Lompat ke isi

Halaman:Bacindai Aluih.pdf/14

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Dicarilah alasan kepada ibunya hendak mengantarkan makanan untuk ayahnya yang belum pulang. Ibunya berkeberatan melepaskan, tetapi dia langsung pergi. Di tengah jalan dia bertemu dengan ayahnya yang kelihatan letih sekali.

Dihidangkanlah makanan untuk ayahnya. Karena sudah lapar sekali, ayahnya menghabiskan makanan itu, tetapi tiba-tiba jatuh sakit, karena perut kosong diisi dengan banyak makanan sekaligus. Bacindai memeriksa kantong yang dibawa ayahnya, maka terlihatlah kepala Rajo Ameh di dalamnya. Tanpa menghiraukan ayahnya, dibawanya kepala Rajo Ameh itu untuk disatukan dengan tubuhnya. Dicarilah pohon-pohon pisang yang baik dan dibuatnya rakit lalu dia berlayar dengan rakit itu mencari tubuh Rajo Ameh. Sesudah senja datang diikatkanlah rakit itu ke tepi dan ia naik ke daratan. Sesudah siang dilanjutkan perjalanannya. Setibanya dekat air terjun dia naik ke darat.

Dari daratan terlihat olehnya tubuh Rajo Ameh tersekat. Diambilnya rakit dan dinaikkanlah mayat itu ke atas rakit. Disatukannya kembali kepala dengan tubuh itu. Tengah dia bekerja itu, tiba-tiba muncul seorang tua dengan janggut panjang dengan pakaian serba kuning dan jala di tangannya. Ditanyakannya kepada Bacindai apa sebab mayat itu seperti itu. Dijawabnya, bahwa mayat itu bekas dikeroyok lawan-lawannya. Bacindai memohon kepada orang tua itu agar dapat mengobati Rajo Ameh. Orang tua itu menyuruh mencari beberapa tanaman yang akan dijadikan obat dan dibekalinya dengan doa di perjalanan.

Dengan melalui beberapa kesulitan menghadapi binatang buas dan berbisa terkumpullah semua tanaman untuk obat itu.

Setelah diserahkan kepada orang tua itu maka orang tua itu memohon kepada Tuhan, maka lama-kelamaan Rajo Ameh seperti orang bangun dari tidur. Orang tua tersebut bernama Tuanku Alim Basa dan dianggap keramat. Menjelang malam Tuanku Alim Basa membawa kedua anak muda itu menginap di rumahnya. Sesudah semalam menginap di situ, mereka bermaksud meneruskan perjalanan. Orang tua itu berpesan agar kedua anak muda jangan sekali-kali berbuat dosa.{rh|12}}