Pada penyampaian kaba dalam bentuk randai misalnya, kita dapat menyaksikan penampilan sejumlah unsur-unsur kesenian tersebut. Demikian juga pada proses penyampaian kaba dengan rabab, saluang dan gendang, serta kotak korek api yang khas di Kabupaten Lima Puluh Kota (Kaba Puti Sari Banilai) semua unsur-unsur kesenian itu kelihatan. Kenyataan inilah agaknya, yang memungkinkan kaba tersebut senantiasa hidup di tengah-tengah masyarakat Minangkabau.
2.4 Hubungan Kaba dengan Masyarakat
"Kita hidup di negeri yang penuh kisah", kata Henry Bett dalam English Legends. "Tak ada satu mil pun Tanah England luput kaitannya dengan sejarah, legende atau romansa 'tempo dulu'. Kisah-kisah bagaikan garam kehidupan ditimba dari peri hidup tradisional yang memekar di tengah-tengah masyarakat." Gambaran yang sama tercermin nyata pula pada pola berpikir dan kehidupan masyarakat Minangkabau dalam hubungan kaitnya dengan kaba, lambang kebijaksanaan dan kearifan. Tanah gembur bagi pengembangan imaji-imaji yang mampu bertahan dari zaman ke zaman. "Di balik variasi-variasi perlambang itulah kebijaksanaan manusiawi bersinambung dan bersemi dari generasi pendahulu ke generasi penerus, dalam pewarisan dan pengawetan nilai-nilai abadi", ulas Heinrich Zimmer dalam karyanya Mythos and Symbols in Indian Art and Civilization.
Dalam masyarakat Minangkabau kesinambungan pewarisan dan pengawetan nilai-nilai tersebut, seperti juga pada suku-suku bangsa lainnya, berakar pada tata nilai sehari-hari.Tidaklah asing jika kelompok anggota masyarakat berbincang tentang kesetiaan selalu mengambil Puti Subang Bagelang sebagai lambang ke emasan-hati. Tunangannya Magek Manandin yang terbuang kelurah dalam sebab tersangka maling sapi, tak pernah diharapkan kembali oleh siapa pun; bahkan tidak oleh Rajo Kuaso, paman kandungnya sendiri yang notabene ayah Puti Subang Bagelang. Bahkan ketika gelanggang telah dipancang, dalam rangka menye marakkan saat perkawinannya dengan Rajo Duo Baleh, Puti Subang Bagelang tetap merindukan kepulangan Magek nan malang Bersumpahlah para gadis pada pacar mereka tentang kesetiaan tanpa pamrih dengan ketegasan: "Percayailah aku, Subang Bagelangmu". Dapat dipahami jika tokoh Rancak Dilabuah dan Su-Templat:Left