„Tjubadak tangah halaman
didjuluak djo ampu kaki.
Usah lamo kakak dilaman
itu tjibuak basuah lah kaki”
„Tjubadak tangah halaman
daun tadjuntai kateh rumah.
Mako hambo tagaak di laman
disangko adiek tak dirumah.”
„Hambo nan lai dalam rumah ― naiek lah baa kakak hambo.”
Sadang bakato lari ka dalem ― dikambangkan malah lapiek pandan ― lapiek pandan putieh barasieh ― disorong sirieh di tjarano.
Templat:Block left „Laikoh sihat sadjo si Upiek ― indak dibao anak kamari.”
Templat:Block left „Si Upiek lalok di tinggakan ― ibo awak mendjagokannja. Lorong kapado badannjo — insja Ailah lai sihat ― indak kurang suala apo.”
Mandanga kato minantu ― sananglah hati mandeh Saidi — bakato Siti Baheram:
Baheram dilepas ibu dengan pengharapan lekas kembali. Dan Baheram berdjalan gontai menud|u rumsh mentuanja. Banjak djua pemuda2 teperdaja karena ketjantikannja. Tapi Bahetam atjuh tak atjuh. Dia sudah ada jang punja. Dan dia djalan terusi Suatu perdjalanon jang djauh djuga. Menempuh tempat2 lengang.
Achirnja Baheram sampai djua ketempat jang ditudju. Djauh2 adik Saidi sudah menampaknja. Dan ketika Baheram tiba dihalaman, adik suaminja itu menegur sambil berpantun: „Djangan lama2 kakak berdiri dihalaman. Naiklah segera!
„Kukira tadi adik tak dirumah,” sahut Baheram lunak lembut dan melangkah naik.
Adik Saidi-gadis tjekatan itu-selesai suduh membentang tikar dan menyorong tjerana. Mentua segera menjapa: Apa kabar tjutjuku. Baheram? Kenapa ia tak dibawa.”
„Kutinggalken ia sedung tidur, bu. Sajang kita membangunkan. Badannja ada gemuk sehat saja”. Sahut Baheram penuh tertib. Dan hati orang tua itu itupun senanglah. Kemudiann Baheram menjambung tenang: „Sengadja aku kemari bu, ialah memanajakan bapanja itu. Sudah sekian lama tak pulang2 apakah gerangan sebabnja?”
23