Berlainan dengan Haji Karim, maka adiknya yang laki-laki yaitu Sutan Mudo adalah seorang pejudi, suka berlagak tiap hari dan sombong karena dia orang kaya di negarinya. Pada suatu hari Sutan Mudo pergi berjudi ke sebuah tempat di kampung Padang Dama. Dalam berjudi di Padang Dama, Sutan Mudo kalah terus menerus walau sudah ditukarnya permainan-permainannya. Akhirnya dia mempunyai hutang yang besar sekali kepada seseorang kawannya berjudi. Sutan Mudo tidak sanggup lagi membayamya dan terjadilah perkelahian. Pemimpin tempat perjudian tersebut dalam menyelesaikan perkelahian Sutan Mudo, membayarkan utang Sutan Mudo lebih dahulu kepada kawannya itu, sedangkan Sutan Mudo akan membayarmya kepada pemimpin tempat perjudian tersebut. Dalam berhutang kepada pemimpin perjudian tersebut Sutan Mudo menjaminkan sawah luas yaitu sawah adiknya Upik Bungsu.
Sewaktu Sutan Mudo meminta kepada adiknya agar sawah adiknya tersebut digadaikan untuk pembayar hutangnya di tempat perjudian, adiknya menolak. Kemudian Sutan Mudo pergi ke rumah kakaknya Haji Karim, untuk maksud yang sama. Haji Karim sangat marah kepadanya dan mengemukakan tiga syarat dalam Adat Minangkabau untuk dapat menggadaikan sawah. Setelah menceritakan semuanya itu Haji Karim menjadi sangat marah, karena Sutan Mudo minta juga agar dapat menggadaikan sawah untuk membayar hutang-hutangnya. Sutan Mudo ditampar oleh Haji Karim beberapa kali.
Karena perlakuan Haji Karim tersebut Sutan Mudo timbul sakit hatinya dan bermaksud akan membunuh Haji Karim agar maksudnya terlaksana. Hari itu juga Sutan Mudo mencari kawan-kawan berjumlah 4 orang dengan dia sendiri untuk membunuh Haji Karim. Dalam perkelahian satu lawan empat tersebut, Haji Karim mati terbunuh, akibat tusukan-tusukan pisau. Akibat surat pengaduan dari isteri Haji Karim kepada polisi, polisi dapat menangkap pembunuh-pembunuhnya yaitu Sutan Mudo dan tiga orng kawannya.
Oleh Pengadilan Negeri yang mengadili perkara pembunuhan tersebut Sutan Mudo bersama kawan-kawannya dijatuhi hukuman buang ke Cilacap. Menjelang akan berangkat ke Cilacap, dalam percakapan dengan adiknya Upik Bungsu timbul penyesalannya dan menasehati adiknya serta orang kampung. Sutan
266