Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/162

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

lama di sini, marilah kita berbalik pulang.”

Mereka pun berjalan pulang, banyaklah orang mengiringi, beserta basa dan penghulu, setelah lama berjalan, hampir kan sampai lah mereka, sampai di kampung iti, langsung naik ke atas rumah.

Ramilah urang di balai
Rami ketika tengah hari;
Berilah maaf badan denai
Kabar akan berganti lagi.

Sungguh beralih di situ jua, alih kepada Subang Bagelang, diambil kain dengan baju, selesailah dia bersiap, si Kambang banyak mengiringkan, diminta izin kepada mandeh kandung, serta bapak kandung Rajo Kuaso.

“Mandeh tinggallah di rumah, kami hendak berjalan-jalan, ke ranah Sandiangbaka, denai mendengar kabar baik, bahwa Tuan denai sudah pulang, berkat pertolongan Allah, nasib baik badan denai, tidak jadi makan hati, jika bukan karena takdir Allah, nyaris menikah dengan orang tua.”

Baru mendengar kabar itu, terkejut mandeh kandungnya, menangis pula Rajo Kuaso, mendengar Manandin sudah pulang, berkata Rajo Kuaso, “Anak kandung Subang Bagelang, jika si buyung memang sudah pulang, akan meranalah badan Bapak, mungkin kita akan berpisah. Anak kandung tinggallah di rumah, mengenai badan diri Bapak, setelah dipikir direnungkan, daripada dibunuh si Buyung, lebih baik Bapak lari ke dalam rimba, agar kenyang lalat hijau.”

Mendengar kata-kata itu, menangis Subang Bagelang, Daulat bapak kandung denai, sekarang begini saja, hati risau usah diturutkan, mari berikir kita dahulu, angin keras mungkin kan lunak, jikapun memang bapak bersalah, mungkin ada kemaafan, sebab hati milik Allah.

151