat, yang bertarak di Gunung Ledang.
Tidak mungkin ia seperti itu, sedangkan tuan juru mudi, masih hidup berbalik pulang, kononlah pula Tuan Tongga, sebab mengapa begitu, di teluk di rantau mana pun, sulitlah orang kan jadi tandingannya, hanya sebuah yang terjadi, ada udang di balik batu, ada kusut yang tidak selesai, besok orang akan tahu juga.
Sebab mengapa pula begitu, adat hidup bertunangan, sejak di rahim bunda kandung, gerak dan gerik akan tiba, kalau Tongga hilang di lautan, kalau sampai janjian mati, malang dan sakit kalau tiba, surat sepucuk tentu kan datang, kalau tidak dari Nan Tongga, tentu dari si Bujang Salamat, kalau tidak pesan dari orang, dalammimpi kan datang jua.
Inilah lamanya Tongga pergi, mimpi tidak ada yang buruk,rasian tidak ada yang salah, elok saja semuanya, berdusta malah jurumudi, buruk siasat Tuan Nangkodoh.
Dialihkan malah kaba sekarang, yaitu kaba nahkoda Malin, selama ia berbalik pulang, ia mendarat begitu saja, telah dihimpunnya manti dan dubalang, lalu berkata juru mudi, “Manalah kalian semuanya, dengarkan benar elok-elok, simakkan benar baikbaik, lorong kepada Tuan Tongga, malang telah tiba di badannya, [ 145 ]batamu paranmpok urang lanun, parang basosoh alah datang, mancik sikua panggado saribu, malang tibo di Tuan Tongga, mujua tatangkok bakeh urang, alah tatawan Tuan Tongga, alah dibaluak Palimo Bajau, iyo di pulau Binuang Sati, alah sauntuang jo mamaknyo, badan bakabek kini nangko, suok kida kanai palanggu, indak diharok lapeh lai, jan diharok babaliak pulang.
Hanyo ado pasan sabuah, bak itu kato Tuan Tongga, kok sampai malang bancano tibo, Tuan lakeh pulang baliak, etan ka Tiku Pariaman, susun nagari elok-elok, buruak baiak kato Nangkodoh, ambo sarahkan bakeh Tuan, santano pulo Nan Gondoriah, Tuanlah ka ganti badan ambo, ganti mamak jo dunsanak’, bak itu pitaruah Tuan Tongga.”
Mandanga kato nan bak kian, rapeklah urang kasadonyo, baiak manti jo dubalang, sarato niniak dangan manak, Pangulu Andiko sanagari, dapek mupakat maso itu, diangkek nangkodoh Malin Cik Ameh, jadi rajo di nagari, mamacik parentah siang malam, urang takuik bakeh inyo, awak kareh mandareh datang, sampailah niat Malin Cik Ameh.
Salamo salorong nan bak itu, bulek kato dek mupakat, bulek lah buliah digolongkan, picak lah buliah dilayangkan, disuruahlah utusan maso itu, etan ka ranah Tiku, iyo ka rumah Gondoriah, cukuik manti jo dubalang, pai manjalang Ameh Manah.
Alah tibo inyo di sanan, naiak sakali ka ateh rumah, lalu bakato maso itu, “Manolah mandeh Ameh Manah, sakali gadang baganti, sakali tapian barubah, sakali adat batuka, kini alah batuka pulo, nagari tapacik di nan kuaso, iyo nangkodoh Malin Cik Ameh, hiduik mati bak kato inyo, susah sanang diganggamnyo, lah bulek kato karapatan, rundiangan tibo bakeh Mandeh.
Lorong kapado Tuan Tongga, inyo alah handam karamn, alah dilulua lawik gadang, alah tatampuah pulau larangan, alah tapijak rantau sati, indak diharok babaliak pulang, lah patuik inyo kito ganti, [ 146 ]bertemu perampok orang lanun, perang bersosoh telah datang, tikus seekor penggada seribu, malang tiba di Tuan Tongga, badan tertangkap oleh orang, telah tertawan Tuan Tongga, telah dibekuk Palimo Bajau, yaitu di Pulau Binuang Sati, telah sama nasibnya dengan mamaknya, badan diikat sekarang ini, kanan kiri kena belenggu, tidak diharap akan lepas, jangan diharap berbalik pulang.
Hanya ada pesan sebuah, seperti itu kata Tuan Tongga, ‘kalau sampai malang bencana tiba, Tuan lekas berbalik pulang, ke Tiku Pariaman, susun nagari elok-elok, buruk baik kata Nangkodoh, hamba serahkan pada Tuan, sentana pula Nan Gondoriah, Tuanlah kan ganti badan hamba, ganti mamak dan dansanak’, seperti itu petaruh Tuan Tongga.”
Mendengar kata seperti itu, rapatlah orang semuanya, baik manti dan dubalang, serta ninik dengan mamak, Penghulu Andika senagari, dapat mufakat masa itu, diangkat nahkoda Malin Cik Ameh, jadi raja di nagari, memegang perintah siang malam, orang takut pada dirinya, awak keras dan suka kekerasan, sampailah niat Malin Cik Ameh.
Selama selorong yang seperti itu, bulat kata karena mufakat, bulat telah boleh digulingkan, pipih telah boleh dilayangkan, disuruhlah utusan masa itu, ke ranah Tiku, yaitu ke rumah Gondoriah, cukup manti dan dubalang, pergi menjelang Ameh Manah.
Setelah tiba mereka di sana, segera naik ke atas rumah, lalu berkata masa itu, “Manalah Mandeh Ameh Manah, sekali air besar, sekali tepian berubah, sekali adat bertukar, kini telah bertukar pula, nagari dipegang oleh yang kuasa, yaitu nahkoda Malin Cik Ameh, hidup mati atas perintahnya, susah senang digenggamnya, telah bulat kata kerapatan, rundingan tiba pada Mandeh.
Lorong kepada Tuan Tongga, dia telah karam, telah ditelan laut luas, telah tertempuh pulau larangan, telah terpijak rantau sakti, tidak diharap berbalik pulang, telah patut dia kita ganti, [ 147 ]baiak pamarentah dalam nagari, baiak judu jo tunangan, kami sapakaik tantang itu.
Namun nangkodoh Malin Cik Ameh, urang kuaso dalam nagari, urang tinggi tampak jauah, ameh perak banyak di inyo, sabuah indak ado nan kurang, jikok barek raso lah ringan, jikok sampik raso kan lapang, sukolah Mandeh tantang itu.”
Manjawab mandeh Anmeh Manah, “Manolah Manti jo Pagawai, rundiangan alah ambo danga, rundiangan elok rancak buni, ambo nan indak dapek mailak, tapi ado pulo saketek, indaklah dayo pado ambo, hanyo pado si Gondoriah, denai tak sato tantang itu.”
Dihimbau malah Nan Gondoriah, dikabakan pasan jaleh-jaleh, apo mukasuik Malin Cik Ameh, sanan manjawab Nan Gondoriah, “Manolah mandeh kanduang denai, ataupun Manti jo Dubalang, usah tando dijawek sajo, agak-agiah malah dahulu, sabab salorong urang nantun, diuji balun samo merah, ditimbang balun samo barek, balun ka lawan denai tagak, balun ka kawan denai duduak, kawan sairiang antah pun balun.
Jikok kayo nan disabuik, bukannyo kayo Tuan Tongga, kayo dalam palayaran, antah dapek samun saka, antah dapek umbuakumbai, bak itu pulo Tuan Tongga, balun tantu kaba baritonyo, tando sabuah balun ado, kok iyo hilang di lawik, kok janjian nan alah sampai.”
Mandanga kato nan bak kian, tamanuang Manti Tuo, lalu bakato maso itu, “Manolah Mandeh janyo ambo, duo jo Puti Gondoriah, kami nangko urang tasuruah, indak pandai tantang nantun, jikok bak itu buni kato, jikok tando indak bajawek, mupakat alah di muaro, urang basiap kasadonyo, cukuik alat jo sanjato, kareh ka ditakiaknyo, lunak ka disudunyo, pulang maklum bakeh Mandeh.”
Mandanga kato Manti Tuo, manyahuik pulo Gondoriah, “Tuan Manti janyo denai, sarato mandeh kanduang denai, jiko bak itu buni rundiangan, batamu kareh samo kareh, alamat samo pacah-balah, budi bahaso kito pakai, dek inyo umbuak jo umbi, dek kito kato lamak manih. [ 148 ]baik pemerintahan dalam nagari, baik jodoh dan tunangan, kami sepakat tentang itu.
Namun nahkoda Malin Cik Ameh, orang kuasa dalam nagari, orang tinggi tampak jauh, emas perak banyak pada dirinya, sebuah tidak ada yang kurang, jika berat rasanya telah ringan, jika sempit rasa akan lapang, sukalah Mandeh tentang itu.”
Menjawab mandeh Ameh Manah, “Manalah manti dan pegawai, rundingan telah hamba dengar, rundingan elok rancak bunyi, hamba yang tidak dapat mengelak, tapi ada pula sedikit, tidaklah daya pada hamba, hanya pada si Gondoriah, denai tidak ikut serta tentang itu.”
Dipanggil malah Gondoriah, dikabarkan pesan jelas-jelas, apa maksud Malin Cik Ameh, lalu menjawab Nan Gondoriah, “Manalah Mandeh kandung denai, atau pun manti dan dubalang, usah asal menjawab saja, pertimbangkan malah dahulu, sebab selorong orang tersebut, diuji belum sama merah, ditimbang belum sama berat, belum kan lawan denai berdiri, belum kan kawan denai duduk, kawan seiring entah pun belum.
Jika kaya yang disebut, bukannya kaya Tuan Tongga, kaya dalam pelayaran, entah dapat samun sakar, entah dapat umbuk umbi, begitu pula Tuan Tongga, belum tentu kabar beritanya, tanda sebuah belum ada, bahwa ia hilang di laut, bahwa janjian yang telah sampai.
Mendengar kata seperti itu, termenung Manti Tuo, lalu berkata masa itu, “Manalah Mandeh kata hamba, berdua dengan Puti Gondoriah, kami ini orang suruhan, tidak pandang tentang itu, jika seperti itu bunyi kata, jika lamaran tidak berjawab, mufakat telah di muara, orang bersiap semuanya, cukup alat dan senjata, keras akan ditakiknya, lunak akan disudunya, pulang maklum pada Mandeh.”
Mendengar kata Manti Tua, menyahut pula Gondoriah, “Tuan Manti kata denai, serta mandeh kandung denai, jika seperti itu bunyi rundingan, bertemu keras dengan keras, alamat sama pecah belah, budi bahasa kita pakai, ia memakai umbuk umbi, kita memakai kata lemak manis. [ 149 ]Sabab baa dek bak itu, kilek baliuang alah ka kaki, kilek camin alah ka muko, kito maklum tantang itu, pandai-pandailah Tuan Manti, baiak Pangulu kasadonyo, pandai bamain minyak ayia, urang nagari patenggangkan pulo, bak ibarat maelo rambuik, nan rambuik jan putuih, nan tapuang jan taserak
Sungguahpun bak itu kato denai, putuihnyo bakeh Tuan juo, santano Tuan Anggun Tongga, pado pandapek denai surang, kaba dibaok dek Jurumudi, ado baudang di baliak batu, manyuruak di lalang sahalai, kito lah arif tantang itu.
Junjuangan denai hiduik mati, balunlah inyo kan baluak, balunlah inyo ka tatawan, sadang dipanggang inyo tak hanguih, namun dirandam inyo tak basah, kok di darek jadi harimau, di lawik jadi buayo gadang, bak mano pun parang basosoh, jankan inyo sampai mati, atau pun tatawan dek parampok, nan indak luko dek basi, nan indak sumbiang dek tarah, namun Tongga Magek Jabang, balunlah inyo sarupo itu.
Sabuah pulo saketek, adatnyo urang batunangan, sajak di rahim bundo kanduang, jikok tak surek dikirim, jikok tak garak jo garik, buruak baiak di rantau urang, alamat sabuah indak datang, indak mimpi denai nan buruak.
Baato kini nangko, kaba jauah Tuan Nangkodoh, muluik manih hatinyo busuak, sajak salangkah dari dandang, denai lah maklum tantang itu, alah mangguntiang dalam lipatan, alah manuhuak kawan sairiang, denai nan indak bodoh bana, usua pareso lai dibuek, dasahdasuih lai tadanga, kok picayo kito di sanan, baiak mandeh kanduang denai, baiak Manti jo Pangulu, baiak urang di nagari, alamat badan handam karam, alamat hancua Tiku Pariaman, pulang maklum di nan banyak, elok basaba kito dahulu, pandai-pandai bamain budi, di muko jan kalihatan”
Mandanga rundiangan Nan Gondoriah, tamanuang urang kasadonyo, labiahlah pulo Manti Tuo, diambiak sanan kato putuih, [ 150 ]Sebab mengapa begitu, kilat beliung telah ke kaki, kilat cermin telah ke wajah, kita maklum tentang itu, pandai-pandailah Tuan manti, baik penghulu semuanya, pandai bermain minyak air, orang nagari pertenggangkan pula, bak ibarat menghela rambut, yang rambut jangan putus, yang tepung jangan berserak.
Sungguh pun begitu kata denai, kata putus pada Tuan jua, sentana Tuan Anggun Tongga, pada pendapat denai seorang, kabar dibawa oleh juru mudi, ada berudang di balik batu, menyuruk di balik lalang sehelai, kita telah arif tentang itu.
Junjungan denai hidup mati, belumlah dia akan terbekuk, belumlah ia akan tertawan, sedang dipanggang ia ia tidak hangus, namun direndam ia takkan basah, kalau di darat jadi harimau, di laut jadi buaya besar, bagaimana pun perang bersosoh, jangankan ia akan mati, atau pun tertawan oleh perampok, yang tidak luka karena besi, yang tidak sumbingkarena ditarah, namun Tongga Magek Jabang, belumlah ia serupa itu.
Sebuah lagi yang sedikit, adatnya orang bertunangan, sejak di rahim bunda kandung, jika bukan surat yang dikirim, jika bukan geak dan gerik, buruk baik di rantau orang, alamat sebuah tidak datang, tidak ada mimpi denai yang buruk.
Bagaimana bisa sekarang, kabar jauh Tuan Nangkodoh, mulut manis hatinya busuk, sejak selangkah dari dandang, denai telah maklum tentang itu, telah menggunting dalam lipatan, telah menohok kawan seiring, denai yang tidak bodoh benar, usul periksa denai buat, desas desus denai dengar, kalau percaya kita pada hal itu, baik Mandeh kandung denai, baik Manti dan Penghulu, baik orang di nagari, alamat badan handam karam, alamat hancur Tiku Pariaman, pulang maklum pada orang banyak, baik bersabar kita dahulu, pandai-pandai bermain budi, di wajah jangan kelihatan.”
Mendengar rundingan Nan Gondoriah, termenung orang semuanya, terlebih pula Manti Tua, diambillah kata putus, [ 151 ]dapeklah kato samupakat, sanan bakato Manti Tuo, “Jikok bak itu rundiangan Mandeh, dek takuik darah ka taserak, tibo di rumah nan ka tandeh, tibo di badan nan ka sansai, dijawek juo tando nangko, kito buek janji jo padan, untuak mailakkan rundiangan nantun.
Baa sudahnyo rundiangan nangko, tasarah pado kito juo, katokan kito sadang susah, sadang barusuah hati kini, alah salamaik urang nan pai, patuik mandoa jo salawat, dibuek pulo rundiangan isuak, kok ado untuang jo janjian, judu ka mano kan painyo.”
Salasai rundiangan maso itu, babaliak pulang Manti Tuo, taruih manjalang karapatan, sarato Tuan Jurumudi, iyo di koto Pariaman, dikabakan mupakat maso itu. Dek pandai Manti Tuo, salamaik sajo parundiangan, basaba Nangkodoh tantang itu, nan jauah kok lai dakek, nan tinggi kok lai jatuah, judu ka mano kan hilangnyo, sanan bakato Tuan Jurumudi, “Manolah Tuan Manti Tuo, sarato Pangulu Niniak Mamak, jikok rundiangan alah saukua, sarato kito di balai nangko, ka bukik alah samo didaki, ka lurah alah samo manurun, asa jan barubah kudiannyo.”
Manjawab pulo Manti Tuo, “Manolah Tuan Jurumudi, usahlah Tuan cameh bana, santano inyo gadih ketek, aka balun pangana balun, pihak nan gadih Gondoriah, indak inyo ka mungkia janji, indak pulo inyo ka pai, lah dalam tangan Tuan juo.”
Mandanga di kato nantun, gadang angoknyo Tuan Jurumudi, sanang hatinyo sakutiko, labo lah raso dalam tangan, alah tabayang cando kulambu, kulambu suto Gondoriah, kan batuka cando judu, jikok dahulu Anggun Nan Tongga, kini jurumudi Malin Cik Ameh... [ 152 ]dapatlah kata mufakat, lalu berkata Manti Tuo, “Jika seperti itu rundingan Mandeh, karena takut darah akan terserak, tiba di rumah yang akan tandas, tiba di badan yang akan sansai, dijawab jua lamaran ini, kita buat janji dan padan, untuk mengelakkan rundingan ini.
Bagaimana sudahnya rundingan ini, terserah pada kita jua, katakan kita sedang susah, sedang berusuh hati kini, telah selamat orang yang pergi, patut mendoa dan bersalawat, dibuat pula rundingan besok, kalau ada untung dan janjian, jodoh tak kan ke mana perginya.”
Selesai rundingan masa itu, berbalik pulang Manti Tuo, terus menjelang kerapatan, serta tuan juru mudi, yaitu di Koto Pariaman, dikabarkan mufakat masa itu. Karena pandai Manti Tuo, selamat saja perundingan, bersabar nahkoda tentang itu, yang jauh kalau kan dekat, yang tinggi kalau kan jatuh, jodoh ke manalah kan hilangnya, lalu berkata tuan juru mudi, “Manalah Tuan Manti Tuo, serta Penghulu Ninik Mamak, jika rundingan telah seukur, serta kita di balai ini, ke bukit telah sama didaki, ke lurah telah sama menurun, asal jangan berubah akhirnya.”
Menjawab pula Manti Tuo, “Manalah Tuan juru mudi, usahlah Tuan cemas benar, sentana ia masih gadis kecil, akal belum ingatan belum, pihak nan gadis Gondoriah, tidak ia akan ingkar janji, tidak pula ia akan pergi, telah dalam genggaman Tuan jua.”
Mendengar kata tersebut, besar kepalanya tuan juru mudi, senang hatinya seketika, laba telah rasa dalam tangan, telah terbayang rupa kelambu, kelambu sutra Gondoriah, kan bertukar rupa jodoh, jika dahulu Anggun Nan Tongga, kini juru mudi Malin Cik Ameh… [ 153 ]Kualo Koto Tanau
Tinggalah kaba Jurumudi, dijapuik pulo Anggun Nan Tongga, sadang balayia maso itu, mancari mamak nan baduo, iyo mamak Mangkudun Sati, nan bagala Patiah Mangkudun, duo jo mamak Katik Intan.
Lorong kapado mamak Nangkodoh Rajo, duo jo si Bujang Salamat, manjadi wakia Nan Tongga, duduak mamarentah di nagari, iyo di pulau Binuang Sati, ado salamaik santoso sajo.
Lamo lambek dek balayia, tampaklah pulo pulau sabuah, jaleh kalihatan taluak likunyo, rancak pulau bukan saulah, mambiru nampak bukik barisan, mahijau candonyo batang karambia, masuaklah sanan Dandang Panjang, urang lah basiap kasadonyo, mangakok karajo surang-surang, basauah sanan Dandang Panjang.
Alah sabanta antaronyo, tando alamat alah diagiah, urang di darek sudah tahu, lah datang dandang sabuah, tampak takibar panji-panjinyo, tampak tahampa marawanyo, kuniang bacampua sirah, alamat rajo nan lah datang, antah Rajo dima garan.
Datang pulo sampan panggaleh, datang ka dakek Dandang Panjang, mambaok bamacam buah-buahan, lamak manih rasonyo, baso urangnyo elok-elok, tahu di gadang urang dagang, tando alamat nagari santoso. [ 154 ]KUALA KOTO TANAU
Tinggallah kaba juru mudi, dijemput pula Anggun Nan Tongga, sedang berlayar masa itu, mencari mamak yang berdua, yaitu mamak Mangkudun Sati, yang bergelar Patiah Mangkudun, berdua dengan mamak Katik Intan.
Lorong kepada mamak Nangkodoh Rajo, berdua dengan si Bujang Salamat, menjadi wakil Nan Tongga, duduk memerintah di nagari, yaitu di Pulau Binuang Sati, selamat dan sentosa saja.
Lambat laun dalam pelayaran, tampaklah pula sebuah pulau, jelas kelihatan liku teluknya, rancak pulau bukan buatan, membiru tampak bukit barisan, menghijau rupanya batang kelapa, masuklah Dandang Panjang ke sana, orang telah bersiap semuanya, memegang pekerjaan masing-masing, bersauh di sana Dandang Panjang. Telah sebentar antaranya, tanda alamat telah diberi, orang di darat telah tahu, telah datang sebuah dandang, tampak terkibar panji-panjinya, tampak terhampar benderanya, kuning bercampur merah, alamat raja telah datang, entah raja mana gerangan.
Datang pula sampan penggalas, datang ke dekat Dandang Panjang, membawa bermacam-macam buah-buahan, lemak manis rasanya, bahasa orangnya elok-elok, tahu kebesaran orang dagang, tanda alamat nagari sentosa. [ 155 ]Batanyo Nan Tongga maso itu, “Manolah Tuan urang manggaleh, bari luruih denai batanyo, denai ka mari sakali nangko, balun tahu saluak baluaknyo, usua pareso balun ado, nagari apo garan nangko, rancak nan bukan alang-alang, rami tampaknyo dari jauah, siapo namo rajo kito, apo pantangan urang di siko, cubo tarangkan bakeh denai.”
Maliek cando Nan Tongga, rupo nan jombang mudo matah, baso baiak roman katuju, nanpaknyo bukan sumbarang urang, antahnyo rajo ateh angin, sanan manjawab urang manggaleh, “Manolah Tuan janyo ambo, kok sutan kami pa sutan, kok rajo ampuni kami, dandang alah datang di siko, nampaknyo datang baiak-baiak, dangakan dek Tuan kami jalehkan, satantang pulau nan kalihatan, banamo pulau Ranggeh Suri, di bawah parentah urang malin, bagala Tuanku Panjang Jangguik, ketek banamo Katik Intan.
Namun nan pulau Ranggeh Suri, di bawah parentah hoto Tanau, rajo banamo sandirinyo, tidaklah rajo sunduik basunduik, rajonyo nan datang dari jauah, iyo datang dari Tiku Pariaman, baliau lah lamo tingga di siko, lah labiah duopuluah tahun, parentah elok bukan kapalang, adia musahua ah tabilang. Nan rajo dalam nagari, banamo Patiah Mangkudun, kok santano rajo kami, ado baranak surang parampuan, sadang gadih mudo jombang, banamo Santan Batapih.
Tuanku Rajo Mangkudun Sati, baranak pulo parampuan, nan banamo Puti Andami Sutan, sadang gadih mudo matah, laranglah urang kan judunyo, rancak tabarito nan ka langik, lah takaba dalam nagari, antah siakoh ka judunyo, antah koh rajo Pariaman, kami tak tahu tantang itu.”
Mandanga jawab nan bak kian, takajuik Anggun Nan Tongga, takajuik lalu tagamang darah, raso basuo nan dicari alah dapek nan disalami, kironyo salamaik samporono, jadi rajo di nagari urang, balain bana jo mamak Nangkodoh Rajo, lalu bakato hanyo lai, “Manolah Tuan urang manggaleh, alah batamu ruweh dangan buku, [ 156 ]Bertanya Nan Tongga masa itu, “Manalah Tuan orang menggalas, beri lurus denai bertanya, denai baru sekali ini ke mari, belum tahu seluk beluknya, usul periksa belum ada, nagari apakah gerangan ini, rancak yang bukan kepalang, tampak ramai dari kejauhan, siapa nama rajanya, apa pantangan orang di sini, coba terangkan pada denai.”
Melihat rupa Nan Tongga, rupa yang jombang muda belia, bahasa baik roman disukai, tampaknya bukan sembarang orang, entah dia raja atas angin, lalu menjawab orang menggalas, “ManalahTuan kata denai, kalau sutan kami panggil sutan, kalau raja ampuni kami, dandang telah sampai di sini, tampaknya datang baikbaik,dengarkan oleh Tuan kami jelaskan, setentang pulau yang kelihatan, bernama pulau Ranggeh Suri, di bawah perintah orang malin, bergelar Tuanku Panjang Jangguik, kecil bernama Katik Intan.
Namun Pulau Ranggeh Suri, di bawah perintah Koto Tanau, raja bernama sendirinya, yang datang dari jauh, yaitu dari Tiku Pariaman, beliau telah lama tinggal di sini, telah lebih dua puluh tahun tinggal di sini, perintah baik bukan kepalang, adil masyhur telah terbilang. Raja di dalam nagari, bernama Mangkudun Sati, yang bergelar Patiah Mangkudun. Sentana raja kami, beranak seorang perempuan, sedang gadis muda jombang, bernama Santan Batapih.
Tuanku Rajo Mangkudun Sati, beranak pula perempuan, yang bernama Puti Andami Sutan, sedang gadis muda belia, jaranglah orang kan jodohnya, cantik terberita sampai ke langit, telah terkabar dalam nagari, entah siapakah kan jodohnya, entah kah raja Pariaman, kami tak tahu tentang itu.
Mendengar jawaban seperti itu, terkejut Anggun Nan Tongga,terkejut lalu tergamang darah, rasa kan bersua apa yang dicari, telah dapat yang diselami, kiranya selamat sempurna, jadi raja di nagari orang, berlain benar dengan mamak Nangkodoh Rajo, lalu berkatalah ia, “Manalah Tuan orang menggalas, telah bertemu ruas dengan buku, [ 157 ]alah moh dapek nan dicari, mukasuik denai datang nangko, iyolah mancari urang malin, mukasuik salangkah dari kampuang, niat satapak dari rumah, handak mancari guru gadang, denai nak pai mangaji.
Kini tadanga kaba baiak, iyo di pulau Ranggeh Suri, ado Tuan guru basa, urang kiramat hiduik-hiduik, nan bagala Tuanku Panjang Jangguik, maso ketek banamo Katik Intan, kami barantilah di siko, mukasuik handak manjalang guru, niat mangaji jo baguru, mano rukun jo sarat kami panuhi.”
Bakato pulo urang manggaleh, “Sabuah lai Tuan nan datang, tantangan Puti rajo kami, nan banamo Andami Sutan salain musahua dek rancaknyo, ado pulo baburuang sikua, buruang nuri pandai bakato, bijak sarupo urang bana, kaba musahua tantang itu.”
Tambah takajuik Nan Tongga, nan diama raso kan pacah, nan diniat raso kan sampai, ciek dicari duo dapek, Iangkah suok talangkahkan, sananglah hati maso itu.
Alah sampai sahari duo hari, cukuik katigo hari ganok, datanglah utusan di nagari, datanglah Manti nan piawai, carano jo siriah salangkoknyo, usua pareso nan lah tibo, batanyo Manti nan piawai, “Manolah urang dalam dandang, jan Tuan salah tarimo, kami nangko pisuruah rajo, dari Tuanku Panjang Jangguik, apokoh namo dandang nangko, siapokoh nangkodohnyo, dari mano garan dandang batulak, apo mukasuik mangko datang?”
Sanan manjawab Nan Tongga, “Manolah Manti nan piawai, jikok itu Tuan tanyokan, dandang nan tidak banamo, alah batamu di tangah lawik, tiok pulau alah disinggahi, tidaklah tantu nan dituju, nangkodoh banamo Angku Pakiah, bak urang jolong malin, mukasuik kami ka mari nangko, mancari guru urang malin, iyo nak baraja jo baguru.
Kami alah mandanga juo, bahaso di siko ado guru, iyo Tuanku Panjang Jangguik, musahua alim jo adianyo, mukasuik hati nak [ 158 ]telah dapat apa yang dicari, maksud denai datang ke mari, hendak mencari orang malin, maksud selangkah dari kampung, niat setapak dari rumah, hendak mencari guru besar, denai hendak pergi mengaji.
Kini terdengar kabar baik, ialah di Pulau Ranggeh Suri, ada Tuan guru besar, orang keramat hidup-hidup, yang bergelar Tuanku Panjang Jangguik, masa kecil bernama Katik Intan, kami berhentilah di sini, maksud hendak menjelang guru, niat mengaji dan berguru, mana rukun dan syarat kami penuhi.”
Berkata pula orang menggalas, “Sebuah lagi Tuan yang datang, tentang puti Rajo kami, yang bernama Andami Sutan, selain mashur karena cantiknya, dia mempunyai seekor burung, burung nuri pandai berbicara, bijak serupa orang benar, kabarnya mashur karena itu.”
Tambah terkejut Nan tongga, yang dikandung rasa kan pecah, yang diniat rasa kan sampai, satu dicari dua yang didapat, langkah kanan terlangkahkan, senanglah hati masa itu.
Telah sehari dua hari, cukup tiga hari genap, datanglah utusan dari nagari, datanglah Manti Nan Piawai, cerana dan sirih selengkapnya, usul periksa yang telah tiba, bertanya Manti Nan Piawai, “Manalah orang dalam dandang, jangan Tuan salah terima, kami ini pesuruh raja, dari Tuanku Panjang Jangguik, apakah nama dandang ini, siapakah nahkodanya, dari mana gerangan dandang bertolak, apa maksud kedatangannya?”
Menjawablah Nan Tongga, “Manalah Manti Nan Piawai, jika itu yang Tuan tanyakan, dandang yang tidak bernama, telah bertemu di tengah laut, tiap pulau telah disinggahi, tidaklah tentu yang dituju, nahkoda bernama Angku Pakiah, seperti orang jolong malin, maksud kami ke mari ini, mencari guru orang malin, hendak belajar dan berguru.
“Kami telah mendengar juga, bahwa ada guru di sini, yaitu Tuanku Panjang Jangguik, mashur alim dan adil, maksud hati hendak [ 159 ]mangaji, pado Tuan Guru Malin, tolong malah sampaikan di Tuan."
Mandanga jawab Nan Tongga, sananglah hati Tuan Manti, salasai bahandai-handai, alah sudah rundiang barundiang, mamintak tolong Nan Tongga, dibaok kapado guru, iyo ka Tuanku Panjang Jangguik.
Alah salasai rundiangan nantun, turunlah ka darek Nan Tongga, cukuik jo pangiriang kasadonyo, langkok jo alat pasambahan, sarat jo rukun urang baguru. Dek lamo lambek nan bak kian, lah masuak ka nagari Ranggeh Suri, nagariaman santoso sajo, urang kampuang baiak baso, pandai batenggang anak dagang, ramiurang nan manyonsong, tacangang urang kasadonyo, rajo dimano nan lah datang, jaranglahsutan ka tandiangannyo, jaranglah putika judunyo, antah koh Puti Andami Sutan.
Bajalan juomaso itu, manuju surau Tuanku nantun, iyo Tuanku Panjang Jangguik, urang lah ramitangah laman, manyonsong datang Nan Tongga, nan bagala Angku Pakiah. Sadang kapado Tuan Guru, duduak mananti dalam mihrab, pakaian putiah basaroban, sadang mambilang-bilang sabiah, asyik mangaji jo bazikia, jangguik tajajak sampai ka lantai.
Mandanga urang alah datang, duduak sajo Tuan Guru, muko janiah roman katuju, urang basusun suok kida, dalam surau nan gadang nantun.
Alah datang Nan Tongga, ditakuakan kapalo nan satu, disusun lutuik nan duo, dijawek salam hanyo lai, dihidu pulo tapak tangan, alamat sukosuci hati, pasambahan ka tangah hanyo lai.
Alah sudah rundiang barundiang, tanyo batanyo baso-basi, tanyo tibo di Nan Tongga, "Manolah Tuan Guru kami, dagang lah sansai di lawitan, mukasuik mancari Tuan Guru, niat baraja jo baguru, habih bulan baganti bulan, bulan basalisiah dangan tahun, barulah denai tibo di siko, mukasuik salangkah dari rumah, niat nak mangaji jo baguru, Tuan tasabuik tabarito, murik lah banyak nan bakhatam, [ 160 ]mengaji, pada Tuan Guru Malin, tolong malah sampaikan oleh Tuan.”
Mendengar jawab Nan Tongga, senanglah hati Tuan Manti, selesai berhandai-handai, telah sudah runding-berunding, meminta tolong Nan Tongga, dibawa kepada guru, yaitu Tuanku Panjang Jangguik.
Telah selesai rundingan itu, turunlah Nan Tongga ke darat, cukup dengan pengiring semuanya, lengkap dengan alat persembahan, sarat dengan rukun orang berguru. Karena lambat laun seperti itu, telah masuk ke nagari Ranggeh Suri, nagari aman sentosa saja, orang kampung baik bahasa, pandai bertenggang anak dagang, ramai orang yang menyongsong, tercengang orang semuanya, raja mana yang telah datang, jaranglah sutan kan tandingannya, jaranglah puti kan jodohnya, entahkah Puti Andami Sutan.
Berjalan jua masa itu, menuju surau Tuanku, yaitu Tuanku Panjang Jangguik, orang telah ramai di tengah halaman, menyongsong datang Nan Tongga, yang bergelar Angku Pakiah. Sedangkan Tuan Guru, duduk menanti dalam mihrab, pakaian putih bersorban, sedang membilang-bilang tasbih, asyik mengaji dan berzikir, janggut terjejak sampai ke lantai.
Mendengar orang telah datang, duduk saja Tuan Guru, muka jernih roman disukai, orang bersusun kanan kiri, dalam surau yang besar tersebut.
Telah datang Nan Tongga, ditekukkan kepala yang satu, disusun lutut yang dua, lalu dijawablah salam, dicium pula telapak tangan, alamat suka suci hati, persembahan dibawa ke tengah.
Telah selesai runding-berunding, tanya-bertanya basa basi, tanya datang dari Nan Tongga, “Manalah TuanGuru kami, dagang telah sansai di lautan, maksud mencari Tuan Guru, niat belajar dan berguru, habis bulan berganti bulan, bulan berselisih dengan tahun, barulah denai sampai di sini, maksud selangkah dari rumah, niat hendak mengaji dan berguru, Tuan tersebut terberita, murid telah banyak yang berkhatam, [ 161 ]denai surang nan balun sato.
Tapi samantangpun bak itu, denai mandanga kaba baiak, tantang curito Tuan Guru, Tuan bukan urang di siko, Tuan barasa dari Pariaman, bari luruih denai batanyo, jan Tuan salah sangko, dek denai bakato nantun, denai nangko urang Pariaman, jadi saasa jo Tuan Guru, antah kito badakek kampuang, antah kito tali batali, cubo tarangkan bakeh denai.”
Baru mandanga di kato nantun, takajuik sanan Tuan Guru, tasirok cando darah di dado, mandanga namo Pariaman, lalu manjawab hanyo lai, “Manolah Rang Mudo janyo denai, alah salaruik salamo rangko, balun parnah urang ka mari, kini Tuan sudah datang, etan nan dari Pariaman.
Pado maso dahulunyo, kami balimo badunsanak, nan batigo laki-laki, nan tuo Mangkudun Sati, nan tangah Nangkodoh Rajo, nan ketek si Katik Intan. Adiak baduo parampuan, nan tuo si Ganto Pamai, nan ketek si Suto Suri, urang nan jombang dalam nagari. Kok santano Ganto Pamai, inyo alah basuami, iyo jo Urang Malin Gadang, nan bagala Tuanku Haji Mudo, kini batarak di Gunuang Ledang.
Nan banamo Nangkodoh Rajo, inyo alah barumah tanggo, basumando ka kampuang Tiku, dangan Puti Ameh Manah, sudah baranak surang parampuan, nan banamo Puti Gondoriah. Sadang nan gadih Ganto Pamai, sadang dalam baban barek, pado maso kutiko itu, kami batigo pai balayia, mancari untuang jo rasaki.
Alah lamo lambek marantau, dapek rasaki sagalo saketek, baniatlah kami pulang baliak, malang jo mujua tidak bacarai, sampai di tangah lawik gadang, dakek pulau Binuang Sati, datanglah panyamun parampok lanun, kami dirampeh jo disangka, Nangkodoh Rajo dapek ditangkok, kami baduo lai lapeh, sampailah kami di nagari nangko.
Baato tantang Nangkodoh Rajo, kami tidak baruliah buni, kami tidak dapek kaba, antah lai hiduik antah mati, bak itu pulo [ 162 ]denai seorang yang belum ikut serta.
Namun walaupun demikian, denai mendengar kabar baik, tentang cerita Tuan Guru, Tuan bukan orang sini, Tuan berasal dari Pariaman, beri lurus denai bertanya, jangan salah sangka, karena denai berkata demikian, denai ini orang Pariaman, jadi seasal dengan Tuan Guru, entah kampung kita berdekatan, entah kita tali bertali, coba terangkan pada denai.”
Baru mendengar kata tersebut, terkejutlah Tuan Guru, tersirap rupa darah di dada, mendengar nama Pariaman, lalu menjawablah ia, “Manalah Orang Muda kata denai, telah selarut selama ini, belum pernah orang ke mari, kini Tuan telah datang, ialah dari Pariaman.
Pada masa dahulunya, kami berlima berdansanak, yang bertiga laki-laki, yang tua Mangkudun Sati, yang tengah Nangkodoh Rajo, yang kecil Katik Intan. Adik perempuan berdua, yang tua si Ganto Pamai, yang kecil Suto Suri, orang yang jombang dalam nagari. Kalau sentana Ganto Pamai, dia telah bersuami, dengan seorang malin besar, yang bergelar Tuanku Haji Mudo, sekarang bertarak di Gunung Ledang.
Yang bernama Nangkodoh Rajo, telah berumah tangga, bersemenda ke kampung Tiku, dengan Puti Ameh Manah, sudah beranak seorang perempuan, yang bernama Puti Gondoriah. Sedang yang gadis Ganto Pamai, sedang mengandung pada masa itu, ketika kami bertiga pergi berlayar, mencari untung dan rezeki.
Lambat laun merantau, dapat rezeki sedikit, berniatlah kami pulang kembali, malang dan mujur tidak bercerai, sampai di tengah laut luas, dekat Pulau Binuang Sati, datanglah penyamun perompak lanun, kami dirampas dan dikurung, Nangkodoh Rajo ditawan, kami berdua melarikan diri, sampailah kami ke nagari ini.
Bagaimana kabar Nahkodoh Rajo, kami tidak beroleh bunyi, kami tidak dapat kabar, entah masih hidup entah mati, begitu pula [ 163 ]kaba urang di kampuang. Hanyo ado nan sabuah, kutiko kami pai balayia, kami maninggakan pasan sabuah, kok santano lahia paja ketek, anak adiak Gnto Pamai, kok padusi namokan ma nan elok, tapi kok laki-laki namokan inyo Si Tongga. Dek lamo tangka batangka, kasadonyo maagiah namo, lakeklah namo tigo bualý, iyo Si Tongga Magek Jabang, nan bagala Magek Durahman.
Baa kaba salanjuiknyo, kami tidak mandanga lai, usua pareso tidak ado, rintang dek untuang surang-surang, lai dicubo mambaok pasan, pasan nan tidak kunjuang sampai.” Mandanga kato nan damikian, giriang gumiriang ayia mato, lah manangih Nan Tongga, urang tacangang kasadonyo, tidak tantu nan ka disabuik, apo mulo karanonyo, mangko Nan Tongga alah manangih.
Alah salasai candonyo hati, manungkuik sanan Nan Tongga, marayok kapado mamak kanduang, lalu bakato maso itu, “Ampunilah denai mamak kanduang, ambolah banamo Anggun Tongga, iyo Nan Tongga Magek Jabang, nan bagala Magek Durahman, anak mandeh Ganto Pamai, kamanakan kanduang Mamak juo.”
Mandanga di kato nantun, alah batangisan sakali lai, samo taisak urang nan banyak, kamanakan kanduang malah nan datang, iyo mancari mamak kanduang, bukannyo pakiah datang mangaji, nan banamo Anggun Tongga, intan sumarak Tiku Pariaman, mudo nan jombang dalam nagari, basuko hati urang kasadonyo.
Sanan bakato Nan Tongga, “Manolah Mamak janyo denai, tantang mamak Nangkodoh Rajo, baliau sudah denai cari, sadang tatawan Palimo Bajau, etan di pulau Binuang Sati, parang basosoh kami di sanan, dek untuang nan ka baiak, dek parmintaan Mamak juo, mananglah denai di parang nantun. Palimo Bajau alah mati, mamak kironyo lai hiduik, sadang dalam bakabek rantai, lihia bapalanggu rantai pulo, kini baliau alah sehat, sadang mananti di Binuang Sati, denai rajokan baliau di sanan.” [ 164 ]kabar orang di kampung. Hanya saja ada yang sebuah, ketika kami pergi berlayar, kami meninggalkan sebuah pesan, kalau sentana lahir paja kecil, anak adik Ganto Pamai, kalau perempuan namakan mana yang elok, tapi kalau laki-laki, namakan dia si Tongga. Karena lama tengkar-bertengkar, semuanya memberikan nama, lekatlah nama tiga buah, yaitu si Tongga Magek Jabang, yang bergelar Magek Durahman.
Bagaimana kabar selanjutnya, kami tidak mendengar lagi, usul periksa tidak ada, rintang karena nasib sendiri-sendiri, pernah dicoba membawa pesan, pesan yang tidak kunjung sampai.” Mendengar kata seperti itu, beriring-iring air mata, telah menangis Nan Tongga, orang tercengang semuanya, tidak tahu apa yang akan disebut, apa mula karenanya, maka Nan Tongga telah menangis.
Telah selesai rupanya hati, menelungkuplah Nan Tongga, merayap kepada mamak kandung, lalu berkata masa itu, “Ampunilah denai Mamak kandung, hambalah yang bernama Anggun Tongga, yaitu Nan Tongga Magek Jabang, yang bergelar Magek Durahman, anak mandeh Ganto Pamai, kemenakan kandung mamak juga.”
Mendengar kata tersebut, telah bertangisan sekali lagi, sama terisak orang yang banyak, kemenakan kandung malah yang datang, mencari mamak kandung, bukan fakih datang mengaji, yang bernama Anggun Tongga, intan semarak Tiku Pariaman, muda nan jombang dalam nagari, bersuka hati orang semuanya.
Berkatalah Nan Tongga, “Manalah Mamak kata denai, tentang mamak Nangkodoh Rajo, beliau sudah denai cari, sedang tertawan Palimo Bajau, di Pulau Binuang Sati, perang bersosoh kami di sana, karena untung yang sedang baik, karena permintaan Mamak jua, menanglah denai di perang itu. Palimo Bajau telah mati, mamak kiranya masih hidup, sedang dalam berikat rantai, leher berbelenggu rantai pula, kini beliau telah sehat, sedang menanti di Binuang Sati, denai rajakan beliau di sana.” [ 165 ]Mandanga kato nan bak kian, sananglah hatí Katik Intan, alah tahapuih malu di kaniang, kironyo kamanakan lah gadang, lawitan sudah disawangnyo, mancarí mamak nan batigo, hilang nan sudah dicarinyo, luluih nan sudah disilaminyo, mangucap syukur maso itu.
Alah sahari duo hari, alah sanmpai pulo tujuah hari, Nan Tongga tingga di sanan, iyo di Pulau Ranggeh Suri, muloi dapek baso-basi, iyo jo Puti Santan Batapih, anak mamak Katik Intan, surang gadih surang bujang, samo elok kaduonyo, awak basaluak baluak pulo.
Adolah pado suatu hari, hari nan sadang barambang patang, duduak tamanuang Nan Tongga, pangana hilang- hilang timbua, pikiran samak-samak ragu, datanglah sanan Santan Batapih, satu tibo inyo batanyo, “Manolah Tuan kanduang denai, Tuan Nan Tongga Magek Jabang, apokoh sabab Tuan tamanuang, apo nan marusuah dalam hati, pangana tampaknyo hilang-hilang timbua, sakik damam garangan Tuan, sakik tabaok dari Pariaman, dangakan malah pantun denai,
Jikok manabang batang kamuniang
Jan dikabek jo daunnyo;
Jikok Tuan ngilu paniang
Di siko cari ubek tawanyo.”
Manjawab sanan Nan Tongga
“Pandan tajamua di subarang
Jan ditabang dangan parang:
Denai nangko dagang tabuang
Tidak laku di rantau urang.
Dangakan bana di Adiak kanduang, nak jaleh kaba ciek-ciek, sajak salangkah dari kampuang, sajak bajalan dari rumah, niat mancari mamak kanduang, nan baduo alahnyo basuo, surang balun lai batamu, kaba baiak alah tadanga, mamak manjadi Rajo Basa, iyo di kualo Koto Tanau, nan bagala Patiah Mangkudun, mukasuik hati nak ka kian, alah basuo mamak kanduang, baru ka sanang dalam hati. [ 166 ]Mendengar kata seperti itu, senanglah hati Katik Intan, telah terhapus malu di kening, kiranya kemenakan telah besar, lautan telah dilayarinya, mencari mamak yang bertiga, hilang yang sudah dicarinya, tenggelam telah diselaminya, mengucap syukur masa itu.
Telah sehari dua hari, telah sampai pula tujuh hari, Nan Tongga tinggal di sana, yaitu di Pulau Ranggeh Suri, mulai dapat berbasa basi, yaitu dengan Puti Santan Batapih, anak mamak Katik Intan, seorang gadis seorang bujang, sama elok keduanya, awak berseluk beluk pula.
Adalah pada suatu hari, hari yang sedang berembang petang, duduk termenung Nan Tongga, ingatan hilang-hilang timbul, pikiran samak-samak ragu, datanglah Santan Batapih, begitu datang ia bertanya, “Manalah Tuan kandung denai, Tuan Nan Tongga Magek Jabang, apakah sebab Tuan termenung, apa yang merusuh dalam hati, ingatan tampaknya hilang-hilang timbul, sakit demam gerangan Tuan, sakit terbawa dari Pariaman, dengarkanlah malah pantun denai,
- Jika menebang batang Kemuning
- Jangan diikat dengan daunnya;
- Jika Tuan ngilu pening
- Di sini cari obat penawarnya.”
- Menjawablah Nan Tongga,
- “Pandan terjemur di seberang
- Jangan ditebang dengan parang;
- Denai ini dagang terbuang
- Tidak laku di rantau orang.”
Dengarkan benar Adik kandung, biar jelas kabar satu persatu, sejak selangkah dari kampung, sejak berjalan dari rumah, niat mencari mamak kandung, yang berdua telah bersua, seorang belum lagi bertemu, kabar baik telah terdengar, mamak menjadi Rajo Basa, yaitu di kuala Koto Tanau, yang bergelar Patiah Mangkudun, maksud hati hendak ke sana, setelah bertemu mamak kandung, baru kan senang dalam hati.
155
nuri pandai bakato, denai sudah dapek buni, ado di siko buruang nantun, etan di kualo Koto Tanau.
Jikok Adiak paibo, antakan denai malah ka sanan, denai urang baru datang, alun tahu di baso-basi, nak jan salah tadorong sajo, itulah garan nan denai manuangkan.”
Mandanga kato nan bak kian, sananglah raso dalam hati, dibuek mupakat jo rundiangan, pai ka kualo Koto Tanau, iyo ka rumah Puti Andami Sutan, anak mamak Patiah Mangkudun, handak mancari buruang nuri, sambia basuo jo mamak kanduang.
Putuih rundiangan maso itu, dinminta izin jo rilah, kapado mamak Katik Intan, mukasuik manjalang manmak kanduang, etan di kualo Koto Tanau. Alah cukuik sado nan paralu, baiak bareh dangan baka, maangkek sauah Dandang Panjang, malatuih mariam tigo kali, alamat Nan Tongga ka bajalan, tibo angin dari buritan, dandang balayia hanyo lai, Alah sahari duo hari, balun sampai hari katujuah, tampaklah kualo Koto Tanau, kalihatan nagari Andami Sutan, Nan
Tongga tagak di pamareh, tagak maninjau ka daratan, lah datang pulo Santan Batapih, bakato inyo maso itu, “Tuan Tongga janyo denai, lah tampak kualo Koto Tanau, kalihatan nagari Andami Sutan, Puti jombang bukan kapalang, denai talaruik kini nangko, bak kato pantun juo,
- Baju biludu basuji ameh
- Buatan nak rang Pariaman;
- Hati nan harok-harok cameh
- Buruang kok lapeh dari tangan.”
Nan Tongga indak manjawab, hanyo tasengeng galak sajo, dandang batambah dakek juo, dandang lah masuak di kualo, iyo di kualo Koto Tanau, dilatuihkan mariam tigo pucuak, takajuik urang di nagari, siapokoh garan urang nan datang, musuah koh datang manyarang, atau koh saudagar handak baniago, tibo pareso jo siasek.
156
nuri pandai berbicara, denai sudah dapat kabar, ada di sini burung itu, yaitu di kuala Koto Tanau. Jika adik pengiba, antarkan malah denai ke sana, denai orang baru datang, belum tahu di basa-basi, supaya jangan salah terdorong saja, itulah gerangan yang denai menungkan.”
Mendengar kata yang seperti itu, senanglah rasa dalam hati, dibuat mufakat dan rundingan, pergi ke kuala Koto Tanau, ialah ke rumah Puti Andami Sutan, anak mamak Patiah Mangkudun, hendak mencari burung nuri, sambil bertemu mamak kandung.
Putus rundingan masa itu, diminta izin dan rela, kepada mamak Katik Intan, maksud menjelang mamak kandung, yaitu di kuala Koto Tanau. Telah cukup semua yang diperlukan, baik beras dan bekal, mengangkat sauh Dandang Panjang, meletus meriam tiga kali, alamat Nan Tongga akan berjalan, tiba angin dari buritan, dandang pun berlayarlah.
Telah sehari dua hari, belum sampai hari ketujuh, tampaklah kuala Koto Tanau, kelihatan nagari Andami Sutan, Nan Tongga berdiri di geladak, berdiri meninjau daratan, telah datang pula Santan Batapih, berkata ia masa itu, “Tuan Tongga kata denai, telah tampak kuala Koto Tanau, kelihatan nagari Andami Sutan, puti jombang bukan kepalang, denai terlarut sekarang ini, bak kata pantun jua,
- Baju beludru bersuji emas
- Buatan nak rang Pariaman;
- Hati yang harap-harap cemas
- Kalau burung lepas dari tangan.”
Nan Tongga tidak menjawab, hanya gelak tersenyum saja, dandang bertambah dekat jua, dandang telah masuk di kuala, yaitu kuala Koto Tanau, diletuskan meriam tiga pucuk, terkejut orangdi nagari, siapakah gerangan orang yang datang, musuhkah datang menyerang, ataukah saudagar hendak berniaga, datang periksa dan siasat.
157
datang Syahbanda palabuhan, naiak ka ateh Dandang Panjang, tanyo tibo di Nan Tongga, “Manolah Tuan nan baru datang, bari luruih kami batanyo, dandang siapo iko nan datang, datang dari mano batulaknyo, siapo nangkodoh dalam dandang, apo puio mukasuik ka mari?”
Lalu manjawab Nan Tongga, “Manolah Tuan Manti nan piawai, Tuan Syahbanda Palabuahan, dandang banamo Dandang Panjang, aso mulo batulaknyo, iyo di kualo Banda Teleng, dalam ranah koto Pariaman, kami alah sampai ka kian, iyo di pulau Ranggeh Suri.
Kami nangko datang ka mari, utusan Tuanku Panjang Jangguik, manamui Tuanku Patiah Mangkudun, sarato anak rajo kami, nan banamo Santan Batapih, jikok nangkodoh ditanyokan, iyo Nan Tongga Magek Jabang, nan bagala Magek Durahman.”
Tadanga jawab nan bak kian, sananglah hati urang nan datang, babaliak turun hanyo lai, disampaikan bakeh rajonyo, bahaso utusan malah nan datang, dari Tuanku Panjang Jangguik, banamo Nan Tongga Magek Jabang.
Satu mandanga namo nantun, tasirok malah darah di dado, hati nan tidak sanang lai. Alah sampai maso kutikonyo, disuruah manti jo dubalang, manyonsong tamu nan datang, iyo Anggun Nan Tongga, allahurabbi raminyo urang, takambang payuang sunsang kuniang, alamat rajo nan lah datang. cukuikjo alat kabasaran, silek galombang ado pulo, gandang talempong jan disabuik, raso kan luluih Koto Tanau.
Sampailah garan di ustano rajo, sambuik basambuik adat limbago, masuaklah Nan Tongga maso itu, datang maadok mamak kanduang, bajawek salam hanyo lai, alah sudah kaba bakaba, tando alamat baso-basi, sanan batanyo Patiah Mangkudun, “Manolah Rang Mudo nan baru datang, jan Tuan salah tarimo, kaba barito nan denai danga, Tuan nan baru datang di siko, sajak samulo dandang batulak,
158
datang syahbandar pelabuhan, naik ke atas Dandang Panjang, bertanya pada Nan Tongga, “Manalah Tuan yang baru datang, beri lurus kami bertanya, dandang siapakah ini yang datang, datang dari mana bertolaknya, siapa nahkoda dalam dandang, apa pula maksud ke mari?”
Lalu menjawab Nan Tongga, “Manalah Tuan Manti Nan Piawai, Tuan Syahbandar pelabuhan, dandang bernama Dandang Panjang, asal mula bertolaknya, ialah kuala Banda Teleng, dalam ranah koto Pariaman, kami telah sampai ke sana, yaitu ke Pulau Ranggeh Suri.
Kami ini datang ke mari, utusan Tuanku Panjang Jangguik, menemui Tuanku Patiah Mangkudun, serta anak raja kami, yang bernama Santan Batapih, jika nahkoda ditanyakan, ialah Nan Tongga Magek Jabang, yang bergelar Magek Durahman.”
Mendengar jawaban seperti itu, senanglah hati orang yang datang, berbalik turunlah mereka, disampaikan kepada rajanya, bahwa utusan malah yang datang, dari Tuanku Panjang Jangguik, bernama Nan Tongga Magek Jabang.
Begitu mendengar nama itu, tersirap malah darah di dada, hati yang tidak lagi senang. Telah sampai masa ketikanya, disuruh manti dan dubalang, menyongsong tamu yang datang, yaitu Anggun Nan Tongga, allahurabi ramainya orang, terkembang payung sungsang kuning, alamat raja yang telah datang, cukup dengan alat kebesaran, silat gelombang ada pula, gendang talempong jangan disebut, rasa kan luluh Koto Tanau.
Sampailah gerangan di istana raja, sambut bersambut adat lembaga, masuklah Nan Tongga masa itu, datang menghadap mamak kandung, berjawab salamlah mereka, telah sudah kabar berkabar, tanda alamat basa-basi, lalu bertanya Patiah Mangkudun, “Manalah Orang Muda yang baru datang, kabar berita denai dengar, Tuan yang baru datang di sini, sejak semula dandang bertolak, ialah dari
159
tingga di siko, dek elok untuang jo bagian, dapek jadi Rajo Basa.
Kutiko denai mulo batulak, dari kamnpuang tampek lahia, denai maninggakan adiak surang, nan banamo si Ganto Pamai, adiak tingga sadang barek, denai bapasan maso nantun, kok lahia anak laki-laki, bari banamo Anggun Nan Tongga, dek kami banyak badunsanak, banyak namo nan dibari, sahinggo namo alah barubah, banamo Tongga Magek Jabang, urang banyak nan sanamo, urang banyak nan sarupo, kok sasek bari kami maat, kok salah jan masuak hati. “
Manjawab sanan Nan Tongga, “Mamak kanduang janyo denai, tidaklah Mamak salah siasek, denai banamo Anggun Nan Tongga Magek Jabang, nan bagala Magek Durahman, ayah bagala Tuanku Haji Mudo, nan batarak di Gunuang Ledang. Mamak nan hilang lah denai cari, tidak paduli lawik gadang, tidak tantu pulau balarangan, kini mamak alah basuo.
Gadanglah hati maso itu, maliek cando kamanakan, lah jadi urang mudo matah, roman baiak baso katuju, jaranglah sutan ka tandiangannyo, antah kok rajo ateh angin, jaranglah puti ka judunyo, antah kok Puti Andami Sutan. Dihimbau sanan anak kanduang, nan banamo Puti Andami Sutan, “Anak kanduang Andami Sutan, ka mari malah Anak duduak, dunsanak nan alah datang, dari koto rang Pariaman.”
Alah datang Andami Sutan, diiriangkan si Kambang nan batigo, roman nan malu-malu sirah, maklum mudo samo mudo, tagijau hati Nan Tongga, maliek roman Andami Sutan, tasirok darah Andami Sutan, maliek jombang Nan Tongga, samo manakua kaduonyo.
Sadang dek Puti Santan Batapih, mancaliak gendeng jauah sajo, hati di dalam tidak sanang lai, raso ka lapeh buruang di tangan, buruang di sangka nan ka tabang, tidak diharok pulang lai.
160
di sini, karena elok untung dan bagian, dapat menjadi Rajo Basa.
Ketika denai mula bertolak, dari kampung tempat lahir, denai meninggalkan adik seorang, yang bernama Ganto Pamai, adik tinggal sedang mengandung, denai berpesan masa itu, kalau lahir anak laki-laki, beri nama Anggun Nan Tongga, karena kami banyak berdunsanak, banyak nama yang diberi, sehingga nama telah berubah, bernama Tongga Magek Jabang, orang banyak yang senama, kalau sesat beri kami maaf, kalau salah jangan masuk hati.”
Menjawablah Nan Tongga, “Mamak kandung kata denai, tidaklah mamak salah siasat, denai bernama Anggun Nan Tongga Magek Jabang, yang bergelar Magek Durahman, ayah bergelar Tuanku Haji Mudo, yang bertarak di Gunung Ledang. Mamak yang hilang telah denai cari, tidak peduli laut luas, tidak tahu pulau berlarangan, kini mamak telah bersua.”
Besarlah hati masa itu, melihat rupa kemenakan, telah menjadi orang muda belia, roman baik bahasa disukai, jaranglah sutan kan tandingannya, entah kalau raja atas langit, jarangkan puti kan jodohnya, entah kalau Puti Andami Sutan.
Dipanggillah anak kandung, yang bernama Puti Andami Sutan, “Anak kandung Andami Sutan, ke mari malah anak duduk, dansanak yang telah datang, dari koto orang Pariaman.”
Telah datang Andami Sutan, diiringkan si Kambang yang bertiga, roman yang malu-malu merah, maklum muda sama muda, tergagap hati Nan Tongga, melihat roman Andami Sutan, tersirap darah Andami Sutan, melihat jombang Nan Tongga, sama menekur keduanya.
Sedangkan Puti Santan Batapih, melihat gendeng jauh saja, hati di dalam tidak lagi senang, rasa kan lepas burung di tangan, burung di sangkar yang akan terbang, tidak diharap pulang lagi.
161
manyasa badan maantakan, sarupo baantakan baluik ka liangnyo, awak lah lapeh hawo sajo. Tapi samantangpun bak itu, sungguahlah ramuak dalam hati, di muko tidak kalihatan, dibujuak sajo hati nan ibo, nan bak buni pantun:
- Balam timbago tigo gayo
- Hinggok sikua di rumpun aua;
- Urang ameh awak timbago
- Dima buliah bacampua baua.
Alah salamo lambek di sanan, alah dapek baso-basi, diajuak paratian surang-surang, hati batambah laruik juo, hati lakek mato lah kanai, iyo bak bana pantun urang:
- Lapehlah ayam di pautan
- Lapehnyo batali sirah;
- Lah lengah dek Andami Sutan
- Lah lupo Nan Gondoriah.
Alah acok basuo-suo, alah acok batamu muko, gilo bahandaihandai juo, lah tahu babaleh-baleh pantun, tapi samantangpun bak itu, jikok diliek hati nurani, kok dibalah jantuang Nan Tongga, samiang tidak barasak, sakalam tidak nyo manyimpang, pangana ka Nan Gondo juo, hanyo baato hanyo lai, buruang nuri pandai bakato, sarato baruak pandai bakucapi, sarato cindai panjang duobaleh, habih balungguak pado Andami.
Kahandak hati Gondorialh, sulik rasonyo ka maminntak, kok dimintak barang nantun, urang tidak suko maagiah, kok dibali barang nantun, urang tidak namuah manjua, kok dirampeh barang nantun, alangkoh jangga dicaliak urang, ka mari rumik ka mari bedo.
Jikok barang tidak dapek, pulang bahampo tangan sajo, dadak mananti di tampuruang. karih basilang muko pintu, kabek arek nan ka ungkai, malu gadang nan ka dapek, etongan bulek di awak surang, tidak siapo kan manolong,
162
menyesal badan mengantarkan, serupa mengantarkan belut ke liangnya, awak sudah melepas hawa saja. Tetapi walaupun begitu, sungguhlah remuk dalam hati, di wajah tidak kelihatan, dibujuk saja hati yang iba, yang bak bunyi pantun,
- Balam tembaga tiga gaya
- Hinggap seekor di rumpun aur;
- Orang emas awak tembaga
- Mana boleh bercampur baur.
Setelah lambat laun di sana, telah dapat basa basi, diajuk perhatian sendiri-sendiri, hati bertambah larut jua, hati lekat mata telah kena, seperti pantun orang benar,
- Lepaslah ayam di pautan
- Lepasnya bertali merah;
- Telah lengah oleh Andami Sutan
- Telah lupa Nan Gondoriah.
Setelah sering bersua, telah sering bertemu muka, gila berhandai-handai jua, telah tahu berbalas-balas pantun, tapi walaupun demikian, jika dilihat hati nurani, kalau dibelah jantung Nan Tongga, semiang tidak beranjak, sekalam tidak ia menyimpang, ingatan ke Nan Gondo jua, hanya bagaimanalah ini, burung nuri pandai berbicara, serta beruk pandai berkecapi, serta cindai panjang dua belas, habis berlonggok pada Andami.
Kehendak hati Gondoriah, sulit rasanya kan meminta, kalau diminta barang itu, orang tidak suka memberi, kalau dibeli barang itu, orang tidak mau menjual, kalau dirampas barang itu, alangkah janggal dilihat orang, ke mari rumit ke mari susah.
Jika barang tidak dapat, pulang dengan tangan hampa, dadak menanti di tempurung, keris bersilang di muka pintu, simpul erat yang akan diungkai, malu besar yang akan dapat, hitungan bulat di awak sendiri, tidak siapa kan menolong.
163
“Manolah Tuan kanduang denai, apokoh sabab karanonyo, pikiran Tuan hilang-hilang timbua, pangana Tuan tidak batantu, sarupo banang dilendo ayam, cubo tarangkan pado denai, namonyo urang badunsanak, kurang kok dapek denai tukuak, atau koh kurang di balanjo, cubo tarangkan bakeh denai.”
Manjawab sanan Nan Tongga, “Adiak denai Andami Sutan, kato Adiak alah sabananyo, sajak sapakan nan lalu, hati nan tidak sanang lai, bukannyo kurang dek balanjo, bukannyo senteng dek kain baju, bukannyo pulo sakik damam, hanyo saketek nan marusuah.”
Bakato pulo Andami Sutan, “Tuan Tongga janyo denai, sumarak urang Kampuang Dalam, jikok bana Tuan sakik damam, sakik tabaok nan dari Tiku, damam tabaok dari Pariaman, dukun indak ado kan maubek. Tapi samantang pun bak itu, cubo Tuan jalehkan ka denai, mungkin denai dapek manalong, kok sakik denai carikan ubek, kok damam denai carikan tawa, namun ubek nan indak samo, bak calak-calak ganti asah, samantaro tukang alun tibo. Tuan nan jan malu-malu, Tuan jan ragu sagan, sajak samulo Tuan datang, indak dianggap urang lain, labiah nan dari badunsanak kanduang”
Manjawab pulo Tuan Tongga, “Adiak kanduang Andami Sutan, danga bana elok-elok:
- Lah tinggi rumpuik dari banto
- Pandan tajalo di subarang;
- Raso mati dek bacinto
- Buruang di dalam tangan urang.
Galak tasanyum Andami Sutan, pantun dibaleh dangan pantun,
- “Rami pasanyo Batusangka
- Rami dek anak Saruaso;
- Buruang takuruang dalam sangka
- Sangkanyo ameh Tuan nan punyo.” [ 176 ]Dalam berintang-rintang jua, tanya datang dari Andami
Sutan, “Manalah Tuan kandung denai, apakah sebab karenanya, pikiran Tuan hilang-hilang timbul, ingatan Tuan tidak menentu, serupa benang dilanda ayam, coba terangkan pada denai, namanya orang berdansanak, kurang kok dapat denai tambah, ataukah kurang di belanja, coba terangkan pada denai.”
Menjawablah Nan Tongga, “Adik denai Andami Sutan, kata Adik sudah sebenarnya, sejak sepekan yang lalu, hati tidak senang lagi, bukannya kurang karena belanja, bukannya senteng karena kain baju, bukan pula sakit demam, hanya sedikit yang merusuh.”
Berkata pula Andami Sutan, “Tuan Tongga kata denai, semarak orang Kampuang Dalam, jika benar Tuan sakit demam, sakit terbawa nan dari Tiku, demam terbawa dari Pariaman, dukun tidak ada yang akan mengobat. Tetapi walaupun begitu, coba Tuan jelaskan pada denai, mungkin denai dapat menolong, kalau sakit denai carikan obat, kalau demam denai carikan penawar, namun obat yang tidak sama, bak calak ganti asah, sementara tukang belum tiba, Tuan yang jangan malu-malu, Tuan jangan ragu segan, sejak semula Tuan datang, tidak dianggap orang lain, lebih dari berdansanak kandung.”
Menjawab pula Nan Tongga, “Adik kandung denai Andami, coba dengar benar baik-baik,
Telah tinggi rumput dari banto(8 Pandan terjela di seberang; Rasa mati karena cinta Burung di dalam tangan orang.”
Gelak tersenyum Andami Sutan, pantun dibalas dengan pantun,
- “Ramai pasarnya Batusangkar
- Ramai karena anak Saruaso(9;
- Burung terkurung dalam sangkar
- Sangkarnya emas Tuan yang punya.
:8. rumput banto
- 9 . nama daerah [ 177 ]Bakato pulo Nan Tongga, “Manolah adiak Andami Sutan,
sajak salangkah dari kampuang, sajak samulo dagang kan bajalan, mukasuik handak mancari buruang, buruang nuri pandai bakato, habihlah lawik denai sawang, jaratan pun denai tampuah, banyaklah rantau urang nan dijalang, banyak nagari nan ditampuah, hanyo di siko urang ba nuri, nuri nan pandai bakato-kato, baruak nan pandai bakucapi, musang nan pandai mangulindam, sarato cindai panjang duobaleh.
Jikok namuah urang manjua, denai bakandak nak mambali, jikok indak buliah dibali, denai nan namuah mamintak, tapi putusan rundiangan nangko, tasarah ka Adiak juo.”
Galak tasanyum Andami Sutan, lalu manjawab maso itu, “Manolah Tuan kanduang denai, dangakan bana pantun denai:
- “Bilo Tuan mampunyoi dadak
- Manga indak didatakan;
- Kalau Tuan bakahandak
- Manga indak dikatokan.
Satantang buruang nuri nantun, iyolah buruang nuri pusako, buruang nan tidak ka bajua, tidak pulo kan diagiah, buruang pamenan salamonyo, tapi samantangpun bak itu, tidak usah Tuan baibo hati.
- Ramilah koto Balabari
- Urang baralek sakotonyo;
- Ambiak dek Tuan buruang nuri
- Ambiak sakali jo sangkanyo.
Tuan denai Anggun Nan Tongga, manga disabuik buruang nuri, manga dikato sado nan lain, ambiak dek Tuan kasadonyo, ambiaklah nuri jo tuannyo.”
Tamanuang sanan Nan Tongga, kilek baliuang alah ka kaki, kilek camin alah ka muko, balun bakilek alah bakalam, bulanlah sangkak tigopuluah, tampak tabayang parantian, lah jaleh ujuang jo [ 178 ]Berkata pula Nan Tongga, “Manalah Adik Andami Sutan, sejak selangkah dari kampung, sejak semula dagang kan berjalan, maksud hendak mencari burung, burung nuri pandai berbicara, habislah laut denai layari, daratan pun denai tempuh, banyaklah rantau orang yang dijelang, banyak nagari yang ditempuh, hanya di sini orang punya nuri, nuri yang pandai berkata-kata, beruk yang pandai berkecapi, musang yang pandai mengelindan, serta cindai panjang dua belas.
Jika mau orang menjual, denai berkehendak akan membeli, jika tidak boleh dibeli, denai yang akan meminta, tapi putusan rundingan ini, terserah ke Adik jua.”
Gelak tersenyum Andami Sutan, lalu menjawab masa itu, “Manalah Tuan kandung denai, dengarkan benar pantun denai,
- “Bila Tuan mempunyai dedak
- Mengapa tidak didatarkan;
- Kalau Tuan berkehendak
- Mengapa tidak dikatakan.
Setentang burung nuri itu, adalah burung nuri pusaka, yang tidak akan dijual, tidak pula akan diberikan, burung permainan selamanya, tetapi walaupun begitu, tidak usah Tuan beriba hati.
- Ramailah Koto Balabari
- Orang berhelat sekotonya;
- Ambil oleh Tuan burung Nuri
- Ambil sekali dengan sangkarnya.
Tuan denai Anggun Nan Tongga, mengapa disebut burung Nuri, mengapa dikatakan semua yang lain, ambil oleh Tuan semuanya, ambillah nuri dengan tuannya.”
Termenung di situ Nan Tongga, kilat beliung telah ke kaki, kilat cermin telah ke wajah, belum berkilat telah berkalam, bulan telah sangkak tiga puluh, tampak terbayang perhentian, telah jelas ujung [ 179 ]pangka, ambiak dahulu Andami Sutan, buruang alah talendo sajo, buruang diminta sangka lah dapek, tidak ka mano ka pai lai.
Dalam bagundah-gundah juo, tangah marisau-risau hati, takana satiah jo Nan Gondo, satiah nan bakalian dalam, satiah nan bagantuang tinggi, etan di kualo Banda Teleng. Janji kok ungkai dek Nan Tongga, Gondo kan bakuak pulo, tapi kok tidak laku Nan Gondo, tidaklah badan bak cando iko, tidaklah lawik kan dihadang, tidaklah rantau kan ditampuah.
Dek laku nan Gondoriah, batamu jalan basimpang, ka mano jalan ka ditampuah, dipabulek sajo makrifat, manyarah sajo pado Allah, bukannyo salah di Nan Tongga, hanyo salah Nan Gondo juo, rundiangan putuih tantang itu.
Putuih rundiangan tantang itu, sasuai ruweh dangan buku, takadia lah sudah sajak dahulu, alah batahun bungo kambang, banyaklah kumbang nan mahisok, tapi sikua tidak nan mujua, tibo sajo dagang Piaman, alah tapacik kambang nantun.
Tahulah urang di nagari, Andami Sutan kan basuami, iyo jo Tongga Magek Jabang, kamanakan kanduang Patih Mangkudun, kuah tatunggang ka nasi, nasi kan dimakan juo, lah ungkai kabek dek Nan Tongga, tapi dek laku Nan Gondo juo.
Baralek gadang Koto Tanau, baralek salamo tujuah hari, bapuluah kabau nan rabah, bapuluah kambiang nan dibantai, baratuih ayam disambaliah, untuk makanan alek jamu. Galanggang dibukak siang malam, suko sadonyo urang nagari, puti rajo dapek suami, bukan urang sumbarang urang, intan sumarak koto Pariaman, kamanakan kanduang Patiah Mangkudun.
- Balabuah lancang Dandang Panjang
- Kok di tapi ayianyo dangkek;
- Rundiangan dirantang namuah panjang
- Elok dipunta naknyo singkek. [ 180 ]dan pangkal, ambil dahulu Andami Sutan, burung telah terlanda
saja, burung diminta sangkar telah dapat, tidak ke mana akan mengelak lagi.
Dalam bergundah-gundah jua, tengah merisau-risau hati, teringat sumpah dengan Nan Gondo, sumpah yang berkalian dalam, sumpah yang bergantung tinggi, ialah di kuala Banda Teleng. Janji kalau ungkai oleh Nan Tongga, Gondo kan berkuak pula, tapi kalau bukan ulah Gondo, tidaklah badan serupa ini, tidaklah laut kan dihadang, tidaklah rantau akan ditempuh.
Karena ulah Nan Gondoriah, bertemu jalan bersimpang, ke mana jalan akan ditempuh, diperbuat saja makrifat, menyerah saja pada Allah, bukannya salah Nan Tongga, hanya salah Nan Gondo jua, rundingan putus tentang itu.
Putus rundingan tentang itu, sesuai ruas dengan buku, takdir sudah sejak dahulu, telah bertahun bunga kembang, banyaklah kumbang yang mengisap, tapi seekor pun tak ada yang mujur, tiba saja dagang Pariaman, telah terpegang kembang itu.
Tahulah orang di nagari, Andami Sutan akan bersuami, ialah dengan Tongga Magek Jabang, kemenakan kandung Patiah Mangkudun, kuah tertunggang ke nasi, nasi kan dimakan jua, telah ungkai simpul oleh Nan Tongga, tapi karena ulah Nan Gondo jua.
Berhelat besar Koto Tanau, berhelat selama tujuh hari, berpuluh kerbau yang rebah, berpuluh kambing yang dibantai, ratusan ayam disembelih, untuk makanan helat jamu. Gelanggang dibuka siang malam, suka semuanya orang nagari, puti raja dapat suami, bukan orang sembarang orang, intan semarak Koto Pariaman, kemenakan kandung Patiah Mangkudun.
- Berlabuh lancang Dandang Panjang
- Jika di tepi airnya singkat;
- Rundingan direntang akan panjang
- Elok diputar biar singkat. [ 181 ]Alah sumando Anggun Nan Tongga, iyo di kualo Koto Tanau,
dangan Puti Andami Sutan, santoso sajo tiok hari, hiduik rukun turuik manuruik, sabagai aua dangan tabiang, tidak parnah silang salisiah, sananglah hati mamak kanduang.
- Jatuah malayang pucuak anau
- Tatimpo daun ruku-ruku;
- Takabek badan di Koto Tanau
- Alah kalam jalan ka Tiku. [ 182 ]Telah semenda Anggun Nan Tongga, ialah di kuala Koto Tanau,
dengan Puti Andami Sutan, sentosa saja setiap hari, hidup rukun turut menurut,seperti aur dengan tebing, tidak pernah silang selisih, senanglah hati mamak kandung.
- Jatuh melayang pucuk enau
- Tertimpa daun ruku-ruku;
- Terikat badan di Koto Tanau
- Telah kelam jalan ke Tiku. [ 183 ]
Buruang Nuri nan Bijak
Tasabuik nuri Andami Sutan, buruang nuri buruang pusako, buruang kiramat hiduik-hiduik, buruang nan pandai bakato-kato, samo jo urang cadiak pandai, urang arif bijak sano, siang bamain di kabun bungo, malam masuak dalam sangka, buruang lah jinak dek pamenan.
Salamo Nan Tongga di sanan, buruang alah jinak bana, Tongga lah lengah di buruang nuri, Tongga lah gilo buruang ameh, tidak takana Tiku Pariaman, lah lupo sajo Gondoriah.
Dek buruang nuri nan bijak, lengah dek bahandai-handai, lah asyik dek bacurito, ganti baganti inyo bakaba, pandai bana nuri maninjau, tantang curito Pariaman, tantang kaba nak rang Tiku, nan labiah bana tantang Gondoriah, sagalo curito nantun, dikabakan pulo bakeh Andami Sutan.
Maklum Andami tantang itu, tantang Tuan Tongga, sadang batunangan badan kironyo, dangan Puti Gondoriah, batunangan mulo sajak ketek, sajak di rahim mandeh kanduang.
Dalam pado nan bak kian, ado kapado suatu hari, Tongga lah lengah di galanggang, lengah bamain samo mudo, bakatolah sanan Andami Sutan, kapado buruang nuri bijak, “Adiak denai Buruang Nuri,
sajak ketek denai gadangkan, alah gadang akuan tibo, gadang mukasuik [ 184 ]
BURUNG NURI NAN BIJAK
Tersebut nuri Andami Sutan, burung Nuri burung pusaka, burung keramat hidup-hidup, burung yang pandai berkata-kata, sama dengan orang cerdik pandai, orang arif bijaksana, siang bermain di kebun bunga, malam masuk dalam sangkar, burung telah jinak karena permainan.
Selama Nan Tongga di sana, burung telah jinak benar, Tongga telah lengah oleh burung nuri, Tongga telah gila burung emas, tidak teringat Tiku Pariaman, telah lupa saja Gondoriah.
Oleh burung nuri yang bijak, lengah karena berhandai-handai, telah asyik bercerita, ganti berganti ia berkabar, pandai benar nuri meninjau, tentang cerita Pariaman, tentang kabar anak orang Tiku, terlebih benar tentang Gondoriah, segala cerita itu, dikabarkan pula pada Andami Sutan.
Maklum Andami tentang itu, tentang Tuan Tongga, sedang bertunangan badan kiranya, dengan Puti Gondoriah, bertunangan mula sejak kecil, sejak di rahim mandeh kandung.
Dalam keadaan itu, pada suatu hari, Tongga telah lengah di gelanggang, lengah bermain sama muda, berkatalah Andami Sutan, kepada burung nuri bijak, “Adik denai burung Nuri, sejak kecil denai besarkan, telah besar akuan tiba, besar maksud [ 185 ]sakali nangko, Adiak disuruah disarayo, laikoh Adiak namuah tantang nantun?”
Alah manjawab buruang nuri, “Manolah Aciak kanduang ambo, sajak ketek Aciak gadangkan, sakali balun tahu mambantah, cubo malah Aciak tarangkan, apo mukasuik hati Aciak?”
Bakato pulo Andami Sutan, “Adiak denai si buruang nuri, bisuak pailah Adiak tabang, subarangi lawik gadang nangko, tujulah koto Pariaman, carilah kampuang ranah Tiku, hinggoklah di rumah NanGondoriah, siasek pareso malah di sanan, baa bana NanGondoriah, baa taruihnyo curito nangko, tasarah di Adiak surang juo.”
Alah lamo bahandai-handai, alah sabanta rundiang barundiang, kato putuih maso itu, bisuak pagi buruang ka pai, iyo ka Tiku Pariaman, pai manjanguak Nan Gondoriah tatapi hanyo saketek, Nan Tongga jan tahu tantang itu.
Alah siang candonyo hari, tabantang cewang di timua, hari lah siang hanyo lai, kalualah nuri di sangkanyo, dikambangkan sayok maso itu, tabang mambubuang ka udaro, sampai manyisia-nyisia awan, lalu dituju ranah Tiku rang Pariaman, dima malam sanan baranti, hari siang lah tabang pulo.
Alah sahari duo hari, tampak tabayang ranah pasisia, iyo pasisia Pariaman, lah tampak tando-tandonyo, iyo korong Kampuang Dalam, taruih sajo Nuri tabang, etan ka tanah ranah Tiku, dek tolong takadia Tuhan, salamaik sajo pajalanan, hinggoklah di karambia nan atok tungku, sambia mangirai- ngirai bulu, sambia malapeh-lapeh panek.
Alah lapeh panek jo latiah, lah tarang candonyo hari, dilayangkan mato suok kida, pandang jauah dilayangkan, pandang dakek ditukiakkan, dilieklah sabuah rumah, rumah gadang sambilan ruang, sapuluah jo pandapuran, sabaleh jo anjuang tinggi, baatok ijuak basimpai timah, lah jaleh rumah Rang Bangsawan, antah koh rumah rajo-rajo, lah dituju malah rumah nantun. [ 186 ]sekali ini, Adik disuruh diseraya, maukah Adik melaksanakannya?”
Telah menjawab burung nuri, “Manalah Acik kandung hamba, sejak kecil Acik besarkan, sekali belum tahu membantah, coba malah Acik terangkan, apa maksud hati Acik?.”
Berkata pula Andami Sutan, “Adik denai si burung nuri, besok pergilah Adik terbang, seberangi laut ini, tujulah Koto Pariaman, carilah kampung ranah Tiku, hinggaplah di rumah Nan Gondoriah, sasat periksa malah di sana, bagaimana benar Nan Gondoriah, bagaimana terusnya cerita ini, terserah Adik sendiri jua.”
Setelah lama berhandai-handai, telah sebentar runding berunding, kata putus masa itu, besok pagi burung kan pergi, ialah ke Tiku Pariaman, pergi menjenguk Nan Gondoriah, tetapi hanya sedikit, Nan Tongga jangan tahu tentang itu.
Telah siang rupanya hari, terbentang cewang di Timur, hari pun telah siang, keluarlah nuri dari sangkarnya, dikembangkan sayap masa itu, terbang membumbung ke udara, sampai menyisir-nyisir awan, lalu dituju ranah Tiku orang Pariaman, di mana malam di sana berhenti, hari siang telah terbang pula.
Telah sehari dua hari, tampak terbayang ranah pesisir, ialah pesisir Pariaman, telah tampak tanda-tandanya, yaitu Korong Kampuang Dalam, terus saja nuri terbang, ialah ke tanah ranah Tiku, karena tolong takdir Tuhan, selamat saja perjalanan, hinggaplah di batang kelapa atap tungku, sambil mengirai-ngirai bulu, sambil melepas-lepas penat.
Telah lepas penat dan letih, telah terang rupanya hari, dilayangkan mata kanan kiri, pandang jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan, dilihatlah sebuah rumah, rumah gadang sembilan ruang, sepuluh dengan pendapuran, sebelas dengan anjung tinggi, beratap ijuk bersimpai timah, telah jelas rumah orang bangsawan, entahkah rumah raja-raja, telah dituju malah rumah itu. [ 187 ]Hinggoklah sanan si buruang nuri, di ateh sabatang limau manih, satantang anjuang rumah gadang, ditukiakkan malah mato ka situ, ka dalam anjuang nan tinggi, anjuang baturab jo ayia ameh, tapi basimpai jo ayia perak, atok camin dindiangnyo kaco, nampaklah surang parampuan, rancak nan bukan alang-alang, sarupo roman putiputi, jaranglah urang sarancak nantun, antah koh Puti Andam Dewi.
Bapikia sanan si buruang nuri, ikolah garan Nan Gondoriah, tunangan Tuan Tongga, patuik bana takilik iman, rupo sajombang nangko bana, sarupo bidodari dari langik.
Lengah buruang mangirai-ngirai bulu, sambia manyisiaknyisiak sayok, sarupo urang tidak tahu, lalu banyanyi- nyanyi ketek.
Sadang dek Puti Gondoriah, tadanga buruang nuri sadang manyanyi, takajuik Nan Gondoriah, dilayangkan malah mato ka lua, alah tampak buruang di sanan, iyo di ateh dahan limau, rancak nuri bukan kapalang, jaranglah buruang sarancak nantun, kok santano dalam sangka lengah lah hati kan pamenan. Sadang lengah nan bakkian, tabanglah buruang nantun, tabang mambubuang ka udaro, putiah mato dek mamandang, lah harok kan pamenan, kironyo lah tabang ka ateh langik. Tapi sabanta sakutiko, malayok randah buruang nuri, sarupo buruang nan jinak bana, hinggok baliak di nantun, bapikia Nan Gondoriah maso itu, buruang siapo garan nangko, tampaknyo jinak rancak pulo, dihalau indak namuah tabang lai.
Dalam bapikia-pikia juo, dihimbau malah si Kambang Malang, lalu bakato maso itu, “Manolah adiak si Kambang Malang, liek di Adiak buruang nantun, hinggok di batang limau kito, nampaknyo jinak murah ditangkok, cubolah ambiak sumpitan kito, sumpitan gading dari Palembang, pakiriman Sutan dahulunyo, kito sumpik buruang nantun, kok ado untuang lai dapek, tatangkok juo buruang nantun.” [ 188 ]Hinggaplah di sana burung nuri, di atas sebatang limau manis, setentang anjung rumah gadang, ditukikkan malah mata ke situ, ke dalam anjung yang tinggi, anjung berturap dengan air emas, tapi bersimpai dengan air perak, atap cermin dindingnya kaca, tampaklah seorang perempuan, rancak yang bukan kepalang, serupa roman puti-puti, jaranglah orng serancak itu, entahkah Puti Andam Dewi,
Berpikir di sana burung nuri, inilah gerangan Nan Gondoriah, tunangan Tuan Tongga, patut benar terkilik iman, rupa sejombang ini benar, serupa bidadari dari langit.
Lengah burung mengirai-ngirai bulu, sambil menyisik-nyisik sayap, serupa orang tidak tahu, lalu bernyanyi-nyanyi kecil. Sedangkan Puti Gondoriah, terdengar burung nuri sedang menyanyi, terkejut Nan Gondoriah, dilayangkan malah mata ke luar, telah tampak burung di sana, di atas dahan limau, rancak nuri bukan kepalang, jaranglah burung serancak itu, kalau sentana dalam sangkar, lengahlah hati kan permainan.
Sedang lengah seperti itu, terbanglah burung itu, terbang membumbung ke udara, putih mata karena memandang, telah harap kan permainan, kiranya telah terbang ke atas langit. Tapi sebentar seketika, melayap rendah burung nuri, serupa burung yang jinak benar, hinggap balik di limau itu, berpikir Nan Gondoriah masa itu, burung siapa gerangan ini, tampaknya jinak rancak pula, dihalau tidak mau terbang lagi.
Dalam berpikir-pikir jua, dipanggil malah si Kambang Malang, lalu berkata masa itu, “Manalah adik si Kambang Malang, lihat oleh Adik burung itu, hinggap di batang limau kita, nampaknya jinak mudah ditangkap, cobalah ambil sumpitan kita, sumpitan gading dari Palembang, kiriman Sutan dahulunya, kita sumpit burung itu, kalau untung akan dapat, tertangkap jua burung itu.” [ 189 ]Alah bagageh si Kambang Malang, diambiak Sumpitan nan sabuah, sumpitan gadiang dari Palembang, cukuik dangan damaknyo, lalu diisi sumpitan nantun, diliek buruang lengah juo, indak tahu bahayo nan tibo. Sumpitan alah salasai diisi, alah barisi damak baipuah, ipuah nan tidak mambunuah, hanyo mambuek pangsan sajo, sabab buruang ka ditangkok hiduik-hiduik.
Sumpitan dibidik hanyo lai, tapiciang mato sabalah, lalu dihambuih sumpitan nantun, damak lah tabang malayang, kapeh jatuah ka halamnan, namun buruang indak kanai, kurang sajari dari badan. Alah takajuik si buruang nuri, alah tabang maso itu, tapi indak tabang jauah, hanyo batambah randah juo. Maliek cando nan bak kian, hati batambah harok cameh, disi pulo damak babaliak, dipiciangkan pulo mato nan kida, sumpitan dihambuih maso itu, damak lah tabang malayang, kapeh jatuah ka palimbahan, buruang indak kanai juo.
Takajuik pulo si buruang nuri, alah tabang ka ateh awan, tapi sabanta antaronyo, buruang lah hinggok pulo, bukan di rantiang limau manih, tapi di bandua anjuang tinggi, heran tacangang NanGondoriah, buruang lah hinggok di tapi bandua, pantun dibaco hanyo lai,
“Ramilah kualo Banda Malako Banyaklah kapa nan balayia Kapa nan datang dari Demak; Elok bana urang di siko Dagang hauih indak dapek ayia Hanyo disambuik dangan damak.”
Tacangang Nan Gondoriah, tangango pulo si Kambang Malang, kironyo nuri pandai bakato, bukannyo buruang nuri hutan, agaknyo nuri buruang pingitan, sumpitan dilatakkan hanyo lai, bakato sanan Nan Gondoriah, “Manolah nuri nan bijak, bari maaf badan denai, tidak ado denai manyangko, buruang arif bijaksano, pandai batutua jo mangecek, dari mano garan nuri datang?” [ 190 ]Telah bergegas si Kambang Malang, diambil sumpitan yang sebuah, sumpitan gading dari Palembang, cukup dengan damaknya, lalu diisi sumpitan itu, dilihat burung lengah jua, tidak tahu bahaya yang akan tiba. Sumpitan telah selesai diisi, telah berisi damak beripuh, ipuh yang tidak membunuh, hanya membuat pingsan saja, sebab burung akan ditangkap hidup-hidup.
Sumpitan dibidiklah, terpicing mata sebelah, lalu ditiup sumpitan itu, damak telah terbang melayang, kapas jatuh ke halaman, namun burung tidak kena, kurang sejari dari badan. Telah terkejut si burung nuri, telah terbang masa itu, tapi ia tidak terbang jauh, hanya bertambah rendah jua. Melihat rupa yang seperti itu, hati bertambah harap cemas, diisi pula damak kembali, dipicingkan pula mata yang kiri, sumpitan ditiup masa itu, damak telah terbang melayang, kapas jatuh ke pelimabahan, burung tidak kena juga.
Terkejut pula si burung nuri, telah terbang ke atas awan, tapi sebentar antaranya, burung telah hinggap pula, bukan di ranting limau manis, tapi di bandul anjung tinggi, heran tercengang Nan Gondoriah, burung telah hinggap di tepi bandul, pantun pun dibacalah,
- “Ramailah kuala Bandar Malaka
- Banyaklah kapal nan berlayar
- Kapal nan datang dari Demak;
- Elok benar orang di sana
- Dagang haus tidak dapat air
- Hanya disambut dengan damak.”
Tercengang Nan Gondoriah, ternganga pula si Kambang Malang, kiranya nuri pandai berbicara, bukannya burung nuri hutan, agaknya nuri burung pingitan, sumpitan pun diletakkanlah, berkatalah Nan Gondoriah, “Manalah nuri nan bijak, beri maaf badan denai, tidak denai menyangka, burung arif bijaksana, pandai bertutur dan berbicara, dari mana gerangan nuri datang?” [ 191 ]Manjawab sanan si buruang nuri, “Manolah Aciak janyo ambo, ambo nangko datang dari jauah, dari subaliak langik gadang, ambo nangko mambaok pasan, ambo tasuruah tasarayo, pai maliek Nan Gondoriah, etan di Tiku Pariaman, tunangan Tuan Nan Tongga.
Tolonglah ambo jo pandapek, ambo nan alun bakanalan, dangan aciak Nan Gondoriah, laikoh Aciak garan tahu, tunangan Tuan Tongga, buliah disampaikan pasan nantun.”
Manjawab sanan NanGondoriah, “Manolah nuri buruang bijak, bari maaf denai dek nuri, alah tahimbau dinamonyo, alah tatampuah di rumahnyo, denai banamo Gondoriah, tunangan Tuan Tongga, di manokoh kini Tuan denai, baliau lah lamo pai marantau, habih bulan baganti bulan, alah ba tuka pulo dangan tahun, antah hiduik antah lah mati, kaba barito tidak ado, pasan saketek tidak sampai.”
Bakato pulo buruang nuri, “Manolah Aciak janyo ambo, dangakan dek Aciak jaleh-jaleh, simak dek Aciak tarang-tarang, sajak samulo Tuan bajalan, iyo Nan Tongga Magek Jabang, salamaik sajo palayaran, baliau mamagang kamudi dandang, iyo nan Dandang Panjang, Jurumudi lah sanang sajo.
Lah lamo lambek dek balayia, sampailah ka pulau Binuang Sati, tajadilah parang maso itu, parang basosoh hebat bana, banyak nan mati urang panyamun, namun Tuan Tongga, tidak talok kanai basi, baliau saketek tidak luko, matilah sanan Palimo Bajau, dek dibunuah si Bujang Salamat.
Kudian dilapehkan urang tatawan, surang banamo Nangkodoh Rajo, mamak kanduang Tuan Tongga, sadang bakabek dangan rantai, alah dikaluakan urang tatawan, alah diubek mamak kanduang, nan banamo Nangkodoh Rajo, kini sudah sehat tagak, badan babaliak bak dahulu, manjadi rajo di nagari Binuang Sati.”
Curito habih Nan Gondo manangih, manangih taisak sadusadan, baranti nuri tantang itu, alah batanyo bakeh Nan Gondo, “Aciak ambo nan Gondoriah, manga Aciak sadu-sadan, manga Aciak [ 192 ]Menjawab si burung nuri, “Manalah Acik kata hamba, hamba ini datang dari jauh, dari balik langit luas, hamba ini membawa pesan, hamba disuruh diseraya, pergi melihat Nan Gondoriah, ialah di Tiku Pariaman, tunangan Tuan Nan Tongga. Tolonglah hamba dengan pendapat, hamba yang belum berkenalan, dengan Acik Nan Gondoriah, adakah Acik tahu gerangan, tunangan Tuan Tongga, boleh disampaikan pesan itu.”
Menjawab Nan Gondoriah, “Manalah burung nuri bijak, beri maaf denai oleh nuri, telah terpanggil di namanya, telah tertempuh di rumahnya, denai bernama Gondoriah, tunangan Tuan Tongga, di manakah kini Tuan denai, beliau telah lama pergi merantau, habis bulan berganti bulan, telah bertukar pula dengan tahun, entah hidup entah lah mati, kabar berita tidak ada, pesan sedikit tidak sampai.”
Berkata pula burung Nuri, “Manalah Acik kata hamba, dengarkan oleh Acik jelas-jelas, simak oleh Acik terang-terang, sejak semula Tuan berjalan, ialah Nan Tongga Magek Jabang, selamat saja pelayaran, beliau memegang kemudi dandang, yaitu Dandang Panjang, juru mudi telah senang saja.
Telah lambat laun berlayar, sampailah ke Pulau Binuang Sati, terjadilah perang masa itu, perang basosoh hebat sekali, banyak yang mati orang penyamun, namun Tuan Tongga kebal terkena besi, beliau tidak luka sedikit pun, matilah di sana Palimo Bajau, karena dibunuh si Bujang Salamat.
Kemudian dilepaskan orang tawanan, seorang bernama Nangkodoh Rajo, mamak kandung Tuan Tongga, sedang diikat dengan rantai, telah dikeluarkan orang tawanan, telah diobat mamak kandung, yang bernama Nangkodoh Rajo, kini sudah sehat berdiri, badan berbalik seperti dahulu, menjadi raja di nagari Binuang Sati.”
Cerita habis Nan Gondo menangis, menangis terisak sedu sedan, berhenti nuri saat itu, telah bertanya pada Nan Gondo, “Acik hamba Nan Gondoriah, mengapa Acik sedu sedan, mengapa Acik [ 193 ]tunduak nanangih, kaba curito lai baiak, ambo bataruih tarang sajo, kaba Tuan Tongga ambo baok “
Manjawab Nan Gondoriah, “Manolah buruang nuri nan bijak, nan mamak kanduang Tuan Tongga, iyolah ayah kanduang denai, kaba curito nan denai danga dari Jurumudi, iyo nangkodoh Malin Cik Ameh, Tuan Tongga alah tatawan, ayah kanduang balun lapeh, duto bana malah kironyo, denai lah sangko tantang itu. “
Taruih curito si buruang nuri, “Alah lamo lambek di sanan, disuruah malah Nangkodoh dahulu, iyo Tuan Malin Cik Ameh, baliau disuruah ka Pariaman, mambaok pasan dangan surek, kaba barito lai baiak, antah pasan lai sampai, Tuan Tongga tak tahu tantang itu.
Antaro bara kan lamonyo, balayia pulo Tuan ‘Tongga, mukasuik nak mancari mamak pulo, iyo mamak nan baduo, surang banamo Katik Intan, nan surang Mangkudun Sati, sampai di pulau Ranggeh Suri, batamu di sanan mamak kanduang, nan bagala Katik Intan, baliau lah manjadi Tuan Guru, banyak murik jo pangikuik, bagala Tuanku Panjang Jangguik. Mamak nan surang basuo pulo, iyo mamak Mangkudun Sati, nan bagala Patiah Mangkudun, jadi rajo di Koto Tanau, baliau baranak surang parampuan, nan banamo Puti Andami Sutan, rancak nan bukan alang-alang, jaranglah sutan ka judunyo. Tibo rundiangan maso nantun, alah kawin Tuan Nan Tongga, iyo jo Puti Andami Sutan, kini sadang dalam baban. “
Mandanga curito nantun, lah manangih pulo Nan Gondoriah, buah tangih baibo-ibo, janji lah ungkai dek Nan Tongga, satiah lah babukak dek Nan Tongga, bungo kambang lah diambiaknyo, ayia nan janiah lah diminumnyo, urak janji di Nan Tongga, dek Gondo baitu pulo.
- Kayu sakabuang dipangga-pangga
- Diambiak paga kabun lado;
- Janji baubah dek Nan Tongga
- Dek Nan Gondo lah batuka pulo. [ 194 ]tunduk menangis, kabar cerita baik, hamba berterus terang saja,
kabar Tuan Tongga hamba bawa.”
Menjawab Nan Gondoriah, “Manalah burung nuri yang bijak, yang mamak kandung Tuan Tongga, ialah ayah kandung denai, kabar cerita yang denai dengar dari juru mudi, yaitu nahkoda Malin Cik Ameh, Tuan Tongga telah tertawan, ayah kandung belum lepas, dusta benar malah kiranya, denai telah menyangka tentang itu.”
Terus cerita si burung nuri, “Telah lambat laun di sana, disuruh malah nahkoda dahulu, yaitu Tuan Malin Cik Ameh, beliau disuruh ke Pariaman, membawa pesan dengan surat, kabar berita adalah baik, entah adakah pesan sampai, Tuan Tongga tidak tahu tentang itu.
Telah berapa lama antaranya, berlayar pula Tuan Tongga, maksud hendak mencari mamak pula, yaitu mamak berdua, seorang bernama Katik Intan, yang seorang Mangkudun Sati, sampai di Pulau Ranggeh Suri, bertemu di sana mamak kandung, yang bergelar Katik Intan, beliau telah menjadi Tuan Guru, banyak murid dan pengikut, bergelar Tuanku Panjang Jangguik. Mamak nan seorang bertemu pula, ialah mamak Mangkudun Sati, yang bergelar Patiah Mangkudun, jadi raja di Koto Tanau, beliau beranak seorang perempuan, yang bernama Puti Andami Sutan, rancak yang bukan kepalang, jaranglah sutan akan jodohnya. Tiba rundingan masa itu, telah kawin Tuan Nan Tongga, dengan Puti Andami Sutan, kini sedang mengandung.”
Mendengar cerita itu, telah menangis pula Nan Gondoriah, buah tangis beriba-iba, janji telah ungkai oleh Nan Tongga, sumpah telah dibuka oleh Nan Tongga, bunga kembang telah diambilnya, air yang jernih telah diminumnya, urai janji di nan Nan Tongga, oleh Gondo begitu pula.
- Kayu sekabung dipangga-pangga(10
- Diambil pagar kebun lada;
- Janji berubah oleh Nan Tongga
- Oleh Nan Gondo telah bertukar pula.
10. dipenggal [ 195 ]Dek lamo sadu-sadan, sakik jo padiah lah babahua, diliek pulo candonyo buruang, buruang lah tabang dari bandua, alah tabang ka ateh langik, tabang manyisia-nyisia awan, inyo lah baliak ka kampuangnyo, etan ka kualo Koto Tanau, ka rumah Puti Andami Sutan.
- Urang Padang mamunta banang
- Dipunta dilipek-lipek
- Dilipek lalu dipaduo;
- Kalau dirantang inyo panjang
- Elok dikumpa naknyo singkek
- Diambiak sajo nan paguno. [ 196 ]Setelah lama tersedu sedan, sakit dan pedih telah berbaur,
dilihat pula rupanya burun, burung telah terbang dari bandul, telah terbang ke atas langit, terbang menyisir-nyisir awan, ia telah berbali ke kampungnya, ke kuala Koto Tanau, ke rumah Puti Andami Sutan.
- Orang Padang memintal benang
- Dipintal dilipat-lipat
- Dilipat lalu dibagi dua;
- Kalau direntang jadi panjang
- Elok dikumpar supaya singkat
- Diambil saja mana yang berguna.
185
[ 197 ]
Pulang
Lamo lambek di rantau urang, banyak parasaian nan dicubo, lah habih hari baganti hari, hari baganti dangan pakan, pakan alah manjadi bulan, bulan lah jadi tahun pulo, tibo pangana maso itu, taragak hati nak pulang, etan ka Tiku Pariaman, mandeh kanduang antah lah sakik, korong kampuang taringek pulo, santano mamak nan dicari, mamak batigo badunsanak, lah tantu hiduik matinyo, bak itu pulo kahandak nan Gondoriah, cukuik langkok kasadonyo, sabuah tidak ado nan kurang.
Dimintak izin karilahan, baiak kapado mamak kanduang, iyo mamak Mangkudun Sati, bak itu pulo Andami Sutan, dilarang tidak talarang, ditagah tidak tatagah, pikiran bulek bak ambacang, nak maliek korong jo kampuang, dilarang maro kok datang, ditagah cilako kok tibo, dilapeh juo malah nan jadi, kok untuang takadia Allah, batamu jo kasudahannyo.
Hasia sado nan paralu, Nan Tongga ka bajalan hanyo lai, manuju Tiku Pariaman, nak manjalang koto korong kampuang, kampuang lah lamo ditinggakan, bakato sanan Nan Tongga, kapado adiak kanduang diri, iyo Puti Andami Sutan, padusi sadang dalam bababan.
“Adiak denai Andami Sutan, garak lah tibo dari Allah, kito
186
[ 198 ]
PULANG
Lambat laun di rantau orang, banyak perasaian yang dicoba, telah habis hari berganti hari, hari berganti dengan pekan, pekan telah menjadi bulan, bulan telah jadi tahun pula, tiba ingatan masa itu, teragak hati hendak pulang, yaitu ke Tiku Pariaman, mandeh kandung entah lah sakit, korong kampung teringat pula, sentana mamak yang dicari, mamak bertiga berdansanak, telah tahu hidup matinya, begitu pula kehendak Nan Gondoriah, cukup lengkap semuanya, sebuah tidak ada yang kurang.
Diminta izin kerelaan, baik kepada mamak kandung, yaitu mamak Mangkudun Sati, begitu pula Andami Sutan, dilarang tidak terlarang, dicegah tidak tercegah, pikiran bulat bak ambacang, hendak melihat korong dan kampung, bila dilarang mara kalau datang, dicegah celaka kalau tiba, dilepas jua malah nan jadi, kalau untung takdir Allah, bertemu jua kesudahannya.
Disiapkan semua yang perlu, Nan Tongga akan berjalan, menuju Tiku Pariaman, hendak menjelang koto korong kampung, kampung yang telah lama ditinggalkan, berkatalah Nan Tongga, kepada adik kandung diri, yaitu Puti Andami Sutan, perempuan yang sedang mengandung.
“Adik denai Andami Sutan, gerak telah tiba dari Allah, kita
187
[ 199 ]tak dapek manantukan, baiak partamuan jo parcaraian, namonyo
denai urang dagang, salamo lambek dek marantau, kok lai hiduik kan pulang juo, urang di kampuang kok lah rusuah, baiak mandeh kanduang diri, baiak karik dangan baid, sarato pangulu dalam nagari. Sabab baa dek baitu, banyak ganggaman pado denai, kok kusuik tidak sa lasai, kok karuah tidak namuah janiah.”
Manjawab sanan Andami Sutan, “Manolah Tuan kanduang denai, Tuan Tongga Magek jabang, denai tidak kan malarang, Tuan ka pulang ka kampuang Tuan, ayam ka baliak ka pautan, kabau ka pulang ka kandangnyo, hanyo sabuah denai sabuik, denai Tuan aja manjo, sadang tagamang Tuan tinggakan, sadang kasiah Tuan putuihkan, baalah taibo hati kami.
Sabuah pulo nan takana, denai sadang dalam bababan, denai di tangah lawik basa, balun tantu ujuang pangkanyo, antah ka tapi antah ka karam, elok dinanti kutikonyo, nak tantu cando anak kito, si upiak jo si buyuangnyo.”
Sanan bakato pulo Nan Tongga, “Manolah Adiak kanduang denai, kato Adiak kato sabananyo, sabuah tidak ado nan salah, sajak barapo bulan nangko, hati nan tidak sanang lai, darah denai tasiroksirok, hati bancah pikiran kusuik. rumah gadang raso tapanggang, kampuang halaman raso lah hanguih, apolah garan nan tajadi, iyo di korong kampuang denai, antah Manti dapek salah, antah dubalang nan durako, kusuik kok tidak namuah salasai, karuah kok tidak namuah janiah, denai tak sanang tantang nantun.”
Manyahuik pulo Andami Sutan, “Manolah Tuan kanduang denai, di mano Tuan lai kan sanang, bak kato pantun urang juo,
- Tarantang titian batang manau
- Jan diambiak ka pamenan;
- Badan tahanta di Koto Tanau
- Pangana nun di Tiku Pariaman.
Tapi samantangpun baitu, kok sampai Tuan di Tiku, Koto Tanau
188
[ 200 ]tak dapat menentukan, baik pertemuan dan perceraian, namanya
denai orang dagang, lambat laun merantau, kalau masih hidup akan pulang jua, orang di kampung kalaulah rusuh, baik mandeh kandung diri, baik karib dan baid, serta penghulu dalam nagari. Sebab mengapa begitu, banyak genggaman pada denai, kalau kusut tidak selesai, kalau keruh tidak mau jernih.”
Menjawablah Andami Sutan, “Manalah Tuan kandung denai, Tuan Tongga Magek Jabang, denai tidak kan melarang, Tuan akan pulang ke kampung Tuan, ayam akan balik ke pautan, kerbau akan pulang ke kandangnya, hanya sebuah denai sebut, denai Tuan ajar manja, sedang tergamang Tuan tinggalkan, sedang kasih Tuan putuskan, bagaimanalah teriba hati kami.
Sebuah pula yang teringat, denai sedang dalam mengandung, denai di tengah laut luas, belum tentu ujung pangkalnya, entah ke tepi entah karam, elok dinanti ketikanya, supaya tahu rupa anak kita, si upik atau si buyung.”
Berkata pula Nan Tongga, “Manalah Adik kandung denai, kata Adik kata yang sebenarnya, sebuah tidak ada yang salah, sejak berapa bulan ini, hati yang tidak senang lagi, darah denai tersirapsirap, hati buncah pikiran kusut, rumah gadang rasa terpanggang, kampung halaman rasa telah hangus, apakah gerangan yang terjadi, di korong kampung denai, entah Manti dapat salah, entah dubalang yang durhaka, kusut yang tidak mau selesai, keruh yang tidak mau jernih, denai tak senang tentang itu.”
Menyahut pula Andami Sutan, “Manalah Tuan kandung denai, di mana Tuan yang akan senang, bak kata pantun orang jua,
- Terentang titian batang manau
- Jangan diambil untuk permainan;
- Badan ada di Koto Tanau
- Ingatan nun ada di Tiku Pariaman.
Tapi walaupun demikian, kalau sampai Tuan di Tiku, Koto Tanau
189
[ 201 ]kanalah juo, kok tidak batamu badan, dalam mimpi basuo juo.”
Payahlah Nan Tongga dek mambujuak, latiahlah Nan Tongga dek maumbuak, dek kareh hati Nan Tongga, dek lamak bujuak jo rayunyo, dilapeh juo malah nan jadi, pulang ka Tiku Pariaman, nuri dibaok sato pulo, baitu pamenan sado nan lain, paisi kahandak Nan Gondoriah, bak itu janji mulo dikarang, mulo partamuan jo Andami Sutan, sakarang tingga manjalani, bakato sanan Nan Tongga, “Adiak denai Andami Sutan, sapaningga denai pai, kok layia cando anak kito, kok padusi nan lahia, namokan sajo nan baiak, jikok dapek anak laki-laki, namokan inyo Mandugo Ombak, namo nan datang dalam mimpi, tidak buliah diubah lai.”
- Kok digantang tigo gantang
- Kok disukek tigo sukek;
- Kok dirantang namuah panjang
- Elok dipunta naknyo singkek.
Alah balayia Dandang Panjang, ramilah urang di palabuhan, malapeh Nan Tongga ka bajalan, takibar panji-panji kuniang, malatuih mariam tigo pucuak, sauah diangkek hanyo lai, dandang lah manuju ka lawitan, kampuang tingga hanyo lai, rusuah hati urang nan tingga, taibo hati urang nan pai.
Salamo lambek dek balayia, habih hari baganti hari, habih pakan babilang pakan, sampailah dandang di Binuang Sati, alah baranti dandang di sanan, batamu mamak Nangkodoh Rajo, basuo jo Bujang Salamat, lai salamaik sanang sajo.
Lah lamo badan dek bacarai, ganti bakaba jo bacurito, sananglah hati maso itu, dibuek pulo kato mnupakat, kato nan buliah diputusi, bulek bak ambacang ciek, apokoh garan kato nantun, iyo satantang mamak kanduang, sarato jo si Bujang Salamat, kan samo pulang ka Pariaman.
Disusun pamarentah dalam nagari, mupakat Manti jo Dubalang, sapakaik urang kasadonyo, tatkalo maso dahulunyo, dalam Z
190
[ 202 ]ingatlah jua, kalau tidak bertemu badan, dalam mimpi bersua juga.”
Payahlah Nan Tongga karena membujuk, letihlah Nan Tongga karena mengumbuk, karena keras hati Nan Tongga, karena manis bujuk dan rayunya, dilepas jua malah nan jadi, pulang ke Tiku Pariaman, nuri dibawa serta pula, begitu juga permainan yang lain, pengisi kehendak Nan Gondoriah, seperti itu janji mula dikarang, mula pertemuan dengan Andami Sutan, sekarang tinggal menjalani, berkatalah Nan Tongga, “Adik denai Andami Sutan, sepeninggal denai pergi, apabila lahir anak kita, kalau perempuan yang lahir, namakan saja yang baik, jika dapat anak laki-laki namakan ia Mandugo Ombak, nama yang datang dalam mimpi, tidak boleh diubah lagi.”
- Kalau digantang tiga gantang
- Kalau disukat tiga sukat;
- Kalau direntang bisa panjang
- Elok dipuntal supaya singkat.
Telah berlayar Dandang Panjang, ramailah orang di pelabuhan, melepas Nan Tongga akan berjalan, terkibar panji-panji kuning, meletus meriam tiga pucuk, sauh pun diangkatlah, dandang telah menuju ke lautan, kampung telah tinggallah, rusuh hati orang yang tinggal, teriba hati orang yang pergi.
Lambat laun dalam pelayaran, habis hari berganti hari, habis pekan berbilang pekan, sampailah dandang di Binuang Sati, telah berhenti dandang di sana, bertemu mamak Nangkodoh Rajo, bersua dengan Bujang Salamat, mereka selamat dan senang saja.
Telah lama badan bercerai, ganti berkabar dan bercerita, senanglah hati masa itu, dibuat pula kata mufakat, kata yang boleh diputusi, bulat seperti ambacang tunggal, apakah gerangan kata itu, yaitu tentang mamak kandung, serta dengan si Bujang Salamat, akan sama pulang ke Pariaman.
Disusun pemerintah dalam nagari, mufakat manti dengan dubalang, sepakat orang semuanya, tatkala masa dahulunya, dalam
191
[ 203 ]nagari Binuang Sati, adolah rajo nan mamarentah, dek ulah laku
Palimo Bajau, diambiak nagari dangan kareh, inyo basutan di matonyo, inyo barajo di hatinyo, lah lari malah rajo nantun, lari ka dalam rimbo gadang.
Tadanga mati Palimo Bajau, alah pulang baliak anak rajo, mupakatlah urang maso itu, diangkeklah anak rajo nantun, manjadi rajo di nagari, bagala Sutan Sari Alam.
Salamo lambek di sanan, lah sadio bareh dangan baka, alat sanjato sacukuiknvo, lah dapek ameh urai nan hilang, ameh urai tujuah peti, 1yo pusako Nangkodoh Rajo, batambah pulo hanyo nan lai, alah dimuek dalam Dandang Panjang.
Lah tingga pulo Binuang Sati, diharuang pulo lawik gadang, Dandang Panjang raso kan tabang, malanca bagai buruang alang, lah tibo angin Si Dulak-dolai, lah tibo angin ka tujuahnyo, manggigia dandang ateh ayia, badaram buni tiang anguang, bak itu capeknyo Dandang Panjang.
Kaba baraliah tantang itu, aliahnyo kapado Tuan Jurumudi, iyo jurumudi Malin Cik Ameh, awak lah manggadang kareh sajo, maangkek rajo sandirinyo, tidak urang labiah di awak, urang nagari takuik kasadonyo, anak buah banyak dek inyo, baiak Bugih jo Makasar, baiak Baruih jo Tapak Tuan, baiak Jawa jo Tarnate, urang tabaok dek balayia, diagiahkan sanjato surang-surang, nagari lah takuik kasadonyo.
Adolah pado suatu hari, tampak dandang dari lawik, sarupo takah Dandang Panjang, sadang manuju ka kualo, iyo kualo Banda Teleng, takajuik urang kasadonyo. Baru mandanga kaba nantun, tibo parentah Jurumudi, “Manolah Manti jo Pangulu, sarato Dubalang kasadonyo, guguahlah tabuah larangan, dandang musuah alah tibo, kapa lawan sudah datang, basiaplah kito samuonyo, baiak alat jo sanjato, daripado urang dahulu, elok kito mandahuluinyo!” [ 204 ]nagari Binuang Sati, adalah raja yang memerintah, karena ulah laku Palimo Bajau, diambil nagari dengan kekerasan, ia bersutan di matanya, ia beraja dalam hatinya, telah lari malah raja itu, lari ke dalam rimba raya.
Terdengar mati Palimo Bajau, telah pulang kembali anak raja, mufakatlah orang masa itu, diangkatlah anak raja itu, menjadi raja di nagari, bergelar Sutan Sari Alam.
Lambat laun di sana, telah disediakan beras dan bekal, alat senjata secukupnya, telah dapat emas urai yang telah hilang, emas urai tujuh peti, yaitu pusaka Nangkodoh Rajo, bertambah pula akhirnya, telah dimuat dalam Dandang Panjang.
Telah tinggal pula Binuang Sati, diarungi pula laut luas, Dandang Panjang rasa kan terbang, berlayar bagai burung elang, telah tiba angin si Dulak-dolai, telah datang angin ketujuhnya, menggigil dandang di atas air, berderum bunyi tiang agung, seperti itu cepatnya Dandang Panjang.
Kabar beralih tentang itu, alihnya kepadaTuan juru mudi, yaitu juru mudi Malin Cik Ameh, awak telah menggadang keras saja, mengangkat raja sendirinya, tidak ada orang yang lebih dari awak, orang nagari takut semuanya, anak buah banyak padanya, baik Bugis dan Makasar, baik Barus dan Tapak Tuan, baik Jawa dan Ternate, orang dibawa dalam pelayaran, diberikan senjata masing-masing, nagari telah takut semuanya.
Adalah pada suatu hari, tampak dandang dari laut, serupa dengan Dandang Panjang, sedang menuju kuala, yaitu Kuala Banda Teleng, terkejut orang semuanya. Baru mendengar kabar itu, datang perintah juru mudi, “Manalah manti dan penghulu, serta dubalang semuanya, pukullah tabuh larangan, dandang musuh telah tiba, kapal lawan sudah datang, bersiaplah kita semuanya, baik alat dan senjata, daripada orang dahulu, elok kita mendahuluinya!” [ 205 ]Alah diguguah tabuah larangan, urang takajuik kasadonnyo, mamacik sanjato surang-surang, bahimpunlah urang ka muaro, mananti dandang nan datang.
Dek lamo lambek dek mananti, dandang batambah dakek juo, alah tabayang panji-panji, tibo parentah dek Jurumudi, manembak dandang nan datang nantun, buni badia marandang kacang, asok mandulang ka udaro, sarupo sadang parang gadang, gagap gampito urang manembak.
Maliek cando nan bak kian, heran tacangang Nan Tongga, alah banyak lawik nan dihadang, alah banyak rantau nan dijalang, balunlah bana sarupo iko, kok tibo lancang sabuah usua pareso tibo dahulu, namun nagari bajak bajau, tidak kurang usua jo pareso, tantukan dahulu hitam putiahnyo, baru samo batembak-an.
Ariflah Nan Tongga tantang itu, lalu disuruah si Bujang
Salamat, dilatuihkan sanan badia pusako, badia pusako Nan Gondoriah, buni sadatak tigo dantamnyo, dikibarkan bandera panjipanji, dihampakan marawa sirah kuniang, ma- ngulimantang rupo ka langik.
Baru mandanga buni badia, tampak pulo marawa kuniang, tacangang pulo manti jo pangulu, sabagai ibarat Nan Tongga bana, urang balun lai ka lupo, bak itu latuih badia pusako, jikok di alam ranah Paco, tidaklah ado duonyo, nan punyo badia sarupo itu. Baranti sajo urang manembak, lalu ditunggu dandang nantun.
Sanan bakato Jurumudi, iyo nangkodoh Malin Cik Ameh, “Manolah Manti jo Pangulu, sarato Dubalang dalam nagari, urang Bugih jo Makasar, sarato Baruih Tapak Tuan, baitu pulo urang Jawa jo Tarnate, manga dandang indak ditembak, nyato musuah lah tibo, kito kan hancua handam karam, kok kito tidak mandahuluinyo!”
Manjawab Manti nan piawai, dalam salingkuang urang banyak, “Manolah Tuan Jurumudi, elok dinanti dandang nantun, candonyo [ 206 ]Telah dipukul tabuh larangan, orang terkejur semuanya, memegang senjata masing-masing, berhimpunlah orang ke muara, menanti dandang yang datang.
Karena lambat laun menanti, dandang bertambah dekat jua, telah terbayang panji-panji, tiba perintah juru mudi, menembak dandang yang datang itu, bunyi bedil seperti merendang kacang, asap mendulang ke udara, serupa sedang perang besar, gegap gempita orang menembak.
Melihat rupa seperti itu, heran tercengang Nan Tongga, telah banyak laut yang dihadang, telah banyak rantau yang dijelang, belumlah benar serupa ini, kalau tiba sebuah lancang, usul periksa datang dahulu, namun nagari bajak bajau, tidak kurang usul dan periksa, tentukan dahulu hitam putihnya, baru sama saling menembak.
Ariflah Nan Tongga tentang itu, lalu disuruh si Bujang Salamat, diletuskan bedil pusaka, bedil pusaka Nan Gondoriah, bunyi sedetak tiga dentumnya, dikibarkan bendera panji-panji, dihamparkan bendera merah kuning, mengalimantang rupa ke langit.
Begitu mendengar bunyi bedil, tampak pula bendera kuning, tercengang pula manti dan penghulu, sebagai ibarat Nan Tongga benar, orang belumlah kan lupa, seperti itu bunyi bedil pusaka, jika di alam ranah Paco, tidaklah ada duanya, yang punya bedil serupa itu. Berhenti saja orang menembak, lalu ditunggu dandang itu.
Berkatalah juru mudi, yaitu nahkoda Malin Cik Ameh, “Manalah manti dan penghulu, serta dubalang dalam nagari, orang Bugis dan Makasar, serta Barus Tapak Tuan, begitu pula orang Jawa dan Ternate, mengapa dandang tidak ditembak, nyata musuh telah tiba, kita kan hancur handam karam, kalau kita tidak mendahuluinya!”
Menjawab Manti Nan Piawai, dalam selingkungan orang banyak, “Manalah Tuan Juru Mudi, elok dinanti dandang itu, rupanya [ 207 ]sarupo Dandang Panjang, dandang Nan Tongga Magek Jabang, iyolah dandang Tuan kito, inyo lah babaliak dari lawik. Mano Tuan Bugih jo Makasar, sarato Tuan kasadonyo, Tuan Tongga alah datang, elok kito baranti manembak, usua pareso dahulu dek kito, alah tantu hitam putiahnyo, kok kan parang kito parang, bak itu juo nan biaso, dalam nagari kito nangko.”
Tatutuik sajo muluik Cik Ameh, muko alah sirah, kaki lah barek handak lari, doso tabarumbun ateh kapalo, taraso tiok halai bulu, disarahkan sajo untuang pado Allah. Dalam sabanta itu juo, dandang lah masuak di kualo, tagak Nan Tongga di pamareh, baduo jo Bujang Salamat, badia tidak manembak lai, urang lah yakin kasadonyo, Tuan Tongga nan alah datang.
Tahulah urang maso nantun, Tuan Jurumudi alah khianat, alah mangguntiang dalam lipatan, alah manuhuak kawan sairiang, parentahnyo tidak diikuik lai, dikatokannyo Tongga alah mati, kironyo lah pulang pulo, salamaik sajo palayaran. Bagageh manti jo pangulu, dicari malah carano gadang, cukuik jo siriah salangkoknyo, untuak panyambuik Nan Tongga.
Dandang lah masuak di kualo, sauah dibongka hanyo lai, babuni mariam tigo kali, manggaga kampuang rang Piaman, manggigia korong Kampuang Dalam, sampai ka Tiku Pariaman, etan ka rumah Nan Gondoriah.
Turunlah sanan Nan Tongga, mairiang Salamat di balakang, sarato jo mamak Nangkodoh Rajo, urang mananti bakarumun, iyo lah lTongga nan datang, batambah gagah dari dahulu, manyambah urang maso itu, diadokan malah carano gadang, sanan bakato Nan Tongga, “Manolah Manti Jo Pangulu, sarato Niniak Mamak kami, sado kito nan di siko, alah barubah ruponyo adat, sudah batuka candonyo limbago, di nagari urang tidak bak itu, usua pareso nan lah tibo, tanyo batanyo baru datang, tapi kini alah barubah denai disambuik jo tembak badia, labiah sarupo musuah gadang, apo sabab karanonyo? [ 208 ]seperti Dandang Panjang, dandang Nan Tongga Magek Jabang, ialah dandang Tuan kita, ia telah berbalik dari laut. Mana tuan Bugis dan Makasar, serta Tuan semuanya, Tuan Tongga telah datang, elok kita berhenti menembak, usul periksa dahulu oleh kita, telah tentu hitam putihnya, kalau akan perang kita perang, seperti itu juga yang biasa, dalam nagari kita ini.”
Tertutup saja mulut Malin Cik Ameh, muka telah merah, kaki telah berat hendak lari, dosa terberumbun di atas kepala, terasa tiap helai bulu, diserahkan saja untung pada Allah. Dalam sebentar itu jua, dandang telah masuk di kuala, berdiri Nan Tongga di geladak, berdua dengan Bujang Salamat, bedil tidak lagi menembak, orang telah yakin semuanya, Tuan Tongga yang telah datang.
Tahulah orang masa itu, Tuan juru mudi telah khianat, telah menggunting dalam lipatan, telah menohok kawan seiring, perintahnya tidak lagi diikuti, dikatakannya Tongga telah mati, kiranya telah pulang pula, selamat saja pelayaran. Bergegas manti dan penghulu, dicari malah cerana besar, cukup dengan sirih selengkapnya, untuk menyambut Nan Tongga.
Dandang telah masuk di kuala, sauh pun dibongkarlah, berbunyi meriam tiga kali, menggelegar kampung orang Pariaman, menggigil korong Kampuang Dalam sampai ke Tiku Pariaman, yaitu ke rumah Gondoriah.
Telah turun Nan Tongga, mengiring Salamat di belakang, serta dengan mamak Nangkodoh Rajo, orang menanti berkerumun, telah jelas Tongga yang datang, bertambah gagah dari dahulu, menyembah orang masa itu, dihadapkan malah cerana besar, lalu berkata Nan Tongga, “Manalah manti dan penghulu, serta ninik mamak kami, semua yang ada di sini, telah berubah rupanya adat, sudah bertukar rupanya lembaga, di nagari orang tidak seperti itu, usul periksa yang telah tiba, tanya bertanya baru datang, tapi kini telah berubah, denai disambut dengan tembak bedil, lebih seperti musuh besar, apakah sebab karenanya? [ 209 ]Bak itu juo dunsanak nan banyak, baiak Bugih jo Makasar, baiak Baruih jo Tapak Tuan, sarato urang kasadonyo, samaso di puiau Binuang Sati, denai malapehkan urang tatawan, bautang budi Tuan ka denai, ikolah malah kan balehnyo?”
Habih tatakua urang kasadonyo, ciek tidak pandai mangecek, manggaletek lutuik nan duo, bibia lah kalu biru putiah, badan sarupo urang damam, sanan manjawab Manti Tuo, dikabakan malah bakeh Nan Tongga, sagalo curito Tuan Jurumudi, sajak samulo inyo tibo, sampai kutiko dandang datang, sabuah tidak ado nan tingga.
Parentah tibo di Nan Tongga, lalu dicari Tuan jurumudi, sadang tamanuang di tapi pasia, sarupo urang baniat tajun, nak masuak ka lawik gadang, badan nan tidak tagarikkan, lalu dielo Tuan Jurumudi, ka muko Nan Tongga Magek Jabang, mukonyo pucek bak daun pimpiang, bibia tidak badarah lai, doso lah banyak tabarumbun, tidak dapek bakato lai, duduak basimpuah hanyo lai.
Sanan bakato Nan Tongga, “Manolah Tuan Jurumudi, lah lamo badan kito bacarai, putiah hati dek taragak, Tuan lah sanang di nagari, sanang manjadi Rajo Basa, denai lah sansai di lawik, kaki barantai jo palanggu, pinggang bakabek dangan rantai, Tuan lah pulang surang sajo.
Denai mandanga kaba baiak sajo, sajak Tuan pulang ka kampuang, Tuan lah jadi rajo gadang, mamarentah Tiku jo Piaman, sampai ka Banda Nan Sapuluah, adia bana parentah Tuan, padi manjadi bumi santoso, taranak bakambang biak pulo. Sabuah pulo cacek Tuan, Tuan bamukasuik dalam hati, rancak buni indah barito, Tuan nak kawin jo tunangan denai, iyo jo tunangan denai, iyo jo Puti Gondoriah, sasuai bana ruweh dangan buku, sarupo bulan jo matohari. Untuang Tuan balun kawin, kok sampai Tuan kawin nikah, denai antakan buah tangan, untuak alek kawin Tuan, tandonyo kito badunsanak, urang salapiak sakatiduran.” [ 210 ]Begitu juga dansanak nan banyak, baik Bugis dan Makasar, baik Barus dan Tapak Tuan, serta orang semuanya, semasa di Pulau Binuang Sati, denai melepaskan orang tertawan, berhutang budi Tuan pada denai, inikah malah balasannya?”
Habis menekur orang semuanya, satupun tidak dapat membalas, menggigil kedua lutut mereka, bibir telah kelu biru pucat, badan serupa orang demam, lalu menjawablah Manti Tuo, dikabarkan malah pada Nan Tongga, segala cerita Tuan juru mudi, sejak semula ia datang, sampai ketika dandang datang, sebuah tidak ada yang tinggal.
Perintah datang dari Nan Tongga, lalu dicari Tuan juru mudi, sedang termenung di tepi pasir, serupa orang berniat terjun, hendak masuk ke laut luas, badan yang tidak bisa digerakkan, lalu dihela Tuan juru mudi, ke hadapan Nan Tongga Magek Jabang, mukanya pucat seperti daun pimping, bibir tak lagi berdarah, dosa telah banyak terberumbun, tidak dapat berkata-kata, hanya duduk bersimpuh.
Lalu berkatalah Nan Tongga, “Manalah Tuan juru mudi, telah lama badan kita bercerai, putih hati karena teragak, Tuan telah senang di nagari, senang menjadi Raja Basa, denai sansai di laut, kaki berantai dan berbelenggu, pinggang berikat dengan rantai, Tuan telah pulang sendiri saja.
Denai mendengar kabar baik saja, sejak Tuan pulang ke kampung, Tuan telah jadi raja besar, memerintah Tiku dan Pariaman, samapai ke Banda Nan Sapuluah, adil benar perintah Tuan, padi menjadi bumi sentosa, ternak berkembang biak pula. Sebuah pula cacat Tuan, Tuan bermaksud dalam hati, rancak bunyi indah berita,Tuan hendak kawin dengan tunangan denai, yaitu Puti Gondoriah,sesuai benar ruas dengan buku, serupa bulan dan matahari. Untung Tuan belum kawin, kalau sampai Tuan kawin nikah, denai antarkan buah tangan, untuk helat kawin Tuan, tandanya kita berdunsanak,orang selapik seketiduran.” [ 211 ]Urang mandanga tamanuang kasadonyo, galak bagumam dalam hati, mandanga cimooh Tuan Tongga.
Alah mahambua si Bujang Salamat, hati lah berang tidak tabado, bakato inyo maso itu, “Manolah waang Jurumudi, iyo lah cadiak bana waang kini, cadiak nan bukan alang-alang, pandai manipu tagak-tagak, anak bincacak anak si Ngiang-ngiang Rimbo, anak dapek di rumpun buluah.
Di manokoh sasok jarami waang, di manokoh pandam pakuburan waang, budak sapuluah kali tabuih, patuiklah waang cando iko, tidak maagak maagiahkan, indak bacamin ka kubangan, indak maliek bayang-bayang, baru bapitih saganok kupang, intan jo podi nan dihago, tunangan urang nan dibali, waang hago Gadih Gondoriah, tidak diliek bantuak badan.
Kini baitulah nan ka elok, namonyo kito baliak di rantau, den agiah waang tando mato, kan jadi padoman jo pangaja, untuak rakyat nan banyak nangko...”
Manyalo pulo Nan Tongga, “Manolah Tuan Bujang Salamat, tak guno kito bahabih hari, baurusan dangan rajo gadang, agiahlah tando pasambahan, tando alamat tunduak kito, cabuikah rencong Aceh nantun, karekiah talingo kaduonyo, karano lah salah pandangaran, awak baumanaik mambaok pasan, lain pulo nan disampaikannyo. Cukia pulo kaduo matonyo, nak jan salah maliek juo, bak itu pulo kaduo tangannyo, nak jan salah maambiak juo, tantang lidahnyo, potonglah juo kini nangko, tidak dapek bapitanah lai!”
Baru mandanga di kato nantun, lah dielo Tuan jurumudi, mamakiak tinggi ka ateh langik, mintak ampun maso itu, urang tagalak kasadonyo, hukuman tak batangguah lai, salasai curito Jurumudi...
Kaba baraliah hanyo lai, baraliah bakeh mandeh kanduang,tadanga anak sudah datang, tidak dapek basaba lai, disonsong malah [ 212 ]Orang mendengar termenung semuanya, gelak bergumam dalam hati, mendengar cemooh Nan Tongga.
Telah menghambur si Bujang Salamat, hati telah berang tidak tertahan, berkata ia masa itu, “Manalah Waang juru mudi, telah cerdik benar Waang kini, cerdik yang bukan kepalang, pandai menipu terang-terangan, anak bincacak anak si Ngiang-ngiang11 rimba, anak dapat di rumpun buluh.
Di manakah sawah Waang, di manakah pandam pekuburan Waang, budak sepuluh kali tebus, patutlah Waang seperti ini, tidak mengagak-agihkan, tidak bercermin ke kubangan, tidak melihat bayang-bayang, baru beruang segenap kupang, intan dan emas kan ditawar, tunangan orang kan dibeli, Waang tawar Gadih Gondoriah, tidak dilihat bentuk badan.
Kini begitulah yang akan baik, namanya kita balik dari rantau, den beri Waang tanda mata, kan jadi pedoman dan pengajar, untuk rakyat yang banyak ini…!”
Menyela pula Nan Tongga, “Manalah Tuan Bujang Salamat, tak guna kita berhabis hari, berurusan dengan raja besar, berilah tanda persembahan, tanda alamat tunduk kita, cabutlah rencong Aceh itu, keratlah kedua telinganya, karena telah salah pendengaran, awak diamanatkan membawa pesan, lain pula yang disampaikannya. Congkel pula kedua matanya, agar jangan salah melihat jua, begitu juga kedua tangannya, supaya jangan salah mengambil, tentang lidahnya, potonglah sekarang juga, agar tidak bisa memfitnah lagi!”
Begitu mendengar kata itu, telah dihela Tuan juru mudi, memekik tinggi ke atas langit, meminta ampun saat itu, orang tertawa semuanya, hukuman tak dapat ditangguhkan lagi, selesai cerita juru mudi….
Kabar beralihlah, beralih kepada mandeh kandung, mendengar anak telah pulang, tidak dapat bersabar lagi, disongsong malah ke
11. hantu rimba [ 213 ]ka muaro, diiriangkan si Kambang jo pangiriang, bakuak urang kasadonyo.
Maliek mandeh Suto Suri lah datang, sanan basimpuah Nan Tongga, disusun jari nan sapuluah, bakato mandeh kanduang, “Anak denai Nan Tongga, lai moh hiduik Anak kanduang, baduto malah Jurumudi, katonyo Anak sudah mati, alah dibakuak urang pambajau, alah tatawan Cino Kuntuang, alah dimakan iyu parang.
Bamacam buni pandangaran, laruik rasonyo paratian, ibo ka mano dikatokan, Anak surang nan diharokkan, siang malam takana juo, tak namuah hilang dari mato, malam manjadi buah mimpi, siang manjadi angan-angan, mabuak dibaok kiro-kiro.
Kini Anak alah pulang, lah sanang hati mandeh kanduang, santoso Pariaman sakotonyo, siapokoh urang nan Anak baok, cubo tarangkan bakeh denai.”
Manjawab sanan Nan 1ongga, “Manolah mandeh kanduang denai, sajak salangkah dari kampuang, sajak satapak dari janjang, pitaruah Mandeh takana juo, dek lai elok Mandeh malapeh, salamaik sajo badan babaliak pulang, bagai ayam pulang ka pautan, lai basuo nan dicari, lai batamu nan dicari, iyolah mamak nan batigo.
Santano urang nan denai baok, cubo Mandeh pandangpandang bana, dek lah lamo badan bacarai, alah labiah duopuluah tahun, ikolah mamak kanduang denai, iyolah dunsanak kanduang Mandeh, ikolah mamak Nangkodoh Rajo...”
Baru mandanga di kato nantun, mahambua mandeh Suto Suri, tagagau mamak Nangkodoh Rajo, bajawek salam hanyo lai, samo batangisan maso itu.
Salamo nan bak kian, banyaklah rundiangan jo paparan, banyak curito nan tasabuik, nan patuik didanga di urang banyak, sadang kapado Nan Tongga, barubek rasonyo jariah payah, mamak batigo lah dicari, luluih alah inyo silami, hilang alah inyo cari, kusuik nagari [ 214 ]muara, diiringkan si Kambang dan pengiring, menguak orang semuanya.
Melihat mandeh Suto Suri telah datang, bersimpuhlah Nan Tongga, disusun jariyang sepuluh, berkata mandeh kandung, "Anak denai Nan Tongga, masih hidup ternyata Anak kandung, berdusta malah juru mudi, katanya anak sudah mati, telah dibekuk orang pembajau, telah tertawan Cina Buntung, telah dimakan hiu parang. Bermacam bunyi pendengaran, larut rasanya perhatian, iba ke mana kan dikatakan, Anak seorang yang diharapkan, siang malam teringat juga, takmau hilang darimata, malam menjadimimpi, siang menjadi angan-angan, mabuk dibawa kira-kira.
Kini Anak telah pulang, telah senang hatimandeh kandung, sentosa Pariaman sekotonya, siapakah orang yang Anak bawa, coba terangkan pada denai."
Menjawablah Nan Tongga, "Manalah Mandeh kandung denai, sejak selangkah dari kampung, sejak setapak dari jenjang, petaruh mandehteringat jua, karena baik Mandeh melepas, selamat saja badan berbalik pulang, bagai ayam pulang ke pautan, bersua apa yang dicari, bertemu yang dicari, yaitu mamak yang bertiga.
Sentana orang yang denai bawa, coba Mandeh pandang- pandang benar, karena telah lama badan bercerai, telah lebih dua puluh tahun, inilah mamak kandung denai, ialah dansanak kandung Mandeh, inilah mamak Nangkodoh Rajo."
Begitu mendengar kata tersebut, menghambur mandeh Suto Suri, tergagau mamak Nangkodoh Rajo, berjawab salamlah mereka, sama bertangisan waktu itu.
Selama waktu itu, banyaklah rundingan dan paparan, banyak cerita yang disebut, yang patut didengar oleh orang banyak, sedang pada Nan Tongga, berobat rasanya jerih payah, mamak bertiga telah dicari, tenggelam telah ia selami, hilang telah ia cari, kusut nagari [ 215 ]salasai pulo, mamintak izin maso itu, iyo nak pulang ka rumah mandeh.
Babondonglah urang maso itu, mairiangkan Nan Tongga, Si Salamat mairiang di balakang, manuruik pulo manti jo pangulu, sarato urang nan banyak, bagaikan luluih Pariaman, bagaikan lumek Kampuang Dalam, bak itu banyak urang mananti.
Taruihlah naiak ka ateh rumah, rumah gadang sambilan ruang, dijalang malah anjuang tinggi tabantang sanan kasua bunta, balirik manti jo pangulu, sarato imam dangan katik, ramilah urang nan datang, jawek bajawek salam urang, tidak surang raso nan tingga, baiak Tiku Pariaman, maupun kampuang bakuliliang, hanyolah surang tidak tampak, iyolah nan jombang Gondoriah ...
Urang Padang mamunta banang
Dipunta dilipck-lipek
Dilipek lalu dipaduo;
Kalau dirantang inyo panjang
Elok dikumpa naknyo singkek
Diambiak sajo nan paguno.
[ 216 ]selesai pula, meminta izin masa itu, hendak pulang ke rumah
mandeh.
Berbondonglah orang masa itu, mengiringkan Nan Tongga, si Salamat mengiring di belakang, menurut pula mantidan penghulu, serta orang yang banyak, bagaikan luluh Pariaman, bagaikan lumat Kampuang Dalam, seperti itu banyaknya orang menanti.
Teruslah naik ke atas rumah, rumah gadang sembilan ruang, dijelang malah anjung tinggi, terbentang di sana kasur buntal, berderet manti dan penghulu, serta imam dan katik, ramailah or- ang yang datang, jawab berjawab salam orang, tidak seorang pun yang tinggal, baik Tiku Pariaman, maupun kampung berkeliling, hanyalah seorang yang tidak tampak, yaitu Nan Jombang Gondoriah...
Orang Padang memuntal benang
Dipuntal dilipat-lipat
Dilipat lalu dibagi dua;
Kalau direntang akan panjang
Elok dikumpar supaya singkat
Diambil saja yang berguna.
[ 217 ]
Gondoriah ka Gunuang Ledang
Tasabuik Nan Gondoriah, sumarak kampuang ranah Tiku, sadang di ateh anjuang tinggi, anjuang perak cumalo ganti, sadang manuji manirawang, datanglah sanan Si Kambang Malang, datangnyo bagageh-gageh, angoknyo sasak dek balari, lalu bakato maso itu, “Manolah aciak Nan Gondoriah, pakakkoh garan talingo Aciak, tidakkoh Aciak bapandangaran, dangalah mariam alah badantuang, etan di kualo Banda Teleng, dangakan pulo tabuah babuni, sahuik-manyahuik tabuah nan banyak, dalam kampuang koto Pariaman, tidakkoh Aciak dapek kaba, Nan Tongga alah baliak dari lawik?”
Mandanga kato nan bak kian, dilatakkan suji jo sulaman, jatuah badarai ayia mato, bak maniak putuih pangarang, jatuah ciek jatuah duo, lah basah karangan baju, sabuah inyo indak babuni, ciek inyo indak bakato.
Lalu bakato pulo si Kambang Malang, “Aciak juo janyo ambo, manga Aciak diam sajo, sugiro bakameh malah Aciak, urang lah sibuk dalam nagari, pai manuju kualo nantun, manyonsong Tuan Tongga dari lawik, surang tidak ado nan tingga, Aciak surang nan balun tampak”
Antok sajo Nan Gondoriah, tidak takajuik tantang nantun, ayia mato dihapuih juo, alah sabanta antaronyo, lalu bakato Nan [ 218 ]
GONDORIAH KE GUNUNG LEDANG
Tersebutlah Nan Gondoriah, semarak kampung ranah Tiku, sedang di atas anjung tinggi, anjung perak kemala ganti, sedang menyuji menerawang, datanglah ke sana si Kambang Malang, datangnya bergegas-gegas, napasnya sesak karena berlari, lalu berkata masa itu, “Manalah Acik Nan Gondoriah, tulikah gerangan telinga Acik, tidakkah Acik berpendengaran, dengarlah meriam telah berdentung, ialah di kuala Banda Teleng, dengarkan pula tabuh berbunyi, sahut menyahut tabuh yang banyak, dalam kampung Koto Pariaman, tidakkah Acik dapat kabar, Tuan Tongga telah balik dari laut.”
Mendengar kata seperti itu, diletakkan suji dan sulaman, jatuh berderai air mata, bak manik putus pengarang, jatuh satu jatuh dua, telah basah buah baju, sepatah pun ia tidak bersuara, satu pun ia tidak berkata.
Lalu berkata pula si Kambang Malang, “Acik jua kata hamba, mengapa Acik diam saja, segera berkemas malah Acik, orang telah sibuk dalam nagari, pergi menuju kuala itu, menyongsong Tuan Tongga dari laut, seorang pun tidak ada yang tinggal, Acik sendiri yang belum tampak.”
Diam saja Nan Gondoriah, tidak terkejut tentang hal itu, air mata dihapus jua, telah sebentar antaranya, lalu berkata Nan [ 219 ]Gondoriah, “Adiak denai si Kambang Malang, dangakan malah dek Adiak, nak denai curai denai papakan.
Lah tinggi rumpuik parak tingga
Panuah batanam batang lado;
Janji barubah dek Nan Tongga
Tibo di Gondo bak itu pulo.
Tatkalo maso di Kualo, iyo di lawik basimpang tigo, etan di kualo Banda Teleng, kami lah mangabek janji, kami basatiah tantang nantun, satiah nan bakalian dalam, satiah nan bagantuang tinggi, si Bujang Salamat mamagangkan,Tuan Malin manyaksikan, sarato tigo ratuih nan di dandang
Kok ungkai janji dek Tuan Tongga, ayia janiah kok diminumnyo, bungo kambang kok disuntiangnyo, Gondo kan tarak ka Gunuang Ledang, tarak nan tujuah baleh bulan, batendek sapuluah hari, bia nak jadi ungko siamang, bia bakalang baniah kayu, rilah kan hancua dalam rimbo, baitu bana satiah janji. Kini lah ungkai dek Tuan Tongga, ayia janiah lah diminumnyo, bungo kambang lah dipasuntiang nyo, denai kan tarak ka Gunuang Ledang.”
Mandanga kato nan bak kian, takajuik sanan si Kambang Malang, takajuik tagamang darah, lalu manjawab maso itu, “Aciak denai Nan Gondoriah, manga malah Aciak bak itu, jikok Aciak pai batarak, rupo elok nan ka habih, kulik kuniang nan ka gawi, namonyo didalam rimbo gadang, ibolah denai di elok Aciak, pikiakan bana elok-elok, timbang bana baiak-baiak, janji barubah dek Tuan Tongga, dek Gondo jan malah bak itu, antah koh ado sabab karanonyo.”
Manyahuik pulo Nan Gondoriah, “Adiak denai si Kambang Malang, hati lah bulek bak ambacang, hati lah padek bak batu, tidak sia kan malarang, kok dilarang denai pai juo, ditagah denai ka mangirok, bia nak sanang Tuan Tongga, handaknyo pueh mandeh kanduang, Gondo jikok ditagah, darah baserak tangah rumah, lieklah karih kan basilang, tidak takuik nyawo kan padam, baitu bana putusan denai.!” [ 220 ]Gondoriah, “Adik denai si Kambang Malang, dengarkan malah oleh Adik, nak denai curai denai paparkan.
Telah tinggi rumpat parak tingga12
Penuh bertanam batang lada;
Janji berubah karena Nan Tongga
Tiba di Gondo begitu pula.
Tatkala masa di kuala, ialah di laut bersimpang tiga, yaitu di kuala Banda Teleng, kami telah mengikat janji, kami bersumpah tentang itu, sumpah yang berkalian dalam, sumpah yang bergantung tinggi, si Bujang Salamat mamagangkan13, Tuan Malin menyaksikan, serta tiga ratus orang yang di dandang.
Kalau ungkai janji oleh Tuan Tongga, air jernih kalau diminumnya, bunga kembang kalu disuntingnya, Gondo kan bertarak ke Gunung Ledang, tarak selama tujuh belas bulan bertambah sepuluh hari, biar nak jadi ungko siamang, biar berkalang benih kayu, rela kan hancur dalam rimba, begitu benar sumpah janji. Kini telah ungkai oleh Tuan Tongga, air jernih telah diminumnya, bunga kembang telah dipersuntingnya, denai kan bertarak ke Gunung Ledang.”
Mendengar kata seperti itu, terkejutlah si Kambang Malang, terkejut tergamang darah, lalu menjawab masa itu, “Acik denai Gondoriah, mengapa malah Acik seperti itu, jika Acik pergi bertarak, rupa elok yang akan habis, kulit kuning yang kan gawi14, namanya dalam rimba raya, ibalah denai akan elok Acik, pikirkan benar elokelok, timbang benar baik-baik, janji berubah oleh Tuan Tongga, oleh Gondo jangan malah seperti itu, entahkah ada sebab karenanya.”
Menyahut pula Nan Gondoriah, “Adik denai si Kambang Malang, hati telah bulat bak ambacang, hati telah padat bak batu, tidak siapa kan melarang, kalau dilarang juga denai akan pergi, dicegah denai akan mengirap, biar nak senang Tuan Tongga, hendaknya puas mandeh kandung, Gondo jika dicegah, darah terserak di tengah rumah, lihatlah keris akan bersilang, tidak takut nyawa kan padam, begitu benar keputusan denai..!”
12. tinggal
13. membuat sumpah
14. hitam
[ 221 ]Jadi manangih si Kambang Malang, ditagah indak tatagah,
bak managah ayia hilia, dilarang tanah kok sirah, tatagak mejan panggalian, bak buni pantun urang:
Ditarah tidak tatarah
Bagaimarateh batang jati;
Ditagah tidak tatagah
Lalu dilapeh malah nan jadi.
Nan Gondo lah baibo hati, Gondoriah lah bahati rusuah, di ateh anjuang nan tinggi, baunduang-unduang kain mukenah, ayia mato dihapuih juo, bak maniak putuih pangarang, bak runaidirantap ungko, bak luluak digaga musang, jatuah ciek jatuah duo, lah hancua karangan baju, lah basah baju di dado, mangucap sanan Nan Gondoriah, diateh rumah nan gadang, di atehanjuang nan tinggi, anjuang tinggi nan katingga.
Diambiak malah Si Rencong Aceh, lalu diamuak banta surambi, ditikam pulo banta surago, lalu diruruik cincin di jari, dilungkeh galang ditangan, dibukak subang ditalingo, cincin alah baserak-serak, galang alah bapenda-penda, nun di ateh anjuang tinggi, anjuang perak cumalo ganti, atok kaco dindiangnyo camin.
Diambiak malah uncang kujari, uncang kujari Lelo Ambun, tiok suduik pakai hikamat, tiok lekok pakai pamanih, balah di tapi baaka Cino, ditangah babulan-bulan, diambiak pulo siriah jo gambia, diambiak pinang dangan sadah, lalu bajalan hanyo lai, lah bapayuang panji-panji, payuang taganggam di kanan, uncang tapagang di kida, lah sampai di tangah rumah, barantisanan NanGondoriah.
"Anjuang tinggi tinggalah tingga, bukan tingga pai mandi, bukan tingga pai ka ladang, bukan tingga pai ka sawah, tingga kan balamo-lamo, habih hari baganti pakan, habih bulan bagantitahun, habih tahun baganti musim, bukan musim rang ka sawah, bukan musim rangka ladang, musim balayia ba nangkodoh, tarak nantujuah baleh bulan, etan ka puncak Gunuang Ledang, etan ka Si Gamai[ 222 ]Jadi menangis si Kambang Malang, dicegah tidak tercegah, bak mencegah air hilir, dilarang tanah kan jadi merah, berdiri nisan penggalian, bak bunyi pantun orang.
Ditarah tidak tertarah
Bagai meretas batang jati;
Dicegah tidak tercegah
Lalu dilepas malah nan jadi.
Nan Gondo telah beriba hati, Gondoriah telah berhati rusuh, di atas anjung yang tinggi, berundung-undung kain mukena, air mata dihapus jua, bak manik putus pengarang, bak runai dirantap ungko, bak luluak digaga musang15, jatuh satu jatuh dua, telah hancur buah baju, telah basah baju di dada, mengucaplah Nan Gondoriah, di atas rumah nan gadang, di atas anjung tinggi, anjung tinggi yang akan tinggal.
Diambil malah si Rencong Aceh, lalu diamuk bantal serambi, ditikam pula bantal seraga, lalu dilucuti cincin di jari, diloloskan gelang di tangan, dibuka subang di telinga, cincin telah berserak-serak, gelang telah berpencar-pencar, nun di atas anjung tinggi, anjung perak kemala ganti, atap kaca dindingnya cermin.
Diambil malah uncang kujari, uncang kujari Lelo Ambun, tiap sudut pakai hikmat, tiap lekuk pakai pemanis, belah di tepi berakar Cina, di tengah berbulan-bulan, diambil pula sirih dan gambir, diambil pinang dengan sadah, lalu berjalanlah ia, telah berpayung panji-panji, payung tergenggam di kanan, uncang terpegang di kiri, telah sampai di tengah rumah, berhenti di sana Nan Gondoriah
“Anjung tinggi tinggallah tinggal, bukan tinggal pergi mandi, bukan pergi ke ladang,bukan tinggal pergi ke sawah, tinggalkan berlama-lama, habis hari berganti pekan, habis bulan berganti tahun, habis tahun berganti musim, bukan musim orang ke sawah, bukan musim orang ke ladang, musim berlayar bernahkoda, tarak yang tujuh belas bulan, ialah ke puncak Gunung Ledang, ialah ke si Gamai
15. seperti rinai [ 223 ]gamai mudo, etan ka talang nan kuniang, ka bawah talang nan parindu, iyo ka jirak nan sarumpun, ka batu hampa nan putiah.”
Lah turun Nan Gondoriah, turun dari rumah nan gadang, rumah gadang sambilan ruang, sapuluah jo pandapuran, sabaleh dangan anjuang tinggi, rumah gadang tinggalah tingga…
Alah turun dari ateh rumah, turun ka tangah laman, ka tangah laman nan panjang, panjang nan tidak panjang bana, salancang kudo balari, sakuat kuaran tabang, tagak di lasuang nan babanduang, dipandang hilia jo mudiak, diliek kiri jo kanan, dijalang pulo maah lumbuang, lumbuang nan tigo sajajaran, nan ciek si Bayau-bayau, nan sabuah si Tinjau Lawik, sabuah lai si Anggak Lerok, kapuak gadang salo manyalo, kapuak ketek salek manyalek, padi usang sabawah rumah, padi baru lah naiak pulo, jadi tapatan gadang lalu, lumbuang gadang tinggalah tingga, Gondo kan jauah hanyo lai.
Dalam maso Gondo bakameh, lah nampak sanan niniak tuo, niniak tuo niniak Kabayan, bakatolah sanan niniak Kabayan,”Manolah kau Nan Gondoriah, apokoh sabab mangko baitu, mamak Gondo koh nan berang, mandeh Gondo koh nan bangih, urang lah basusun ka tabiang, etan ka tabiang ka kualo, manyonsong Tuan Tongga, Tongga lah baliak dari lawik”
Sanan bakato Nan Gondoriah, dicurai dipapakan sagalonyo, ciek indak nan tingga, Gondo nak tarak ka Gunuang Ledang, lalu bakato pulo niniak Kabayan, “Gondoriah tak patuik nan bak itu, patuik Gondo datang dahulu, patuik kan mananti alek, tantangan diri Nan Tongga, karano sayang di badan Gondo, namuah Tongga bapayahpayah, pai manarawang lawik gadang, namuah Tongga bakalang ombak, malah ombak alah didugonyo.
Gondo mancari kuak padang, kan binguang malah kironyo, kok tarak Gondo ka gunuang, kampuang nan rami nan ka tingga, Gondo babaliaklah kau pulang” [ 224 ]Gamai muda, ialah ke talang nan kuning, ke bawah talang nan perindu, yaitu ke jirak nan serumpun, ke batu hampa nan putih.”
Telah turun Nan Gondoriah, turun dari rumah nan gadang, rumah gadang sambilan ruang, sepuluh dengan pendapuran, sebelas dengan anjung tinggi, rumah gadang tinggallah tinggal…
Telah turun dari atas rumah, turun ke tengah halaman, ke tengah halaman nan panjang, panjang yang tidak panjang benar, selayang kuda berlari, sekuat kuaran terbang, berdiri di lesung yang berbendung, dipandang hilir dan mudik, dilihat kiri dan kanan, dijelang pula malah lumbung, lumbung yang tiga sejajaran, yang satu bernama Si Bayau-Bayau, yang sebuah si Tinjau Lawik, sebuah lagi si Anggak Lerok, kapuk besar sela menyela, kapuk kecil selip menyelip, padi usang sebawah rumah, padi baru telah naik pula, jadi tempatan ayakan lalu, lumbung besar tinggallah tinggal, Gondo kan pergi jauh.
Dalam masa Gondo berkemas, telah tampak seorang ninik tua, ninik tua ninik Kabayan, berkatalah ninik Kabayan, “Manalah Kau Nan Gondoriah, apakah sebab maka begitu, mamak Gondo kah yang berang, mandeh Gondo kah yang marah, orang telah bersusun ke tebing, ialah ke tebing ke kuala, menyongsong Tuan Tongga, Tongga telah balik dari laut.”
Berkatalah Nan Gondoriah, dicuraikan dipaparkan segalanya, satu pun tidak tertinggal, Gondo hendak bertarak ke Gunung Ledang, lalu berkata pula ninik Kabayan, “Gondoriah tak patut seperti itu, patut Gondo datang dahulu, patut kan menanti helat, tentang diri Nan Tongga, karena sayang di badan Gondo, mau Tongga berpayahpayah, pergi melayari laut luas, mau Tongga berkalang ombak, malah ombak telah diduganya.
Gondo mencari kuak padang, akan bingung malah kiranya,kalau tarak Gondo ke gunung, kampung yang ramai yang akan tinggal, Gondo berbaliklah Kau pulang.” [ 225 ]Manjawab Nan Gondoriah, “Niniak juo janyo denai, kok babaliak denai pulang, Si Babaliak namo mandeh, kok barulang dari gunuang, Si Barulangn namo bapak, alah kalam jalan ka Tiku, alah tarang jalan ka gunuang.
Kain batiak tanun Palembang
Ditanun puti Muko-muko;
Kok tidak laku Nan jombang
Tidak badan ka bak nangko.
Bakudo baganto tigo
Lah luluih padi rang Tungka;
Kan pai tidak babarito
Hanyo marusuah di urang tingga.
Puuih tali layang-layang
Putuih tali karano malapeh;
Ka ambo tingkek Gunuang Ledang
Suko-sukolah Mandeh malapeh.”
Sambia batangka-tangka juo, sambia bapantun sadu- sadan,
“Kamuniang kok tidak ditateh
Ka mudiak pakan rang Simabua;
Nan kuniang kok tidak dilapeh
Lieklah darah nan tasimbua.”
Manjawab sanan niniak Kabayan,
“Ditabang tidak tatabang
Bak manabang papan kincia
Ditateh malah nan jadi;
Digalang tidak tagalang
Bak manggalang ayia hilia
Dilapeh malah nan jadi.”
Bajalan juo Nan Gondoriah, mudiaklah labuah nan panjang, baunduang-unduang kain mukenah, bakato juo sambia bapantun, [ 226 ]Menjawab Nan Gondoriah, “Ninik jua kata denai, kalau berbalik denai pulang, si Berbalik nama mandeh, kalau berulang dari gunung, si Berulang nama bapak, telah gelap jalan ke Tiku, telah terang jalan ke gunung.
Kain batik tenun Palembang
Ditenun Puti Muko-Muko;
Kalau tidak laku Nan jombang
Tidak kan badan bak nangko5
Berkuda bergenta tiga
Sudah luluh padi orang Tungkal;
Kan pergi tidak berberita
Hanya merusuhkan orang tinggal
Putus tali layang-layang
Putus tali karena melepas;
Akan hamba naiki Gunung Ledang
Suka-sukalah Mandeh melepas.”
Sambil bertengkar-tengkar jua, sambil berpantun bersedu sedan,
“Kemuning kalau tidak ditetas
Ke mudik pekan orang Simabur;
Yang kuning kalau tidak dilepas
Lihatlah darah yang tersembur.”
Menjawablah Ninik Kabayan,
“Ditebang tidak tertebang
Bak menebang papan kincir
Ditetas malah yang jadi;
Digalang tidak tergalang
Bak menggalang air hilir
Dilepas malah yang jadi.”
Berjalan jua Nan Gondoriah, mudiklah jalan yang panjang, berundung-undung kain mukena, berkata jua sambil berpantun, [ 227 ]
“Dari alai ka ateh alai
Badantuang guruah di baruah;
Hujan jan paneh jan lai
Nan Gondo ka bajalan jauah.”
Nan sayang gadih Gondoriah, uncang diganggam di tangan kida, payuang tapagang di tangan suok, bajalan juo Nan Gondoriah, lah sarantang pajalanan, lah duo rantang panjang, cukuik katigo rantang panjang, alah sampai Gondo di sanan, etan di padang tampek gubalo, lah tampak urang manggaro, iyo surang parampuan tuo.
Batanyo sanan Nan Gondoriah, “Manolah Mandeh urang manggaro, batanyo denai bakeh Mandeh, bari luruih denai batanyo, nan mano jalan ka gunuang, kan didaki sakali nangko, tinggi bana barito urang, nak suni kiro-kiro, nak pueh urang nan tingga.”
Manyahuik urang manggaro, “Nan gadih Gondoriah, jan disabuik nak ka gunuang, gunuang tak manenggang tunggang, sudah tunggang sati pulo, kok tunggang kan disabuik, tunggangnyo mambatang pinang.
Sapuluah anau nan disagu
Ciek ambiak kan tambilang;
Sapuluah dagang nan lalu
Haram lah babaliak pulang.
Oi., Gondoriah nan sayang, Gondo babaliak malah pulang, molah nak denai antakan, etan ka korong kampuang kau, rusak hati den malieknyo, ibo hati den maliek Gondo, urang baduyun ka Kualo, etan ka kualo Banda Teleng, Gondo bakameh nak ka gunuang.”
Manjawab sanan Nan Gondoriah, “Manolah Mandeh janyo denai, tatkalo maso dahulu, kami basatiah nun di sanan, etan di taluak di kualo, iyo di kualo Banda Teleng, di ateh Dandang Panjang, di sanan satiah mulo bakarang, di situ janji kami pabuek, satiah nan
bagantuang tinggi, satiah nan bakalian dalam, mangko sakarang kini nangko, janji lah ungkai di Tuan Tongga. [ 228 ]
“Dari alai ke atas alai
Berdentung guruh di bawah;
Hujan jangan panas jangan lai16
Nan Gondo akan berjalan jauh.”
Nan sayang gadis Gondoriah, uncang digenggam di tangan kiri, payung terpegang di tangan kanan, berjalan jua Nan Gondoriah, telah serentang perjalanan, telah dua rentang panjang, cukup ketiga rentang panjang, telah sampai Gondo di sana, yaitu di padang tempat gembala, telah tampak orang manggaro17, seorang perempuan tua.
Bertanyalah Nan Gondoriah, “Manoalah Mandeh orang manggaro, bertanya denai pada Mandeh, beri lurus denai bertanya, yang mana jalan ke gunung, akan didaki sekali ini, tinggi benar berita orang, nak sunyi kira-kira, nak puas orang yang tinggal.”
Menyahut orang manggaro, “Nan Gadis Gondoriah, jangan disebut hendak ke gunung, gunung tidak menenggang tunggang, sudah tunggang sakti pula, kalau tunggang yang akan disebut, tunggangnya membatang pinang.
Sepuluh anau yang disagu
Satu ambil kan tembilang;
Sepuluh dagang yang lalu
Haramlah berbalik pulang
Oi…, Gondoriah nan sayang, Gondo berbalik malah pulang, marilah nak denai antarkan, ke korong kampung Kau, rusak hati den melihatnya, iba hati den melihat Gondo, orang berduyun ke kuala, ke kuala Banda Teleng, Gondo berkemas nak ke gunung.”
Menjawab Nan Gondoriah, “Manalah Mandeh kata denai, tatkala masa dahulu, kami bersumpah nun di sana, ialah di teluk di kuala, di kuala Banda Teleng, di atas Dandang Panjang, di sana sumpah mula dikarang, di situ janji kami perbuat, sumpah yang bergantung tinggi, sumpah yang berkalian dalam, maka sekarang ini, janji telah ungkai oleh Tuan tongga.
16. lagi
17. menjaga sawah [ 229 ]
Alah dikarek kayu bapangga
Jadikan pamaga batang lado;
Janji lah ungkai di Nan Tongga
Dek Gondo lah barubah pulo.
Alah tabik candonyo bintang
Bulan basandiang jo matohari;
Barubah satiah Dandang Panjang
Etan di gunuang Gondo mati.
Kain batiak ambiak salendang
Kiriman Sutan dari Aceh;
Manyasa sayang di Nan Jombang
Saketek tidak dapek baleh.
Lapehlah badan denai kini, etan ka puncak Gunuang Ledang, denai daki sakali nangko, nak pueh hati Tuan Tongga.” Bakato juo urang manggaro, “Oi.., Godoriah den sayang, babaliak pulang malah kau, kulik nan haluih koknyo garuik, rambuik nan panjang koknyo kusuik, kok sampai sayang di sanan, iyo di kaki Gunuang Ledang, tunggang bak pinang sabatang, ka mano Gondo bakeh lalu, hanyo bapijak di ateh batu, baruak bagantuang di aka lapuak, sianik kan malayang batih, hilalang kan manikam dado, pimpiang kan mancamuak muko, rotan kok pinteh maminteh, etan di puncak Gunuang Ledang.”
Manjawab sanan Nan Gondoriah, “Mandeh juo janyo denai, kagunuang sakali nangko, kan denai cabiak nan saliang, kan denai tumbuak nan saruweh, kalau babaliak dari siko, Si Babaliak namo mandeh, kalau pulang dari siko, Si Barulang namo bapak, ka gunuang sakali nangko, haram denai babaliak pulang.”
Bapantun sanan Mandeh rang manggaro,
“Mulo tali ambo panjangkan
Kan banang kincia dek ambo;
[ 230 ]
Sudah dikerat kayu bapangga18
Jadikan pemagar batang lada;
Janji telah diingkari Nan Tongga
Nan Gondo telah berubah pula.
Sudah terbit kiranya bintang
Bulan bersanding dengan matahari;
Berubah sumpah Dandang Panjang
Di gunung sana Gondo mati.
Kain batik ambil selendang
Kiriman Sutan dari Aceh;
Menyesal sayang di Nan Jombang
Sedikit tidak mendapat baleh19.
Lepaslah badan denai kini, ke puncak Gunung Ledang, denai daki sekali ini, biar puas hati Nan Tongga.”
Berkata jua orang manggaro, “Oi.., Gondoriah den sayang, berbalik pulang malah Kau, kulit nan halus kalau kan gores, rambut yang panjang kalau kan kusut, kalau sampai sayang di sana, di kaki Gunung Ledang, tunggang bak pinang sebatang, ke mana diri Gondo akan lalu, hanya berpijak di atas batu, beruk bergantung di akar lapuk, sianik akan melayah betis, ilalang kan menikam dada, pimping kan mencamuk wajah, rotan kan pintas memintas, ialah di Gunung Ledang.”
Menjawablah Nan Gondoriah, “Mandeh jua kata denai, ke gunung sekali ini, kan denai cabik yang seliang, kan denai tumbuk yang seruas, kalau berbalik dari sini, si Berbalik nama mandeh, kalau pulang dari sini, si Berulang nama bapak, ke gunung sekali ini, haram denai berbalik pulang.”
Berpantunlah Mandeh orang manggaro,
“Mula tali hamba panjangkan
Untuk benang kincir oleh hamba;
18. dipenggal
19. balas
[ 231 ]
Mulonyo Gondo digadangkan
Kan palawan dunia dek ambo.
Tatagak rumah nan gadang
Badindiang papan lai balun
Kini lah badindiang palupuah;
Sajak Gondo muloi gadang
Batambah makan lai balun
Kini lah pandai bahati rusuah.
Jalo nan tidak ambo tateh
Alah kambang bungo malati;
Gondo dek tidak ambo lapeh
Nak gadang saketek lai.”
Sanan manjawab Nan Gondoriah,
“Kok tidak kasumbo Mandeh rareh
Baok ka pakan rang Simabua;
Kalau tidak Gondo Mandeh lapeh
Lieklah darah kan tasimbua.”
Baru mandanga di kato nantun, duduak manangih mandeh panggaro, Gondo bajalan hanyo lai, jalannyo Si Ganjua Luluah, pado lalu suruik nan labiah, payuang dipagang di tangan suok, uncang dipacik di tangan kida, di sanan tangih disangakkan, sambia bapantun-pantun juo,
“Ditabang dadok tigo batang
Sumbiang bakurang tigo jari
Tahampa pandan ka subarang;
Disangko paneh samnpai patang
Kironyo hujan tangah hari
Basahlah badan denai surang.
Urang Padang mamunta banang
Dipunta dilipek-lipek
[ 232 ]
Mulanya Gondo dibesarkan
Untuk melawan dunia oleh hamba.
Berdiri rumah nan gadang
Berdinding berpapan belum
Kini telah berdinding pelupuh;
Sejak Gondo mulai besar
Bertambah makan pun belum
Kini sudah pandai berhati rusuh.
Jala yang tidak hamba tetas
Sudah kembang bunga melati;
Gondo yang tidak hamba lepas
Nak besar sedikit lagi.”
Menjawablah Nan Gondoriah,
“Kalau tidak kesumba Mandeh retas
Bawa ke pekan orang Simabur;
Kalau tidak Gondo mandeh lepas
Lihatlah darah akan tersembur.”
Baru mendengar kata tersebut, duduk menangis mandeh panggaro20, Gondo pun berjalan kembali, jalannya si Ganjua Luluah, daripada lalu, banyaklah surut, payung dipegang di tangan kanan, uncang digenggam di tangan kiri, di sana tangis disengalkan, sambil berpantun-pantun jua,
“Ditebang dadok tiga batang
Sumbing berkurang tiga jari
Terhampar pandan ke seberang;
Disangka panas sampai petang
Kiranya hujan di tengah hari
Basahlah badan denai seorang.”
Orang Padang memuntal benang
Dipuntal dilipat-lipat
20. orang yang menjaga sawah [ 233 ]
Dilipek lalu dipaduo;
Kalau dirantang inyo panjang
Elok dikumpa naknyo singkek
Diambiak sajo nan paguno
[ 234 ]
Dilipat lalu dibagi dua;
Kaau direntang akan panjang
Elok dikumpar biar singkat
Diambil saja yang berguna.
[ 235 ]
Di Puncak Gunuang Ledang
Babaliak curito pado Nan Tongga, alah sudah minum jo makan, doa salanaik alah ditampuang, panek lapeh litak lah hilang, mamintak izin jo karilahan, baiak kapado mandeh kanduang, atau pun manti jo pangulu, sarato urang nan banyak, mukasuik hati nak pai ka ranah Tiku, untuak maantakan mamak kanduang, sambia manjalang Nan Gondoriah, sarato uncu Ameh Manah.
Tantang kandak Gondoriah, kandak nan saratuih duo puluah, sudahlah cukuik langkok kasadonyo, nuri nan pandai bakato-kato, musang nan pandai mangulindan, baruak nan pandai bakucapi, sarato kancah batarawang, kain cindai panjang duobaleh, api batungkuih di karateh, sabuah tidak ado nan kurang, baitu pulo kain baju, amen urai bapeti-peti, cukuik tabaok kasadonyo, nan labiah bana alah tabaok, iyo ayah kanduang Gondoriah, mamak kanduang Nangkodoh Rajo.
Alah naiak ka ateh kudo Sambarani, si Salamat mairiang d balakang, cukuik pangiriang jo dubalang, Nan Tongga bajalan hanyo lai, dek lamo-ambek bajalan, jauah basarang dakek juo, hampia ka tibo hanyo lai, badendang buni ganto kudo, gumaranciang bunigiriang-giriang, takajuik urang dalam kampuang, diliek cando ka tangah labuah, kironyo Nan Tongga alah datang, cukuik jo alat kabasaran. [ 236 ]
DI PUNCAK GUNUNG LEDANG
Berbalik cerita pada Nan Tongga, setelah sudah minum dan makan, doa selamat telah ditampung, penat lepas lapar telah hilang, meminta izin dan kerelaan, baik kepada mandeh kandung, atau pun manti dan penghulu, serta orang yang banyak, maksud hati hendak pergi ke ranah Tiku, untuk mengantarkan mamak kandung, sambil menjelang Nan Gondoriah, serta uncu Ameh Manah.
Tentang kehendak Gondoriah kehendak yang seratus dua puluh, sudahlah cukup lengkap semuanya, nuri yang pandai berkatakata, musang yang pandai mengelindan, beruk yang pandai berkecapi, serta kancah berterawang, kain cindai panjang dua belas, api berbungkus dalam kertas, sebuah tidak ada yang kurang, begitu pula kain baju, emas urai berpeti-peti, cukup terbawa semuanya, terlebih benar telah terbawa, ialah ayah kandung Gondoriah, mamak kandung Nangkodoh Rajo.
Setelah naik ke atas kuda sembrani, si Salamat mengiring di belakang, cukup pengiring dan dubalang, Nan Tongga pun berjalanlah, karena lambat laun berjalan, jauh bersarang dekat jua, hampir kan tibalah ia, berdendang bunyi genta kuda, gemerincing bunyi giring-giring, terkejut orang dalam kampung, dilihat rupa ke tengah jalan, kiranya Nan Tongga telah datang, cukup dengan alat kebesaran. [ 237 ]Alah tibo garan di sanan, iyo di kampuang Nan Gondoriah, alah tibo di tangah laman, manjanguak malah Ameh Manah, diliek Nan Tongga alah tibo, sarato surang laki-laki. Alah diliek dipandang bana, bantuak bak Tuan Nangkodoh Rajo, sarupo ayah kanduang Nan Gondo, bagageh turun Ameh Manah, diambiak mundam buatan Salayo, lalu bakato maso itu, “Manolah Anak kanduang denai, mandeh mandanga barito baiak, Anak kanduang sudah datang, sajuak raso dalam hati, jan lamo tagak di laman, iko gayuang basuahlah kaki.”
Lah turun Nan Tongga ateh kudo, turun pulo urang kasadonyo, naiak ka ateh rumah nan gadang, basasak di ujuang lalu ka pangka, tabantang tirai langik-langik, takambang kasua banta sarugo, ka tangah pulo carano salangkoknyo, sanan bakato mandeh Ameh Manah.
“Manolah anak kanduang Nan Tongga, kaba urang anak lah mati, kanai tawan dek Palimo Bajau, usahkan mamakk ka tatolong, Anak lah kanai sansaro pulo, kironyo duto kaba nantun, hati lah putiah dek taragak, tapupuih malu di kaniang, dagang hilang alan tajapuik, santano mamak kanduang Anak, dima inyo garan kini?”
Galak tasengeng Nan Tongga, manjawab inyo maso itu, “Cubolah Mandeh pandang bana, siapokoh garan urang nangko, bukannyo manti jo pangulu, bukannyo Bugih jo Makasar, hanyolah dagang babaliak pulang.”
Alah dicaliak-caliak bana, alah diireh disarupokan, kironyo baliau apak paja, nan banamo Nangkodoh Rajo, bantuak batuka dari dahulu, mandeh lah iupo maiaih kironyo, batangisan malah kutiko itu, suko bacampua dangan duko.
Alah sudah kaba bakaba, lah habih rundiang barundiang, kaba barito palayaran, Tongga alah batanyo juo, batanyo dalam hati sajo, salamo lambek inyo duduak, Nan Gondoriah balun juo tampak.
Satantang mandeh Ameh Manah, urang arif bijaksano, tagak sakali maso itu, taruih ka ateh anjuang tinggi, sajak cako indak di [ 238 ]Telah tiba gerangan di sana, yaitu di kampung Nan Gondoriah, telah tiba di tengah halaman, menjenguk malah Ameh Manah, dilihat Nan Tongga telah tiba, serta seorang laki-laki. Telah dilihat dipandang benar, rupa seperti Tuan Nangkodoh Rajo, serupa ayah kandung Nan Gondo, bergegas turun Ameh Manah, diambil mundam buatan Salayo, seraya berkata masa itu, “Manalah Anak kandung denai, mandeh mendengar berita baik, Anak kandung sudah datang, sejuk rasa dalam hati, jangan lama berdiri di halaman, ini gayung basuhlah kaki.”
Lalu turun Tongga dari atas kuda, turun pula orang semuanya, naik ke atas rumah nan gadang, bersesak di ujung lalu ke pangkal, terbentang tirai langit-langit, terkembang kasur bantal seraga, ke tengah pula cerana selengkapnya, lalu berkata mandeh Ameh Manah,
“Manalah anak kandung Nan Tongga, kabar orang anak telah mati, kena tawan oleh Palimo Bajau, usahkan mamak akan tertolong, Anak telah kena sengsara pula, kiranya dusta kabar tersebut, hati telah putih karena teragak, terhapus malu di kening, dagang hilang telah terjemput, sentana mamak kandung Anak, di mana dia gerangan kini?”
Gelak tersenyum Nan Tongga, menjawab ia masa itu, “Cobalah Mandeh pandang benar, siapakah gerangan orang ini, bukannya manti dan penghulu, bukannya Bugis dan Makasar, hanyalah dagang berbalik pulang.”
Setelah dilihat-lihat benar, telah mengiras menyerupakan, kiranya beliau bapak paja, yang bernama Nangkodoh Rajo, wajah bertukar dari dahulu, mandeh telah lupa malah kiranya, bertangisanlah ketika itu, suka bercampur dengan duka.
Telah sudah kabar berkabar, telah habis runding berunding, kabar berita pelayaran, Tongga telah bertanya jua, bertanya dalam hati saja, selama itu ia duduk, Nan Gondoriah belum tampak juga.
Setentang mandeh Ameh Manah, orang arif bijaksana, segera berdiri ia saat itu, terus ke atas anjung tinggi, sejak tadi ia tidak di [ 239 ]rumah, pai ka ladang kabun bungo, sarato si Kambang nan batigo, Gondoriah lah tingga surang, si Kambang Malang pai ka pakan.
Disingkok kulambu suto, dibukakkan kulambu rumin, dipareso kulambu kasadonyo, tiok suduik alah dicari, tiok lengkok alah disigi, Nan Gondoriah tidak kalihatan. Diliek pulo ka ateh meja, cincin alah baserak-serak, galang alah bapenda-penda, subang alah baserai-serai, diliek pulo banta surambi, kapuak alah baserak-serak, bak itu pulo banta surago, lah cabiak kanai rencong.
Dipareso uncang kujari, uncang tidak ado lai, tasirok darah mandeh kanduang, lalu balari turun ka laman, taruih ka pincuran tapian mandi, basuo di sanan si Kambang Malang, sadang manangih sadu-sadan, disapo tidak babuni, dihimbau tidak inyo manjawab, sarupo urang kanai pukau, bak kanai santuang jo palalai.
Dek lamo bakalamoan, alah bakato si Kambang Malang, “Ampunlah ambo Mandeh kanduang, kok Mandeh mancari Nan Gondoriah, inyo lah lari ka Gunuang Ledang, ambo tagah tidak tatagah, ambo larang indak talarang, hatinyo kareh bagai basi, ambo kanai ancam kanai berang, kok ditagah juo aciak ambo, alamat darah kan taserak, bamain Si Rencong Aceh, basilang cando karih sati, ambo bak hilang aka sajo.”
Hebohlah urang maso itu, tadanga Gondo alah hilang, nan labiah bana Nan Tongga, indak disangko nan bak itu, disangko Gondo ka manyongsong, ka gunuang malah inyo pai.
Dek untuang takadia Allah, naiaklah sanan niniak tuo, niniak tuo niniak Kabayan, bakaba malah niniak nantun, tantang curito Nan Gondoriah, ditagah tidak tatagah, dilarang tidak talarang, taruih sajo inyo nan jadi, iyo manuju Gunuang Ledang.
Duduak tamanuang Nan Tongga, takana satiah maso dahulu, iyo di dalam Dandang Panjang, satiah nan bakalian dalam, satiah nan bagantuang tinggi, kini janji alah ungkai, tapi salah Nan Gondo juo, nan bakandak buruang nuri, buruang nuri pandai [ 240 ]rumah, pergi ke ladang kebun bunga, beserta si Kambang nan bertiga, Gondoriah tinggal sendiri, si Kambang Malang pergi ke pekan.
Disingkap kelambu sutra, dibuka kelambu rumin, diperiksa kelambu semuanya, tiap sudut telah dicari, tiap lekuk telah disigi, Nan Gondoriah tidak kelihatan. Dilihat pula ke atas meja, cincin telah berserak-serak, dilihat pula bantal serambi, kapuk telah berserakserak, seperti itu pula bantal seraga, telah cabik kena rencong.
Diperiksa uncang kujari, uncang sudah tidak ada lagi, tersirap darah mandeh kandung, lalu berlari turun ke halaman, terus ke pancuran tepian mandi, bersua di sana si Kambang Malang, sedang menangis tersedu-sedan, disapa tidak berbunyi, dihimbau ia tidak menjawab, serupa orang kena pukau, bak kena santung pelalai.
Lama kelamaan, telah berkata si Kambang Malang, “Ampunlah hamba Mandeh kandung, kalau Mandeh mencari Nan Gondoriah, ia telah lari ke Gunung Ledang, hamba cegah tidak tercegah, hamba larang tidak terlarang, hatinya keras bagai besi, hamba kena ancam kena marah, kalau dicegah jua Acik hamba, alamat darah kan terserak, bermain si rencong Aceh, bersilang rupa keris sakti, hamba bak hilang akal saja.
Hebohlah orang masa itu, mendengar Gondo telah hilang, terlebih benar Nan Tongga, tidak disangka akan seperti itu, disangka Gondo akan menyongsong, ke gunung malah ia pergi
Karena untung takdir Allah, naiklah seorang ninik tua, ninik tua ninik Kabayan, berkabar malah ninik itu, tentang cerita Nan Gondoriah, dicegah tidak tercegah, dilarang tidak terlarang, terus saja ia yang jadi, menuju ke Gunung Ledang.
Duduk termenung Nan Tongga, teringat sumpah masa dahulu, masa di dalam Dandang Panjang, sumpah yang berkalian dalam, sumpah yang bergantung tinggi, kini janji telah ungkai, tapi salah Nan Gondo jua, yang berkehendak burung nuri, burung nuri pandai [ 241 ]bakato, buruang pamenan Andami Sutan, urang indak namuah malapeh, sabalun bakabek kasiah sayang, sabalun babaco ijab kabul, badannyo juo marasaikan.
Takana makrifat maso itu, dibilang-bilang dalam tanuang, disaru malah ayah kanduang, lalu bakato sanan Nan Tongga, “Manolah mandeh kanduang diri, sarato Mamak kanduang denai, usahlah hati di parusuah, usahlah hati di pacameh, lah tantu jalan kan dituruik, sadangkan lawik lai disawang, kununlah puncak Gunuang Ledang, basabalah Mandeh tantang itu, jan inyo dikajuikkan bana, denai surang lah mancari, santano di bumi kito juo, tidak ka mano ka painyo, denai tidak bataguah lai, kini juo denai barangkek.”
Mandanga kato nan bak kian, sananglah hati Ameh Manah, sukolah hati Nangkodoh Rajo, gadanglah hati si Kambang Malang, balun tantu Gorndoriah kan hilang, antah mauji kasiah sayang, tak dapek sato tantang itu.
Turunlah sanan Nan Tongga, dihiliakan labuah nan panjang, alah sarantang duo rantang, alah cukuik tigo rantang panjang, sampailah Nan Tongga ka tangah padang, dakek ladang sawah urang, tampaklah sanan urang manggaro, lalu batanyo maso itu, “Oi Mandeh urang manggaro, bari luruih denai batanyo, laikoh Mandeh manampak urang, iyo nan jombang Gondoriah, inyo lari ka Gunuang Ledang?”
Alah manjawab urang manggaro, dikabakan sado nan tahu, tantang gadih Gondoriah, sananglah hati maso itu, dituruikkan malah jalan ka gunuang, hari barambang patang juo, patang hampia bajawek sanjo, alah kalam candonyo rimbo, harimau alah badangusan, babi alah balanguahan, mamintak sajo pado Allah, salamaik sajo pajalanan.
Alah malam candonyo hari, basuolah pondok urang baladang, bamalamlah sanan Nan Tongga, dibaco sajo doa salamaik, tantang Nan Gadih Gondoriah, salamaik sajo dalanm rimbo, jan inyo kanai bancano. [ 242 ]berbicara, burung permainan Andami Sutan, orang yang tidak mau melepas, sebelum mengikat kasih sayang, sebelum membaca ijab kabul, badannya jua yang merasai.
Teringat makrifat masa itu, dibilang-bilang dalam tenung, diseru malah ayah kandung, lalu berkatalah Nan Tongga, “Manalah Mandeh kandung diri, serta Mamak kandung denai, usahlah hati diperusuh, usahlah hati dipercemas, telah tahu jalan yang akan diturut, sedangkan laut dilayari, kononlah puncak Gunung Ledang, bersabarlah mandeh tentang itu, jangan dia dikejutkan benar, denai seoranglah mencari, sentana di bumi kita jua, tidak ke mana kan perginya, denai tidak bertangguh lagi, sekarang jua denai berangkat.”
Mendengar kata seperti itu, senanglah hati Ameh Manah, sukalah hati Nangkodoh Rajo, besarlah hati si Kambang Malang, belum tentu Gondoriah kan hilang, entah menguji kasih sayang, tak dapat kita ikut serta tentang itu.
Turunlah segera Nan Tongga, dihilirkan jalan yang panjang, telah serentang dua rentang, telah cukup tiga rentang panjang, sampailah Nan Tongga ke tengah padang, dekat ladang sawah orang, tampaklah di sana orang manggaro, lalu ia bertanya masa itu, “Oi Mandeh orang manggaro, beri lurus denai bertanya, adakah Mandeh melihat orang, yaitu nan jombang Gondoriah, ia lari ke Gunung Ledang?”
Telah menjawab orang manggaro, dikabarkan semua yang tahu, tentang gadih Gondoriah, senanglah hati masa itu, diturutkan malah jalan ke gunung, hari berembang petang jua, petang hampir berjawab senja, telah kelam rupanya rimba, harimau telah berdengusan, babi telah berlenguhan, meminta saja pada Allah, selamat saja perjalanan.
Telah malam rupanya hari, bersualah pondok orang berladang, bermalamlah Nan Tongga di sana, dibaca saja doa selamat, tentang Nan Gadis Gondoriah, selamat saja dalam rimba, jangan ia kena bencana. [ 243 ]“Ayah kanduang tolong jo doa, tolonglah Puti Gondoriah, dibaok laraik jo bagian, pai mandaki Gunuang Ledang, patamukan juo denai nangko, jo tunangan denai Gadih Gondoriah.”
Salamo malam samalam nantun, sapiciang mato tidak takalokkan, pangana bulek ka Nan Gondo, rintang mamintak jo mandoa, salamaik sajo Nan Gondoriah.
Lah siang candonyo hari, tabantang fajar di timua, bakukuak ayam jantan rimbo, lah turun pulo Nan Tongga,diangsua cando pajalanan, dipabulek hati nurani, dipatapek tampek tagak, hari batambah tinggi juo, alah sapanggalahan matohari naiak, alah tibo di kaki gunuang, gunuang nan tinggi bukan kapalang, puncaknyo manyapu awan, baranti sanan Nan Tongga, sambia manyanyi-nyanyi ketek,
“Rumah banamo gajah maharam
Rumah gadang sambilan ruang;
Di lawik badan tak karam
Tibo di gunuang badan kok hilang.”
Tampak sanan anak gubalo, sadang gubalo di tangah padang, lalu dihimbau paja nantun, nan banamo si Buyuang Caceh, anak samang Katik Lelo, lah batanyo Nan Tongga, “Anak gubalo janyo denai, bari luruih denai batanyo, laikoh manampak urang lalu, jalannyo bagageh-gageh, payuang dikapik di kanan, uncang dijinjiang sabalah kida, iyolah Puti Gondoriah?”
Manjawab sanan anak gubalo, “Jikok itu Tuan tanyokan kapatang ambo lai maliek, surang padusi nan bak nantun, jalannyo bacapek-capek, tidak malengong ka balakang, tidak maliek suok kida, inyo baunduang-unduang kain mukenah, disapo inyo indak babuni, dilarang inyo tidak talarang, taruih mandaki gunuang nangko.
Kok nan malam samalam nangko, alah di gunuang inyo lalok, dalam rimbo gadang nantun, balunlah urang sampai ka sanan, tampek ula mangulapai, nan tampek taduang bakotek, tampek [ 244 ]“Ayah kandung tolong dengan doa, tolonglah Puti Gondoriah, dibawa larat dan bagian, pergi mendaki Gunung Ledang, pertemukan jua denai ini, dengan tunangan denai Gadis Gondoriah.”
Selama malam semalam itu, sepicing mata tidak terkelapkan, ingatan bulat kepada Nan Gondo, rintang meminta dan mendoa, selamat saja Nan Gondoriah.
Telah siang rupanya hari, terbentang fajar di timur, berkokok ayam jantan rimba, telah turun pula Nan Tongga, diangsurnyalah perjalanan, diperbulat hati nurani, dipertepat tempat berdiri, hari bertambah tinggi jua, telah sepenggalahan matahari naik, telah tiba di kaki gunung, gunung yang tinggi bukan kepalang, puncaknya menyapu awan, berhenti di sana Nan Tongga, sambil menyanyinyanyi kecil,
“Rumah bernama gajah maharam
Rumah gadang sembilan ruang;
Di laut badan tak karam,
Tiba di gunung badan kok hilang.”
Tampak di sana anak gembala, sedang menggembala di tengah padang, lalu dipanggil paja itu, yang bernama si Buyuang Caceh, anak semang Katik Lelo, telah bertanya Nan Tongga, “Anak gembala kata denai, beri lurus denai bertanya, adakah melihat orang lalu, jalannya bergegas-gegas, payung dikepit di kanan, uncang dijinjing sebelah kiri, yaitu Puti Gondoriah?”
Menjawablah anak gembala, “Jika itu Tuan tanyakan, kemarin ada hamba melihat, seorang perempuan seperti itu, jalannya cepatcepat, tidak menoleh ke belakang, tidak melihat kanan kiri, ia berundung-undung kain mukena, disapa ia tidak berbunyi, dilarang ia tidak terlarang, terus mendaki gunung ini.
Kalau yang malam semalam ini, telah di gunung ia tidur, dalam rimba raya itu, belumlah orang sampai ke sana, tempat ular melata, tempat tedung berkotek, tempat iblis berhimbauan, tempat [ 245 ]ibilih bahimbauan, tampek harimau badangusan, antah baa koh garan kini, Tuhan sajo nan ka tahu.”
Mandanga kato nan bak kian, jatuah badarai ayia mato, hati lah samak-samak ragu, pikiran lah kambang-kambang kacuik, dibaco doa maso itu, diangsua juo pajalanan, lah sampai pulo di tangah padang, batamu pulo urang manjamua, batanyo pulo maso itu, “Manolah Mandeh nan manjamua, bari luruih denai batanyo, mano jalan ka Gunuang Ledang, nak denai daki sakali nangko, cubo tolong Mandeh tunjuak-an.”
Manyahuik urang manjamua, “Urang mudo janyo ambo, kok itu Tuan tanyokan, ambo nan tidak tahu bana, antah mano jalan ka gunuang, sajak salambek salamo nangko, balun parnah ditampuah urang, antah kok ibilih hantu bigau.
Tapi samantangpun bak itu, kapatang lai ambo mancaliak, surang parampuan pai ka sanan, etan manuju pucak gunuang, ambo tak dapek mangatokan, antah manusia antah tidak, antah koh salah pancaliak-an, antah dewi hantu gunuang, baliak ka rimbo ustanonyo, ambo nan lai batanyo, inyo tidak ado manyahuik, manakua sajo inyo bajalan, tidaklah ambo tahu lai, ka mano inyo lah tu kini.”
Bajalan juo Nan Tongga, sampailah ka jalan basimpang tigo, ragu jo bimbang datang di sanan, jalan ka mano kan ditampuah. Alah baranti inyo di sanan, mananti urang bakeh batanyo, dek untuang takadia Allah, lalulah surang urang malin, urang tuo panjang jangguik, saliah bana garan tampaknyo, urang malin ulamo gadang, sadang maetong-etong sabiah, batanyo Nan Tongga maso itu,
“Manolah Angku janyo denai, bari luruih denai batanyo, denai nangko nak ka gunuang, jalan basimpang bakeh lalu, ka mano jalan ka dituruik, denai mancari urang lari, iyo Nan Gondan Gondoriah.”
Alah manjawab urang malin, “Manolah waang Urang Mudo, kok itu waang tanyokan, jalan ka kida jalan ibilih, balun parnah ditampuah urang, kok ditampuah badan kok hilang, kok dituruik [ 246 ]harimau berdengusan, entah bagaimana gerangan kini, Tuhan saja yang akan tahu.”
Mendengar kata yang seperti itu, jatuh berderai air mata, hati telah semak dan ragu, pikiran telah kembang-kembang kecut, dibaca doa masa itu, diangsur jua perjalanan, telah sampai pula di tengah padang, bertemu pula orang menjemur, bertanya pula masa itu, “Manalah Mandeh yang menjemur, beri lurus denai bertanya, mana jalan ke Gunung Ledang, nak denai daki sekali ini, coba tolong Mandeh tunjukkan.”
Menyahut orang menjemur, “Orang muda kata hamba, kalau itu yang Tuan tanyakan, hamba yang tidak tahu benar, entah mana jalan ke gunung, sejak waktu selama ini, belum pernah ditempuh orang, entah kalau iblis hantu bigau21 .
Tetapi walaupun begitu, kemarin hamba ada melihat, seorang perempuan pergi ke sana, yaitu pergi menuju puncak gunung, hamba tidak dapat mengatakan, entah manusia entah tidak, entah kah salah penglihatan, entah dewi hantu gunung, balik ke rimba istananya, hamba ada bertanya, dia yang tidak menyahut, menekur saja kepalanya berjalan, tidaklah hamba tahu lagi, ke mana ia sekarang.”
Berjalan jua Nan Tongga, sampailah ke jalan bersimpang tiga, ragu dan bimbang datang di sana, jalan ke mana kan ditempuh, telah berhenti ia di sana, menanti orang tempat bertanya, karena untung takdir Allah, lewatlah seorang malin, orang tua panjang janggut, saleh benar gerangan tampaknya, orang malin ulama besar, sedang menghitung-hitung tasbih, bertanya Nan Tongga masa itu,
“Manalah Angku kata denai, beri lurus denai bertanya, denai ini hendak ke gunung, jalan bersimpang untuk lalu, ke mana jalan akan diturut, denai mencari orang lari, yaitu Nan Gondan Gondoriah.”
Telah menjawab orang malin, “Manalah Waang Orang muda, kalau itu Waang tanyakan, jalan ke kiri jalan iblis, belum pernah ditempuh orang, kalau ditempuh badan bisa hilang, kalau diturut
21. hantu penjaga babi [ 247 ]badan kok sansai.
Jalan ka suok urang bunian, kok ditampuah jalan nantun, jan diharok babaliak pulang, tingga di rimbo salamnonyo, diam basamo jo urang bunian. Jalan di tangah jalan urang, urang uteh pai ka rimbo, atau urang pai baburu, itu nan lai ditampuah urang, bacarai malah kito di siko.”
Alah bajalan Urang Malin nantun, Nan Tongga taruih mandaki, jalan alah batambah bedo, kaik bakaik duri kayu, sianik lah maluko kaki, pimpiang lah mancamuak muko, hambek mnahambek aka kayu, harimau babuni badangusan, langang nan bukan alang-alang, balunlah parnah ditampuah urang, barantilah sanan Nan Tongga, dipabulek cando makrifat, dikana sanan ayah kanduang, dihimbau malah angin lalu, “Oi angin nan batujuah, angin Si Dulak-dolai, angin si Silangsilang Sori, nan mamupuih kayu gadang, angin putiang baliuang gilo, datanglah angin katujuahnyo, kok iyo sabana anak Piaman, anak kiramat hiduik-hiduik, tolong lah tunjuakkan jalan, iyo ka puncak Gunuang Ledang, antakan kini denai ka sanan, iyo ka tampek Nan Gondoriah “.
Pintak sadang nan balaku, batiuplah angin maso itu, angin batujuah badunsanak, tibo limbubu angin topan, bakicuik rasonyo rimbo rayo, manggigia rasonyo Gunuang Ledang, raso kan gampo Tiku Pariaman, kalam kabuik di tangah rimbo, mamiciang sanan Nan Tongga...
Alah dikambangkan mato maso itu, diliek badan alah sampai, etan di puncak Gunuang Ledang, di dakek batu hampa nan putiah, di Si Gamai-gamai Mudo, di bawah rumpun talang kuniang, etan di jirak nan sarumpun, tampaklah sanan Nan Gondoriah, sadang mangunyah-ngunyah siriah, duduak tamanuang surang diri, di ateh batu hampa nan putiah.
Lalu dituruik Nan Gondoriah, hati lah sanang maso itu, bakato sanan Nan Tongga, “Adiak denai Nan Gondoriah, pamenan Tiku jo [ 248 ]badan akan sansai.
Jalan ke kanan orang bunian, kalau ditempuh jalan itu, jangan diharap berbalik pulang, tinggal di rimba selamanya, diam bersama dengan orang bunian. Jalan di tengah jalan orang, orang utas pergi ke rimba, atau orang pergi berburu, itu yang biasa ditempuh orang, berpisah malah kita di sini.”
Telah berjalan orang malin itu, Nan Tongga terus mendaki, jalan sudah bertambah sulit, kait berkait duri kayu, sianik telah melukai kaki, pimping telah menggores wajah, hambat menghambat akar kayu, harimau berbunyi berdengusan, lengang yang bukan kepalang, belumlah pernah ditempuh orang, berhentilah di sana Nan Tongga, diperbulat rupa makrifat, disana diingat ayah kandung, dihimbau malah angin lalu, “Oi angin yang bertujuh, angin si Dulakdolai, angin si Silang-silang Sori, yang memupus kayu besar, angin puting beliung gila, datanglah angin ketujuhnya, kalau iya memang anak Pariaman, anak keramat hidup-hidup, tolonglah tunjukkan jalan, ke puncak Gunung Ledang, antarkan kini denai ke sana, ke tempat Nan Gondoriah.”
Pinta yang sedang berlaku, bertiuplah angin masa itu, angin bertujuh berdansanak, tiba limbubu angin topan, mengecut rasanya rimba raya, menggigil rasanya Gunung Ledang, rasa kan gempa Tiku Pariaman, kelam kabut di tengah rimba, memicing di sana Nan Tongga…
Telah dikembangkan mata masa itu, dilihat badan telah sampai, yaitu di puncak Gunung Ledang, di dekat batu hampa yang putih, di si Gamai-Gamai Mudo, di bawah rumpun talang kuning, yaitu di jirak nan serumpun, tampaklah di sana Nan Gondoriah, sedang mengunyah-ngunyah sirih, duduk termenung seorang diri, di atas batu hampa nan putih.
Lalu diikutinya Nan Gondoriah, hati telah senang masa itu, berkatalah Nan Tongga, “Adik denai Nan Gondoriah, permainan [ 249 ]Pariaman, bari maaf denai di Adiak, denai lah baliak dari lawik, urang mananti di kualo, Adiak manunggu di puncak gunuang, ibo rasonyo paratian...”
Mandakek juo Nan Tongga, duduak baduo badampiangan, bakato juo Nan Tongga, “Adiak denai Nan Gondoriah, Adiak marilah kito pulang, mandeh kanduang alah manangih, bapak kanduang sudah pulang, Adiak nan tak kunjuang basuo, di siko malah Adiak kironyo, kok denai saiah jo khilaf, barilah maaf badan nangko.”
Tunduak manangih Nan Gondoriah, ayia mato jatuah ka pangkuan, lah basah karangan baju, alah tasadu tasadan, lalu manjawab maso itu, “Tuan Tongga janyo denai, bialah denai tingga di siko, tarak nan tujuah baleh bulan, bak iu janji kito pabuek, maso di kualo Banda Teleng, satiah nan bakalian dalam, kini lah ungkai dek Tuan, Tuan manarawang lawik gadang, Tuan manampuah rantau urang, alah batamu bungo kambang, bungo kambang lah Tuan suntiang, ayia janiah lah Tuan minum, tacampak sajo Nan Gondoriah. Bialah denai lapuak di siko, baliaklah Tuan ka Koto Tanau, lah lamo tingga bungo kambang, lah lamo bacarai kasiah hati, iyo Puti Andami Sutan.”
Takajuik sanan Nan Tongga, di manokoh garan inyo tahu, surang tidak nan manyabuik, heran tacangang maso itu, tidak dapek manyuruak lai, lalu manjawab maso itu, “Adiak denai Gondoriah, denai alah basusah payah, pai manarawang lawik gadang, pulau urang nan balarangan, batamu bajak bajau kuntuang, disabuang angok maso itu, lah salamaik badan bapak Adiak, sato pulo inyo sabuah mancari kahandak Adiak juo, iyo kahandak nan saratuih duopuluah, hanyo sabuah nan indak dapek, buruang nuri pandai bakato.
Hanyolah buruang nuri nantun, punyo Puti Andami Sutan, inyo baru namuah maagiah, baijab kabul kawin nikah, sabab nuri tidak bajua, nuri nan tidak baagiahkan, tasumbek jalan maso itu, ka mari bedo ka sanan salah, kini baa lah nan ka baiak, tasarah pado Adiak juo.” [ 250 ]Tiku dan Pariaman, beri maaf denai oleh Adik, denai telah kembali dari lautan, orang menanti di kuala, Adik menunggu di puncak gunung, iba rasanya perhatian…”
Mendekat jua Nan Tongga, duduk berdua berdampingan, berkata jua Nan Tongga, “Adik denai Nan Gondoriah, Adik marilah kita pulang, mandeh kandung telah menangis, bapak kandung sudah pulang. Adik yang tdak kunjung bersua, di sini malah Adik kiranya, kalau denai salah dan khilaf, berilah maaf badan ini.”
Tunduk menangis Nan Gondoriah, air mata jatuh ke pangkuan, telah basah buah baju, telah tersedu tersedan, lalu menjawab masa itu, “Tuan Tongga kata denai, biarlah denai tinggal di sini, tarak yang tujuh belas bulan, begitu janji yang kita buat, masa di kuala Banda Teleng, sumpah yang berkalian dalam, kini telah ungkai oleh Tuan, Tuan menerawang laut luas, menempuh rantau orang, telah bertemu bunga kembang, bunga kembang telah Tuan sunting, air jernih telah Tuan minum, tercampak saja Nan Gondoriah. Biarlah denai lapuk di sini, berbaliklah Tuan ke Koto Tanau, telah lama tinggal bunga kembang, telah lama bercerai kasih hati, yaitu Puti Andami Sutan.”
Terkejutlah Nan Tongga, dari manakah gerangan ia tahu, seorang pun tidak ada yang menyebut, heran tercengang masa itu, tidak dapat lagi bersembunyi, lalu menjawab ia masa itu, “Adik denai Gondoriah, denai telah bersusah payah, pergi menerawang laut luas, pulau orang yang berlarangan, bertemu bajak bajau buntung, disabung nyawa masa itu, telah selamat badan bapak Adik, ia juga ikut serta, mencari kehendak Adik jua, yaitu kehendak yang seratus dua puluh, hanya sebuah yang tidak dapat, burung nuri pandai berbicara.
Hanyalah burung nuri itu, punya Puti Andami Sutan, ia baru mau memberikan, berijab kabul kawin nikah, sebab nuri tidak dijual, nuri yang tidak diberikan, tersumbat jalan masa itu, ke mari salah kesana salah, kini bagaimana yang baik saja, terserah pada Adik jua.” [ 251 ]Dek lamo bahandai-handai, bujuak babahua jo rayuan, lunaklah hati Gondoriah, bakato sanan Nan Gondoriah, “Tuan Tongga janyo denai, samaso Tuan di kualo, iyo di Kualo Banda Teleng, urang basusun ka tabiang, surang Gondo nan tak tampak, Gondo diseso untuang diri, kini ka gunuang Tuan datang, hilang lai kan bacari, hanyuik lai baturuti, tabanam lai basilami, ameh dibaok ka batu ujian, nyatonyo ameh tidak bacampua, bari maaf denai dek Tuan, molah kito babaliak pulang.”
Alah bahandai-handai juo, rintang mangecek kasiah sayang, dicurai dipapakan pajalanan, sabuah tidak nan talampaui, maklum lah Nan Tongga maso itu, apokoh sabab karanonyo, buruang nuri nan punyo ulah, iyo kandak Nan Gondo juo, kini dibaok pasakitan.
Hari basarang tinggi juo, bakamehlah Nan Tongga, baduo jo Gondoriah, babaliak pulang hanyo lai, handak turun ka bawah gunuang. Ditakuakan kapalo maso itu, diliek cando palangkahan, malangkah malah urang nan baduo, dek lamo lambek bajalan, hari paneh bukan kapalang, rasokan pacah banak di kapalo, hauih tibo lapa lah datang, mamintak sanan Nan Gondoriah, “Manolah Tuan Nan Tongga, lah panek kito bajalan, lah latiah kito dek manurun, baranti malah kito di siko.”
Barantilah di bawah kayu gadang, kayu gadang rimbun daun, panek lapeh hauih lah datang, hauih nan bukan alang alang, rasokan laruik dalam rangkuangan, mamintaklah Gondo di sanan, mintak dicarikan ayia saraguak, nak buliah tulang tagok baliak.
Dicari malah tabuang saruweh, disuruah Nan Gondo manantikan, iyo di bawah kayu nan gadang, Nan Tongga pai mancari ayia, etan ka dalam lakuak nan dalam, dalam nan tidak dalam bana, satuka banang habih juo, tunggang nan tidak tunggang bana, tunggangnyo mambatang pinang, tapi samantangpun bak itu, lawik gadang alah disawang, puiau larangan alah ditampuah, dek mancari kahandak Nan Gondoriah, kununlah pulo lakuak nan dalam, ayia kan diminum adiak kanduang. [ 252 ]Karena lam berhandai-handai, bujuk berbuhul dengan rayuan, lunaklah hati Gondoriah, berkatalah Nan Gondoriah, “Tuan Tongga kata denai, semasa Tuan di kuala, ialah di kuala Banda Teleng, orang bersusun ke tebing, seorang Gondo yang tidak tampak, Gondo disiksa untung diri, kini ke gunung Tuan datang, hilang akan Tuan cari, hanyut akan dituruti, terbenam akan diselami, emas dibawa ke batu ujian, nyatanya emas tidak bercampur, beri maaf denai oleh Tuan, marilah kita berbalik pulang.”
Telah berhandai-handai jua, rintang berbicara kasih sayang, dicurai dipaparkan perjalanan, sebuah tidak ada yang terlampaui, maklumlah Nan Tongga masa itu, apakah sebab karenanya, burung nuri yang punya ulah, ialah kehendak NanGondo jua, kini dibawa pesakitan.
Hari bersarang tinggi jua, berkemaslah Nan Tongga, berdua dengan Gondoriah, berbalik pulanglah mereka, hendak turun ke bawah gunung. Ditekukkan kepala masa itu, dilihat rupa pelangkahan, melangkah malah orang yang berdua, karena lambat laun berjalan, hari panas bukan kepalang, rasa kan pecah benak di kepala, haus tiba lapar telah datang, meminta di sana Nan Gondoriah, “Manalah Tuan Nan Tongga, telah penat kita berjalan, telah letih kita menurun, berhenti malah kita di sini.”
Berhentilah di bawah kayu besar, kayu besar rimbun daun, penat lepas haus telah datang, haus yang bukan kepalang, rasa kan larut dalam rangkungan, memintalah Gondo di sana, minta dicarikan air sereguk, supaya tulang tegap kembali.
Dicari malah tabung seruas, disuruh Nan Gondo menantikan, di bawah kayu yang besar, Nan Tongga pergi mencari air, yaitu ke dalam jurang yang dalam, dalam yang tidak dalam benar, setukar benang habis jua, tunggang yang tidak tunggang benar, tunggangnya membatang pinang, tapi walaupun demikian, laut luas telah dilayari, pulau larangan telah ditempuh, karena mencari kehendak Nan Gondoriah, kononlah pula jurang yang dalam, air kan diminum adik kandung. [ 253 ]Tinggalah surang Nan Gondoriah, Tongga lah turun mancari ayia, dibaok tabuang nan saruweh, bapacik di aka kayu lapuak, ditingkek tabiang dalam jurang, asal dek mancari kandak hati, kandak hati Gondoriah, bialah badan naknyo sansai, bialah angok naknyo tabang...
Urang Padang mamunta banang
Dipunta dilipek-lipek
Dilipek lalu dipaduo;
Kalau dirantang inyo panjang
Elok dikumpa naknyo singkek
Diambiak sajo nan paguno.
[ 254 ]Tinggallah seorang Nan Gondoriah, Tongga telah turun
mencari air, dibawa tabung yang seruas, berpegang di akar kayu lapuk, dituruni tebing dalam jurang, asal kan mencari kehendak hati, kehendak hati Gondoriah, biarlah badan akan sansai, biarlah nyawa akan terbang…
Orang Padang memuntal benang
Dipuntal dilipat-lipat
Dilipat lalu dibagi dua;
Kalau dirantang akan panjang
Elok dikumpar supaya singkat
Diambil saja yang berguna.
[ 255 ]
Katik Alamsudin
Kaba baraliah hanyo lai, sungguah baraliah sanan juo, iyo bakeh Katik Alamsudin, dalam nagari Koto Dalam, sadang mamancak galanggang rami, iyo galanggang mancari judu, banyaklah urang datang ka sanan, banyaklah Puti nan dipatuik, banyak gadih nan katuju, nan tacinto dalam hati, awak suko mandeh tak namuah, alah kanai santuang palalai, orang suko awak anggan, tidak batamu judu dalam hati.
Dihimbau malah Tuan Dukun, diliek cando dalam tanuang, manuruik kato Tuan Dukun, kan paubek panyakik nantun, iyolah sikok digungguang alang, jikok dapek sikok nantun, barulah karajo dapek balansuang.
Susahlah hati Alamsudin, rusuah nan bukan alang-alang, rintang bapikia tiok hari, salamo lambek nan bak kian, taragak hati maso itu, handak masuak rimbo rayo, dicubo mancari sikok nantun, jikok untuang tabaok pulang, jikok malang tak basuo, lareklah badan dalam rimbo.
Dimintaklah izin mandeh kanduang, iyo mandeh Galingga Layua, lah bajalan Katik Alamsudin, duo jo si Bujang Salamat, iyo Salamaik Rang Kayo Mudo, dibaok pulo badia pusako, dibaok bareh jo baka, sarato jaro saharuan. [ 256 ]
KATIK ALAMSUDIN
Kabar pun beralihlah, sungguh beralih di sana jua, ialah pada Katik Alamsudin, dalam nagari Koto Dalam, sedang mendirikan gelanggang ramai, yaitu gelanggang mencari jodoh, banyaklah orang datang ke sana, banyaklah Puti yang dipatut, banyak gadis yang disukai, yang tecinta dalam hati, awak suka mandeh tak mau, telah kena santung pelalai, orang suka awak enggan, tidak bertemu jodoh dalam hati.
Dipanggil malah tuan dukun, dilihat rupa dalam tenungan, menurut kata tuan dukun, kan pengobat penyakit itu, ialah sikok22 digunggung elang, jika dapat sikok tersebut, barulah kerja dapat berlangsung.
Susahlah hati Alamsudin, rusuh yang bukan kepalang, rintang berpikir tiap hari, lambat laun seperti itu, teragak hati masa itu, hendak masuk rimba raya, dicoba mencari sikok itu, jika untung terbawa pulang, jika malang tak bersua, laratlah badan dalam rimba.
Diminta izin mandeh kandung, ialah mandeh Galinggang Layua, telah berjalan Katik Alamsudin , berdua dengan si Bujang Salamat, yaitu Salamaik Rangkayo Mudo, dibawa pula bedil pusaka, dibawa beras dan bekal, serta jaro saharuan23
22. burung adip-adip
23. gabus
[ 257 ]Lorong kapado mandeh kanduang, maliek anak ka bajalan,
jatuah badarai ayia mato, rimbo di mano kan dihadang, hutan di mano kan diharu, bajalan cando baibo hati, kandak nan tidak kunjuang buliah.
Dek lamo lambek nan di jalan, masuak rimbo ka lua rimbo, naiak bukik turun lurah, Tuhan sadang manggarakkan, tampaklah alang sadang babega, malayok-layok di udaro, sadang manggungguang anak sikok, haroklah hati Alamsudin, dituruikkan malah Alang nantun, indak tantu lurah jo bukik, tidak takana unak dangan duri, baju alah cabiak-cabiak, kaki alah luko-luko, sampailah inyo di kaki gunuang, iyo di kaki Gunuang Ledang.
Di sanan marayok alang nantun, hinggok di dahan kayu gadang, camehlah hati Alamsudin, cameh bak raso ka mandapek, anak sikok digungguang alang.
Bak itu pulo si Salamat, alah ditenok alang nantun, sadang mangirai-ngirai bulu, diambiak malah badia pusako, dibidiak buruang alang nantun, alah malatuih badia nantun, sikok lah lapeh di gungguangan, lalu disuruah si Bujang Salamat mancari anak sikok nantun.
Alah bajalan si Salamat, manuju ka bawah kayu gadang, malengong cando hilia mudiak, maninjau ka kiri jo kanan, maliek anak sikok cako, bukanlah Sikok nan lah tampak, tapi nan ado surang parampuan.
Tampaklah surang parampuan, sadang duduak di ateh batu, rancak nan bukan alang-alang, sarupo bidodari ateh langik, jaranglah puti kan tandiangannyo, di Alam Minangkabau nangko, tasirok sanan si Salamat, tasirok tagamang hati,sikok alah lupo sajo, lidah kalu indak mangecek.
Lamo sabanta antaronyo, tatagak rupo urang tasapo, balari inyo babaliak, dituruik cando Katik Alamsudin, satu tibo inyo ditanyo, “Manolah Tuan Bujang Salamat, manokoh anak sikok nantun, laikoh dapek nan dicari, buliah kito babaliak pulang, tarangkan lakeh bakeh denai.” [ 258 ]Lorong kepada mandeh kandung, melihat anak akan berjalan, jatuh berderai air mata, rimba di mana kan dihadang, hutan di mana kan diharu, berjalan rupa beriba hati, kehendak yang tidak kunjung boleh.
Lambat laun di jalan, masuk rimba keluar rimba, naik bukit turun lurah, Tuhan sedang menggerakkan, tampaklah elang sedang berbega, melayap-layap di udara, sedang menggunggung anak sikok, haraplah hati Alamsudin, diturutkan malah elang itu, tidak tahu lurah dan bukit, tidak ingat onak dan duri, baju telah cabik-cabik, kaki telah luka-luka, sampailah ia di kaki gunung, yaitu di kaki Gunung Ledang.
Di sana merayap elang itu, hinggap di dahan kayu besar, cemaslah hati Alamsudin, cemas bak rasa kan mendapat, anak sikok digunggung elang.
Begitu pula si Salamat, telah ditenok elang tersebut, sedang mengirai-ngirai bulu, diambil malah bedil pusaka, dibidik burung elang itu, telah meletus bedil tersebut, sikok telah lepas dari gunggungan, lalu disuruh si Bujang Salamat, mencari anak sikok itu.
Telah berjalan si Salamat menuju ke bawah kayu besar, menoleh rupa hilir mudik, meninjau ke kiri dan kanan, melihat anak sikok tadi, bukanlah sikok yang tampak, tapi ada seorang perempuan.
Tampaklah seorang perempuan, sedang duduk di atas batu, rancak bukan kepalang, serupa bidadari atas langit, jaranglah puti kan tandingannya, di alam Minangkabau ini, tersirap si Salamat, tersirap tergamang hati, telah lupa akan sikok, lidah kelu tidak bersuara.
Lama sebentar antaranya, berdiri serupa orang tersapa, berlari ia berbalik, diturutnya Katik Alamsudin, begitu tiba ia ditanya, “Manalah Tuan Bujang Salamat, manakah anak sikok itu, adakah dapat yang dicari, boleh kita berbalik pulang, terangkan malah pada denai.” [ 259 ]Bujang Salamat alun manjawab, dado lah kambang kampih, lutuik manggigia kaduanyo, sarupo kanai santuang palalai, sabuah rundiangan tidak dapek, duduak tamanuang ateh rumpuik, heranlah Alamsudin mamandangi.
Alah sabanta antaronyo, bakato sanan si Bujang Salamat, “Manolah Tuan kanduang ambo, Tuan Katik Alamsudin, lai ambo cari sikok nantun, iyo ka bawah kayu nan gadang, alah dilengong hilia mudiak, pandang jauah dilayangkan, pandang dakek ditukiakkan, diliek pulo kiri jo kanan, usahkan sikok nan basuo, kasan jatuahnyo tidak tampak, antah di mano garan jatuahnyo, ambo tak tahu malah kini.”
Mandanga kato nan bak kian, alah mambangih Katik Alamsudin, “Manolah waang Bujang Salamat, kan bodoh bana malah waang, sikok lah jaleh jatuah ka sinan, iyo ka bawah kayu gadang, jan kan sikok nan dicari, panjahik kan dapek juo. Lah buto bana malah waang, babaliak malah waang ka kiun, cubo cari sakali lai, kok tidak basuo sikok nantun, di siko juo waang tingga, jan diharok babaliak pulang, bacarai nyawo dangan badan…!”
Manayahuik sanan si Bujang Salamat, “Ampunlah ambo Tuan denai, digantuang namuah ambo tinggi, dibuang namuah ambo jauah, bukanlah salah ambo juo, cubolah Tuan pai ka kiun, ka bawah kayu nan gadang, Tuan liek di ateh batu, di sanan talatak sikok nantun, tapi jan ambo nan maambiak, Tuan malah nan maambiaknyo.”
Alah sanang hati Alamsudin, lalu bajalan maso nantun, dituju malah kayu gadang, diliek di ateh batu hampa, bukannyo sikok nan lah tampak, tapi surang urang parampuan, rancak nan bukan alangalang, sariklah Sutan ka judunyo, antah kok bangso rajo-rajo, balun basuo nan bak itu , padusi sarancak sajombang nantun, antah kok dalam sarugo, iyolah bidodari nan batujuah.
Didakek-i malah padusi nantun, hati lah harok-harok cameh, bacampua pulo jo takuik, antah hantu ibilih rimbo, sarupo roman puti-puti, antah kok iyo puti sasek, bakato sanan Katik Alamsudin, [ 260 ]Bujang Salamat belum menjawab, dada telah kembang kempis, lutut menggigil keduanya, serupa kena santung pelalai, sebuah pun rundingan tidak dapat, duduk termenung atas rumput, heranlah Alamsudin memandangi.
Telah sebentar antaranya, berkatalah si Bujang Salamat, “Manalah Tuan kandung hamba, Tuan Katik Alamsudin, telah hamba cari sikok itu, ke bawah kayu yang besar, telah menoleh hilir mudik, pandang jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan, dilihat pula kiri dan kanan, usahkan sikok kan bersua, jejak jatuhnya tidak tampak, entah di mana gerangan jatuhnya, hamba tidak tahu malah kini.”
Mendengar kata seperti itu, marahlah Katik Alamsudin, “Manalah Waang Bujang Salamat, kan bodoh benar malah Waang, sikok telah jelas jatuh ke sana, ke bawah kayu besar, jangankan sikok yang dicari, penjahit akan dapat jua. Telah buta benar malah Waang, berbalik malah Waang ke sana, coba cari sekali lagi, kalau tidak bersua sikok itu, di sini juga Waang tinggal, jangan diharap berbalik pulang, bercerai nyawa dengan badan…!”
Menyahutlah si Bujang Salamat, “Ampunlah hamba Tuan denai, digantung hamba tinggi, dibuang hamba jauh, bukanlah salah hamba jua, cobalah Tuan pergi ke sana, ke bawah kayu yang besar, Tuan lihat di atas batu, di sana terletak sikok itu, tapi jangan hamba yang mengambil, Tuan malah yang mengambil.”
Telah senang hati Alamsudin, lalu berjalan masa itu, dituju malah kayu besar, dilihat di atas batu hampa, bukannya sikok yang tampak, tapi seorang perempuan, rancak bukan kepalang, sulitlah sutan kan jodohnya, entah kalau bangsa raja-raja, belum bersua yang seperti itu, perempuan serancak sejombang itu, entah kok dalam surga, yaitu bidadari nan bertujuh.
Didekati malah perempuan itu, hati telah harap-harap cemas, bercampur pula dengan takut, entah hantu iblis rimba, serupa roman puti-puti, entah iya puti tersesat, berkatalah Katik Alamsudin, [ 261 ]“Manolah Puti nan duduak nangko, jan Tuan salah tarimo, denai batanyo elok-elok, usua pareso baiak-baiak, denai nangko sadang baburu, sadang baburu buruang alang, Alang manggungguang anak sikok, jatuah talayang cando ka siko, bak itu denai sampai ka mari.
Jan malah salah tarimo, batanyo denai bakeh Tuan, manga Tuan duduak di siko, dalam rimbo gadang nangko, siapokah urang nan dinanti, dari mano kampuang korong Tuan, bari luruih denai batanyo.”
Manjawab Puti nan duduak, iyo Puti Nan Gondoriah, “Manolah Tuan nan batanyo, denai mananti Tuan denai, sadang turun ka lurah dalam, mancari ayia kan diminum.”
Bakato pulo Alamsudin, “Siapokoh pulo nan dinanti, di tangah rimbo rayo nangko, ikolah cando rimbo gadang, harimau lapeh tak manantu, ula banyak bajalaran, itu karajo sio-sio, mari kito bajalan pulang, masuak koto jo nagari, sambia mananti Tuan kanduang.”
Manyahuik pulo Nan Gondoriah, “Kato Tuan itu sabananyo, apo nan tidak dalam rimbo, sabanyak nangko panghuninyo. Sungguah bak itu kato Tuan, bialah denai mananti di siko, denai mananti Tuan kanduang, sabanta lai inyo datang.”
Mandanga kato Gondoriah, tabiklah berang Alamsudin, “Usah mananti-nanti lai, usah manunggu-nunggu juo, mari kito bajalan kini, ka rumah mandeh kanduang diri, galanggang rami manantikan, iyo galanggang mancari judu, balun basuo nan dicari, di siko malah batamunyo, tagak malah kito bajalan.”
Manjawab sanan Nan Gondoriah, “Manolah Tuan janyo denai, nantikan dahulu Tuan denai, nak tantu ujuang dangan pangka, nak jaleh duduak tagaknyo.”
Alah mambangih Katik Alamsudin, “Jan adiak mailak juo, namuah indak den baok juo...…!
Alah diirik Nan Gondoriah, dipangku taruih dilarikan, baduo [ 262 ]“Manalah Puti yang sedang duduk, jangan Tuan salah terima, denai bertanya elok-elok, usul periksa baik-baik, denai ini sedang berburu, sedang berburu burung elang, elang menggunggung anak sikok, jatuh melayang ke sini, makanya denai sampai ke sini.
Jangan malah salah terima, bertanya denai pada Tuan, mengapa Tuan duduk di sini, dalam rimba besar ini, siapakah orang yang dinanti, dari mana korong kampung Tuan, beri lurus denai bertanya.”
Menjawab Puti yang duduk, yaitu Puti Nan Gondoriah, “Manalah Tuan yang bertanya, denai sedang menanti Tuan denai, sedang turun ke lurah dalam, mencari air kan diminum.”
Berkata pula Alamsudin, “Siapakah pula yang dinanti, di tengah rimba raya ini, inilah rupa rimba besar, harimau lepas tidak menentu, ular banyak berjalaran, itu kerja sia-sia, mari kita berjalan pulang, masuk koto dan nagari, sambil menanti Tuan kandung.”
Menyahut pula Nan Gondoriah, “Memang benar kata Tuan, apa yang tidak dalam rimba, sebanyak ini penghuninya. Sungguh baik bak itu kata Tuan, biarlah denai menanti di sini, denai menanti Tuan kandung, sebentar lagi ia akan datang.”
Mendengar kata Gondoriah, terbit marah Alamsudin, “Usah menanti-nanti pula, usah menunggu-nunggu jua, mari kita berjalan kini, ke rumah mandeh kandung diri, gelanggang ramai menantikan, yaitu gelanggang mencari jodoh, belum bersua yang dicari, di sini malah bertemunya, berdiri malah kita berjalan.”
Menjawab Nan Gondoriah, “Manalah Tuan kata denai, nantikan dahulu Tuan denai, nak tahu ujung dengan pangkal, nak jelas duduk tegaknya.”
Telah berang Katik Alamsudin, “Jangan Adik mengelak jua, mau tidak denai bawa jua…!”
Telah ditarik Nan Gondoriah, dipangku lalu dilarikan, berdua [ 263 ]dangan si Bujang Salamat, alah tibo di parantian, tampak tapauik kudo Sambarani, dinaiakkan Nan Gondo ka ateh kudo, alah dilarikan kudo nantun, masuak ka dalam nagari, iyo ka nagari Koto Dalam.
Balam timbago Tigo Gayo
Murai bakicau ateh pintu;
Salam takzim badan ambo
Kaba baraliah tantang itu.
Tasabuik kaba Anggun Nan Tongga, lah payah dek manurun, ka dalam lurah nantun, manggapai urek kayu, bapacik di tali aka, tabuang saruweh dipacik juo, dek untuang takadia Allah, lai salamaik tibo di bawah.
Tadanga buni ayia hilia, dalam lurah nan dalam nantun, buni ayia baibo-ibo, buni bak bagai urang maratok, lalu dituju ayia nantun, basuolah sabatang anak ayia, janiah ayianyo bukan kapalang, sarupo cando ayia mato, janiah sarato jo sajuaknyo. Disauakkan malah tabuang nan saruweh, alah sudah manyahuak ayia, dibukaklah baju jo sarawa, lalu barandam dalam ayia, alangkoh sajuak raso badan, lah panek dek mandaki jo manurun, mandi bakusiak bakacimpuang, hati lah sanang sajuak anggota.
Dek lamo bakalamoan, alah didaki pluo tabiang, bapauik di aka kayu, bapijak di ateh batu, diangsua ka ateh basilambek, tabuang saruweh dikapik juo.
Lah tibo di bawah kayu gadang, diliek Gondo tidak ado, dihengong hilia jo mudiak, dipandangi kiri jo kanan, lalu dihimbau Nan Gondoriah, ngalau sajo nan manyahuik, siongang sajo nan manjawek, duduak tamanuang Nan Tongga. Diliek suok jo kida, sarupo urang mancari jajak, tampaklah jajak basilang, bukannyo jajak Nan Gondoriah, lalu dituruti jajak nantun, hati bacampua ibo jo bangih, bajalan juo basilambek, sambia manuruik jajaj urang, diliek pulo cando badan, alah sarupo urang maliang, baju di badan lah kuyak-kuyak, kanai duri dalam rimbo. [ 264 ]dengan si Bujang Salamat, telah tiba di perhentian, tampak terpaut kuda sembrani, dinaikkan Nan Gondo ke atas kuda, telah dilarikan kuda itu, masuk ke dalam nagari, yaitu nagari Koto Dalam.
Balam tembaga tiga gaya
Murai berkicau di atas pintu:
Salam takzim badan hamba
Kaba beralih tentang itu.
Tersebut kabar Anggun Nan Tongga, telah payah menurun, ke dalam lurah itu, menggapai urat kayu, berpegang di tali akar, tabung seruas dipegang juga, karena untung takdir Allah, selamat sampai di bawah.
Terdengar bunyi air hilir, dalam lurah yang dalam itu, bunyi air beriba-iba, bunyi bagai orang meratap, lalu dituju air itu, bertemulah sebatang anak air, jernih airnya bukan kepalang, serupalah air mata, jernih serta sejuknya. Disaukkan malah tabung yang seruas, setelah menyauk air, dibukalah baju dan celana, lalu berendam dalam air, alangkah sejuk rasa badan, telah penat karena mendaki dan menurun, mandi berkusuk berkecimpung, hati telah senang sejuk anggota.
Lama kelamaan, telah didaki pula tebing, berpaut di akar kayu, berpijak di atas batu, diangsur ke atas lambat-lambat, tabung seruas dikepit jua.
Telah tiba di bawah kayu besar, dilihat Gondo tidak ada, ditoleh hilir dengan mudik, dipandangi kiri dan kanan, lalu dihimbau Nan Gondoriah, ngalau saja yang menyahut, sipongang saja yang menjawab, duduk termenung Nan Tongga.
Dilihat kanan dan kiri, serupa orang mencari jejak, tampaklah jejak bersilang, bukannya jejak Nan Gondoriah, lalu dituruti jejak itu, hati bercampur iba dan marah, berjalan jua lambat-lambat, sambil menurut jejak orang, dilihat pula rupa badan, telah serupa orang maling, baju di badan telah koyak-koyak, kena duri dalam rimba. 253 [ 265 ]Dek lamo lambek bajalan, lah ka lua rimbo gadang nantun, tibo di dakek kampuang urang, kampuang alun tantu namo, balun pernah pai ka kian. Alah tibo di ladang urang, tampaklah urang sadang mamangkua, didakati malah urang nantun, lalu batanyo inyo sakali, “Manolah Mamak janyo denai, bari luruih denai batanyo, kampuang apo garan iko, denai balun parnah ka siko, denai tasasek dalam rimbo, alah babilanghari jo pakan.”
Manjawab malah urang paladang, “Oi Rang Mudo janyo ambo, kok itu Tuan tanyokan, ikolah Kampuang Pinang Rajo, dalam daulat Koto Dalam, kununlah tantang rajo kami, banamo Katik Alamsudin, anak kanduang Galinggang Layua, sadang mambukak galanggang rami, inyo mancari judu tunangan, lah lamo garan galanggang nantun, surang tidak nan katuju, urang suko inyo tak namuah, urang namuah inyo lah anggak, pitih lah habih tidak manantu.
Tapi cako ambo mandanga, baliau nan pai baburu alang, Alang manggungguang anak sikok, alah ditembak alang nantun, sikok jatuah sandirinyo, dicari malah sikok nantun, hanyo basuo urang gadih, gadih nan rancak bukan kapalang, agaknyo sikok alah barubah, iyo manjadi anak gadih, untuang ka mujua rajo kami, lah dapek judu tunangan, baralek gadang hanyo lai.”
Maklumlah Nan Tongga tantang itu, ka mano painyo Gondoriah, alah disamun alah disaka, jajak di tanah alah batando, sarupo urang bacakak.
Taruih bajalan hanyo lai, disaru sanan ayah kanduang, nak salamaik pajalanan, dipabuek hati barani, sadang di lawik Tongga tak hilang, kununlah pulo di Koto Dalam.
Dek lamo lambek di jalan, labuah gadang baliku-liku, rumah gadang apik maapik, rami kampuangnyo bukan kapalang, sarupo Tiku jo Pariaman, iyolah kampuang Koto Dalam.
Urang lah baduyun ka galanggang, sarupo anai-anai babuih, langkok talempong jo gandangnyo, rajo nagari lah dapek judu, 254 [ 266 ]Lambat laut berjalan, telah keluar rimba besar itu, sampai ke dekat kampung orang, kampung yang belum tahu namanya, belum pernah ke sana. Telah tiba di ladang orang, tampaklah orang sedang mencangkul, didekati malah orang itu, lalu ia segera bertanya, “Manalah mamak kata denai, beri lurus denai bertanya, kampung apa gerangan ini, denai belum pernah ke sini, denai tersesat dalam rimba, telah berbilang hari dan pekan.”
Menjawab malah orang peladang, “Oi Rang Muda kata hamba, kalau itu yang Tuan tanyakan, inilah kampung Pinang Rajo, dalam daulat Koto Dalam, kononlah tentang raja kami, bernama Katik Alamsudin, anak kandung Galinggang Layua, sedang membuka gelanggang ramai, ia mencari jodoh tunangan, telah lama gerangan gelanggang itu, seorang pun tidak ada yang suka, orang suka ia tak mau, orang mau ia enggan, uang telah habis tapi menantu tidak dapat.
Tapi tadi hamba mendengar, beliau yang pergi berburu elang, elang menggunggung anak sikok, telah ditembak elang itu, sikok jatuh sendirinya, dicari malah sikok itu, hanya bersua seorang gadis, gadis rancak bukan kepalang, agaknya sikok telah berubah, yaitu menjadi anak gadis, untung kan mujur raja kami, telah dapat jodoh tunangan, berhelat besarlah kami.
Maklum Nan Tongga tentang itu, ke mana perginya Gondoriah, sudah disamun dan ditawan, jejak di tanah telah nyata, serupa orang berkelahi.
Nan Tongga terus berjalan, diserulah ayah kandung, supaya
selamat perjalanan, diperbulat hati berani, sedang di laut Tongga
tak hilang, kononkanlah pula di Koto Dalam.
Lambat laun dalam berjalan, jalan besar berliku-liku, rumah gadang apit mengapit, ramai kampungnya bukan kepalang, serupa Tiku dan Pariaman, ialah Kampung Koto Dalam.
Orang telah berduyun ke gelanggang, serupa anai-anai bubus, lengkap talempong dan gendangnya, raja nagari telah dapat jodoh, [ 267 ]galanggang rami siang malam, batambah padiah hati Nan Tongga, awak disiliah tagak-tagak, awak dituka tarang-tarang, paneh hati tak tabado, basumpah Tongga maso itu, “Kok tidak dapek Gondoriah, den datakan kampuang Koto Dalam, den hanguihkan jorong kasadonyo, den licak Katik Alamsudin, baru pueh dalam hati!”
Sampailah Nan Tongga di galanggang, galanggang nan sadang rami bana, urang manyabuang bapadu padan, mano nan kalah tamanuang juo, mano nan manang bagadang hati, alah batimbun bangkai ayam, alah balungguak candonyo taji, sudah batampin ameh urai, baralah pulo sorak urang, bagaikan luluih Koto Dalam.Masuaklah Tongga di galanggang, ka tangah galanggang balai nantun, maliek ka suok ka kida, tak tantu siapo nan dicari, lalu batanyo maso itu, kapado surang urang panyabuang, “Manolah Mamak janyo ambo, bari luruih ambo batanyo, manonyo nan Katik Alamsudin?”
Manjawab urang panyabuang, manjawab sambia mancimeeh, “Manolah waang nan batanyo, apokoh sabab karanonyo, waang mananyokan rajo kami, adokoh waang garan tahu, baliau nan sadang bagadang hati, alah dapek judu tampatan hati, hari barisuak inyo ka kawin.
Kalau hanyo kan manyabuang, indaklah tantu bantuak waang, rupo bak urang pancacak, manga waang datang ka mari, sarupo iko bantuak waang, sarupo urang dicabiak harimau, tatapi jikok waang namuah tahu juo, itulah Tuan Rajo kami, nan duduak di ateh balai, iyolah Tuan Katik alamsudin.”
Mandanga urang heboh di bawah, turunlah Katik Alamsudin, tanyo tibo hariak pun tibo, “Manolah waang tukang kacau, sarupo iko jinih parasaian, urang babaju rancak-rancak, waang datang mangacau sajo!”
Mandanga kato Alamsudin, alah bangih pulo Nan Tongga, sirah talingo kaduonya, darah lah naiak ka kapalo, manjawab inyo [ 268 ]gelanggang ramai siang malam, bertambah pedih hati Nan Tongga, awak disilih tegak-tegak, awak ditukar terang-terang, panas hati tak terbendung, bersumpah Nan Tongga masa itu, “Kalau tidak dapat Gondoriah, den datarkan Kampung Koto Dalam, den hanguskan jorong semuanya, den libas Katik Alamsudin, baru puas dalam hati!”
Sampailah Nan Tongga di gelanggang, gelanggang yang sedang ramai benar, orang menyabung berpadu padan, yang kalah termenung jua, yang menang berbesar hati, telah bertimbun bangkai ayam, telah berlonggok rupanya taji, sudah bertampin emas urai, berapalah sorak orang, bagaikan luluh Koto Dalam.
Masuklah Tongga ke gelanggang, ke tengah gelanggang balai itu, melihat ke kanan dan ke kiri, tak tahu siapa yang dicari, lalu bertanya masa itu, kepada seorang penyabung, “Manalah Mamak kata hamba, beri lurus hamba bertanya, mana yang bernama Katik Alamsudin?”
Menjawab orang penyabung, menjawab sambil mencemooh, “Manalah Waang yang bertanya, apakah sebab karenanya, Waang menanyakan raja kami, adakah gerangan Waang tahu, beliau yang sedang berbesar hati, telah dapat jodoh tambatan hati, besok ia akan kawin.
Kalau hanya kan menyabung, tidaklah tentu bentuk Waang, rupa bak orang pencacak, mengapa Waang datang ke mari, serupa ini bentuk Waang, serupa orang dicabik harimau, tetapi jika Waang mau tahu juga, itulah tuan raja kami, yang duduk di atas balai, ialah Tuan Katik Alamsudin.”
Mendengar orang heboh di bawah, turunlah Katik Alamsudin, tanya tiba hardik pun tiba, “Mana Waang tukang kacau, serupa ini jenis perasaian, orang berbaju bagus-bagus, Waang datang mengacau saja!”
Mendengar kata Alamsudin, telah marahlah Nan Tongga, merah telinga keduanya, darah naik ke kepala, menjawab ia [ 269 ]maso itu, “Manolah Tuan janyo ambo, Tuan Katik Alamsudin, cubolah danga kato ambo, cubo simakkan ciek-ciek, ambo mandanga kaba baiak, Tuan alah mandapek judu, di tangah hutan basa.
Adokoh Tuan tahu garan, tunangan ambo nan Tuan ambiak, judu ambo nan Tuan samun, Tuan lai mancari judu, punyo urang jan diambiak, tunangan urang jan dirampok, dunia indak saleba daun, padusi baratuih nan elok-elok.”
Mandango kato nan bak kian, galak tasengeng Katik Alamsudin, manjawab pulo maso itu, “Manolah waang nan baru datang, cubolah waang pai ka kubangan, camini rupo bantuak waang, ukua bana bayang-bayang, baru manuduah dareh sajo, kini pailah waang dari siko, jan namo sajo nan pulang, sarupo iko urang rami, waang mandareh-dareh sajo!”
Manyahuik pulo Nan Tongga, bakato dangan lantang pulo, “Manolah waang Alamsudin, pantang di aden ka babaliak, sabalun tabaok tunangan den, kok lamak juo buah jarami, baliakkan lakeh tunangan den!”
Maliek rupo nan bak nantun, urang muloi bubar samuonyo, indak tantu ujuang dangan pangka, rundiang alah ateh maatehi, alah basirahan muko sajo, damai nan indak ado lai. Sadang dek Katik Alamsudin, karih dicabuik hanyo lai, Nan Tongga mahunuih karih pulo, karih pandan buatan Jawo, karih kiramat sati pulo, surang tidak barani nak malarai, hanyo tagak manjauahi sajo, sarupo ayam tangah galanggang, jikok cako ayam baadu, kini urang nan batandiang.
Alah diambiak langkah satu, diambiak pulo langkah duo, sarupo alang ka manyemba, mahariak Katik Alamsudin, “Rasaikan kini dek waang Buyuang, namo waang sajo nan pulang, tarimo pakiriman dunsanak waang…!
Lah ditikamkan karih nantun, tapek di dado Nan Tongga, karih bagaluang ka punconyo, jankan Nan Tongga kan mati, [ 270 ]masa itu, “Manalah Tuan kata hamba, Tuan Katik Alamsudin, cobalah dengar kata hamba, coba simakkan satu-satu, hamba mendengar kabar baik, Tuan telah mendapatkan jodoh, di tengah hutan basa.
Adakah Tuan tahu gerangan, tunangan hamba yang Tuan ambil, jodoh hamba yang Tuan samun. Tuan sedang mencari jodoh, punya orang jangan diambil, tunangan orang jangan dirampok, dunia tidak selebar daun, perempuan beratus-ratus yang baik-baik.”
Mendengar perkataan itu, gelak tersenyum Alamsudin, menjawab pula masa itu, “Manalah Waang yang baru datang, cobalah Waang pergi ke kubangan, cermini rupa bentuk Waang, ukur benar bayang-bayang, baru menuduh deras saja, kini pergilah Waang dari sini, jangan nama saja yang pulang, serupa ini orang ramai, Waang bersikeras saja.”
Menyahut pula Nan Tongga, berkata dengan lantang pula, “Manalah Waang Alamsudin, pantang aden kan berbalik, sebelum terbawa tunangan den, kalau masih ingin hidup, kembalikan cepat tunangan den!”
Melihat hal seperti itu, orang mulai bubar semuanya, tidak tahu ujung dan pangkal, runding telah atas mengatasi, telah memerah wajah keduanya, damai yang tidak ada lagi. Sedangkan Katik Alamsudin, keris pun dicabutlah, Nan Tongga menghunus keris pula, keris pandak buatan Jawa, keris sakti keramat pula, seorang pun tidak berani melerai, hanya berdiri menjauh saja, serupa ayam di tengah gelanggang, jika tadi ayam yang diadu, sekarang orang yang bertanding.
Telah diambil langkah satu, diambil pula langkah dua, serupa elang akan menyambar, menghardik Katik Alamsudin, “Rasakan kini oleh Waang Buyung, nama Waang saja yang akan pulang, terima kiriman dansanak Waang…!
Telah ditikamkan keris itu, tepat di dada Nan Tongga, keris bergelung ke pangkalnya, jangankan Nan Tongga yang akan mati, [ 271 ]luko pun inyo tidak, tacangang urang kasadonyo.
Mambaleh pulo Nan Tongga, salah langkah Katik Alamsudin, mahambua dareh Nan Tongga, ditikam malah Katik Alamsudin, tibo nan tapek di pinggangnyo, karih pandak buatan Jawo, balingka sampai ka pangkanyo, heranlah pulo Nan Tongga. Dicabuik karih sabilah lai, karih panjang buatan Malaka, ditikamkan bakeh Katik Alamsudin, sarupo manikam batu karang, bagaluang karih ka hulunyo.
Mambaleh pulo Katik Alamsudin, ditikamkan padang janawi sati, usahkan Tongga nan ka luko, guriah saketek lai tidak, sarupo ditikam jo kaladi, heranlah urang mancaliaknyo, samo sakti kaduonyo, surang tidak nan baralah.
Hilanglah aka Katik Alamsudin, tidak sabuahpun sanjato mampan, habih tenggang jo bicaro, disangko urang buruak sajo, urang sasek dalam rimbo, baisi malah kironyo, tidak luko kanai sanjato, sagalo sanjato nan sati-sati, manjadi ayia di badannyo, usahkan angok nan ka tabang, kuliknyo nan tidak kunjuang guriah.
Lah panek hampeh mahampeh, lah muak tikam manikam, samo tidak baralahan, urang mancaliak lah tangango, balun diliek alah diliek, urang nan tidak dimakan basi, kuek kaba kaduonyo. Lah bailiran paluah di kaniang, lah tapacak paluah buruak, cakak tak tantu kasudahannyo, antah kok bahabih hari.
Dek lah samuak-muak manikam, dek sapueh-pueh mangamuak, dipabulek lai pangana, manyaru sanan Nan Tongga, “Manolah ayah kanduang denai, nan batarak di Gunuang Ledang, kok iyo sabana anak Piaman, kok iyo anak kanduang bapak, iyo Tuanku Haji Mudo, tolonglah anak kanduang, kini nan sadang dihadang musuah…”
Mandanga Nan Tongga alah manyaru, manyaru pulo Katik Alamsudin, “Manolah ayah kanduang denai, iyo Tuanku Haji Mudo, nan batarak di Gunuang Ledang, turunkanlah kiramat Ayah kanduang, nak denai jatuahkan lawan nangko…” [ 272 ]luka pun dia tidak, tercengang orang semuanya.
Membalas pula Nan Tongga, salah langkah Katik Alamsudin, menghambur deras Nan Tongga, ditikam malah Katik Alamsudin, tiba tepat di pinggangnya, keris pandak buatan Jawa, melingkar sampai ke pangkalnya, heranlah pula Nan Tongga. Dicabut keris sebilah lagi, keris panjang buatan Malaka, ditikamkan pada Katik Alamsudin, serupa menikam batu karang, bergelung keris ke hulunya.
Membalas pula Katik Alamsudin, ditikamkan pedang jinawi sakti, usahkan Nan Tongga yang akan luka, gores sedikit pun tidak, serupa ditikam dengan keladi, heranlah orang melihatnya, sama sakti keduanya, seorang pun tidak mengalah.
Hilanglah akal Katik Alamsudin, tidak sebuah pun senjata mempan, habis tenggang dan bicara, disangka orang buruk saja, orang sesat dalam rimba, berisi malah kiranya, tidak luka kena senjata, segala senjata yang sakti-sakti, menjadi air di badannya, usahkan nafas kan terbang, kulitnya yang tidak kunjung gores.
Telah penat hempas menghempas, telah muak tikam menikam, sama tidak mengalah, orang melihat telah ternganga, belum dilihat telah dilihat, orang yang tidak dimakan besi, kuat kebal keduanya. Telah mengalir peluh di kening, telah keluar peluh buruk, cakak tak tentu kesudahannya, entah kan berhabis hari.
Karena telah semuak-muak menikam, karena sepuas-puas mengamuk, diperbulatlah ingatan, menyeru di sana Nan Tongga, “Manalah ayah kandung denai, yang bertarak di Gunung Ledang, kalau iya sebenar anak Pariaman, kalau iya anak kandung Bapak, Tuanku Haji Mudo, tolonglah anak kandung, kini yang sedang dihadang musuh…”
Mendengar Nan Tongga telah menyeru, menyeru pula Katik Alamsudin, “Manalah ayah kandung denai, Tuanku Haji Mudo, yang bertarak di Gunung Ledang, turunkanlah keramat Ayah kandung, nak denai jatuhkan lawan ini…” [ 273 ]Baru tadanga di saru nantun, tacangang sajo Nan Tongga, taheran pulo Alamsudin, awak baduo alah manyaru, tahimbau di namo surang sajo, badunsanak malah kironyo, lah batanyo Katik Alamsudin,
“Kok bak nantun saru kito, kito lah nyato badunsanak, Tuan Tongga malah garan, salamo salambek iko, ikolah parnah nan tajadi, urang bacakak badunsanak, Tuan Tongga janyo denai, barilah maaf badan denai, denai lah salah bakeh Tuan.”
Lalu dipaguik maso nantun, samo-samo bajawek salam, urang tacangang juo malieknyo, patuiklah tidak kanai manganai, urang badunsanak lah baparang, samo kaba samo sati, jaranglah urang ka tandingannyo.
Lah sudah kaba bacurito, dibaok pulang sanak kanduang, iyo ka ateh rumah gadang, diliek Gondo lah di rumah, baru maliek Tuan kanduang, sananglah hati maso nantun, bakato sanan Alamsudin, “Kakak denai Nan Gondoriah, bari ampun denai di Kakak, denai lah salah kurang pareso, dibaok hawo jo nafsu, tidaklah denai manyangko, pabisan denai malah kironyo, disangko juo urang lain.”
Lalu bakaba maso itu, tantang curito di tangah balai, sabuah pun tidak nan tingga, sananglah hati Nan Gondoriah, Nan Tongga lah duduak ateh kasua, di ateh kasua manggalo, timba batimba banta surago, di bawah tirai langik-langik, datanglah sanan mandeh kanduang, nan banamo Galinggang Layua, bakato sanan Alamsudin,
Mandeh kanduang janyo denai, cubolah mandeh pandangpandangi bana, dunsanak kanduang sudah lupo, hampia denai maagiah malu, sagantok denai mambuek heboh, kakak takatokan urang lain, ikolah tuan kanduang denai, nan banamo Anggun Nan Tongga, nan bagala Magek Jabang, iyo bagala Magek Durahman.”
Dicaliak dihinok-hinok bana, urang sarupo kaduonyo, samo sabarih samo sabantuak, maklum urang badunsanak, anak Tuanku Haji Mudo, urang kiramat hiduik-hiduik, nan batarak di Gunuang Ledang, [ 274 ]Baru terdengar seruan itu, tercengang saja Nan Tongga, terheran pula Alamsudin, awak berdua telah menyaru, memanggil nama yang sama, berdansanak malah kiranya, telah bertanya Katik Alamsudin,
“Kalau begitu seru kita, kita telah nyata berdansanak, Tuan Tonggalah rupanya, selama selambat ini, inilah yang pernah terjadi, orang berdansanak berkelahi, Tuan Tongga kata denai, berilah maaf badan denai, denai telah salah pada Tuan.”
Lalu dipeluk masa itu, sama-sama berjawab salam, orang tercengang melihatnya, patutlah tidak kena mengena, orang berdansanak yang berperang, sama kebal sama sakti, jaranglah orang kan tandingannya.
Telah selesai kabar bercerita, dibawa pulang sanak kandung, ke atas rumah gadang, dilihat Gondo telah di rumah, baru melihat Tuan kandung, senanglah hati masa itu, berkata Katik Alamsudin, “Kakak denai Nan Gondoriah, beri ampun denai oleh Kakak, denai telah salah kurang periksa, dibawa hawa dan nafsu, tidaklah denai menyangka, ipar denai malah kiranya, disangka jua orang lain.”
Telah berkabar masa itu, tentang cerita di tengah balai, sebuah pun tidak yang tinggal, senanglah hati Nan Gondoriah, Nan Tongga telah duduk di atas kasur, di atas kasur manggala, timbal bertimbal bantal suraga, di bawah tirai langit-langit, datanglah mandeh kandung, yang bernama Galinggang Layua, berkatalah Alamsudin,
“Mandeh kandung kata denai, cobalah Mandeh pandangpandang benar, dansanak kandung sudah lupa, hampir denai memberi malu, sesaat denai membuat heboh, kakak disangka orang lain, inilah Tuan kandung denai, yang bernama Anggun Nan Tongga, yang bergelar Magek Jabang, bergelar lagi Magek Durahman.”
Dilihat-lihat dengan seksama, serupa mereka berdua, sama sebaris dan sebentuk, maklum orang berdansanak, anak Tuanku Haji Mudo, orang keramat hidup-hidup, yang bertarak di Gunung Ledang, [ 275 ]sajak ketek badan bacarai, tidak parnah basuo lai, namonyo nagari bajauhan, dek untuang takadia Allah, batamu dalam rimbo gadang, dek ulah Nan Gondoriah juo.
Dek lamo lambek nan bak kian, nasi ditatiang dek si Kambang, makanlahurng kasadonyo, lah sudah minum jo makan, dibaco pulo doa salamaik, maaminkan sajo urang nan banyak.
Lah sudah minum jo makan, usua tibo di Nan Tongga, “Manolah Mandeh janyo denai, lah lamo galanggang rami, sudah koh dapek nan dicari, tarangkan bana pado denai.”
Manjawab mandeh kanduang, iyo Mandeh Galinggang Layua, “Anak denai Nan Tongga, ikolah kini nan marusuah, salamo nantun galanggang rami, alun basuo nan dicari, alun batamu nan dicinto, kan judu adiak ang Alamsudin.”
Bakato sanan Nan Tongga, “Mandeh kanduang janyo denai, kito basaba tantang itu, Tuhan alun mampatamukan, Allah kini alun manggarakkan, basaba malah kito dahulu, salorong maso kini nangko, kami nak pai ka galanggang, kami nak pai bamain-main, baduo jo adiak kanduang, iyo Katik Alamsudin.”
Alah sahari duo hari, rami galanggang dek Nan Tongga, baduo jo Katik Alamsudin, tibolah utusan maso itu, dari Tiku Pariaman, disuruah mandeh Suto Suri, banamo Katik Lelo Manjo, dunsanak jauah dek Alamsudin, lah sudah rundiang barundiang, dismapaikan barito nantun.
“Manolah Tuan kanduang denai, iyo Tuan Katik Alamsudin, denai tasuruah tasarayo, barek pasan nan denai baok, dilapeh mandeh dari Pariaman, iyo mandeh Suto Suri. Kami mandapek tamu jauah, baru datang dari lawik, takahyo mancari Nan Tongga, iyolah mmak kanduang diri, nan bagala Katik Intan. Nan baliau Katik Intan, bagala Tuanku Panjang Jangguik, mambaok surang anak gadih, rancak nan bukan alang kapalang, banamo Gadih Santan Batapih. [ 276 ]sejak kecil badan bercerai, tidak pernah bersua lagi, namanya nagari berjauhan, karena untung takdir Allah, bertemu dalam rimba besar, karena ulah Nan Gondo jua.
Lambat laun seperti itu, nasi ditating oleh si Kambang, makanlah semua orang, setelah minum dan makan, dibaca pula doa selamat, mengaminkan saja orang yang banyak.
Sesudah minum dan makan, usul tiba dari Nan Tongga, “Manalah Mandeh kata denai, telah lama gelanggang ramai, sudahkah dapat yang dicari, terangkan benar pada denai.”
Menjawab mandeh kandung, yaitu mandehGalinggang Layua, “Anak denai Nan Tongga, inilah yang merusuh, selama itu gelanggang ramai, belum bersua yang dicari, belum bertemu yang dicinta, kan jodoh adik Ang Alamsudin.
Berkatalah Nan Tongga, “Mandeh kandung kata denai, kita bersabar tentang itu, Tuhan belum mempertemukan, Allah kini belum menggerakkan, bersabar malah kita dahulu, selorong masa kini, kami hendak pergi ke gelanggang, kami hendak pergi bermainmain, berdua dengan adik kandung, yaitu Katik Alamsudin.
Telah sehari dua hari, gelanggang ramai oleh Nan Tongga, berdua dengan Katik Alamsudin, tibalah utusan masa itu, dari Tiku Pariaman, disuruh Mandeh Suto Suri, bernama Katik Lelo Manjo, dansanak jauh oleh Alamsudin, telah sudah runding berunding, disampaikan berita itu.
“Manalah Tuan kandung denai, Tuan Katik Alamsudin, denai disuruh diseraya, berat pesan yang denai bawa, dilepas mandeh dari Pariaman, ialah Mandeh Suto Suri. Kami mendapat tamu jauh, baru datang dari laut, sepertinya mencari Nan Tongga, ialah mamak kandung diri, yang bergelar Katik Intan. Yang beliau Katik Intan, bergelar Tuanku Panjang Janggut, membawa seorang anak gadis, rancak yang bukan kepalang, bernama Gadih Santan Batapih. [ 277 ]Santano Gadih Santan Batapih, urang pulang ka induak bakonyo, mukasuik mancarikan judunyo, diliek cando ka hilia jo mudiak, dipandang kampuang bakuliliang, takana dek mandeh Tuan Katik, iyo dunsanak Anggun Tongga, kok lai sauntuang paruntuangan, dipatamukan malah kaduonyo.
Satantang Puti Santan Batapih, kok lai kito sasuai, barisuak hari inyo datang, tando batali bakirabaik, kok inyo lai sasuai, dipatamukan inyo di siko, iyo jo Katik Alamsudin.”
Allah Ta’ala kayo sungguah, intan pamenan Ranggeh Suri, kambang sasuntiang lawik gadang, lah talayok cando ka sanan, iyo ka kampuang Koto Dalam, kan judu Katik Alamsudin.
Tarantang aka kalimpanang
Tasisik dipaku kawek;
Kok dirantang hanyo kan panjang
Kini elok kito pasingkek.
Alah tibo garan Santan Batapih, etan di kampuang Koto Dalam, baru maliek gadih nantun, tasirok tagamang darah di dado, lah damam Katik Alamsudin, damam nan datang dari lawik, tapi untuangnyo kan baiak, awak damam dukunlah datang, galanggang batambah rami nan jadi, iyo bana papatah pantun urang:
Ayam patah jan dipauik
Tidak elok manang dek balago
Elok mamikek buruang balam;
Asam di gunuang ikan di lawik
Batamu juo dalam balango
Dimakan alek Koto dalam.
Batambah rami malah galanggang, judu dicari alah basuo, barakaik kiramat ayah kanduang, Tongga jo Gondo lah sato sajo, alek manjadi maso itu, alek nan ampek baleh hari, alek basiang-siang malam, salamaik sajo kaduonyo. [ 278 ]Sentana Gadih Santan Batapih, orang pulang ke induk bakonya, maksud mencarikan jodohnya, dilihat rupa ke hilir dan mudik, dipandang kampung berkeliling, teringat oleh mandeh Tuan Katik, yaitu dansanak Anggun Tongga, kalau seuntung peruntungan, dipertemukan malah keduanya.
Setentang Puti Santan Batapih, kalau kita memang sesuai, besok hari ia akan datang, tanda bertali berkerabat, kalau ia memang sesuai, dipertemukan malah di sini, yaitu dengan Katik Alamsudin.”
Allah Ta’ala kaya sungguh, intan permainan Ranggeh Suri, kembang sesunting laut luas, telah melayap rupa ke sana, ke kampung Koto Dalam, kan jodoh Katik Alamsudin.
Terentang akar kalimpanang
Tersisip dipaku kawat;
Kok dirantang hanya kan panjang
Kini elok kita persingkat.
Telah tiba gerangan Santan Batapih, di kampung Koto Dalam, baru melihat gadis itu, tersirap tergamang darah di dada, telah demam Katik Alamsudin, demam yang datang dari laut, tapi untungnya kan baik, awak demam dukun telah datang, gelanggang bertambah ramai jadinya, seperti pepatah pantun orang:
Ayam patah jangan dipaut
Tidak elok menang karena berlaga
Elok memikat burung Balam;
Asam di gunung garam di laut
Bertemu juga dalam belanga
Dimakan helat Koto Dalam.
Bertambah ramai malah gelanggang, jodoh yang dicari telah bertemu, berkat keramat ayah kandung, Tongga dan Gondo telah ikut saja, helat menjadi masa itu, helat yang empat belas hari, helat bersiang-siang malam, selamat saja keduanya. [ 279 ]Alah sahari duo hari, alah sapakan duo pakan, mamintak izin Nan Tongga, mukasuik nak baliak ka Pariaman, iyo ka mandeh Galinggang Layua, duo jo adiak Alamsudin.
Santano Puti Santan Batapih, maso Tongga di Ranggeh Suri, gadang taibo hatinyo, disangko bungo lai ka kambang, ditimpo paneh kasudahannyo. Tapi kini alah baganti, batamu juo ka judunyo, iyolah Katik Alamsudin, adiak kanduang Anggun Tongga, baitu pulo Katik Alamsudin, lah harok dapek puti rancak, kironyo tunangan Tuan Kanduang, baganti juo kasudahannyo, antah nan ma jo Gondoriah, bungo pautan lawik gadang, anak pisang rang Piaman, bukanlah juo urang lain, batamu juo kasudahannyo.
Alah siap langkok kasadonyo, barangkeklah Tongga dari sanan, diantakan dek si Kambang nan baduo, sarato si Bujang Salamat, iyolah Salamat Rangkayo Mudo, sarato pangiriangjo panginang.
Lapeh nan dari Koto Dalam, lah tibo di Koto Rajo, baranti di sanan urang maanta, urang Tiku manyambuik pulo, Tongga jo Gondoriah alah salamaik pulang, baliak dari puncak Gunuang Ledang. [ 280 ]Telah sehari dua hari, telah sepekan dua pekan, meminta izin Nan Tongga, maksud hendak balik ke Pariaman, kepada mandeh Galinggang Layua, bersama dengan adik Alamsudin.
Sentana Puti Santan Batapih, masa Tongga di Ranggeh Suri, teriba sangat hatinya, disangka bunga kan kembang, ditimpa panas kesudahannya. Tapi kini telah berganti, bertemu jua kan jodohnya, ialah Katik Alamsudin, adik kandung Anggun Tongga, begitu pula Katik Alamsudin, telah harap dapat puti rancak, kiranya tunangan Tuan kandung, berganti jua kesudahannya, entah yang mana dengan Gondoriah, bunga pautan laut luas, anak pisang orang Pariaman, bukanlah jua orang lain, bertemu jua kesudahannya.
Telah siap lengkap semuanya, berangkatlah Tongga dari sana, diantarkan oleh si Kambang yang berdua, serta si Bujang Salamat, ialah Salamat Rangkayo Mudo, serta pengiring dan penginang.
Lepas dari Koto Dalam, telah tiba di Koto Rajo, berhenti di sana orang mengantar, orang Tiku menyambut pula. Tongga danGondoriah telah selamat pulang, balik dari puncak Gunung Ledang. [ 281 ]
Manjalang Ayah Kanduang
Tibolah Nan Tongga di ranah Tiku, etan di laman rumah nan gadang, basasak cando urang mananti, bahimpun manti jo pangulu basusun pangiriang jo panginang, maliek Tongga alah datang, duo jo Nan Gondoriah.
Satiah bauji kasiah sayang, lah baliak sanan sumarak anjuang, sumarak anjuang nan tinggi, lah tampak sanan buruang nuri, alah bapantun-pantun surang, tiok pantun tiok manganai, Tongga jo Gondo galak sajo.
Kok tidak dek ulah si nuri, balunlah Gondoriah kan tahu, balun ka lari ka Gunuang Ledang, tapi Allah nan manggarakkan, baitu tasurek dari dahulu, maso di rahim mandeh kanduang, Tongga kan pahapuih malu, Tongga ka paharuang lawik, manampuah pulau larangan.
Alek manjadi-jadi juo, siliah baganti urang naiak, habih siang bajawek malam, ganti baganti jamba ka tangah, mano ka tangah habih juo. Alah sahari duo hari, alah cukuik tigo hari, rundiangan tibo di mamak kanduang, iyo mamak Nangkodoh Rajo, “Manolah kamanakan kanduang diri, iyo Nan Tongga Magek Jabang, duo jo Puti Gondoriah, dangakan bana elok elok, simakkan malah ciek-ciek, nak tasamek dalam hati, rundiangan kato kami nangko. [ 282 ]
MENJELANG AYAH KANDUNG
Tibalah Nan Tongga di ranah Tiku, di halaman rumah nan gadang, ramai orang menanti, berhimpun manti dan penghulu, bersusun pengiring dan penginang, melihat Tongga telah datang, berdua dengan Nan Gondoriah.
Sumpah beruji kasih sayang, telah kembali semarak anjung, semarak anjung yang tinggi, telah tampak di sana burung nuri, telah berpantun-pantun sendiri, tiap pantun selalu mengena, Tongga dan Gondo tertawa saja.
Kalau tidak karena ulah si nuri, belumlah Gondoriah kan tahu, belum akan lari ke Gunung Ledang, tapi Allah yang menggerakkan, begitu tersurat dari dahulu, masa di rahim mandeh kandung, Tongga kan penghapus malu, Tongga kan pengarung laut, menempuh pulau larangan.
Helat menjadi-jadi jua, silih berganti orang naik, habis siang berjawab malam, ganti berganti jambar ke tengah, mana yang ke tengah habis juga. Telah sehari dua hari, telah cukup tiga hari, rundingan datang dari mamak kandung, yaitu mamak Nangkodoh Rajo, “Manalah kemenakan kandung diri, Nan Tongga Magek Jabang, berdua dengan Puti Gondoriah, dengarkan benar elok-elok, simakkan malah satu-satu, yang tersemat dalam hati, rundingan kata denai ini. [ 283 ]Tibolah maso kini nangko, lah salasai kasadonyo, siriah lah baliak ka gagangýnyo, pinang lah baliak ka tampuaknyo, kami lah tuo basongkok uban, taragak hati nak maliek, sampaikan niat Anak kanduang, kito himbau manti jo pangulu, kito panggia alim Tuan Kadhi, nak sampai babuah kasiah-sayang, baralek gadang kito hanyo lai, nak tateleng Tiku Pariaman, nak manggaga sandi-sandinyo, sampai ka Banda Nan Sapuluah.
Jikok kato lah samupakat, áikok ukua lah sakanak, karajo baiak capek-capekkan, nak jan ditimpo di nan buruak karajo buruak lambeklambekkan, kok lai tasalo di nan elok, kato putuih rundiangan nangko, tapacik di Anak baduo sajo.”
Manjawab sanan Anggun Nan Tongga, “Mamak kanduang janyo denai, rundiangan nan datang dari Mamak, itulah kato sabananyo, kok barih lah bapahek, lah tibo ukua jo jangkonyo, biang lah mananti tabuak, gantiang lah mananti putuih.
Tapi sabuah denai sabuik, niat tacinto dalam hati, sabalun alek dimuloi, sabalun sampai niat mukasuik, kami nak bajalan saulang lai, handak manjalang ayah kanduang, iyo Tuanku Haji Mudo, nan batarak di Gunuang Ledang, etan di batu hampa nan putiah.
Kok tidak kiramat ayah kanduang, balunlah badan bak nangko, ka lawik ka darek ayah manyimak, urang sati waliulah.
Batamu jo ayah kanduang, barulah sanang hati kam,i barulah sampai mukasuik Mamak, baiak Mandeh jo urang nagari. Tapi kok balun sampai niat nantun, balun tantu ujuang pangkanyo, balun baniat kami ka kawin, sumpah sati tioknyo datang, kok tibo kutuak dari Ayah, denai tidak namuah durako, kapado ayah kanduang diri, etan di puncak Gunuang Ledang.
Kini bak itu malah nan baiak, lapehkan malah badan kami, pai manjalang ayah kanduang, Bujang Salamat kan denai baok, untuak kawan isuak di jalan.” [ 284 ]Tibalah masa kini, telah selesai semuanya, sirih telah balik ke gagangnya, pinang telah balik ke tampuknya, kami telah tua bersongkok uban, teragak hati hendak melihat, sampaikan niat anak kandung, kita himbau manti dan penghulu, kita panggil alim Tuan Khadi, nak sampai berbuah kasih sayang, berhelat besarlah kita, nak terteleng Tiku Pariaman, nak menggelegar sendi-sendinya, sampai ke Banda Nan Sapuluah.
Jika kata telah semufakat, jika ukur telah sepakai, kerja baik cepat-cepatkanlah, supaya jangan ditimpa yang buruk, kerja buruk lambat-lambatkanlah, kalau tersela di nan elok, kata putus rundingan ini, terpegang di anak berdua saja.”
Menjawab Anggun Nan Tongga, “Mamak kandung kata denai, rundingan yang datang dari mamak, itulah kata sebenarnya, kalau baris telah berpahat, telah tiba ukur dan jangkanya, biang telah menanti tembus, genting telah menanti putus.
Tapi sebuah pula denai sebut, niat tercinta dalam hati, sebelum helat dimulai, sebelum sampai niat maksud, kami hendak berjalan seulang lagi, hendak menjelang ayah kandung, yaitu Tuanku Haji Mudo, yang bertarak di Gunung Ledang, yaitu di batu hampa nan putih.
Kalau tidak keramat ayah kandung, belumlah badan seperti ini, ke laut ke darat ayah menyimak, orang sakti waliulah.
Bertemu dengan ayah kandung, barulah senang hati kami, barulah sampai maksud Mamak, baik Mandeh dengan orang nagari. Tapi kalau belum sampai niat itu, belum tentu ujung pangkalnya, belum berniat kami kawin, sumpah sakti tiap ia datang, kalau tiba kutuk dari Ayah, denai tidak mau durhaka, kepada ayah kandung diri, yang di puncak Gunung Ledang.
Kini bak itulah yang baik, lepaskan malah badan kami, pergi menjelang ayah kandung, Bujang Salamat kan denai bawa, untuk kawan besok di jalan.” [ 285 ]Lah sudah rundiang barundiang, lah sudah kaba bakaba, mintak izin hanyo lai, nak manjalang koto Pariaman, mintak izin dangan rilah, iyo kapado mandeh kanduang, sarato mamak Katik Intan, inyo nan baliak dari lawik, hanyo sabanta inyo di kampuang, mukasuik nak babaliak pulo, iyo ka rantau tampek tingga.
Alah bajalan Tongga maso itu, manuju Koto Pariaman, etan ka jorong Kampuang Dalam, dek lamo lambek di jalan, dakek batambah hampia juo, lah tibo di sanan, etan di ateh rumah gadang, rumah mandeh Suto Suri.
Lah tibo maso kutikonyo, disampaikan malah mukasuik hati, nak manjalang ayah kanduang, iyo ka puncak Gunuang Ledang, didaki sakali lai Gunuang Ledang, mintak izin bakeh bapak, mukasuik nikah kawin jo Gondoriah.
Lah tibo maso bajalan, mintak rilah Nan Tongga, bajawek salam jo urang banyak, salam babuhua jo ayia mato, sarupo urang takkan baliak, sabagai pai salamonyo.
Tibo maso bajalan, basiap malah si Bujang Salamat, baiak bareh dangan baka, baitu juo balanjo jo pakaian, sarato kudo sambarani, alah siap kasadonyo. Dijawek salam mandeh kanduang, sarato mamak kanduang diri, manti jo pangulu sarato urang di nagari, bapasan sanan Nan Tongga, elok-elok manjago nagari, sarupo urang tidak kan babaliak, kan pai larek salamonyo, sadang pado maso dahulunyo, kutiko Tongga pai ka lawik, indak sarupo itu bana.
Lah tibo di tangah laman, iyo di laman nan panjang, malengong cando Nan Tongga, diliek malah rumah gadang, tampek hiduik sajak ketek, kini lah jadi urang gadang, balinang cando ayia mato, dihapuih dangan langan baju.
Alah naiak ka ateh kudo, dipacu malah kudo, buni ganto tingkah batingkah, badendang buni giriang-giriang, alah manduo ketek, manuju kampuang ranah Tiku. Dek lamo lambek di jalan, tibolah di ranah Kampuang Tiku, taruih ka rumah Gondoriah, batamu [ 286 ]Telah sudah runding berunding, telah sudah kabar berkabar, minta izinlah mereka, hendak menjelang Koto Pariaman, minta izin dengan rela, kepada mandeh kandung, serta mamak Katik Intan, yang baru kembali dari laut, hanya sebentar ia di kampung, bermaksud hendak berbalik pula, ke rantau tempat tinggalnya.
Telah berjalan Nan Tongga masa itu, disampaikan malah maksud hati, hendak menjelang ayah kandung, ke puncak Gunung Ledang, didaki sekali lagi Gunung Ledang, minta izin pada bapak, maksud hendak nikah kawin dengan Gondoriah.
Telah tiba masa berjalan, minta rela Nan Tongga, berjawab salam dengan orang banyak, salam berbuhul dengan air mata, serupa orang takkan berbalik, seperti kan pergi selamanya.
Tiba masa berjalan, bersiap malah si Bujang Salamat, baik beras dengan bekal, begitu juga belanja dan pakaian, serta kuda sembrani, telah siap semuanya. Dijawab salam mandeh kandung, serta mamak kandung diri, manti dan penghulu serta orang di nagari, berpesanlah Nan Tongga, elok-elok menjaga nagari, serupa orang tidak kan berbalik, kan pergi larat selamanya, sedang pada masa dahulunya, ketika Tongga pergi ke laut, tidak serupa itu benar.
Telah tiba di tengah halaman, di halaman yang panjang, menolehlah Nan Tongga, dilihat malah rumah gadang, tempat hidup sejak kecil, kini telah jadi orang besar, berlinang rupa air mata, dihapus dengan lengan baju.
Telah naik ke atas kuda, dipacu malah kuda, bunyi genta tingkah bertingkah, berdendang bunyi giring-giring, telah mendua kecil, menuju kampung ranah Tiku, terus ke rumah Gondoriah, bertemu [ 287 ]sanan mandeh jo bapak kanduang, namun samalam malam nantun, sapiciang mato tidak takalokkan, rintang babincang-bincang sajo, asyik bacurito bahandai-handai.
Satantang buruang nuri, alah marintang pulo di balakang, bara kucikak buni pantun, galak tasanyum Nan Tongga, galak tasendeng Nan Gondoriah.
Sakali ayam bakukuak, cukuik kaduo kali ganok, hari batambah siang juo, cukuik katigo ayam bakukuak, tabantang fajar di timua, tasirah cawang di langik, hari lah dakek ka siang, sanan bakato Nan Tongga, “Mandeh kanduang janyo denai, lah hampia siang candonyo hari, pandang lah babagai-bagai, parasaan lah bamacam-macam, salamo salambek nangko, banyaklah parasaian Mandeh tangguangkan, bari maaf kami di Mandeh, Mandeh maklum tantang itu, kami kan mandaki Gunuang Ledang, antah kan sampai niat hati, antahnyo hilang dalam rimbo, manyarah sajo pado untuang
Namonyo hiduik ateh dunia, hiduik jo mati tidak bacarai, sakik jo sanang tidak bapisah, kok lai salamaik babaliak pulang, baralek gadang malah kito, tapi kok sansai dagang di jalan, bacokan sajo doa salamaik, di Jaumilmashsyar kito basuo...
Mandanga kato nan bak kian, manangih mandeh Ameh Manah, tasadu Si Kambang kasadonyo, kecek sarupo takkan baliak, bak kato papatah urang, alah maningga-ninggakan parangai, kan jadi buah-buah ratok, untuak dibincang urang nan tingga.
“Mandeh kanduang janyo denai, sabanta lai kami bajalan, etan ka ateh Gunuang Ledang, tidua sakalok barasian, pasan Bapak tibo juo, tiok mimpi bahimbauan datang, baitu taragak ayah kanduang, lapehlah dek Mandeh elok-elok, suko-suko Mandeh malapeh, nak jan disasa kamudian, bak itu pulo jo mamak kanduang.”
Manjawab sanan Ameh Manah, “Anak denai nan baduo, mukasuik hati baiak bana, tidaklah mandeh kan malarang pai manjanguak ayah kanduang, bukan saketek jaso gunonyo, alah [ 288 ]dengan mandeh dan bapak kandung, namun semalam malam itu, sepicing mata tidak terkelapkan, rintang berbincang-bincang saja, asyik bercerita berhandai-handai.
Setentang burung nuri, telah merintang pula di belakang, berapalah senda gurau bunyi pantun, gelak tersenyum Nan Tongga, gelak tersendeng Nan Gondoriah.
Sekali ayam berkokok, cukup kedua kali genap, hari bertambah siang jua, cukup ketiga ayam berkokok, terbentang fajar di Timur, memerah cewang di langit, hari telah hampir siang, berkatalah Nan Tongga, “Mandeh kandung kata denai, telah hampir siang rupanya hari, pandang telah berbagai-bagai, perasaan telah bermacam-macam, selama selambat ini, banyaklah perasaian Mandeh tanggungkan, beri maaf kami oleh Mandeh, Mandeh maklum tentang itu, kami kan mendaki Gunung Ledang, entah kan sampai niat hati, entah ia akan hilang dalam rimba, menyerah saja pada untung.
Namanya hidup atas dunia, hidup dan mati tidak bercerai, sakit dan senang tidak berpisah, kalau selamat berbalik pulang, berhelat besar malah kita, tapi kalau sansai dagang di jalan, bacakan saja doa selamat, di jaumilmashsyar kita bersua…”
Mendengar kata seperti itu, menangis mandeh Ameh Manah, tersedu si Kambang semuanya, kata seperti orang takkan berbalik, bak kata pepatah orang, telah meninggal-ninggalkan perangai, kan jadi buah-buah ratap, untuk dibincang orang yang tinggal.
“Mandeh kandung kata denai, sebentar lagi kami berjalan, ke atas Gunung Ledang, tidur sekelap berasian, pesan bapak datang jua, tiap mimpi berhimbauan datang, begitu teragak ayah kandung, lepaslah oleh Mandeh elok-elok, suka-suka Mandeh melepas, supaya jangan disesal kemudian, bak itu pula dengan mamak kandung.”
Menjawab Ameh Manah, “Anak denai yang berdua, maksud hati baik benar, tidaklah mandeh kan melarang, pergi menjenguk ayah kandung, bukan sedikit jasa gunanya, telah [ 289 ]salamaik baliau basuo, lakeh Anak babaliak pulang, buliah nak sanang mandeh nangko, nak sanang urang nagari.”
Alah sudah minum jo makan, dibaco pulo doa salamaik lalu turun hanyo lai, turun dari rumah gadang, dicaliak sakileh ka balakang, ibo tadanyuak dalam hati, raso kan tingga rumah gadang, tingga kan balamo-lamo, tidak kan diulang jajak lai, bak itu raso ibo hati.
Alah bajalan Tongga hanyo lai, baduo jo Gondoriah, si Salamat mairiang di balakang, dibaok carano salangkoknyo, dibaok jamba jo juadah, untuak panjanguak ayah kanduang.
Dek lamo lambek bajalan, labuah panjang baliku-liku, kampuang batambah langang juo, lah manampuah pasawangan, di mano panek sanan baranti, lapeh panek bajalan juo.
Lah malam candonyo hari, basuo dangan dangau tingga, bamalam malah di sanan, bak buni pantun urang juo:
Dahulu di ateh anjuang tinggi
Kini di dalam dangau tingga;
Gunuang Ledang kan didaki
Dek kahandak Nan Tongga.
Alah siang candonyo hari, taruih bajalan hanyo lai, alah tibo di kaki gunuang, sanan baranti lapeh panek, bakato sanan Nan Tongga, “Manolah Tuan Bujang Salamat, ambiaklah garan kumayan putiah, kito manyaru pado Allah, kito bakahua bakeh nan kiramat, salamaik sajo pajalanan, batamu juo ayah kanduang, etan di puncak Gunuang Ledang.
Alah dipanggang kumayan putiah, asok mandulang ka udaro, lalu dibaco pulo doa, salasai doa dibaco, bajalan hanyo lai, lah didaki Gunuang Ledang, diharuang rimbo rayo gadang, rotan jo aka kaik bakaik, urek kayu tabalintang, indak tatangguang parasaian, di dalam rinmbo gadang nantun, dikanang juo ayak kanduang, dibulekkan cando pikiran. [ 290 ]selamat beliau bersua, lekas anak berbalik pulang, boleh nak senang mandeh ini, supaya senang orang di nagari.”
Telah sudah minum dan makan, dibaca pula doa selamat, lalu mereka turunlah, turun dari rumah gadang, dilihat sekilas ke belakang, iba berdenyut dalam hati, rasa kan tinggal rumah gadang, tinggal kan berlama-lama, tidak akan diulang jejak lagi, bak itu iba hati.
Telah berjalan Nan Tongga, berdua dengan Gondoriah, si Salamat mengiringdi belakang, dibawa cerana secukupnya, dibawa jambar dan juadah, untuk penjenguk ayah kandung. Karena lambat laun berjalan, jalan panjang berliku-liku, kampung bertambah lengang jua, telah menempuh persawangan, di mana penat di sana berhenti, lepas penat berjalan jua.
Telah malam rupanya hari, berjumpa dengan dangau tinggal, bermalam malah di sana, bak bunyi pantun orang jua,
Dahulu di atas anjung tinggi
Kini di dalam dangau tingga24;
Gunung Ledang kan didaki
Karena kehendak Nan Tongga.
Telah siang rupanya hari, teruslah mereka berjalan, telah tiba di kaki gunung, di sana berhenti melepas penat, berkatalah Nan Tongga, “Manalah Tuan Bujang Salamat, ambillah kemenyan putih, kita menyeru pada Allah, kita berkaul pada yang keramat, selamat saja perjalanan, bertemu jua ayah kandung, di puncak Gunung Ledang.”
Telah dipanggang kemenyan putih, asap mendulang ke udara, lalu dibaca pula doa, selesai doa dibaca, berjalanlah mereka, telah didaki Gunung Ledang, diarungi rimba raya besar, rotan dan akar kait berkait, urat kayu terbelintang, tidak tertanggung perasaian, di dalam rimba besar itu, dikenang jua ayah kandung, dibulatkan rupa pikiran.
24. tinggal [ 291 ]Maliek parasaian Nan Gondoriah, ibo hati Nan Tongga, lalu manyaru maso itu, “Manolah Ayah kanduang denai, jikok bana anak Piaman, turunan Puti sunduik basunduik, turunkanlah angin katujuahnyo, Gondoriah nak bajalan jauah, ka ateh Gunuang Ledang.”
Lamo sabanta antaronyo, alah tibo candonyo angin, angin batujuah badunsanak, tibo pulo angin Si Dulak-dolai. datanglah angin Si Silang-silang Sori, nan mambuhua saliguri, nan manyapu rumpuik di padang, tibo angin putiang baliuang, tibo angin dicabiak kapan, tibo angin limbubu jantan, datang mandakek si awan putiah, alah kalam cando bakuliliang, raso manggarik Gunuang Ledang, raso bakuak Tiku Pariaman, raso kiamat dunia nangko.
Indak lamo kamudian, barantilah ribuik gadang, tabang maruak awan putiah, putiah sarupo kapeh panji, tampaklah batu hampa putiah, di bawah jirak nan sabatang, diliek di- pandangi bana, tampaklah surang urang tuo, sadang duduak di ateh batu nantun, bapakaian jubah sagalo putiah, jangguiknyo panjang bajelo-jeio, sadang mambilang-bilang tasbiah, tahulah Nan Tongga maso itu, ayah kanduang alah basuo, lalu dihampiari baliau nantun, salam tibo di Nan Tongga.
Bakatolah urang tuo nantun, iyolah ayah kanduang Nan Tongga, “Anak denai Nan Tongga, sudah lamo denai mananti Anak, kini Anak alah datang, duduaklah Anak di siko.”
Alah dijawek salam ayah, baitu pulo Bujang Salamat, sarato Nan Gondoriah, lah duduak basamo-samo, di ateh batu hampa putiah, juadah ka tangah di Gondoriah.
Alah sabanta malapeh panek, bakato sanan Nan Tonga, “Manolah Ayah kanduang denai, urang kiramat hiduik-hiduik, salamo lambek indak basuo, hanyo batamu di dalam mimpi. Ayah kanduang janyo denai, mukasuik hati kami nangko, niat lah lamo tabangkalai, kini mintak disampaikan, baa koh pangana Ayah kanduang, kato nan mintak dibuniai.” [ 292 ]Melihat perasaian Nan Gondoriah, iba hati Nan Tongga, lalu menyaru masa itu, “Manalah ayah kandung denai, jika benar anak Pariaman, turunan Puti sundut menyundut, turunkanlah angin ketujuhnya, Gondoriah hendak berjalan jauh, ke atas Gunung Ledang.”
Tak lama antaranya, telah tiba rupanya angin, angin bertujuh berdansanak, tiba pula angin si Dulak-dolai, datanglah angin si Silangsilang Sori, yang membuhul seliguri, yang menyapu rumput di padang, tiba angin puting beliung, tiba angin dicabik kafan, tiba angin limbubu jantan, datang mendekat si awan putih, telah kelam rupa sekeliling, rasa bergerak Gunung Ledang, rasa terkuak Tiku Pariaman, rasa kiamat dunia ini.
Tidak lama antaranya, berhentilah ribut besar, terbang meruak awan putih, putih serupa kapas panji, tampaklah batu hampa putih, di bawah jirak yang sebatang, dilihat dipandangi benar, tampaklah seorang tua, sedang duduk di atas batu itu, berpakaian jubah segala putih, janggutnya panjang berjela-jela, sedang membilang-bilang tasbih, tahulah Nan Tongga masa itu, ayah kandung telah bersua, lalu dihampiri beliau itu, salam tiba dari Nan Tongga.
Berkatalah orang tua itu, ayah kandung Nan Tongga, “Anak denai Nan Tongga, sudah lama denai menanti Anak, kini Anak telah datang, duduklah anak di sini.”
Telah dijawab salam ayah, begitu pula Bujang Salamat, serta Nan Gondoriah, telah duduk bersama-sama, di atas batu hampa putih, juadah dibawa ke tengah oleh Gondoriah.
Telah sebentar melepas penat, berkatalah Nan Tongga, “Manalah Ayah kandung denai, orang keramat hidup-hidup, selama ini tidak bersua, hanya bertemu di dalam mimpi. Ayah kandung denai, maksud hati kami ini, niat telah lama terbengkalai, kini minta disampaikan, bagaimana pikiran Ayah kandung, kata yang minta jawaban.” [ 293 ]Manjawab sanan Tuanku Haji Mudo, “Anak denai Nan Tongga, duo jo Gadih Gondoriah, jan malah kalian takajuik jan tagamang kirokiro, anak batunangan sajak ketek, mulo di rahim mandeh kanduang, banyak sansaro nan dicubo, Anak lah tahu juo tantang itu. Tapi sabuah Anak tak tahu, bak itu pulo mamak kanduang, Anak nan tidak samo tahu, sabab samaso paja ketek, ado rahasio denai katokan, mandeh kanduang diam sajo, indak tasabuik di kato nantun, ayah malah nan mangatokan.
Kutiko anak samo ketek, Tongga lah lahia ka dunia, mandeh kanduang bacarai mati, iyo nan mandeh Ganto Pamai, anak denai alah manyusu, iyo jo mandeh Ameh Manah. Kalau disabuik bak limbago, caro adat dalam nagari, kalian badunsanak tu namonyo, iyo badunsanak sasusuan, manuruik adat limbago juo, tidaklah anak buliah kawin nikah, hanyo samo batunangan sajo. Bak itu garak dari Allah, kito manusia manapati, namun samantangpun bak itu, kalian tidak ka babaliak lai, etan ka Tiku Pariaman, kini kito kan samo pai.
Satantang waang Bujang Salamat, pulanglah waang babaliak, Tongga jo Gondo tingga di siko, kami barangkek hanyo lai, garak takadia sudah tibo, surek janji alah datang, ukua jo jangko alah sampai, kito tak sato tantang itu.”
Takajuik sanan Tuan Tongga, ciek inyo tidak manjawab, dibaco sajo kalimah Tuhan, lamo sabanta antaronyo, manjawab juo Nan Tongga, “Ayah kanduang janyo denai, kini dunia isuak akhirat, kini mati isuak kan mati, santano elok kato Ayah kanduang, kami tidak kan mambantah, kami manuruik tantang itu.
Bukan tingkarang nan manimpo
Patah karang disambuik dayuang
Kasiak badan hanyo lai
Di tangah laman serakkan juo;
Sajak dahulu lah tapinto
Sajak di rahim mandeh kanduang
[ 294 ]Menjawab Tuanku Haji Mudo, “Anak denai Nan Tongga,
berdua dengan Gadih Gondoriah, jangan malah kalian terkejut, jangan tergamang kira-kira, anak bertungan sejak kecil, mula di rahim mandeh kandung, banyak sengsara yang dicoba, Anak telah tahu juga tentang itu. Tapi sebuah Anak tidak tahu, bak itu pula mamak kandung, Anak yang tidak sama tahu, sebab semasa paja kecil, ada rahasia denai katakan, mandeh kandung diam saja, tidak tersebut kata itu, ayah malah yang mengatakan.
Ketika anak sama kecil, Tongga telah lahir ke dunia, mandeh kandung bercerai mati, yaitu mandeh Ganto Pamai, anak denai telah menyusu, kepada mandeh Ameh Manah. Kalau disebut bak lembaga, cara adat dalam nagari, kalian berdansanak itu namanya, berdansanak sepersusuan, menurut adat lembaga juga, tidaklah anak boleh kawin nikah, hanya sama bertunangan saja. Seperti itu gerak dari Allah, kita manusia menepati, namun sementangpun bak itu, kalian tidak kan berbalik lagi, ke Tiku Pariaman, kini kita kan sama pergi.
Setentang Waang Bujang Salamat, pulanglah Waang berbalik, Tongga dan Gondo tinggal di sini, kami akan berangkat, gerak takdir sudah tiba, surat janji telah datang, ukur dan jangka telah sampai, kita tak serta tentang itu.”
Terkejutlah Tuan Tongga, satu pun ia tidak menjawab, dibaca saja kalimat Tuhan, lama sebentar antaranya, menjawab jua Nan Tongga, “Ayah kandung denai, kini dunia esok akhirat, kini mati esok kan mati, sentana elok kata Ayah kandung, kami tidak akan membantah, kami menurut tentang itu.
Bukan tingkarang yang menimpa
Patah karang disambut dayung
Kering badan jadinya
Di tengah halaman serakkan jua;
Sejak dahulu telah terpinta
Sejak di rahim mandeh kandung
[ 295 ]
Kami bacarai hanyo lai
Di akhirat Ayah sampaikan juo.”
Bakato pulo Nan Tongga, kapado si Bujang Salamat, “Manolah Tuan Bujang Salamat, lah samo tadanga di kato ayah, baitu juo Nan Gondoriah, nan sajangka takkan saheto, nan sakapa takkan saganggam, di siko bacarai kasiah sayang, kito batulak pungguang. Tuan babaliak ka Tiku, kami kan samo pai jo bapak, ka mano handak dibaoknyo, kami manyarah tantang itu.
Manolah adiak Nan Gondoriah, rundiangan sudah kito danga, kito tak sato tantang itu, curito sudah kito karang, sajarah sudah kito buek, tidak dapek diuleh lai, janjian tibo maso kiní, di akhirat kito sambuang pulo.”
Mangucap sajo Nan Gondoriah, sabuah tidak dapek jawab, untuang lah ado sajak dahulu, kini tingga manjalani, manyarah sajo pado Tuhan.
Alah mambaco doa ayah kanduang, iyo Tuanku Haji Mudo, dalam sabanta sakutiko, turunlah Anjuang dari langik, batirai kain biludu, bamaniak-maniak bamego-mego, rancak nan bukan alangalang, batatahkan ameh dangan podi, bakilek-kilek cahayonyo.
Naiaklah baliau ka ateh Anjuang, manuruik pulo Nan Tongga, dijawek pulo NanGondoriah, baru sabanta antaronyo, Anjuang lah naiak ka ateh langik, hilang candonyo di baliak awan, iyo di baliak awan nan putiah, hilang di langik nan biru, si Bujang Salamat lah tangango surang, maliek cando nan bak nantun, sarupo urang hilang pangana.
Lamo sabanta antaronyo, diliek batu tidak barisi, Nan Tongga tidak ado lai, baitu juo Nan Gondoriah, sarato Tuanku Haji Mudo, alah mahirat ka ateh langik, tidak kan turun-turun lai, sanan manggaruang si Bujang Salamat, “Manolah Tuan Anggun Tongga,
manga denai ditinggakan, Tuan pai denai lah surang, jo siapo denai ditinggakan, apolah tenggang badan denai, namonyo di tangah rimbo gadang, tak tantu jalan ka dituruik, jalan mano ka ditampuah, [ 296 ]
Kami bercerai jadinya
Di akhirat ayah sampaikan jua.”
Berkata pula Nan Tongga, kepada si Bujang Salamat, “Manalah Tuan Bujang Salamat, telah sama didengar kata Ayah, begitu jua Nan Gondoriah, yang sejangka takkan sehasta, yang sekepal takkan segenggam, di sini bercerai kasih sayang, kita bertolak punggung, Tuan berbalik ke Tiku, kami kan sama pergi dengan Bapak, ke mana hendak dibawanya, kami menyerah tentang itu.
Manalah Adik Nan Gondoriah, rundingan sudah kita dengar, kita tak serta tentang itu, cerita sudah kita karang, sejarah sudah kita buat, tidak dapat diulas lagi, janjian datang masa kini, di akhirat kita sambung pula.”
Mengucap saja Nan Gondoriah, sebuah tidak dapat menjawab, nasib sudah ada sejak dulu, kini tinggal menjalani, menyerah saja pada Tuhan.
Telah membaca doa ayah kandung, yaitu Tuanku Haji Mudo, dalam sebentar seketika, turunlah anjung dari langit, bertirai kain beludru, bermanik bermega-mega, rancak yang bukan kepalang, bertahtakan emas dengan padi, berkilat-kilat cahayanya
Naiklah beliau ke atas anjung, menurut pula Nan Tongga, dibantu pula Nan Gondoriah, baru sebentar antaranya, anjung telah naik ke atas langit, hilang rupanya di balik awan, di balik awan nan putih, hilang di langit yang biru, si Bujang Salamat telah ternganga sendiri, melihat rupa seperti itu, serupa orang hilang ingatan.
Lama sebentar antaranya, dilihat batu tidak berisi, Nan Tongga tidak ada lagi, begitu juga Nan Gondoriah, serta Tuanku Haji Mudo, telah mengirap ke atas langit, tidak kan turun-turun lagi, menggerunglah si Bujang Salamat, “Manalah Tuan Anggun Tongga, mengapa denai ditinggalkan, Tuan pergi denai telah sendiri, dengan siapa denai ditinggalkan, apalah tenggang badan denai, namanya di tengah rimba besar, tak tentu jalan kan diturut, jalan mana kan ditempuh, [ 297 ]lurah mano ka dituruni, Tuan Tongga lah hilang sajo, hilang di baliak awan putiah, lanyok di baliak langik biru, ka mano Tuan ka denai sigi, dahulu kito pai batigo, kini babaliak denai surang.
Manolah Tuan kanduang denai, sajak kutiko maso dahulu, kito manampuah lawik gadang, kito manampuah rantau urang, denai nan tidak ditinggakan, tidak ibo Tuan jo denai, denai ditinggakan surang sajo...”
Manangih juo si Bujang Salamat, marubu-rubu dalam rimbo, basuo lurah dituruni, basuo bukik lah didaki, badan lah luko dikaik sianik rimbo, cabiak-cabiak baju di dado, namun tangih ditangihkan juo, namun langkah dilangkahkan juo. Hari batambah patang juo, patang bajawek dangan malam, mano malam sanan bamalam, samo lalok jo kandiak gadang, samo tidua jo harimau, ula banyak bajalaran, tak paduli Si Bujang Salamat.
Gunuang Ledang baula nago
Tampak nan dari Koro Sikilang;
Dahulu pai awak batigo
Kini surang babaliak pulang.
Kaba baraliah tantang itu, baraliah ka Tiku Pariaman, sampai sahari duo hari, sampai tigo hari ganok, lah dietong dibilang-bilang, tak lamo lai Nan Tongga pulang, manjalang pulang Nan Tongga, elok sadio nan paralu, baiak bareh dangan baka, kan baralek gadang Tiku Pariaman.
Dibuek malah surek undangan, dikirim ka kampuang bakuliliang, sampai ka Aua Pakandangan, sampai ka Manggopoh Lubuak Basuang, sampai ka Banda Nan Sapuluah, sampai ka Luhak Tanah Agam, salingkuang Ranah Minang nangko, sabuang salapeh hari patang, Si Bungsu tidak baradiak lai, namonyo anak tungga babeleng, baiak di Nan Tongga jo di Nan Gondoriah.
Alah bahimpun manti jo pangulu, bakumpua dunsanak badakatan, dibilang-bilang malah hari, diliek-liek dalam surek, di [ 298 ]lurah mana kan dituruni, Tuan Tongga telah hilang saja, hilang di balik awan putih, lenyap di balik langit biru, ke mana Tuan kan denai sigi, dahulu kita pergi bertiga, kini berbalik denai seorang.
Manalah Tuan kandung denai, sejak ketika masa dahulu, kita menempuh laut luas, kita menempuh rantau orang, denai yang tidak ditinggalkan, tidak iba Tuan dengan denai, denai ditinggalkan seorang saja…”
Menangis jua si Bujang Salamat, merubu-rubu dalam rimba, bersua lurah dituruni, bersua bukit didaki, badan telah luka dikait sianik rimba, robek-robek baju di dada, namun tangis ditangiskan jua, namun langkah dilangkahkan jua. Hari bertambah petang jua, petang berjawab dengan malam, di mana malam di sana bermalam, seketiduran dengan babi besar, sama tidur dengan harimau, ular banyak berjalaran, tidak peduli si Bujang Salamat.
Gunung Ledang berular naga
Tampak dari Koro Sikilang;
Dahulu pergi bertiga
Sekarang seorang berbalik pulang.
Kabar beralih tentang itu, beralih ke Tiku Pariaman, sampai sehari dua hari, sampai tiga hari genap, telah dihitung dibilang-bilang, tak lama lagi Nan Tongga pulang, menjelang pulang Nan Tongga, elok sediakan yang perlu, baik beras dan bekal, kan berhelat besar Tiku Pariaman.
Dibuat malah surat undangan, dikirim ke kampung berkeliling, sampai ke Aua Pakandangan, sampai ke Manggopoh Lubuak Basuang, sampai ke Banda Nan Sapuluah, sampai ke Luhak Tanah Agam, selingkung ranah Minang ini, sabung selepas hari petang, si bungsu tidak beradik lagi, namanya anak tunggal berbeleng, baik di Nan Tongga dan di Nan Gondoriah.
Telah berhimpun manti dan penghulu, berkumpul dansanak berdekatan, dibilang-bilang malah hari, dilihat-lihat dalam surat, di [ 299 ]manolah hari nan ka elok, galanggang dibukak tigo bulan, bapuluah kabau nan kan rabah, untuak jamu alek nan datang, sadio ameh tigo peti, untuak balanjo alek nantun, hanyo sabuahnyo saketek, mananti Nan Tongga sajo, kok lah babaliak dari gunuang.
Bak itu pulo Katik Alamsudin, tak lamo Nan Tongga pai, inyo lah datang pulo, manjanguak dunsanak di koto Pariaman, sarato mandeh kasadonyo, namonyo awak sudan kawin, dijalang mintuo jo pabisan, sambia mausua mamareso, Tuan Tongga tidak basuo lai. Dek lamo lambek nan bak kian, alah ampek limo hari, alah sapakan duo pakan, Nan Tongga balun kunjuang pulang, disonsong malah
Tuan Tongga, dek adiaknyo Katik Alamsudin, sarato dubalang jo mantinyo, iyo ka kaki Gunuang Ledang, etan ka padang panjamuran, ka jalan nan tigo basimpang.
Dibaok bareh dangan baka, dibaok kudo tigo ikua, sarato pakaian sacukuiknyo, salamo lambek nan di jalan, sampai di bukik Sandiang Tigo, iyo di bawah kaki gunuang nantun, dakek jalan basimpang tigo, barantilah sanan Katik Alamsudin, mukasuik hati nak baranti di sanan, lah panek dek bajalan, hari nan sadang tangah hari, sadang bunta bayang bayang, paneh bak raso mamanggang kulik, paluah di badan bacucuran.
Tampak tabang babega buruang alang, sadang bakulik-kulik juo, manambah laruik paratian, sabuah tidak ado nan tampak, ditujulah dangau sabuah, dangau tingga urang baladang, kan malapeh panek jo latiah.
Alah turun Katik manuju dangau nantun, lah sabanta tagak di sanan, tadanga bunyi urang maharang, bak buni urang damam payah, bagaruah-garuah buni angoknyo, kaluah-kasah manahan sakik, bak cando urang manangih, manangih taisak-isak, baganti dalam sadu-sadan.
Lah dituruik dek Tuan Katik, naiak ka ateh dangau nantun, diliek malah urang lalok, pakaian alah compang campiang, badan [ 300 ]manalah hari yang elok, gelanggang dibuka tiga bulan, berpuluh kerbau yang kan rebah, untuk jamu helat yang datang, sedia emas tiga peti, untuk belanja helat itu, hanya sebuah dan sedikit, menanti Nan Tongga saja, kalau telah berbalik dari gunung.
Bak itu pula Katik Alamsudin, tak lama Nan Tongga pergi, dia telah datang pula, menjenguk dansanak di Koto Pariaman, serta mandeh semuanya, namanya awak sudah kawin, dijelang mertua dan ipar, sambil mengusul memeriksa, Tuan Tongga tidak lagi bertemu. Lambat laun seperti itu, telah empat lima hari, telah sepekan dua pekan, Nan Tongga belum kunjung pulang, disongsong malah Tuan Tongga, oleh adiknya Katik Alamsudin, serta dubalang dan mantinya, ke kaki Gunung Ledang, ke padang penjemuran, ke jalan yang bersimpang tiga.
Dibawa beras dengan bekal, dibawa kuda tiga ekor, serta pakaian secukupnya, lambat laun di jalan, sampai di Bukit Sandiang Tigo, di bawah gunung tersebut, dekat jalan bersimpang tiga, berhentilah di sana Katik Alamsudin, maksud hati nak berhenti di sana, telah penat karena berjalan, hari yang sedang tengah hari, sedang buntal bayang-bayang, panas rasa kan memanggang kulit, peluh di badan bercucuran.
Tampak terbang berbega burung elang, sedang berkulikkulik jua, menambah larut perhatian, sebuah tidak ada yang tampak, ditujulah sebuah dangau, dangau tinggal orang berladang, kan melepas penat dan letih.
Telah turun Katik menuju dangau itu, telah sebentar berdiri di sana, terdengar bunyi orang mengerang, bak bunyi orang demam payah, bergemuruh bunyi nafasnya, keluh kesah menahan sakit, bak rupa orang menangis, menangis terisak-isak, berganti dalam sedu sedan.
Telah diturut oleh Tuan Katik, naik ke atas dangau itu, dilihat malah orang tidur, pakaian telah compang camping, badan 289 [ 301 ]alah guriah-guriah, kanai dek duri jo sianik inyo baturo-turo juo, tidak tahu di urang datang.
Alah dipandang-pandang bana, diliek romannyo jaleh-jaleh, takajuik sanan Katik Alamsudin, ruponyo urang nantun si Bujang Salamat, sadang damam sakik payah, sarupo urang batuka aka, tidaklah tahu di dirinyo.
Dek capek Katik Alamsudin, dicari ubek jo sitawa, lah disambua Bujang Salamat, didiruih jo ayia tawa, takanak diubek nantun, tahulah inyo jo dirinyo, diliek pulo suok kida, Nan Tongga tidak kalihatan, baitu juo Nan Gondoriah.
Nasib lai nan ka baiak, lah duduak cando Bujang Salamat, bakato-kato surang diri, “Tuan Tongga Magek Jabang, duo jo Puti Gondoriah, indaklah ibo Tuan di denai, Tuan lah pai bajalan jauah, denai lah tingga surang sajo, baoklah juo badan denai, nak jan dimabuak parasaian.”
Mandanga igauan si Bujang Salamat, takajuik sanan Katik Alamsudin, apokoh garan nan alah tajadi, disambua juo si Bujang Salamat, dipanggang sanan kumayan putiah, disaru pulo ayah kanduang, iyo Tuanku Haji Mudo, nan tarak di Gunuang Ledang.
Dapeklah aka dek si Salamat, lah jaleh urang nan datang, duduak manggaruang Bujang Salamat, sambia marangguik-rangguik abuak, sambia mancabiak-cabiakkan baju, dikabakan curito maso itu, tantang curito Nan Tongga, sajak mulo pai bajalan, pai mandaki Gunuang Ledang, pai manjalang ayah kanduang, etan di batu hampa nan putiah, tibo-tibo Tuan Tongga alah hilang, samo mahirat jo ayah kanduang, baitu juo Nan Gondoriah, badan kan tidak pulang lai.
Tagaruang baliak Bujang Salamat, tapakiak pulo urang nan banyak, tasimbua tangih Tuan Katik, hebohlah urang maso itu, kaba lah beba maso itu, bahaso Nan Tongga lah mahirab, naiak ka langik jo ayahnyo. [ 302 ]telah gores-gores, kena duri dan sianik, ia mengigau-igau jua, tidak tahu orang yang datang.
Telah dipandang-pandang benar, dilihat romannya jelas-jelas, terkejutlah Katik Alamsudin, rupanya orang itu si Bujang Salamat, sedang demam sakit payah, serupa orang bertukar akal, tidaklah tahu di dirinya.
Segeralah Katik Alamsudin, mencari obat dan penawar, telah disembur si Bujang Salamat, disiram dengan air penawar, begitu lekat obat itu, tahulah ia akan dirinya, dilihat pula kanan kiri, Nan Tongga tidak kelihatan, begitu juga Nan Gondoriah.
Nasib kan jadi baik, telah duduk Bujang Salamat, berkatakata seorang diri, “Tuan Tongga Magek Jabang, berdua dengan Puti Gondoriah, tidaklah iba Tuan dengan denai, Tuan telah pergi berjalan jauh, denai telah tinggal seorang saja, bawalah juga badan denai, supaya jangan dimabuk perasaian.” Mendengar igauan si Bujang Salamat, terkejut Katik Alamsudin, apakah gerangan yang telah terjadi, disembur jua si Bujang Salamat, dipanggang kemenyan putih, diseru pula ayah kandung, Tuanku Haji Mudo, yang bertarak di Gunung Ledang.
Dapatlah akal oleh si Salamat, telah jelas orang yang datang, duduk menggerung Bujang Salamat, sambil merenggut-renggut rambut, sambil mencabik-cabik baju, dikabarkan cerita masa itu, tentang cerita Nan Tongga, sejak mula pergi berjalan, pergi mendaki Gunung Ledang, pergi menjelang ayah kandung, di batu hampa nan putih, tiba-tiba Tuan Tongga telah hilang, sama mengirap dengan ayah kandung, begitu jua Nan Gondoriah, badan kan tidak pulang lagi.
Menggerung kembali Bujang Salamat, terpekik pula orang yang banyak, tersembur tangis Tuan Katik, hebohlah orang masa itu, kabar telah tersebar masa itu, bahwa Nan Tongga telah mengirap, naik ke langit dengan ayahnya. [ 303 ]Gampo lah sanan koto nan duo, iyo Tiku jo Pariaman, lah diguguah tabuan larangan sahuik manyahuik tabuah nan banyak, tabuah Jum’at panyudahi.
Badantam mariam Padang Panjang, rasokan luluih koto nan duo, raso kan kiamat bumi Allah, barauangan urang maso itu, nan labiah bana di ateh rumah gadang, baiak rumah gadang di Tiku, atau rumah gadang di Pariaman.
Tatagak marawa kuniang, tahampa panji-panji putiah, urang bakabuang sanagarinyo, mukasuik sadio alek kawin, alah bakabuang malah nan jadi, suramlah Tiku jo Pariaman, intan sumarak nan alah hilang.
Baitu sudah nan takarang, sajak di rahim mandeh kanduang, Allah Ta’ala kayo sungguah, kito nan hanyo mandapati, tidak dapek kito bapandai, kito maukua manjangkokan, kito marancang mambarikan, putusan buliah di Tuhan juo. Satantang Nan Tongga, sajak ketek batunangan, kironyo tabarih sajak dahlu, baunangan malah di ateh dunia, di akhirat ijab dibacokan, di hadapan kadhi rabuljali, tidaklah surang nan kuaso, baitulah garan suratan tangan, kito hanyo manjalani sajo.
Di siko dandang balayia
Di tangah lawik nan gadang
Lawik sati baharullah
Dakek pasisia ranah Tiku
Sarato koto kaduonyo
Layia nan tujuah lah takanak
Panji marawa lah tapasang
Dandang manuju Tanah Makah;
Di siko kaba barantinyo
Kaba Nan Tongga Magek Jabang
Duo jo Puti Gondoriah
Ditakuakkan kapalo nan satu
Dihunjamkan lutuik nan duo
Mamintak maaf banyak-banyak
Kok talabiah kok takurang
Sarahkan sajo pado Allah.
Tamat
[ 304 ]Gempalah koto nan dua, Tiku dan Pariaman, telah diguguh
tabuh larangan, sahut menyahut tabuh yang banyak, tabuh Jumat menyudahi.
Berdentum meriam Padangpanjang, rasa kan luluh koto nan dua, rasa kan kiamat bumi Allah, meraung orang masa itu, terlebih benar di atas rumah gadang, baik rumah gadang di Tiku, atau pun rumah gadang di Pariaman.
Berdiri merawal kuning, terhampar panji-panji putih, orang berkabung senagari, maksud hendak sedia helat kawin, berkabung malah yang jadi, suramlah Tiku dan Pariaman, intan semarak telah hilang.
Begitu sudah yang terkarang, sejak di rahim mandeh kandung, Allah Ta’ala kaya sungguh, kita yang hanya mendapati, tidak dapat kita berpandai, kita mengukur menjangkakan, kita merancang memberikan, putusan boleh di Tuhan jua, setentang Nan Tongga, sejak kecil bertunangan, kiranya tertulis sejak dahulu, bertunangan malah di atas dunia, di akhirat ijab dibacakan, di hadapan khadi rabuljali, tidaklah seorang yang kuasa, begitulah gerangan suratan tangan, kita hanya menjalani saja.
Di sini dandang berlayar
Di tengah laut nan gadang25
Laut sakti baharullah
Dekat pesisir ranah Tiku
Serta koto keduanya
Layar yang tujuh telah takanak26
Panji marawa telah terpasang
Dandang menuju tanah Mekah;
Di sini kaba berhentinya
Kaba Nan Tongga Magek Jabang
Berdua dengan Puti Gondoriah
Ditekurkan kepala yang satu
Dihunjamkan lutut keduanya
Meminta maaf banyak-banyak
Kalau terlebih atau terkurang
Serahkan saja pada Allah.
TAMAT
25. besar, luas
26. terpakai
[ 305 ] [ 306 ]Buku ini berkisah tentang petualangan dan
cerita cinta seorang Anggun Nan Tongga dan kekasihnya Gondoriah. Anggun Nan Tongga berlayar meninggalkan kampung halamannya di Kampung Dalam Pariaman. Dia berniat mencari tiga orang pamannya yang sudah lama tidak kembali dari merantau. Sebelum berangkat, Gondoriah menginginkan Anggun Nan Tongga membawa pulang 120 buah benda dan hewan langka.
Ketika kembali ke kampung halaman, dengan membawa semua permintaan tunangannya, Anggun Nan Tongga beserta Gondoriah pergi ke Gunung Ledang untuk meminta restu pernikahan mereka pada ayah kandung Nan Tongga yang bernama Tuanku Haji Mudo.Setelah bertemu,Tuanku Haji Mudo mengatakan bahwa Nan Tongga dan Gondoriah tidak bisa menikah karena mereka adalah saudara sepersusuan. Ia mengatakan bahwa Nan Tongga dan Gondoriah bisa berjodoh di kehidupan setelah dunia. Akhirnya mereka bertiga mengirap ke langit.
BALAI BAHASA
PROVINSI SUMATERA BARAT