Sementara orang berladang, mendengar kata demikian, dipandang hilir dan mudik, dilihat orang tidak nampak, hari sudah beranjak petang, lalu pulanglah orang berladang, namun di malam semalam itu, dimasaklah nasi kunyit, haripun siang kembali.
Berangkatlah orang peladang, sesampainya di tengah ladang, diletakkan nasi kunyit, hari petang berbalik pulang, tiba kembali Ia di rumah, namun di malam semalam itu, tak sekejap pun ia tertidur.
Sementara Burung Nuri, dilihat di dalam ladang, nampak lah nasi kunyit, digunggung dibawa terbang, lalu terbang ke dalam lurah, sesampainya di dalam lurah, berkata si Burung Nuri, “Tuan kandung Magek Manandin, Tuan makan malah nasi, untung panjang umur Tuan, sampai jua ke tanah tepi, kalau sampai badan Tuan sehat, kalau ada takdir Allah, terjejak jua ke nagari, sampai Tuan di kampung denai.
Gerak Allah siapa tahu, bertemu Tuan dengan aciak ambo, bernama Puti Taruih Mato, anak orang Subarang Ayia Gilo, semoga senang hati Tuan, hati aciak begitu pula.”
Lalu terbanglah si Burung Nuri, terbang sampai di atas lurah, burung hinggap di pohon besar, tidak lama kemudian, datanglah pula yang punya ladang, dimulailah pula bekerja, mulai merambah rimba itu.
Berkata si Burung Nuri, “Wahai orang yang berladang, kalau jadi Angku berladang, tanamkan manau dahulu, julaikan pucuknya ke bawah, begitu tanda orang berladang.”
Baru mendengar kata itu, oleh orang yang berladang, diambil manau serumpun, ditanam di tepi ladang, dijulaikan pucuknya ke bawah, ketika hari beranjak petang, pulanglah sudah orang peladang.
Kabar beralih kemudian, alihnya kepada Burung Nuri, telah teringat hendak kembali, kembali berbalik pulang.
89