Ambuang Baro mengusulkan agar digunakan saja aturan menurut adat kalau memutuskan ikatan yang sudah dibuat, dibayar dengan emas, dan Puti Intan akan dipertunangkan dengan Pamuncak Sutan Maka.
Mendengar itu Aciak Cipeh, situkang hasut girang hatinya. Tidak lama sesudah itu ia berjalan-jalan ke rumah adik Raja Talauik Api, pura-pura mau meminjam alas dulang sebanyak 40 buah.
Adik Talauik menanyakan siapa yang akan berhelat. Di- katakannya bahwa Puti Intan akan ditunangkan dengan Pamuncak Sutan Maka. Panas hati adik Rajo Talauik mendengarkan, Karena kakaknya sudah ditunangkan dengan Puti Intan. Tidak ada kabar tentang pemutusannya. Dipanggilnya kakaknya. Rajo Talauik mendengar kabar itu, langsung memanggil beberapa orang pendekar (jagoan) yang bersedia membunuh di mana perlu.
Mereka membuat gara-gara seperti hendak merampok wanita-wanita yang datang dari Balaigurah kampung Ambuang Baro, untuk memancing Ambuang Baro mau datang ke tempat mereka agar dapat dibunuhnya.
Beberapa orang perempuan yang hendak berbelanja mengadu kepada Ambuang Baro tentang perangai para pendekar itu. Ambuang Baro tanpa membawa teman pergi ke tempat para pendekar itu. Di situ terjadilah perkelahian satu lawan banyak.
Mula-mula payah musuh menghadapi Ambuang Baro, tetapi lama kelamaan dengan cara licik Ambuang Baro dapat dibunuh dan dipenggall kepalanya untuk diberikan kepada Rajo Talauik Api sebagai bukti.
Dalam perkelahian itu jatuhlah destar Ambuang Baro yang tiba-tiba menjadi elang. Elang itu disuruh Ambuang terbang ke rumahnya agar Puti Intan, adiknya tahu bahwa, dia telah terbunuh.
Elang itu terbang ke dekat Puti Intan, tetapi gadis itu karena tidak mengerti melempar burung tersebut. Sebelum itu Puti Intan sudah bermimpi yang buruk tetapi ibunya mengata-
10