Lompat ke isi

Halaman:Kaba Minangkabau 1.pdf/19

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

cara perhelatan atau kepentingan pariwisata, maka selera masyarakat tetap menyenangi kaba yang disampaikan tukang kaba sendiriuntuk meramaikan suatu upacara, dibanding dengan yang menggunakan tape recorder. Memang dewasa ini sudah makin banyak penduduk yang memiliki koleksi kaset yang berisi kaba, namun untuk keperluan perhelatan ia tidak dapat menggantikan peranan tukang kaba.

Pertanyaan mengapa masyarakat begitu tertarik pada kaba, diperoleh jawaban yang berbeda-beda. Namun sebagian besar (85.09%) mengatakan "karena isinya penuh nasihat". Sementara itu 87,61% menyatakan, "nasihat yang terdapat dalam kaba masih merupakan suri teladan bagi masyarakat". Sebagian ada pula yang mengatakan tertarik pada gaya bahasanya, isinya yang mengharukan, atau sifatnya yang memberikan hiburan.

Dalam sastra lisan Minangkabau, kaba hanyalah salah satu da- ri bentuk-bentuk sastra lisan lainnya, misalnya "pepatah-petitih", "sisomba", "mantera", "perumpamaan", "peribahasa", "talibun" dan "pantun". Namun dalam semuanya itu kaba mengandung keunikan lainnya berhubungan sifatnya yang kompleks. Dapat dikatakan, semua bentuk-bentuk sastra lisan yang disebut belakangan terdapat di dalam kaba, Tukang-tukang kaba biasanya pintar sekali menjalinkan pepatah-petitih, sisomba, mantera, perumpamaan, peribahasa, talibun maupun pantun ke dalam sebuah kaba. Dan itu pulalah barangkali yang menjadi salah satu sebab, mengapa ekşistensi kaba tetap bertahan sampai sekarang di dalam masyarakat Minangkabau.

2.2 Gaya Bahasa Kaba

Laproan penelitian ini akan terasa kurang bila masalah bahasa yang digunakan dalam kaba tidak dikemukakan.

Bahasa kaba mempunyai gaya istimewa. Gayanya tidak sama dengan langgam bahasa yang digunakan di dalam kehidupan seharihari oleh anggota masyarakat Minangkabau. Juga berbeda dengan gaya bahasa yang terdapat dalam karya sastra Indonesia atau bukan Indonesia, atau dengan gaya bahasa yang digunakan oleh surat kabar atau majalah. Buku kesusastraan menyebut gaya bahasa kaba dengan istilah "prosa liris" atau "prosa berirama".

Gaya prosa liris ditandai oleh suatu ciri penanda yang khas. Pola-pola kalimatnya terdiri atas gatra-gátra dengan jumlah sukuTemplat:Left