Sejak perkelahjannya dengan bujang Mansun, kepala kampung jatuh sakit. Di samping itu ia terjebak pula pemeriksaan kas negeri. Rupanya banyak uang negeri yang dibelanjakannya, se-hingga hartanya disita pemerintah. Ia dipecat sebagai kepala kam-pung. Sekarang orang kampung banyak yang benci kepadanya.
Dalam keadaan melarat itu, tak lama sesudah itu, bujang Mansun mengirimkan uang kepadanya sebanyak satu ringgit emas sebagai pengganti uang yang dilarikannya dulu. Bukan main gem-bira hati Datuak Mantiko menerima uang yang tidak dikiranya ada itu. Ia memuji kejujuran bujang Mansun.
Di Betawi, bujang Mansun mula-mula menumpang di rumah Amai Nuriah istri opseter Sutan Salim yang dulu dikenalnya di atas kapal. Di Betawi ia berdagang tembakau dan rokok. Sekali ter-judi keributan di pasar, orang gila mengamuk dan hendak menu-kul anak kecil. Orang banyak berlarian dan takut menangkap orang gila itu. Bujang Mansun memberanikan diri dan berhasil menangkap orang gila itu, Orang banyak heran melihat keberanian bujang Mansun. Rupanya anak kecil itu anak residen dan kebetul-an pula ada di tempat itu. Residen itu mengucapkan terima kasih kepada Mansun dan memberinya uang empat ratus rupiah, di sam-ping surat penghargaan atas keberaniannya. Uang itu digunakan oleh Mansun untuk pembayar hutangnya kepada kepala kampung dulu.
Lama-lama Mansun bosan berdagang rokok karena tidak ada kemajuan, la bersama temannya Hasan melamar jadi polisi. Kebe-tulan nasib baik baginya ia diterima karena ia masih muda, tegap badannya dan ditambah pula ada surat penghargaan residen atas keberaniannya.
Setelah jadi polisi. Mansun rajin bekerja dan menambah ilmu dengan jalan kursus. Sejak jadi polisi itu, ia mulai hidup sendiri dan menyewa rumah sendiri, tidak jauh dari rumah Dalipah. Hubungannya dengan Dalipah semakin erat juga. Dalipah pernah sekali merawatnya ketika Mansun sakit keras. Akhirnya Mansun kawin dengan Dalipah, gadis yang dikenalnya di atas kapal dulu itu.
Sutan Salin, bapak Dalipah, pindah ke Bukittinggi, sehingga
22