dada dikeluhkan, membuhul jika tidak sampai, pikirkan itu anak kandung, petaruh jangan diubahi, perbanyak adat pada suami, takutlah anak lahir batin, usah pikiran kiri kanan, walau kemana akan pergi, perlu izinnya anak minta.
Apabila suami baru pulang, atau dia ada di rumah, perlihatkan wajah yang jernih, menurut kata nabi kita, surga perempuan di bawah telapak laki-laki, takutlah anak lahir dan batin, agama jangan ditinggalkan, sampai di sini malah dahulu.”
Berkata Datuak Bandaharo, kepada Puti Linduang Bulan, “Adik kandung Puti Linduang Bulan, sebuah yang denai katakan, pabila kita bermenantu, anak laki-laki jika beristri, tersebut adat bermenantu, kalau boleh harap dan minta, bila disebut tentang uang, kita tak boleh mencampuri.
Jika salah tampak menantu, beri saja malah nasihat, berkata dengan mulut manis, usah serupa kesetanan, dahulu masa menerima, bukan hanya bersuluh batang, buruk baiknya kita sudah tahu, kaya miskinnya tak kita pandang, kalau suka anak kita, biar hina atau mulia, usah menjadi kata-kata, jangan campur kita di sana, jika kita ikut campur, disebut buruk dengan baik, buruk terdengar terberita.
Padang Sarai jalan ke Bonjo
Jalan pedati petang pagi;
Bercerai sebab karena mertua
Itu menyusah dalam hati.
Adik jauhilah sifat demikian, jangan menyesal kemudian, kalau banyak orang kampung tahu, bersukat jilatang api, kita menjadi mertua orang, jangan jadi celaan seumur hidup.”
Sedang di Datuak Bandaharo, dipanggil pula anak kandung, yang bernama Magek Manandin, “Duhai buyung Magek Manandin,
kemarilah anak duduk”.
161