Menjawab Magek Manandin, “Kalau itu puti katakan, denai kan orang baru datang, dusun nagari tidak tentu, sebab dibawa untung buruk, teringin denai hendak mandi, itu sebab datang ke mari.
Mandi yang sekali ini, meminta denai sungguh-sungguh, janganlah Puti berkecil hati, jangan Adik salah terima, mudahmudahan membalas guna.”
Mendengar kata demikian, termenung Subang Bagelang, mendengar jawab orang menggalas, kata serupa bersindiran, “Adik kandung puti yang datang, izinkan denai bertanya, jangan Adik salah terima, apa namanya kampung ini, siapa gelarnya raja di sini, sebab begitu tanya denai, dahulu denai mendengar kabar, semasa tinggal di nagari, yang bergelar Rajo Kuaso, Ia sangat termasyur, orang kaya di Sandiangbaka, ada seorang kemenakannya, yang gagah di Sandiangbaka, yang bernama Magek Manandin.
Dia sangat terkenal, juara di tengah balai, pamenan mata orang kampung, sebab denai ingin bertanya, denai terniat ingin bertemu, kalau boleh denai meminta, tolonglah Adik beri tahu, di mana benar kah kampungnya?”
Baru mendengar kata itu, menangis Subang Bagelang, “Oi Tuan orang menggalas, usah disebut dua kali, ular tidur tuan bangunkan, hati denai berangsur baik, menjadi kusut lah kembali.
Jika itu Tuan tanyakan, biarlah denai jelaskan, yang bernama agek Manandin, itulah tunangan denai, bertunangan kain pendukung, kini entah di manakah berada, telah dibuang di bapak denai, hilang sudah di lurah yang dalam.
Menjawab Magek Manandin, “Adik Kandung puti yang datang, satu hal denai tanyakan, andaikan Manandin masih ada, andaikan Manandin masih hidup, akankah senang hati Adik, menerima orang terbuang oleh mamaknya?”
113