Lompat ke isi

Halaman:Cindua Mato.pdf/166

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

“Manalah Buyuang Cindua Mato, gantilah pakaianmu, kita segera ke Padang Gantiang, menemui si Upiak Lenggo Geni, beserta Basa Ampek Balai.”

Setelah itu menjawab Cindua Mato, “Ampunkan saya Bundo Kanduang, beri maaf saya oleh Bundo Kanduang, kepala sakit ngilu pusing, letih semua persendian, kaki terasa ngilu-ngilu, penglihatan berkunang-kunang, lebih baik berjalanlah Bundo dahulu, jika berubah sakit saya, saya menyusul Bundo kemudian, dua hari genap ketiga.”

Mendengar jawaban Cindua Mato, marahlah Bundo Kanduang, lalu berkata Bundo Kanduang, “Lain pula yang satu ini, berlain kelakuannya, penyakit datang-datang saja, baru tadi badannya sehat, sekarang tiba-tiba saja penyakitnya.

Usah kalian bercanda, kemampuan kalian dapat saya hitung, kedipan mata kalian dapat saya lihat, tapi benar juga kata kalian, Puti Lenggogeni bisa jadi harimau, nanti dicabiknya Buyuang di sana.”

Saatnya Bundo Kanduang, Daulat Rajo Pagaruyuang, Mangkuto Alam Minangkabau, dijemput oleh Datuak Manti Tuo, ialah ke ranah Talawi, dalam Nagari Padang Gantiang.

Turun ke halaman Bundo Kanduang, si Tambahi membawa payung, payung kuning kebesaran, bertirai berjambul-jambul, payung pusaka turun temurun, si Barakat membawa tombak, tombak memiliki tangkai kemuning jantan, berukir bajangguik janggi, si Baruliah membawa pedang jinawi, si Kambang Bungo membawa kipas, berdua dengan si Kambang Manih.

Setibanya di halaman, Bundo Kanduang naik ke atas keranda kaca, keranda kaca bernama mundam raja, berukir, berular naga,

berlekuk-lekuk daun paku, berkejar-kejaran ular ngiang, beratap kelambu biru kuning, beralas kasur yang buntal-buntal, kipas bersabung kanan kiri, Allahurabbi bagusnya mundam, berbunyi meriam tiga pucuk, tanda alamat raja akan berjalan.

155