Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/102

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Terbanglah si Burung Nuri, tiga hari lamanya terbang, sampai sudah di kampung itu, di rumah Puti Taruih Mato, lalu hinggap di atas anjung.

Berkata Puti Taruih Mato, “Adik kandung si Burung Nuri, sangat lama adik berjalan, kampung di mana adik kunjungi, adik yang tidak datang jua.”

Menjawab si Burung Nuri, “Aciak denai Puti Taruih Mato, kalau itu Aciak tanyakan, sebabnya lama denai berjalan, banyak melihat dusun orang, banyaklah rimba dijalani, sampai melihat lurah dalam.

Sesampainya denai di lurah, lurah dalam berkala-kala, di kanan di kiri bukit, tebing curam saja ke bawah.

Dijalani hilir mudik, tampaklah orang sedang terikat, lalu dipandang nyata-nyata, tampan yang bukan kepalang, ditanya dusun dan nagarinya, serta gelar dan namanya, lalu menjawab orang itu, orang terbuang oleh mamaknya, celaka yang datang kemudian.

Ia bernama Magek Manandin, anak orang Sandiangbaka, anak dari Datuak Bandaharo, kalau diperhatikan tubuhnya, kalau diuji benar gagahnya, laranglah puti akan jodohnya.

Ayam jalak anaknya jalak
Terbang ke Muara Leman;
Besar tidak kecilpun tidak
Sedang pas untuk mainan.”

Mendengar kata yang demikian, termenung Puti Taruih Mato, tersirap darah di dada, badan serasa bayang-bayang, bagai rasa ada pertemuan, berkata Puti Taruih Mato,

“Adik kandung si Burung Nuri, tolong benarlah sampaisampai, agar terjejak jua tanah tepi, sampaikan benar sayang Adik.”

Mendengar kata demikian, terbanglah si Burung Nuri, terbang menyisir-nyisir awan, tiga hari lamanya terbang, sampailah

91