Lompat ke isi

Page:Bacindai Aluih.pdf/15

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Sesudah lama berjalan maka kedua orang muda hampir tewas di pusaran air. Untung kejadian itu terlihat oleh tiga orang gadis yaitu Ranggo Inai, Bungo Pandan dan Bungo Kapeh yang akan pergi mandi ke sungai. Ranggo Inai mengenali salah seorang dari mereka berdua itu sebagai bekas murid ayahnya yang bernama Rajo Ameh. Salah seorang gadis memberi tahu ayahnya tentang orang yang hampir tenggelam itu. Beramai-ramai orang menolong sehingga kedua sejoli itu selamat.

Tidak lama sesudah itu diadakan rapat adat untuk memeriksa kedua sejoli, mengapa sampai ke situ. Bacindai menceritakan semua yang kejadian atas diri mereka itu.
Selesai Bacindai berkisah itu, maka Rajo Ameh memohon, agar mereka dinikahkan. Rapat adat menyetujui dan mereka dinikahkan oleh Tuanku Alim Tahu. Sesudah nikah mereka masih tinggal beberapa bulan di rumah gurunya itu, yang bernama Datuk Saih Baradaik.

Sesudah beberapa bulan mereka ingin pulang ke kampung Rajo Ameh. Gurunya menasihati, agar bersikap bijaksana kalau diadili oleh rapat adat di kampungnya.

Sesudah sampai di kampungnya, maka orang tua dan sanak keluarga sangat heran, karena Rajo Ameh telah hidup kembali. Kedatangan Rajo Ameh dan Bacindai Aluih itu kedengaran pula oleh Pakiah Muhamad, bekas tunangan Bacindai. Dilaporkannya kepada ayah Bacindai dan mamaknya. Mereka bertiga melapor kepada rapat adat, dan menuduh Rajo Ameh melarikan tunangan orang.

Pada hari yang telah ditetapkan rapat penghulu empat suku diadakan dan Pakiah Muhamad, Intan Diawan (ayah Bacindai) dan mamaknya dipanggil. Rajo Ameh serta Bacindai dijemput akan diadili.
Pertama kali dijemput Rajo Ameh tidak mau datang dan mengatakan dia sedang sakit. Waktu dijemput yang kedua kalinya terpaksa dia datang dengan Bacindai.

13