sebut "rabana". Jenis alat pukul lainnya ialah "talempong",
khusus untuk sistem penyampaian kaba yang dimainkan dalam bentuk randai. Randai adalah semacam seni pencak silat yang dimainkan oleh beberapa orang (lebih dari 7 orang) dalam bentuk melingkar dengan dendang tukang kaba. Suatu hal yang unik pula ialah penggunaan instrumen yang hanya terdiri atas satu buah kotak korek api, yang dimainkan dengan jentikan jari. Ini terdapat dalam perekaman kaba di daerah Lima Puluh Kota. Alat instrumen lainnya ialah biola dan "rabab". Rabab ialah sejenis alat gesek dengan bahan yang terdiri atas sebuah tempurung, diberi bertangkai seperti biola, dan juga mempunyai tali empat helai.
Di antara ke tujuh kaba yang direkam satu yang menggunakan alat gesek sebagai instrumen pengiring, yakni kaba "Gadih Basanai" dari Pesisir Selatan. Alat ini langsung dimainkan oleh tukang kaba sendiri sambil mendendangkan jalannya cerita.
Kaba dari Kabupaten Agam dimainkan dalam bentuk randai dengan menggunakan talempong sebagai instrumen pengiring. Untuk Tanah Datar terdiri dari dua buah rebana, Solok dan Padang Pariaman adalah saluang sebagai instrumen pengiringnya.
Pada umumnya kaba bukan dikarang oleh tukang kaba sendiri, melainkan secara lisan diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Jadi bersifat anonim. Memang pada waktu akhir-akhir ini pernah diciptakan kaba-kaba baru oleh tukang kaba sendiri, akan tetapi penghayatan masyarakat terhadap kaba tersebut masih belum sejauh penghayatan mereka terhadap kaba yang sudah turun temurun. Penyebaran tape recorder ke dalam masyarakat yang kian hari kian intensif agaknya akan memperluas penghayatan tersebut.
Agaknya perlu diteliti lebih lanjut, apakah meluasnya pemakaian tape recorder di kalangan masyarakat akan membawa pengaruh positif atau negatif terhadap fungsi serta peranan seni budaya ini, serta bagaimana pula pengaruhnya terhadap semangat dan daya kreativitas para tukang kaba. Sebagai suatu bentuk sastra lisan, agaknya eksistensi kaba akan dapat bertahan terus seperti halnya ketika sistem penulisan memasuki kebudayaan Minangkabau di masa lalu.
Data sementara menunjukkan, bahwa eksistensi kaba akan tetap bertahan di dalam masyarakat Minangkabau. Sesuai dengan sifat penyampaiannya, yakni "melalui pesanan" untuk suatu upa
7