lang saja tanpa membeli apapun.
Dalam perjalanan pulang, di tengah jalan Silaro Aceh ditegur oleh seorang pemuda, yang pernama Rajo Bujang menanyakan, siapa gadis yang ikut dengan Silaro Aceh itu. Dijawab oleh perempuan itu, bahwa itulah Puti Intan, anak gadisnya, adik Ambuang Baro. Rajo Bujang mengatakan ia sudah lupa, karena sudah lama tidak ke sana.
Silaro Aceh bercanda, bahwa nanti ia akan menjemput Rajo Bujang, agar dapat lama tinggal di kampungnya.
Rajo Bujang termenung mendengar kata itu, karena menurut dia tidak pantas Silaro Aceh mengucapkan hal tersebut. Sewaktu Rajo Bujang akan membelok ke rumahnya ia menyilakan Silaro Aceh dan Puti Intan mampir ke rumahnya.
Silaro Aceh menjawab kali ini belum akan singgah, tapi siapa tahu di masa yang akan datang, dia akan sering mampir ke sana.
Rajo Bujang setelah sampai di rumahnya duduk termenung memikirkan kata-kata sindiran Silaro Aceh itu.
Dalam pada itu datanglah Aciak Cipeh Jilatang Kampuang, seorang wanita yang suka menghasut dan membuat fitnah. Dia bertanya kepada Rajo Bujang mengapa dia duduk termenung saja.
Diceritakannya tentang sindiran Silaro Aceh tadi, dan dikatakannya bahwa dia bertanya sungguh-sungguh, tetapi dijawab dengan kata-kata yang tajam.
Aciak Cipeh menyatakan akan membantu kalau Rajo Bujang berada dalam kesulitan.
Dalam pada itu pada suatu malam Silaro Aceh berkata kepada suaminya, Datuk Bungsu, perihal anak gadisnya yang sudah besar dan sudah pantas bersuami. Datuk Bungsu setuju dan menyuruh isterinya mempersiapkan apa-apa yang belum siap.
Tidak lama sesudah itu datang orang hendak menjemput Ambuang Baro akan dikawinkan dengan Karok Nan Takampai.
Mula-mula Ambuang Baro meminta berpikir agak sebulan tetapi karena orang tuanya sudah setuju, dia menyutujui pula, Am-
8