Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/122

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Tidaklah kaba dipanjangkan, kaba beralih kemudian, alihnya kepada Subang Bagelang, sedang tidur diatas anjung, tersirap darah di dada, badan serasa bayang-bayang, air mata berderai-derai, menangis berbuah pantun,

"Dikirap kain di kandang
Dibawa orang Bengkulu
Tersirap darah kadang-kadang
Teringat masa yang dahulu.

Subang terkenang pada tunangan, tuan kandung Magek Manandin, entah hidup entahlah mati, kabar tidak berita tidak, denai sudah hampir kawin, sebab dipaksa bapak jua, tidak dapat mengelak lagi, tuan kandung entah dimana, rimba dimana yang sudah busuk, entah dijenguk lalat hijau.

Kalau lama batang Sikalang
Kalau rumpun panjanglah padi
Padi diambil orang jua;
Telah sangat lama Tuan hilang
Jika hidup besarlah kini
Jika mati pesankan hamba.

Pecah cawan ditimpa cawan
Pecah ditimpa rama-rama;
Hilang nyawa berganti badan
Tuan kandung dikenang jua

Setelah sudah berpantun, teringatlah hendak mandi, lalu turun ia ke halaman, bersama dayang-dayang yang banyak, sesampainya ditengah halaman, berjalanlah Subang Bagelang, telah serentang perjalanan, hampir kan sampai lah di sana, sampai di sumur pemandian, dilihat hilir dan mudik, nampaklah orang sedang duduk, terkejut Subang Bagelang.

"Wahai orang yang menggalas, apa sebab mandi ke mari, sumur lah nyata berlarangan, tidakkah mendengar beritanya?"

111