Muhamad (tunangan Bacindai), Rajo Ameh menyuruh adiknya meminjam balam tembaga dan jerat kepada Pakiah tersebut.
Setelah Kayo Oto datang ke rumah Pakiah maka Raja Oto disuruh memanggil kakaknya untuk mengambil burung tersebut. Ketika Rajo Ameh datang ke tempat Pakiah Muhamad, maka mereka berdua pergi bersama menjerat balam dengan membawa balam tembaga milik Pakiah Muhamad.
Dalam mencari burung tersebut Rajo Ameh agak terpisah dari Pakiah Muhamad, Balam tembaga itu waktu dibawa Rajo Ameh tidak mau berbunyi, maka karena kesal hatinya melihat burung itu, dilemparnya dengan tanah, sehingga karena terkejut burung itu lepas dan terbang menjauh.
Setelah diberitahukan kepada Pakiah Muhamad perihal burung yang lepas itu, maka Rajo Ameh disuruh kepada pemilik mencarinya kembali. .
Dalam perjalanan mencari burung itu, Rajo Ameh bertemu dengan Bacindai yang sedang menghalau burung yang memakan padi. Sewaktu ditanyakan kepada Bacindai apakah dia ada melihat balam tembaga, gadis itu menjawab dengan sombong, bahwa balam itu tidak mendatangkan untung rugi baginya. Tetapi kemudian timbul keinsafan pada dirinya dan dipanggilnya kembali Rajo Ameh, karena balam tembaga itu memang ada padanya. Diundanglah Rajo Ameh naik ke dangaunya dan ditawari makan-minum, Lama-lama timbul saja rasa kasih Sayang di antara kedua anak muda itu. Waktu Rajo Ameh akan pulang, maka mereka berjanji akan bertermu lagi di gelanggang Datuk Bandaro di pekan Ahad Sumulanggang. Rajo Ameh akan menantikan Bacindai Esok harinya di jalan bersimpang empat, kira-kira hampir tengah hari.
Keesokan harinya, bertemulah Rajo Ameh dengan Bacindai Aluih di tempat yang dijanjikan. Dekat ke gelanggang mereka berpisah karena Rajo Ameh akan pergi menyabung ayam dan Bacindai melanjutkan perjalanan ke pasar,
Sewaktu Rajo Ameh sedang di gelanggang sabung ayam itu da-
10