burung di kampung itu, yakni di ranah Sandiangbaka, Ia hinggap di lurah dalam, ditelusurinya lurah itu, dicari Magek Manandin.
Tidak lama antaranya, nampaklah Magek Manandin, bersandar di batang kayu, berkata si Burung Nuri, “Tuan denai Magek Manandin, sudah sehatkah badan Tuan?”
Menjawab Magek Manandin, “Adik kandung si Burung Nuri, kalau itu Adik tanyakan, badan Denai sudah hampir sehat, mintakan selamat umur panjang.”
Lambat laun di dalam lurah, habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan, siang berselindung panas, malam berselimut embun, kadang-kadang makan, kadang-kadang tidak, kadang-kadang mendapat makan, si Burung Nuri mencarikan.
Tiga tahun lama di lurah, manau bertambah besar jua, pucuk menjulai ke bawah, hampir sampai ke lurah dalam.
Berkata si Burung Nuri, “Tuan denai Magek Manandin, pintakan doa pada Allah, sampai jua hendaknya ke nagari.”
Pinta yang sedang kan berlaku, manau bertambah besar jua. “Kalau sampai panjang manau itu, bisa tempat Tuan mendaki, jalan yang lain tidak ada.”
Setelah lama kelamaan, sampailah pucuk manau ke bawah.
tertebang talang berduri
Tersandar di balik lumbung;
Tengah malam beriba hati
Teringat pada mande kandung.
Berlayar biduk Salido
Ditambang tidak berkemudi
Biduk yang hilir ke Taram;
Jika tentang badan hamba
Hilang yang tidak akan dicari
Luluh tidak akan disilam.
93