Lompat ke isi

Halaman:Kaba Minangkabau 1.pdf/216

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

tidak mengenakkan hatinya. Jumbang Muhammad dibunuh lagi, namun setelah itu dapat hidup kembali. Begitulah, sehingga sam- pai lima kali dialami oleh si Jumbang pembunuhan atas dirinya, namun ia masih dapat hidup kembali.

Suatu hari Jumbang Muhammad berminat menjenguk orang tuanya. Maksudnya ini disampaikan kepada Imam Mudo, dan ten- tu saja dilepas dengan senang hati. Kesempatan ini dipergunakan pula oleh Imam Mudo untuk melaksanakan maksud jahatnya. Sebelum Jumbang sampai ke rumah orang tuanya, surat Imam Mudo telah lebih dulu tiba, yang isinya mengharapkan agar Jum- bang dibunuh saja, karena ia keras kepala dan tak mau diajari.

Maksud jahat, Imam Mudo juga berhasil baik. Kedatangan Jumbang Muhammad disambut orang tuanya dengan pedang Janawi dan rencong Aceh. Jumbang Muhammad mati tanpa di- ketahui oleh penduduk negeri. Hal ini menyebabkan kemarahan orang tua tersebut. Mayat Jumbang Muhammad dilemparkan ke tengah padang.

Melere Suri adik Jumbang sangat bersedih hati. Ia bermohon ke hadirat Tuhan agar Jumbang dapat hidup kembali. Doanya ini terkabul. Jumbang hidup kembali seperti sedia kala. Oleh Malere Suri, Jumbang dinasehatkan agar kembali saja ke Surau Imam Mudo untuk menghindari kemarahan ayahnya.

Di Surau Imam Mudo, Jumbang kembali menghadapi nasib yang sama seperti sebelumnya. Kali ini Imam Mudo melaksanakan pula pembunuhan atas diri Jumbang Muhammad, Tubuh Jumbang dicencang sampai lumat. Tetapi sewaktu terdengar suara azan dari menara mesjid, Jumbang Muhammad dapat hidup kembali.

Tatkala Jumbang Muhammad mencari jalan menuju negeri Lawang Kuning, ia tersesat ke negeri lain. Di negeri tersebut Jum- bang menemui seorang putri raja yang bernama Siti Rahima, yang sedang terhimpit oleh batu besar. Tak seorangpun penduduk negeri tersebut yang mampu menggeser batu yang sebesar itu. Jumbang Muhammad menawarkan jasa baiknya. Tak seorang pun yang percaya akan kemampuan Jumbang menggeser batu yang se- besar itu, tetapi sewaktu terbukti bahwa Jumbang benar-benar mampu mengangkat batu besar tersebut dengan mudah, semua orang menjadi tercengang, dan hormat pada Jumbang Muhammad. Ia diajak ke istana. Ajakan itu ditolaknya, tetapi setelah Siti Ra- hima mendesak dan membujuknya, akhirnya ia mengalah, dan

205