Sekarang marilah kita pergi, pergi bersama-sama sekali, ke ranah Sandiangbaka, tenangkan saja hati bapak, kita berserah pada Allah, semoga yang keras menjadi lunak.”
Selang sesaat antaranya, berjalanlah Subang Bagelang, serta Puti Andam Dewi, bersama Rajo Kuaso, si Kambang banyak mengiringi.
Setelah lambat laun berjalan, sampailah mereka di Sandiangbaka, naiklah Rajo Kuaso, serta Puti Andam Dewi, bertiga dengan Subang Bagelang, lalu duduk di tengah rumah.
Belum lama mereka duduk, terletak sirih oleh si Kambang, datanglah Datuak Bandaharo, serta Puti Linduang Bulan, datang pula Magek Manandin, jauh-jauh mengangkat sembah, setelah dekat menyusun jari, dijawab salam kepada mamak, berkata Magek Manandin “Duhai mamak denai Rajo Kuaso, berilah denai kemaafan, kesalahan denai sangat banyak, mulai dari saat ini, denai ubah perangai lama, denai tidak akan berjudi lagi.”
Setelah mendengar kata-kata itu, menangis Rajo Kuaso, teringat besar kesalahan diri, begitu rupanya kemenakan, takut yang bukan kepalang, nyata lah diri yang bersalah, kemenakan yang meminta ampun, sedang oleh Angku Rajo Kuaso, tidak satupun yang dijawab, bertambah takut dalam hati.
Selang sesaat kemudian, berkata Rajo Kuaso, “Adik kandung Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, kesalahan denai sangatlah banyak, kalau boleh denai meminta, mari dibuang segala yang buruk, yang baik saja kita pakai, kembalilah sirih ke gagangnya.
Sebab begitu kata denai, Karena si Bu1yung Magek Manandin, dengan Puti Subang Bagelang, sudah bertunangan sejak lahir, banyak ujian yang dilalui, namun takdir menyatukan jua, tidak bisa dipisahkan orang, hanya itu pinta denai, si Bungsu sudah cukup umur pula, bersama kita mengusahakan.
153