Lompat ke isi

Halaman:Cindua Mato.pdf/154

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Jika berunding lepas payah, jika berkata sesudah makan, lalu berkata Bundo Kanduang, “Dimana Buyuang Cindua Mato, sudah sampaikah pesan Bundo?”

Lalu menjawab Cindua Mato, “Berkaitan dengan pesan Bundo, si Binuang sudah denai kirimkan untuk melepas Puti Bungsu nikah, tanda anak memiliki bako, dikirimkan kerbau yang besar, itu tanda putih hati, kepada Mak Tuan Rajo Mudo, di ulak Sikalawi.

Pesan Bundo Kanduang beserta pesan Basa Ampek Balai sudah disampaikan semuanya, mengucapkan syukur orang yang banyak, mendoakan Bundo Kanduang panjang umur dan sehat selalu.

Dengarkanlah oleh Bundo Kanduang, biar saya paparkan, orang berpesta sangat ramai, di mana-mana orang datang, benarlah kabar, akan dinikahkan Puti Bungsu dengan Imbang Jayo, Tuan Kadi terlambat datang, karena nasib takdir Allah, turunlah hujan angin ribut, topan dan badai sangat kencang, kilat dan petir berapi-api, tumbang batang pisang, angin kencang dan topan menjadi-jadi, kilat dan petir tidak berhenti, seperti mau pecah rasanya kepala, datang banjir besar, naik pasang Sungai Ngiang, alu lesung habis hanyut, itik dan ayam habis mati, gelap gulita di dalam istana, lampu yang tidak mau hidup.

Memanggil orang dari halaman, si Binuang sudah lepas, begitu juga si Gumarang, saya cari di hujan lebat, orang banyak berteriakan, tidak dilihat sudah dilihat, banjir besar di halaman, di mana orang tidak akan takut, sedang saya meremang ketakutan, apalagi yang perempuan.

Takdir Allah waktu itu, bertemu dengan Puti Bungsu, Puti Bungsu sedang menangis, dia berlari kian kemari, tidak tau yang dituju, air dalam hingga pinggang, diletakkan Puti Bungsu ke atas si Gumarang, saya tarik dan dibawa pulang, di Padang Gantiang ditompangkan, ialah dirumah Tuan Kadi.

143