bukan alang-alang, laranglah puti akan jodohnya, berkata manti
jolong pandai, “Wahai Tuan baru datang, di mana kah kampung Tuan, selama gelanaggang ini ramai, belum pernah kami melihat, orang yang segagah sutan, izinkan kami bertanya.
Kalau dipandang-pandang, serupa seroman tidak, entah mata salah memandang, hampir serupa dengan yang hilang, anak angku Datuak Bandaharo, kemenakan Rajo Kuaso, yang terkenal di Sandiangbaka, bernama Magek Manandin.
Tetapi tidak kan mungkin, sebab dia telah kami buang, dicampakkan ke dalam lurah, entah di mana dia sekarang, mungkin sudah lapuk jadi tanah.”
Menjawab Magek Manandin, “Kalau itu Tuan tanyakan, dusun nagari tiada tentu, banyak menanggung penderitaan,
Ke air ke lubuk pula
Pulang membawa labu;
Lahirnya denai ada
Batin denai tiada tentu.”
Tidak lama setelah itu, datanglah Rajo Duobaleh, datang Ia ke tengah balai, lalu berkata Rajo Duobaleh, “Duhai sutan yang baru datang, hari sudah semakin siang, marilah menyabung agak sekali, kalau kalah pembuang mara, kalau menang pembeli sirih.”
Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Tuan, marilah ayam kita padan.”
Lalu dibulang ayam biring, ayam angku Rajo Duobaleh, ayam besar bertaji besar, bernama Biriang Sanggogani, sementara Magek Manandin, telah dibulang pula ayam, ayam kurik Gadih Godanggo.
Setalah ayam dibulang, diletakkan di atas medan, serta dengan taruh ayam, taruhnya lima kaca urai. Sedangkan Angku Rajo Duoabaleh, baru melihat taruh ayam, termenung Rajo Duobaleh,