Lompat ke isi

Halaman:Kaba Minangkabau 1.pdf/46

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

peranginan, sehingga dapat melihat setiap kurenah dan wajah para pengunjung pesta, dan diharapkan pula ia dapat menentukan pilihan yang sesuai dengan idamannya.

Setelah upacara pesta usai, Puti Jailan tidak memperlihatkan wajah yang gembira, ia malah makin senang menyendiri. Melihat kenyataan itu ayah dan bundanya datang menanyai dan meminta kepastian, sutan atau raja mana yang berkenan di hatinya. Puti Jailan tanpa berpikir lama, menjawab, bahwa tak seorangpun dari pengunjung gelanggang yang dapat menyentuh hatinya. Kemudian ia juga mengatakan kepada ayahnya, pastilah ada seseorang yang terlupa mengundangnya. Kenyataannya Tuanku Malin Panjang tidak hadir di gelanggang. Rupanya pada Malin Panjang inilah hati Puti Jailan tersebut.

Tengah malam Puti Jailan pergi ke anjung peranginan lalu membakar kemenyan pitunang. Asapnya menjulang dan menebar ke segala arah membawa bau harum yang memikat. Dengan itu serta merta Malin Panjang kena pitunang dan tanpa dapat ditangguh-tangguh berkeinginan pergi dari rumah. Tak lama kemudian ia berangkat dan menuju rumah Puti Jailan.

Di sana diadakanlah perundingan dengan ayah dan bunda Puti Jailan. Disepakatilah untuk mempertunangkan Puti Jailan dengan Tuanku Malin Panjang. Karena Malin Panjang bertekad untuk merantau terlebih dahulu sebelum berumah tangga, dibuatlah perjanjian antara kedua pihak, agar saling menunggu dan tidak mungkir janji. Kalau nantinya Malin Panjang yang mungkir janji dia akan karam dan tenggelam di lautan besar. Kulau Puti Jailan yang mungkir janji dia akan menjadi ungko siamang putih, Tuanku Sawang Langik, setelah mendengar bahwa Puti Jailan tidak menemui calon suami sewaktu pesta gelanggang, mencuba mengadu peruntungan dengan jalan mendatangi keluarga Tuanku Rajo Mudo. Kunjungannya disambut baik oleh ayah dan bunla Puti Jailan.

Pada kesempatan itu diadakan perembukan dan akhirnya disepakati untuk mengawinkan Puti dailan dengan Tuanku Sawang Langik. Sewaktu Bundo Kandung menyampaikan keputusan ini kepada Puti Jailan, kontan ditolaknya mengingat janji yang telah dibuatnya di masa lalu dengan Tuanku Malin Panjang. Puti Jailan ingat akan janjinya bahwa bila in yang berkhianat dengan sumpah setianya, ta akan menjadi ungko siamang putih dan menghi

38