Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/154

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Namun jika buruk takdir denai, matilah badan diri denai, jika mati usah dikuburkan, Tuan pikirkanlah itu dahulu!”

Sementara Rajo Duobaleh, tidak diagak dipikir, diri merasa sangat hebat, makan kaki sejamba makan, meghardik menghantam tanah, dubalangpun mencabut pedang. Sedangkan Rajo Duobaleh, dipancungnya lah Magek Manandin, tuhan Allah yang melindungi, tidak terluka oleh besi.

Hiruk pikuk di tengah balai, bersigap orang di nagari, orang berkumpul besar kecil, datang seorang membawa batu, apa yang dapat dipukulkannya. Sementara Magek Manandin, hati yang tidak dirusuhkannya, meski beribu-ribu serangan datang, berserah diri saja pada Allah, tidak ajal berpantang mati, yakin pada kebenaran.

Berkata Magek Manandin, kepada keempat dubalang, serta orang tengah balai, “Duhai seluruh ninik mamak, yang pantas disebut adik atau kakak, denai seorang lawan beribu, tidakkah kasihan di orang datang, namun sungguhpun begitu, cobalah tuan-tuan pikirkan, kalau di badan diri denai, jika akan pulang, pulang saja, denai tidak melawan dunia orang, daripada hidup lebih baik mati.”

Orang yang banyak tidak menjawab, malah terus memukulinya berkata pula Magek Manandin, “Duhai Angku Rajo Duobaleh, tiada tertanggungkan perasaan, rasa akan putus nyawa di badan, kini denai akan membalas.”

Lalu membalaslah Magek Manandin, mata merah bagaikan saga, serupa harimau akan menerkam, dibuang langkah yang kanan, diganjur surut bagai bertanam, meminta ampun pada Allah, terbunuhlah raja itu.

Pinta yang sedang dikabulkan, ditikam Rajo Duobaleh, ditikam tepat di jantungnya, darahpun menyembur keluar, diraih pinggang dihempaskan, sedangkan Rajo Duobaleh, jatuh pingsan seketika, mati sudah Rajo Duobaleh.

143