Semenjak sampai di Pagai, hati Ali Amat tak pernah tenteram. Segala rasa yang tidak sedap bercampur baur menggodanya, termasuk sebuah mimpi tentang terbangnya burung piaraannya dan terbakarnya rangkiang padi di halaman rumah. Ali Amat lalu mengajak ayahnya untuk pulang saja segera, dan orang tua itu setuju.
Kabar tentang matinya Gadih Basanai sampai ke telinga Ali Amat kala ia singgah minum di sebuah lapau tak jauh dari rumah ibunya. Ternyata kabar itu benar. Ia tidak menyesali ibunya, dan juga tidak menyesali siapa-siapa. Malam itu juga ia pergi ke Gunung Ledang. Mujurlah ia kemudian berhasil mendapatkan air hubungan nyawa setelah melalui serangkaian perjuangan hidup yang tak kurang getirnya. Dan dengan air itu, Gadih Basanai insya Allah hidup kembali.
Mereka berdua sepakat melanjutkan pengembaraan, mendaki gunung, mendaki dan mendaki terus, dengan semangat muda yang mereka miliki. Hujan lebat kemudian datang disertai kilat dan petir. Banjir pun tiba menyapu segala-galanya. Dan waktu itulah mereka berdua terbawa arus, namun tetap berpegangan tangan, akhirnya terdampar ke Pulau Kasiak...
Transkiripsi
Elok den ambiak ujuang tali
ujuang tali pangabek paga
Ka den kelokkan ujuang nyanyi
ujuang nyanyi pangarang kaba
Bilang-bilang di rumpun lansek
tasanda di ujuang lantai
Den bilang sado nan dapek
nan tingga untuak rang nan pandai
Den bilang Gadih Basanai, diam di kampuang Langang Sunyi.
Sariak indak talang pun indak
sadangpun elok ka pangalan
kamumu duo halai daun