Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/118

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Lalu berdiri Puti Nan Bungsu, hendak melihat ke halaman, nampaklah orang buruk rupa, orang yang sedang menjujung sirih, berkata Puti Nan Bungsu, "Oi Tuan orang menggalas, Tuan naik malah ke rumah, denai hendak membeli sirih, sangat iba denai di Tuan, terkenang Denai di yang hilang, tuan denai Magek Manandin, entah hidup entah mati, tidak bertentu tempat diam, lurah dimana yang lah busuk, entah berkerumun langau hijau."

Setelah lama jawab berjawab, nasi pun masak oleh si Kambang, lalu dibawa nasi ke luar, berkata Puti Nan Bungsu, "Tuan makanlah dahulu, setelah itu baru ke balai, senang lah hati denai melepas."

Lalu makanlah Magek Manandin, makan sesuap dua suap, cukup ketiga kenyanglah sudah, melompat kucing belang tiga, naik ke pelukan Magek Manandin, merentak kuda belang kandi, memutus talibilang-bilang.

Melihat hal demikian, terkejut Puti Linduang Bulan, belum pernah seperti ini, apa gerangan lah takwilnya, kalau lah mati Magek Manandin, alamat tak akan bertemu lagi.

Sementara Magek Manandin, ketika makan dan minum, kata mandeh terdengar jua, adik kandung beriba hati, dirintang saja dengan senyum, diri yang tidak dikenalkan, sebab maksud belumlah sampai, diminta izin hendak berjalan, "Mandeh tinggalmalah dahulu, denai akan pergi ke balai."

Lalu turunlah ke halaman, sesampainya di tengah laman, berjalan Magek Manandin, sirih dijujung seketika. Telah serentang perjalanan, menurut kucing belang tiga, memutus tali ayam biring, kuda belang lepaslah pula, menangis Puti Nan Bungsu.

"Oi Tuan orang menggalas, berbalik pulang malah dahulu, selama tuan senai hilang, belum pernah seperti ini."

Lalu berbaliklah Magek Manandin, diantarkan kuda ke kandangnya, lalu diikatkan ayam biring, kucing dikurung lah pula.

107