Menjawab Datuak Bandaharo, serta Puti Linduang Bulan,”Ampunkan kami tuan kandung, kalau begitu kata Tuan, kami yang tiada menyalahi, perintah Tuan kami turuti, tetapi sungguhpun begitu, kami meminta kepada Tuan, si buyung Magek Manandin, dengan si upik Subang Bagelang, minta janji kami sebulan, kalau sampai janji sebulan, kita kawinkan lah mereka, sebab begitu pinta kami, perkakas masih banyak yang kurang, belum ada denai bersedia.
Akan hal Magek Manandin, serta si Upik Puti Bungsu, mereka memang sudah besar, tapi baru besar di badan saja, belum lah tahu adat dan pusaka, belumlah tahu di ereng dan gendeng.”
Menjawab Rajo Kuaso, “Kalau begitu kata Adik, benar pulah kiranya, menanti malah kami sebulan lamanya.”
Setelah selesai rundingan itu, senanglah hati Rajo Kuaso, dengan Puti Andam Dewi, lalu meminta izin kembali, kembali pulang ke rumah.
Sementara Datuak Bandaharo, dengan Puti Linduang Bulan, dipanggil anak keduanya, hendak ditunjuk diajari.
“Duhai anak kandung kami, yang sulung Magek Manandin, yang bungsu Puti Nan Bungsu, anak kemari malah duduk, ada hal yang ingin denai katakan, anak dengarkan sungguh-sungguh.
Akan hal diri kalian berdua, kalian memang sudah besar, tetapi belum tahu di adat dan pusaka, senyampang si Buyung Magek Manandin, jadi kawin dengan Puti Subang Bagelang, elok-elok anak berperangai, berpikir masak anak dahulu, apa-apa yang akan dilakukan, jangan menyesal kemudian, sesal kemudian tak berguna.
Jika anak sudah menikah, menjadi semenda di rumah orang, jangan dianggap enteng saja, karena itu tidaklah mudah, nak, jika datang malang dan mujur, bawa bermufakat dengan mamak rumah, beserta mertua keduanya, mereka jangan dilangkahi, sebab di atas dunia ini, baik dan buruk tidak berjarak.
155