Lompat ke isi

Halaman:Cindua Mato.pdf/164

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

Setelah Bundo Kanduang mendengar kata Manti Tuo, bertitah ia waktu itu, “Wahai Upiak Bandahari, serta si Kambang Bungo, cukup dengan si Kambang yang bertujuh, usahlah kalian berlama juga, segera memakai pakaian kalian, kita akan pergi ke Padang Gantiang, hendak bertemu Puti Bungsu, baru datang ke Padang Gantiang, datang yang dari Ulak Sikalawi.

Mana Buyuang keduanya, mengapa kalian berlalai juga, serupa orang tidak acuh, temui si Upiak Puti Bungsu, serta Basa Ampek Balai, dalam Nagari Padang Gantiang,” kata Bundo Kanduang kepada si Buyuang yang berdua.

Lalu menjawablah Dang Tuanku, “Ampunkan saya Bundo Kanduang, Bundo banyak memiliki anak buah, jika jauh berkaum berkeluarga, sudah pantas Bundo pergi ke sana, ialah Ranah Padang Gantiang.

Pihak kepada badan saya, badan tersisih sendiri saja, tegur tidak, sapa pun tidak, bagaimana pula saya akan pergi, benar juga petuah Bundo bondong orang bondong kita, orang ke hilir, kita ke hilir, orang tertawa, kita tertawa, yang ditertawakan orang kita juga, ibarat lalat di ekor kerbau, Bundo juga yang akan malu.”

Mendengar kata anaknya, marah Bundo Kanduang, “Jangan Buyuang ber iba hati, bicara jangan seperti itu, pihak kepada kias dan banding, Bundo sudah lama makan nasi, kilat camin sudah ke muka, kilat beliung sudah ke kaki, Bundo dibalik itu pula.”

Pihak kepada Bundo Kanduang, orang yang arif bijaksana, terkilat ikan di dalam air, sudah tahu jantan betinanya, sudah patut Buyuang takut ke sana, Puti Bungsu bangsa garuda, takut diangkat dibawa terbang, dia biasa memakan orang.”

Mendengar Bundo Kanduang marah, tunduk terdiam Dang Tuanku, sepatah kata pun tidak dia katakan, lalu berkata pula Bundo Kanduang,

153