Melihat Rajo Duobaleh mati, perkelahian semakin menjadi, lawan dan kawan tiada tentu, tidak dihalang-halangi, badan seorang lawan seribu, kalau dihitung tidak terhitung, remuk redam di dalam hati.
Sungguh malang nasib Manandin, berlain saja tiba di diri, menjadi musuh semuanya, apa yang dapat dihempaskan, bertemu rumah dibakarnya, ratusan orang sudah mati, letih tulang tak tertanggungkan.
Hari beranjak semakin petang, makin banyak korban berjatuhan, orang mulai takut semunya, tidak mungkin Sutan dilawan, elok kita mengaku kalah, lalu menyembah manti dan dubalang,
“Ampunkan kami Tuan Sutan, kami tidak akan melawan, biarlah raja kami mati, janganlah kami dilukai, perintah Tuan kami patuhi, kami bersumpah kepada Allah, tidak akan melawan lagi.”
Baru mendengar kata itu, menjawab Magek Manandin, “Kalau begitu kata Tuan, Insyaallah denai terima, sebenarnyalah Tuan kandung, biarlah denai jelaskan saja, agar tentu dusun dan kampung denai, kalau dipikir diperungkan, sungguh hancur perasaan.
Denai bukanlah orang jauh, kampung denai dekat dari sini, bapak denai Datuak Bandaharo, mamak denai bernama Rajo Kuaso, Denai bernama Magek Manandin.
Jika diingat dahulunya, hal yang membuat rusuh hati, denai pernah datang kemari, waktu pernikahan Nilam Cahayo, menyabung dengan Rajo Duobaleh, kain habis baju tergadai, Denai dituduh mencuri sapi.”
Baru mendengar kata-kata itu, orang menyembah semuanya, manti dan dubalang menyembah pula, sudah tahu orang nagari, lalu oleh Magek Manandin, diperintahkan orang kampung, menguburkan Rajo Duobaleh.
Kabar beralih selanjutnya, alihnya kepada Puti Nilan Cahayo, mendengar Rajo Duobaleh mati, menangis Puti Nilam Cahayo,
145