Duobaleh, serta manti dan dubalang, mengiringkan basa dan penghulu.
Lambat laun berjalan, telah sampai di kampung itu, di halaman rumah Subang Bagelang, naiklah Rajo Duobaleh, serta basa dan penghulu, lalu duduk di kasur manggalo, bersandar di bantal besar.
Tidak lama kemudian, tibalah imam dan khatib, tiba pula Tuanku Kadhi, duduk lah tamu di tengah rumah, sedang angku Rajo Kuaso, sangat senang rasa hati, menerima menantu orang kaya, sudah kaya raja pula, hanya sedikit kurangnya, tidak sepadan dengan anak.
Tidaklah kabar diperpanjang, kabar beralih tentang itu, beralih kepada si Magek, sedang si Magek Manandin, duduk bermenung dalam surau, dapat pikiran seketika, elok denai datang ke sana, ke rumah Subang Bagelang. Asal sabut biar terapung, namun batu tenggelam jua, kalau ada suratan baik, bagaimanapun baik juga, jika hanya suratan buruk, bagaiamanapun buruk jua, sungguh bak bunyi pantun orang,
Si Amat Sutan Marajo
Orang Simabur di Parabek
Berumah di Kapeh Panji;
Empat bulan dikandung bundo
Buruk dan baik sudah tersurat
Utang kita hanya menepati.
Dari Mangguang ke Koto Sani
Sikalat lebih pengguntingan;
Daripada menanggung serupa ini
Biarlah badan merasaikan.
Tidak lama kemudian, sedang berpikir-pikir itu, berjalan Magek Manandin, ke rumah Subang Bagelang, karena lama lambat di jalan, sudah sampai di kampung itu, di halaman rumah Subang Bagelang.
21