Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/150

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Tidak lama antaranya, ayam sedang berlaga jua, sekali berumbung naik, patahlah ayam kurik, patah kaki yang bertaji, bersorak orang di tengah balai, “Lunas utang yang kecil-kecil, sungguh sedang beruntung kini, raja kita yang lebih betuntung, sudah menang tunangan pun dapat.”

Berkata Magek Manandin, “Duhai ninik mamak denai, serta jawara tengah balai, sebelum ayam akan diadu, denai bertanya pada Angku, apa pantangan di gelanggang, Tuanku sudah menyampaikan, bahwa balai ada beradat, sabung ada beraturan, kampung ada berpusaka, jika kalah cukup sebatas emas saja. Sekarang begini denai dengar, seperti kampung belum sudah, serupa nagari belum dihuni, tentang adat usah disebut, basa basi jauh sekali, bagai orang lepas dari kurungan, bagai beruk di pantat lalat..!

Mendengar kata demikian, orang yang banyak jadi terdiam, orang rintang melihat ayam, berkata orang nagari,

“Tampaknya tidak akan lari lagi
Dilihat batang kelapa;
Nampaknya tidak akan baik lagi
Sudah kena sendi paha.”

Menjawab Magek Manandin,

“Ribut usah dibesar-besarkan
Pelepah daunnya hitam-hitam;
Hidup usah dicemaskan
Ayam yang patah mungkin menikam.”

Akan hal ayam denai, akan denai panggilkan tuahnya, ayam kurik Gadih Godanggo, mematuk di telapak tangan, pantangnya mati di gelanggang, pamenan Subang Bagelang, tikamlah si ayam biring.

Ayam kurik Sutan Palangai
Makanannya rumput jua;
Sejak kecil berpantang kena
Lambat laun binasa jua.”

139