tengah pasar, dipikir-pikir dimenungkan, ke mana badan akan bermalam, lalu pergilah ia ke surau. Setelah sembahyang Isya, berkata orang di surau, “Cukuplah imam dengan Khatib, orang yang banyak begitu pula, di malam semalam ini, marilah kita pergi berhelat, ke rumah Subang Bagelang, helat bernama helat kawin, suaminya Rajo Duo baleh.
Sedang si Magek Manandin, mendengar kata itu, mendengar tunangan akan kawin, terkejut Magek Manandin, diraba dada dikeluhkan, air mata berderai-derai, menangis sambil berpantun,
“Elang dan kekek beri makan
Di simpang jalan ke muara;
Panjang dan singkat disambungkan
Tidak sampai harus bagaimana.
Bagus tanahnya sawah Solok
Ambil pembajak kerbau besar;
Dipandang surga sungguh elok
Akan masuk amalan kurang.
Berlayar kapal Sutan Buyung
Berlabuh di Indrapura;
Sungguh tersiksa bila tak beruntung
Buah menjadi bunga pula.
Si miskin berburu gajah
Berburu ke koto Pauh
Pandan ditoreh orang jua;
Hamba miskin sepantun atah
Bercampur akan berasa jauh
Nyata disisihkan orang jua.
Rami balainya Tujuh Koto
Perintah Laras Pariaman;
Karena kemiskinan hamba jua
Tunangan lepas dari tangan.
Tidaklah kabar dipanjangkan, kabar beralih kemudian, alihnya kepada Rajo Duobaleh, di malam semalam itu, berjalan Rajo
119