PUTI LINDUANG BULAN
Kalaulah diingat-ingat, kalaulah dipikir-pikir, sebaris tak kan
lupa, seembun tak kan terlampau, tentang raja yang termasyur,
raja asli turun temurun, bukan raja dapat dibeli, benar-benar raja
asli.
Beliau berdua bersaudara, bagai sepasang anak balam, lakilaki dan perempuan, bernama Puti Linduang Bulan, tinggal di Ranah Sandiangbaka.
Pada masa dewasa itu, teringat oleh Rajo Kuaso, lalu berkata kala itu, “Duhai adik kandung denai, adik Puti Linduang Bulan, kemarilah adik dahulu, ada yang mengganggu dalam hati, mengganggu dalam pikiran, yakni tentang diri adik, denai hendak mencarikan junjungan.”
Menjawab Puti Linduang Bulan, “Duhai Tuan Kandung denai, tentang hal yang satu itu, pulang maklum pada Tuan, denai yang tidak dua bicara.”
Lalu dipanggil lah dubalang, disuruh pukul tabuh larangan, pemanggil orang dalam nagari. Begitu tabuh berbunyi, sahut menyahut tabuh yang banyak, tabuh Jumat menyudahi.