Lompat ke isi

Halaman:Cindua Mato.pdf/20

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

Mendengarkan kata seperti itu, menyembah si Salamat dan si Barakat. “Ampunkan beribu kali ampun, berkaitan dengan titah Bundo, saya junjung di kepala, saya pikul di bahu. Tetapi sungguhpun begitu, karena kelapa itu sangat sakti dan dijaga oleh ular kobra, kala, sipasan dan lipan yang menjaga kelapa keramat, kami merasa gentar dan takut.”

Mendengar kata yang seperti itu, menitah Daulat Bundo Kanduang, “Iringkanlah saya ke halaman,” Bundo Kanduang mengunyah sirih sekapur, kemudian dibaca doa piganta dan disemburnya rumpun kelapa tersebut. Takutlah segala kala dan sipasan serta ular penghuni. Mereka semua lari ke puncak kelapa. Kelapa nyiur gading adalah kelapa sakti yang bertuah. Puncaknya sampai ke awan dan daunnya menyapu tanah. Penjaganya kala dan lipan. Naniang11 besar bersarang di dahannya. Naga bersarang di rumpunnya.

Terlihat si Salamat memanjat kelapa sakti tersebut. Hatinya cemas dan ragu-ragu. Ia sangat takut dan merasa gentar. Untung lagi baik, si Salamat sampai kerumpun tandan kelapa. Lalu diambilnya sebuah dan dijatuhkannya ke bawah. Karena keramatnya, tanah tempat jatuh kelapa itu berlubang dan batu tempat jatuhnya pun terbelah.

Dengan segera si Salamat turun ke bawah. Diambilnya kelapa itu, kemudian dia berlari ke istana. Bundo Kanduang saat itu sedang menanti di ambang pintu. Melihat si Salamat datang membawa kelapa, Bundo Kanduang tersenyum lebar. Senang sekali hatinya saat itu.

Hari siang itu sedang tengah hari. Matahari tepat berada di puncak kepala. Kelapa yang jatuh tadi dibelah oleh si Kambang Bandahari. Airnya ditampungkan dengan wadah dari perak, lalu diminumlah airnya oleh Bundo Kanduang. Air kelapa itu sangat manis rasanya.

11.sejenis serangga (tabuhan) berwarna kuning dan berbisa

9