Menjawab Magek Manandin, “Sungguh begitu kata Tuan, jawablah jua tanya denai, perihal Magek Manandin, selama Ia dicampakkan, masih hidupkan bapak mandehnya, begitu pula adik bungsunya?”
Menjawab Bagindo Leman, “Jikalau itu Sutan tanyakan, tiada guna itu disebut, terlalu banyak beriba hati, akan hal bapak dan mandehnya, sampai melarat keduanya, si bungsu pun hampir gila, tunangan si Magek hampir kawin.”
Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Tuan, kita berpisahlah sekarang.”
Setelah bersalaman, berjalan Magek Manadin, dihilirkan jalan yang panjang, hampir kan sampai lah di sana, sampai di ladang orang, ladang yang lama tidak dihuni, diambil sirih di sana, dipetik sirih banyak-banyak, untuk dijual ke gelanggang, yakni gelanggang Subang Bagelang.
Sirih diikat seketika, setelah sirih diikat, diambil kulit pisang busuk, lalu diikatkan ke kaki, serupa orang sakit biriang, seperti kena tukak dan tekong.
Telah dijujung sirih itu, badan busuk tidak terkira, berjalan Magek Manandin, berjalan tertatih-tatih, hampir tiba lah di sana, di ranah Sandiangbaka, di halaman rumah mandeh kandung.
Setelah sampai di halaman, berbunyi bunyi-bunyian, mendering salindik jantan, mencicit tupai janjang, melenguh sapi di pautan, kuda belang memutus tali, terkejut dayang-dayang banyak, haru biru tengah rumah.
Berkata Puti Linduang Bulan, “Anak Kandung Puti Nan Bungsu, semenjak Tuan anak hilang, belum pernah seperti ini, apakah sebab karenanya?”
105