Langit runtuh matahari padam.
Ayam kurik si Lenggo Janang
Membawa taji seberumbung
Belanda pulang ke Betawi;
Adik sudah ada yang menyayang
Kayu besar tempat berlindung
Orang yang raja dalam nagari.
Mendaki kampung Arikam
Menurun baru mendatar;
Nasib denai sakit mencekam
Bandaharo jua yang kekal.”
Kabar beralih kemudian, alihnya kepada Subang Bagelang, sudah lama gelanggang ramai, dia yang belum mau kawin, dari sehari ke sebulan, badan bertambah kurus jua, makan tidak minumpun tidak, badan nya kurus bagai pimping, tidur bergelung dalam kelambu, tidak yang lain diingatnya, tuan kandung terkenang jua, yang bernama Magek Manandin, entah pabila kan bertemu, bertunangan kain pendukung.
Entah hidup entah mati, rimba di mana yang telah busuk, lurah di mana yang telah kenyang, menangis larut tengah malam.
Berdiri gedung di Penyabungan
Gedung Rasyidin Ayia Bangih;
Kalau teringat pada tunagan
Ambil bantal lalu menangis.
Berderet pinang di halaman
Balai-balai berpagar ganja;
Walau dirintang dengan jahitan
Namun tunangan teringat jua.
Kabar beralih kemudian, sungguh beralih di sana jua, alihnya kepada Magek Manandin, sedang di dalam lurah jua. Berkat untung takdir Allah, pinta yang sedang akan berlaku, sudah sampai manau
97