Lompat ke isi

Page:Cindua Mato.pdf/28

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alun diujibaco

jantung pengarang hati, jerat semata Bundo Kandung, sidingin sitawa16 di kepala, obat jerih pelerai demam, sembahan alam Minangkabau, bangunlah anakku sayang, mari kita duduk di serambi.” Mendengar kata ibunya, langsung Dang Tuanku bangun. Hatinya menjadi tidak tenang. Apa yang akan dibicarakan oleh ibunya? Sedang tidur ia dibangunkan. Lalu, Sutan Rumanduang berjalan turun ke serambi. Ibunya mengiringi dari belakang. Melihat anak yang sudah berangkat dewasa, hatinya senang memandangi, sejuk hatinya ketika itu. Sesampainya di serambi, dicuci muka dengan air bunga yang harumnya setahun perjalanan, bersabung kipas kanan dan kiri, dikenakannya pakaian kebesaran, di atas kursi kerajaan beralaskan beludru sutra, bertirai dan berlangit-langit, bertabur intan, beralas permadani, bukan permadani zaman ini, tenunan putri dari Mesir, yang jika dipakai bertambah baru. Itulah tempat duduknya Sutan Rumanduang, Mangkuto Alam Minangkabau. Dang Tuanku datang sambil menyembah, “Ampunkan Bundo Kanduang, apakah titah dari Bundo? Cemas anak memikirkan, tersebab anak dibangunkan ketika sedang tidur.” Menitah Bundo Kanduang, “Sebabnya Anak denai bangunkan, coba dengarkan kata bundo, disimak baik-baik. Anak sudah bertambah besar, bundo berangsur tua juga. Ibaratnya lurah sudah dalam dan bukit sudah tinggi, hari sudah petang bagi bundo. Akan tetapi, Anak belum bundo beri pengajaran. Dengarkan paparan bundo, tentang adat dan limbago17 dalam nagari, tambo adat Minangkabau, sebaris berpantang lupa, setitik yang tidak hilang, yang terpakai di alam ini, sejak salareh18 Batang Bangkaweh, seedaran Gunung Marapi, kedua Gunung Singgalang, ketiga Gunung Talang, sampai ke Gunung Pasaman, itu di bawah perintah Anak, genggam teguh dan pegang erat. 16. tumbuhan obat 17. adat 18. Satu laras

17