Lompat ke isi

Halaman:Magek Manandin.pdf/170

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Yang namanya perempuan, kalau boleh beli dan pinta, meski di tengah helat jamuan, meski di tengah pasar yang ramai, atau dimanapun berada, elok kurangi banyak bicara, melihat dengan tatapan ramah.

Ibu katakan demikian, karena tuah pada perempuan, pada ketetapan hati siang malam, jangan bagai pimping di lereng tebing, angkuh menggeleng kian kemari, kalau mendengar orang kampung, serasa angin sudah berkisar, telah terdengar kata-kata orang, si anu dengan si anu, itulah cacat yang amat buruk, orang pun takut akan pulang.

Sehingga di akhirnya nanti, roman cantik menggadis lama, jikalau sudah begitu, tidak disebut orang banyak, tidak dikabar beritakan, biarlah rupa agak kurang, alamat tidak akan menggadis, dalam kampung di puji pula.

Sebagai pula anak kandung, jika dapat suami yang tetap, yang mau bersusah payah, anak yang usah banyak bicara, usah anak banyak kehendak, usahlah banyak meminta-minta.

Sebab begitu kata mandeh, laki-laki bukannya bodoh, niat hati memeluk gunung, apa daya tangan sampai.

Satu hal lagi pinta mandeh, jauhi benar itu nak kandung, berbesar mulut pada suami, runcing mulut tak bertentu, disangka suami amat bodoh, sebab tak pandai mencari yang lain, hampir selalu dikatai, suami banyak beriba hati, akhir kelaknya kemudian, kesalahan sudah menumpuk-numpuk, sekali sampai tiga kali, kalau tiba cerdik di badannya, sayang habis kasih bercerai, seperti kata orang tua,

Singkarak jo Sandiangbaka
Ketiga dengan Tanjung Bingkung;
Sudah pisah baru menyesal
Suami cerdik disangka bingung.

Jika berpisah berkepanjangan, dijemput mungkin dia tak suka, sebab telah banyak kata terdorong, di sana sesal baru tumbuh, diusap

159