tang seorang laki-laki, pembantu ayahnya, bernama Rajo Ibadaik menjemput Rajo Ameh, karena disuruh oleh orang tuanya, Datuk Limpahan serta Puti Andan Sarimulia. Setelah Rajo Ameh meminta izin kepada para peserta di gelanggang pulanglah dia beserta dengan Rajo Ibadaik. Di tengah jalan Rajo Ameh mendengar dari pembantu ayahnya, bahwa Pakiah Muhamad, tunangan Bacindai menantang dia di suatu tempat, karena Rajo Ameh berani bermain cinta dengan Bacindai.
Setelah mengambil senjatanya, pergilah Rajo Ameh bertiga dengan teman dan pembantu ayahnya ke tempat Pakiah Muhamad menunggu. Adiknya, Kayo Oto, yang mau ikut dilarang, dan dipesankan, agar menjaga orang tua mereka dan seandainya dia meninggal, adiknya hendaklah melepaskan balam Rajo Ameh, agar burung itu terbang ke tempat Bacindai, agar Bacindai tahu bahwa dia meninggal.
Setelah Rajo Ameh bertiga sampai di tempat yang ditentukan itu, Pakiah Muhamad sudah menunggu dengan orang banyak.
Berkat lindungan Tuhan para lawannya dapat terkalahkan oleh mereka bertiga. Setelah lawan kalah, Rajo Ameh ingin berjalan-jalan ke tempat kubu musuh yang sudah ditinggalkan kosong. Dia pergi tanpa senjata dan kedua pengiringnya yang mau ikut dilarang.
Sewaktu Rajo Ameh sampai di kubu musuh itu, tiba-tiba diadikepung dari segala penjuru dan dibunuh sampai kepala dengan tubuh terpisah. Kepala Rajo Ameh oleh Intan Diawan, ayah Bacindai dibungkus dengan daun keladi (talas) dan dimasukkan ke dalam uncang (kantong dari kain) dan badannya dihanyutkan ke sungai.
Kayo Oto, adik Rajo Ameh, mendengar guruh dan petir sabung-menyabung, sehingga timbul firasat buruk padanya, lalu dilepaskannya balam kakaknya itu. Balam itu terus terbang menu-
ju rumah Bacindai. Waktu Bacindai yang sedang bertenun itu, melihat balam itu, timbullah syak pada hatinya, bahwa Rajo Ameh telah mendapat musibah.
11