dengan apa taruh akan dilawan, meski dikenal orang kaya, habis terjual sawah ladang.
memancar peluh di kening, dipinjam uang di tengah balai, meminta tolong ke anak buah, habis terjual sawah ladang. Telah bertampin taruh ayam, dibawa ayam keduanya, diletakkan di tengah medan, berkata Rajo Duobaleh, “Wahai Sutan baru datang, di mana Sutan dapat ayam, sebab begitu tanya denai, serupa kaki dan bulunya, serupa ayam tunangan denai, yang bernama Subang Bagelang.”
Menjawab Magek Manandin, “Jika itu angku tanyakan, pandanglah nyata-nyata, ayam mungkin banyak yang serupa, kalau Angku punya ayam kurik, ayam kurik Gadih Gadanggo, di denai entah ada pula, kalau Angku punya Subang Bagelang, di denai entah ada pula, sebab begitu kata denai, ayam kan banyak yang serupa, kokoknya banyak yang seroman, kalau orang banyak yang senama, itulah dakwa bergelanggang, tetap-tetap mata dakwa.”
Termenung Rajo Duobaleh, hati semak-semak ragu, entah iya entah tidak, belum dapat kata yang sahih.
Tidaklah kabar dipanjangkan, singkat sekedar yang berguna, sudah bertampin taruh ayam, lalu diadu ayam itu, sesudah ayam dilepas, berkata Magek Manandin, “Ampun Tuanku rajo di sini, izinkan denai bertanya, apa pantangan di gelanggang, sebab denai baru ke balai, jangan sampai terdorong-dorong saja.”
Menjawab Rajo Duobaleh, didengar orang tengah balai, “Kalau itu sutan tanyakan, yang jadi pantangan di gelanggang, menghardik menghantam tanah, kalau kalah di emas saja, mulut yang usah diperbanyak, ayam yang boleh kita sabung, namun adat dipakai jua, basa basi jangan lupakan, begitu adat di gelanggang.”
Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Tuan, denai simpan dalam hati, denai berserah kepada Allah.”