Lompat ke isi

Halaman:Cindua Mato.pdf/18

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

ada ikan yang bersisik emas. Tempat itu berada di atas pohon beringin sunsang. Lubuk tersebut perpagar batu besar dan disela-selanya ada batu kecil. Di atasnya berpuding emas yang sela menyela dengan bunga raya. Di hilir tempat itu ada buaya putih dagu. Di tengah-tengahnya ada sirangkak berwarna hitam.

Bundo Kanduang membuka pakaiannya. Lalu dikenakannya kain basahan, kain basahan dari cindai halus. Tampak warna kulit Bundo Kanduang yang putih kekuning-kuningan.

Ikut juga mandi si Kambang Bungo, si Kambang Manis dan si Kambang Kuniang. Mereka bersama-sama terjun ke dalam air. Bunyi air saat mereka berkecimpung menarik perhatian. Kadang-kadang terdengar rendah, kadang-kadang terdengar tinggi. Mandi bakusuak9 dan berlimau, serta berbedak dan berkasai.

Setelah puas mandi, Bundo Kanduang lalu mengenakan pakaian dan berjalan berbalik pulang. Si Kambang mengiringi di belakang. Sesudah berjalan beberapa lama, mereka sampai di istana. Sesampainya di dalam istana, terlihat nasi sudah terhidang. Makanlah Bundo Kanduang Mangkuto Alam Minangkabau, Daulat Raja Pagaruyung.

Sesudah minum dan makan, lalu dikunyahnya sirih yang sekapur, sarinya membayang ke muka, kelatnya tinggal di kerongkongan. Tidak lama kemudian, Bundo Kanduang teringat mimpinya tadi malam. Seorang tua berjubah putih bersorban putih dan berjenggot panjang terasa tampak di ruang mata.

Tepat pukul duabelas, sedang tepat tengah hari, Bundo Kanduang memanggil si Salamat Panjang Gombak dan si Barakat. Sewaktu datang, mereka langsung duduk menyembah, “Ampunkan denai10 Bundo Kanduang, jika di buang kami jauh, jika dipancung kami mati, apa perintah kami junjung.”

Lalu bertitahlah Bundo Kanduang, “Untuk kalian berdua, ambillah buah kelapa, kelapa nyiur gading. Ambillah buahnya yang muda, tapi jangan terlalu muda.”

9.membersihkan badan dengan menggosok-gosok

10.saya, aku

7