dibawa berbalik, gadis orang dilarikan pula, tentu terjadi peperangan, dengan Raja Sungai Ngiang, bentrok dua, bentrok tiga, apa hukuman kepada si Buyuang Cindua Mato, terserah kepada rapat.”
Tegak berdiri Tuan Indomo, “Pihak kepada kata itu, itulah kata sebenarnya, Cindua Mato mengubah rencana, ialah menarik menantang malu, sangat rumit memutuskannya, kita serahkan kepada Raja. Kita meminta hukum kepadanya, ialah kepada Bundo Kanduang, sarato Daulat Dang Tuanku.”
Lalu menjawab Tuan Mangkudum, “Sedangkan kita yang berempat, berganti paham saya kiranya, berbeda dengan Indomo, berkaitan dengan perkara ini, tidak baik berdiri di luar, yang biduk karam sebelah, bertepuk sebelah tangan, menurut pikiran saya, jika Puti Pungsu tidak terbawa, kita pun susah juga, lebih baik dia terbawa.
Jika didengar kata Dang Tuanku, semasa rapat di Pagaruyung, waktu melepas Cindua Mato, Dang Tuanku pernah berkata, mendengar Puti Bungsu akan menikah, senang rasanya perhatian, bagaikan termakan di lamang mentah, bagaikan terminum air rawa, rasa tertimpa alu uncuang, kilat beliung sudah ke kaki, kilat cermin sudah ke wajah, Dang Tuanku sangat susah, karena kata berkias diamalkan.”
Berkata pula Tuan Gadang, “Jika Cindua Mato terdorong dalam adat, terdorong juga malah kita, orang arif bijaksana, tentu kata kiasan, ingat kata yang akan sampai, tahu dengan sindiran kata berbalik, laut akal telaga budi, pandai menguji akal kita.
Tantangan sepihak lagi, dikisar hitungan ke Puti Lenggo, Lenggogeni anak Bandaharo, kalau dikenang didiamkan, sudah dekat hari nikahnya, rupanya Datuak Bandaharo hendak menguji budi kita,
149