Lompat ke isi

Halaman:Kaba Si Manjau Ari.pdf/11

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

RINGKASAN CERITA

Datuak Bandaro seorang raja yang disegani di tanah Payuang Sakaki dan istrinya bernama Puti Linduang Bulan. Mereka mempunyai dua orang anak yaitu seorang laki-laki yang bernama si Manjau Ari dan seorang perempuan bernama si Murai Randin.

Datuak Bandaro menginginkan anaknya yang laki-laki menjadi seorang yang gagah dan perkasa di dalam nagari, oleh sebab itu dia menganjurkan pada anaknya untuk menuntut beberapa ilmu. Bagi si Manjau Ari yang diinginkannya hanya belajar mengaji pada seorang lebai di kampung itu yang bernama Lebai Panjang. Waktu si Manjau akan mulai mengaji dia dinasehati oleh adiknya si Murai Randin agar dia patuh pada gurunya dan jangan suka membantah apa yang disuruhkan gurunya.

Si Manjau Ari adalah seorang anak yang pintar dan cepat menerima apa yang diajarkan, oleh sebab itu gurunya tidak senang seolah-olah dia akan mengalahkan gurunya. Sesudah beberapa bulan si Manjau Ari belajar mengaji timbullah iat jahat gurunya untuk mencelakakan si Manjau Ari. Dikatakan oleh gurunya pada si Manjau, bahwa ibu bapaknya memesankan menyuruh dia pulang dan diantarkan oleh gurunya ke rumah orang tuanya. Oleh Lebai Panjang dikatakan pada orang tuanya bahwa si Manjau Ari adalah anak yang celaka lebih baik dibuang saja. Ibu Bapaknya mengikuti apa yang disuruhkan oleh gurunya dan diusirnya anaknya dari rumah dan si Manjau sudah mengerti juga bahwa ini adalah fitnah gurunya tapi dia tidak mau membantah. Sebelum dia berjalan dari rumah dia minta nasi kepada ibunya. Jangankan nasi yang akan dapat hanya sumpah serapah dari ibu bapaknya.

Dengan perasaan sedih berjalanlah si Manjau Ari dengan tidak tentu arah tujuannya dan di dalam perjalanan dia selalu menangis.

Setelah beberapa lama berjalan berhentilah dia disuatu tempat

7