Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/168

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Andai ada bantah dan kelahi, dengan diri anak sendiri, anak jangan berhati besar saja, meskipun anak orang berharta di kampung, meskipun anak orang jemputan, usahlah anak menyombongkan diri, yang demikian akhirnya buruk.

Kepada anak Puti Nan Bungsu, berkata pula mandehnya, “Anak kandung Puti Bungsu, dengarkan di anak baik-baik, pabila anak bersuami, banyak pantangan bagi perempuan, senyampang suami tidak pulang, anak jangan bermuka masam, anak jangan cemberut saja, nasi dan minum tetap hidangkan.

Kalau ada ingin bertanya jua, tunggu suami selesai makan, cari pula waktu yang tepat, barulah anak bertanya baik-baik. Jika ada bantah dan kelahi, anak jangan memburansang saja, jangan sampai anak melawan, apalagi sampai meminta kata cerai, dihasut setan dan iblis, jika anak tidak segera bertobat, lalu mati dalam keadaan itu, menurut kata nabi kita, tidak dapat mencium wangi surga, akan kekal jua di neraka.

Mandeh ingatkan juga, kalau suami sedang miskin, banyakkan kasihan kepadanya, jangan harap pada kaya orang saja, pabila kasih karena emas dan perak, akhir kelaknya kemudian, uang habis badan bercerai, tiada kekal bunga dikarang, pertanda badan akan punya banyak suami, satu anak satu bapaknya.

Apa sebab demikian, kalau kuat godaan syetan, karena ingin cepat kaya, disangka didapat dengan kuat, kita hanya harus berusaha.

Satu lagi duhai nak kandung, yang menjadi tuah perempuan, celaka bagi laki-laki, yakni selalu meninggikan diri kepada suami, kepada Allah sangat takut, sebab maka demikian, kalau perempuan merendahkan diri, mengatakan diri miskin, atau tidak bersuami, sawah ladang jauh sekali, di sanalah muncul pikiran jahat, sebab

dipatut harganya, akhirnya di kemudian nanti, sampai berbuat yang tak patut, yang dilarang adat dan agama.

157