Lompat ke isi

Halaman:Cindua Mato.pdf/156

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

Pihak kepada Puti Bungsu, kalau tidak saya tolong, alamat Puti Bungsu mati hanyut, jika tidak mati ketakutan. Coba pikirkan Bundo Kanduang, Puti Bungsu memintak tolong, menurut pikiran hati saya, tandanya kita sebagai manusia, suka menolong orang hanyut, sungguhpun begitu kata saya, mohon maklum pada Bundo.

Mendengar cerita Cindua Mato, lalu termenung Bundo Kanduang, Dang Tuanku tertawa menoleh, melihat canda Dang Tuanku, berdetak pikiran Bundo Kanduang, berkata-kata dalam hati, rupanya si Buyuang yang berdua, sudah mufakat sejak dahulu, ada udang dibalik batu.

Berkata Bundo Kanduang, “Mana Buyuang Cindua Mato, kalau begitu yang terjadi, susah saya memutuskan, karena sudah di luar janji, bertukar karang dengan buatan, tentang laut-laut saja, tentang darat darat juga, jangan baik di kita saja, pikirkan pula rakyat kita, pelihara nagari jangan binasa.”

Mendengar kata Bundo Kanduang, tertawa sambil tersenyum Dang Tuanku, bertambah susah hatinya Bundo Kanduang, lalu berkata dan memarahi. “Lain benar anak ini, orang susah dia tertawa, rupanya anak tidak punya malu, ini namanya anak kurang etika, kenapa tidak suka Ampek Balai menerima yang seperti ini, langit tinggi akan di tanduk, laut besar akan dibakar,” kata marah Bundo Kanduang.

Datang menyembah Dang Tuanku, “Ampunkan saya Bundo Kanduang, pihak kepada perkara ini, kita pulangkan ke Basa-basa, ialah Basa Ampek Balai, buruk baiknya kita mengikuti, Bundo tidak usah terlalu cemas.”

Mendengar kata yang seperti itu, Bundo Kanduang tidak menyahut,

145