Telah berhimpun orang yang banyak, besar kecil tua muda,
yang dari lurah datang mendaki, yang dari bukit datang menurun, rapat pepat semuanya.
Tiada terhingga banyak umat, yang tuli hardik menghardik, yang bisu lenguh melenguh, yang lumpuh digendong jua, lalu berkata penghulu kampung,
“Ampun hamba, daulat raja kami, apa sebabnya tabuh berbunyi, di manakah penghulu salah hukum, ataukah dubalang rebut rampas, negeri manakah yang datang menyerang, adakah parit yang runtuh, atau janda yang mendapat malu.
Kalau digantung kami tinggi, Tuanku jualah yang akan rugi, kalau dijual kami jauh, Tuanku jualah yang kehilangan, namun kebenaran kami sampaikan juga.”
Lalu menjawab Rajo Kuaso, “Bukan penghulu salah hukum, bukan negeri didatangi musuh, tidak ada parit yang runtuh, ada terniat dalam hati, terbit dalam kira-kira, hendak memancang gelanggang, yakni gelanggang pencari jodoh, untuk Puti Linduang Bulan, sudah patut dia bersuami.”
Menjawab penghulu dalam kampung, “Kalau begitu titah Tuanku, kami junjung bagai gemala, kini jua kami segerakan, bersiap malah kita sekarang.”
Sudah dibuat malah Gelanggang, undangan sudah disebarkan, banyaklah orang yang datang, anak bujang berduyun-duyun, anak gadis berbondong-bondong, datang ke ranah Sandiangbaka, gelanggangpun segera dimulai.
Tamunya ramai Allahurabbi, darah ayam bagai dibandarkan, patah taji bagai disukati, bulu ayam segerobak dorong, sirih menjadi sampah pasar, gambir menjadi tanah liat, pinang menjadi dama tondeh.