Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/152

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Ayam kurik lalu menikam, tepat di dada ayam biring, patahlah ayam Sanggonani, ayam kurik lalu berkokok, dapatlah cemar di tengah balai, rusuhlah orang di nagari, kalahlah sudah raja kita.

Sesaat sesudah itu, sudah mati ayam biring Sanggonani, ayam angku Rajo Duobaleh, berkata Magek Manandin berkata, “Duhai Tuan Rajo Duobaleh, marilah kita patukkan ayam, agar tentu kalah menangnya.”

Menjawab Rajo Duobaleh, “Duhai Sutan yang baru datang, Kalaupun diambil ayam, ayam Tuan nyata telah menang, ayam Denai nyata telah mati, tapi menang tidak menerima, kalah pantang denai membayar. Tidakkah Tuan dengar beritanya, denailah Rajo Duobaleh, membunuh tidak menyesal, berutang tidak membayar.

Tambahan lagi, semasa hari dahulunya, ada orang yang berani, orang terkaya di Sandiangbaka, orang termasyur sejak kecil, sampai menderita dia di sini, kini lah mati dalam rimba.

Tuanangannya denai ambil pula, ia bernama Magek Manandin, mamak kaya bapak bertuah, kini lah hancur jadi tanah. Kalau seperti tuan ini, meski ditambah seratus orang, tetap tidak bisa menang, utang yang tidak akan dibayar, entah bila nyawa pembayarnya.”

Menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Tuan, menang yang tidak menerima, utang yang tidak sudi membayar, biarlah denai tidak pulang, jika benar-benar dihitung, sereceh tidak ditinggalkan, namun sungguh demikian, sepanjang pikiran denai, eloklah Tuan berbalik pulang, jika masih ingin makan nasi, jika masih ingat anak kemenakan.

Adapun badan diri denai, selangkah turun dari tangga, tidak menyimpan niat buruk, hanya menjalani takdir Allah, musuh tidak denai cari, bertemu pantang denai menghindar.

Pipit jantan tidak bersarang, Tuan yang tidak berpikiran, denai hanya orang melarat, jika baik takdir denai, dengarlah ratap dalam kampuang, kampung ini menjadi abu.

141